8 Pelajaran Dari Film Penyalin Cahaya Untuk Perempuan

Film Penyalin Cahaya ini mungkin tidak terlalu asing didengar ya, Mah. Pasalnya, film ini cukup sering diberitakan dan jadi perbincangan warganet. Saya juga sangat menunggu-nunggu film Penyalin Cahaya ada di platform yang legal karena film ini menang banyak penghargaan serta ditayangkan di festival film internasional.

Ditambah lagi pemeran utamanya hadir di Busan Film Festival dan berfoto sama Song Joong Ki. Hahahaha. Hype banget lah pokoknya film ini. Untungnya, sejak 13 Januari 2021 film ini bisa ditonton di layanan streaming Netflix. Durasi filmnya cukup lama tapi worthy buat ditonton. 

Mengingat tema dan jalan cerita film ini, waktu perilisan Penyalin Cahaya juga bisa dibilang dilakukan di momen yang tepat yaitu ketika ada banyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan banyak mencuat dan jadi perbincangan. Oleh karena itu, saya rasa membahas film Penyalin Cahaya di Hari Perempuan Internasional juga jadi momen yang tepat.

<<SPOILER ALERT>>

Kalau Mamah berencana nonton dan tidak suka spoiler sebaiknya jangan dulu baca tulisan ini, karena saya tidak pandai menyembunyikan jalan cerita hahaha. Kalau masih penasaran dan mau lanjut baca, pokoknya, you’ve been warned ya! 😆

First of all, sinematografi filmnya sangat bagus, musik latarnya juga sangat pas dan berperan besar dalam membangun suasana sepanjang film. Benar-benar bisa membangun suasana yang cukup menegangkan. Selama menonton kita dipaksa untuk fokus, karena penonton akan dibuat bertanya-tanya sepanjang film.

Saya benar-benar tidak ada pengetahuan apa-apa sebelum menonton film ini. Sengaja. Biar surprise dan seru. Sehingga saya tidak menyangka ternyata filmnya suspense dan intense. Resolusinya meskipun tidak benar-benar konklusif, tetapi cukup memuaskan walau masih menyisakan beberapa pertanyaan.

Oke… Jadi filmnya tuh tentang apa sih?

Film ini menceritakan soal Suryani, mahasiswa tingkat 2 yang berasal dari keluarga sangat sederhana. Dia kehilangan beasiswanya setelah foto-fotonya di pesta pembubaran panitia pementasan Teater Mata Hari diunggah ke media sosialnya. Dia mati-matian menyelidiki siapa yang mengerjainya karena dia tidak merasa mengambil dan mengunggah foto tersebut. Pencariannya berujung pada sebuah fakta mengejutkan yang melibatkan banyak orang, bahkan teman dekatnya.

Semakin dia menyelidiki, semakin dia yakin bahwa ada yang melakukan perbuatan jahat terhadapnya karena berbagai keanehan yang ia temui. Misalnya, dia terbangun dengan keadaan baju yang terbalik; menurut riwayat perjalanan, waktu tempuhnya lebih lama 1 jam dari biasanya; serta fakta bahwa dia langsung tidak sadarkan diri meskipun baru minum 4 sloki minuman keras.

Suryani, tokoh utama Penyalin Cahaya yang diperankan Shenina Cinnamon
(Sumber: IMDb)

Film berdurasi 130 menit ini membuat saya cukup terguncang karena begitu banyak plot twist di dalamnya, dan tentu saja pelajaran yang bisa diambil oleh masyarakat Indonesia, terutama para perempuan. Di bawah ini, saya paparkan 8 pelajaran yang bisa diambil dari film Penyalin Cahaya.

Pelajaran yang Bisa Diambil

1. Don’t be so quick to judge.

Jujur, ini susah sekali dilakukan, mulut ini rasanya enggak tahan buat menghujat Suryani. Rasanya ingin berkomentar saking geramnya, “Girl you had it coming! Udah dibilangin kagak nurut sih… dibilangin jangan minum-minum, lu malah mabok.” Pokoknya selama menonton susah sekali untuk tidak menyalahkan Sur, apalagi dia karakternya keras kepala dan cenderung nyebelin.

