Ingin Blog Jadi Top Level Domain? Persiapkan Hal-Hal Ini

Apa sih yang dimaksud dengan blog TLD?, kenapa kita perlu memiliki blog TLD? dan bagaimana mempersiapkan kalau kita ingin memiliki blog TLD? Ini dia jawabannya!

Ketika kita sudah mulai blogging, ada hal-hal yang biasanya jadi perhatian kita. Salah satunya, ‘rumah’ tempat kita blogging. Provider blog seperti WordPress, Blogspot, Medium, Tumblr dan sebagainya memang tempat yang baik untuk memfasilitasi kita sebagai blogger yang baru mulai. Ada sederet fitur yang bisa kita pakai secara gratis, sehingga ‘rumah-rumah’ ini terasa begitu mudah digunakan dan friendly untuk kita yang butuh ngeblog praktis.

Mungkin di antara kita yang sudah memakai provider gratis ini mulai berpikir untuk mengubah domain blog kita menggunakan Top Level Domain (TLD). Yang lainnya mungkin berpikir tidak perlu karena sudah mendapatkan yang bisa didapatkan di provider blog gratis ini.

Sebelumnya kita bahas dulu apa itu Top Level Domain:

Yang dimaksud dengan Top Level Domain adalah tingkatan level domain teratas. Ia berada di bagian akhir dari sebuah domain yang terletak setelah titik atau dot. Contohnya adalah domain www.mamahgajahngeblog.com, mamahgajahngeblog adalah nama domain dan .com adalah top level domain dan merupakan ekstensi domain.

Top Level Domain juga dibagi jadi 2 kategori:

Generic Top Level Domain (gTLD) : Penggunaan TLD secara umum. Contohnya: .com, .edu. .net dan sebagainya

Country Code Top Level Domain (ggTLD) : Penggunaan TLD berdasarkan negara. Contoh : Indonesia menggunakan .id, Amerika menggunakan .us dan sebagainya.

Terdapat juga sublevel domain, yaitu adalah cabang dari domain utama. Misalnya alamat domainnya mamahgajahngeblog.com, subdomain-nya bisa saja review.mamahgajahngeblog.com atau daftar.mamahgajahngeblog.com. Biasanya subdomain ini tidak dipungut biaya tambahan, namun memakai storage hosting yang sama dengan domain utamanya.

Ada beberapa alasan kenapa blog ingin dijadikan Top level domain:

Alasan Memiliki Blog Top Level Domain

Ngapain repot banget? Kan yang penting bisa menulis.” Mungkin ada komentar demikian jika ada bahasan mengenai memiliki blog top level domain. Tentu saja, memiliki blog top level domain memiliki unsur kerumitan sendiri secara teknis. Banyak yang mungkin enggan menuju ke sana. ‘Apalagi emak-emak, nggak ada waktu mikirin begitu.’ Iya memang semua sah-sah saja kok dan tergantung user juga. Semua ada enak dan nggaknya.

Setidaknya, inilah alasan kenapa memiliki blog top level domain:

Ingin tulisan blog memiliki alamat domain sendiri

Ketika menggunakan provider blog gratis, ada embel-embel nama provider tersebut dalam domain blog kita (contoh lalala.wordpress.com atau namaku.tumblr.com). Untuk beberapa orang, hal ini agak mengganggu. Karena kurang menunjukkan nama blog sendiri dan kurang menunjukkan identitas yang ‘berdiri sendiri’. Lagipula, nama domain menjadi sedikit lebih panjang karena harus dibarengi nama provider blog.

Ingin ‘mengantongi’ konten blog sendiri

Karena memakai provider gratis, kita setuju memakai sederet fitur provider tersebut. Namun yang sering tidak disadari banyak pemakai provider blog gratis, adalah karena ketersediaannya yang mudah dipakai ini maka kita setuju bahwa konten blog kita ‘dipegang’ oleh provider tersebut.

Dengan kata lain, jika ada apa-apa di server provider itu maka kita tidak bisa berbuat banyak. Jika suatu ketika, provider blog