Namun, justru ini moral of the story, bahwa sebagaimana pun orang enggak sadar entah karena minuman atau obat-obatan terlarang, ya bukan berarti berhak buat diperlakukan seenaknya. Bahwa korban adalah korban, mereka mendapat perlakuan yang tidak sepatutnya karena mereka tidak berdaya melawan, dan yang jahat juga harus disalahkan ya pelakunya. Intinya, refrain from judging and victim blaming, fokus pada penegakan keadilan dan pemulihan korban.

Menjadi anggota Teater Mata Hari, awal petaka yang menimpa Sur. (Sumber: IMDb)

2. Jadilah pendengar yang baik kalau mau didengar

Hubungan antara Sur dengan orang tua, terutama Bapaknya ini seperti tipikal keluarga zaman dulu yang kolot. Bapaknya ini otoriter, tidak mau mendengarkan Sur, dan mau tahu beres saja. Rajin beribadah ritual tapi bermuamalah dengan keluarga tidak optimal.

Akibatnya, Sur cenderung ingin membangkang, tidak mendengar perkataan Bapaknya. Ibunya selalu berusaha menjadi penengah di antara keduanya, tapi juga tidak bisa berbuat banyak di hadapan Bapaknya yang mudah tersulut emosi.

Ini jadi pelajaran penting buat saya dan mungkin juga buat para Mamah, sebelum menuntut untuk didengarkan oleh anak, kita juga harus bisa menjadi pendengar yang baik, jangan langsung tersulut emosi ketika anak berbuat salah, coba dengarkan dari sudut pandang anak juga.

3. Jadi ibu (dan ayah) harus kuat, dan bisa jadi safe place buat bercerita

Sur dipanggil oleh Fakultas setelah melapor ke Dewan Kode Etik kampusnya. Dia dituduh melakukan pencemaran nama baik karena laporan dan bukti-bukti yang dia susun kadung viral sebelum selesai diusut.

Dia memperlihatkan bukti bahwa Rama mengambil foto tubuhnya saat dia tidak sadarkan diri dan mencetaknya menjadi instalasi untuk pertunjukkan teater. Ketika itu tidak ada yang percaya, bahkan Bapaknya pun tidak menggubris dan malah bersujud di depan Rama agar Sur dimaafkan.

Ibunya saat itu hanya diam saja. Tapi setelah percekcokan itu berakhir dengan jalan damai (Sur membuat video klarifikasi secara publik), ibunya bilang bahwa dia paling tahu Sur, dan dia tahu bahwa anaknya mengatakan kebenaran. Dia membawa Sur ke tempat aman dan mendukungnya untuk mengumpulkan bukti. Ini scene yang cukup powerful menurut saya, karena dengan ibunya percaya, Sur jadi punya energi dan kepercayaan diri lagi untuk menegakkan keadilan.

Adegan Sur dengan Ibunya yang percaya dan mendukung Sur. (Sumber: IMDb)

Adegan ini cukup membuat saya mbrebes mili. Saya membayangkan bagaimana kalau saya ada di posisi ibunya Sur. Naudzubillah. Entah bagaimana hancurnya hati saya. Ibu manapun pasti merasa tersayat melihat anaknya tersakiti. Apalagi ibunya tidak bisa berbuat banyak mengingat si pelaku merupakan anak dari seorang seniman kaya dan berpengaruh.

4. Trust your gut, berani memperjuangkan hak

Dari perjuangan Sur saya belajar bahwa it’s okay to trust your gut, apapun hasilnya tetaplah sebuah informasi berharga yang bisa membuat kita tenang.

Di tengah-tengah film, terkuak fakta bahwa memang Sur sendiri yang mengambil dan mengunggah foto mabuknya, so at first she was wrong. Dia menduga Tariq (seniornya di Teater Mata Hari) memasukkan obat ke minumannya, dia ternyata salah juga. But that’s the whole point kan, sama kaya lagi penelitian, bahwa hasilnya tidak sesuai dengan hipotesis pun adalah sebuah hasil dan informasi berharga.

Kalau seandainya dia tidak berani mengambil risiko dan mengabaikan perasaannya, selamanya dia akan dihantui perasaan tidak nyaman dan ketidakadilan.

Sur menemukan kejanggalan setelah pulang dari pesta dalam keadaan mabuk.
(Sumber: IMDb)

5. It’s never been never easy to speak up, but you gotta try

Kenyataannya, bahkan di era modern seperti sekarang pun, sangat sulit menuntut keadilan untuk kasus kekerasan seksual. Stigma yang menghantui korban, tidak adanya dukungan dari keluarga, dan keraguan khalayak, apalagi jika bukti disembunyikan dengan sempurna.

Namun, Sur membuktikan dengan dia memperjuangkan keadilan, dia memberikan keberanian untuk korban lain muncul dan bersama-sama berjuang. It was never easy to speak up, but by speaking up you encourage others to do the same.

Hal ini pernah terjadi juga di dunia nyata, ada sebuah utas Twitter yang viral mengenai lelaki hidung belang yang menipu banyak wanita. Dimulai dari 1 orang yang memberanikan diri bercerita, lalu viral, sehingga banyak korban lain yang mau angkat bicara.

Farah, mantan anggota Teater Mata Hari sekaligus salah satu korban, yang berani menegakkan keadilan karena melihat kegigihan Sur. (Sumber: IMDb)

6. Berhenti melakukan victim blaming

Ini berkaitan dengan nomor 1 tadi, jangan mudah menghakimi orang dan jangan menyalahkan korban kekerasan seksual. Korban juga pasti tidak ingin kejadian buruk ini terjadi pada dirinya, dan seandainya semua pria dan wanita bermoral dan memperlakukan manusia lain dengan hormat, tidak akan ada kasus kekerasan seksual. 

Oh iya, di film ini juga ada korbannya yang laki-laki. Ini juga sebuah pesan yang harus disebarluaskan dan dinormalisasi, bahwa kekerasan seksual bisa terjadi pada perempuan maupun laki-laki.

Sayangnya, kekerasan atau pelecehan seksual pada laki-laki masih sering dianggap sepele. Korban laki-laki sering kali justru ditertawakan ketika mengalami pelecehan karena dianggap lemah. Selain itu, karena stigma serta toxic masculinity, semua pria dianggap akan menikmati jika “disentuh” oleh wanita meskipun tanpa persetujuan dan tidak sewajarnya.

Poin ini saya akui sangat sulit dilakukan, saya pun terkadang masih kesulitan melakukannya. Maka ini jadi pengingat bagi diri saya, untuk tidak lagi melakukan victim blaming. Setidaknya jangan menghujat korban, speak only kind words, karena itu tidak membantu penjahatnya diringkus, tidak pula membantu menghentikan pelecehan, juga tidak membantu korbannya untuk pulih.

7. Pintar Memilih Teman

Pilih teman dan lingkungan yang membuat kita aman. Tentu saja, pilih teman yang selalu menginginkan kebaikan untuk kita. Kalaupun terpaksa berada di situasi yang mebuat kita vulnerable pastikan ada orang yang membuat kita aman. 

Sur ikut pesta itu awalnya karena ditawari pekerjaan, dia pergi bersama Amin, temannya yang adalah seorang tukang fotokopi. Namun, ketika dia mabuk Amin malah meninggalkan Sur bersama dengan orang-orang yang tidak terlalu dikenal oleh Sur. Jangan berteman dengan orang seperti Amin.

8. Think about data security, protect yourself from cyber crime

Di film ini, Sur mencari bukti dengan mencuri data melalui flash disk yang digunakan teman-temannya untuk print tugas di tempat fotokopi Amin. Entah akurat atau tidak, tapi semudah itu Sur bisa meretas dan mencuri data teman-temannya. Begitupun dengan Amin yang berhasil mencuri foto-foto pribadi pelanggannya.

Jadi, hati-hati ya Mah, jika menggunakan komputer atau jaringan internet umum. Tidak usahlah menyimpan data sensitif atau data yang aneh-aneh di flash disk atau perangkat apapun jika tidak terlalu paham bagaimana mengamankannya.

Sur mencuri data teman-temannya untuk menghimpun bukti dan fakta tentang kejadian yang menimpa dirinya. (Sumber: IMDb)

Penutup

Film ini keren banget serta membuat saya cukup trauma karena isu kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan begitu dekat dan memang belakangan sedang ramai dibicarakan. Semoga dengan viralnya film ini banyak yang tergerak untuk mengubah sikap dan pola pikirnya terhadap korban pelecehan seksual.

Semoga film ini jadi pengingat buat kita juga ya Mah, baik sebagai individu maupun sebagai ibu yang mendidik generasi penerus bangsa, untuk menjaga sikap dan mendidik anak kita agar menjaga kehormatan diri sendiri dan orang lain.

Adakah Mamah yang sudah menonton film ini juga? Bagaimana pendapat Mamah soal film ini? Tulis di kolom komentar ya!

Laksita Kharima
Laksita Kharima
Articles: 8

6 Comments

  1. Wah seru kayanya Teh, aku baru dengar dan baca tentang film ini. Bener banyak banget plot twist-nya, nanti kucari deh pengen nonton juga.

    Haturnuhun Teh Laksmi.

  2. Aku belum nonton film ini, baru tau juga ada cerita begini. Tapi kok, membaca ini tetap merasa Suryani tetap punya peran besar dengan hal yang menimpanya. Tapi emang sih, sah-sah saja mengusut untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.

    Mungkin beda ya feelingnya kalau membaca ringkasan dengan menonton sendiri. Tapi, genre begini sih agak bukan pilihan hiburan buat aku. Walaupun emang pesan yang dingin disampaikan perlu diperhatikan.

    Untung tulisannya full spoiler di sini, jadi bisa ikut belajar dan ga perlu nonton berlama-lama. Hehehe…

  3. Kebetulan habis nonton film ini, ditugasin ikut pelatihan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual (KS) di perguruan tinggi. Tindak lanjut dari UU Penghapusan Kekerasan Seksual di Pendidikan. Pas banget sama tema filmnya yakan :))

    Jadilah sebulan kemarin belajar apa itu KS, apa saja yang masuk dalam KS, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana penanganannya kalau naudzubillah kejadian di kampus.

    Hal menarik yang patut disoroti itu sebenarnya adalah, betapa vulnerablenya civitas akademika terhadap kekerasan seksual. Karena relasi kuasa sangat banyak dalam hubungan antar personal di perguruan tinggi. Tak bisa cuma mengandalkan moral, perlu payung hukum yang tegas untuk mengatasi Kekerasan Seksual di perguruan tinggi. Selama ini payung hukum itu belum ada, makanya bisa ada film Penyalin Cahaya. Haha.

    Karena kalau sudah ada UU PKS, kejadiannya jelas bisa dilaporkan ke ranah hukum. Tak perlu menunggu dukungan kampus atau siapapun.

    Kekerasan seksual yang Suryani alami, mungkin bisa saja dibilang adalah kesalahannya sendiri, karena tergoda ikut mabuk – mabukan. Tapi tak bisa dipungkiri tetap ada haknya yang terlanggar disana. Saat dia tidak bisa lapor kemana – mana karena posisinya lemah dalam relasi kuasa, itu yang jadi tidak adil buatnya dan tidak adil buat semua korban lainnya.

  4. Mamah Laksita, ya ampuun, membaca poin pelajaran yang bisa diambil dari film “Penyalin Cahaya” yang ditulis Laksita, fix saya HARUS nonton ini.
    Cara menyampaikannya enak sekali dibacanya dan terlihat sekali kebijaksanaan sang penulis a.k.a Mamah Laksita ehehe.
    Makasiiy ya Mah Laksita. 🙂
    Btw ini kan yang kalau di Netflix, judulnya “The Photocopier” ya.

Tinggalkan Balasan ke MamahalamCancel Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *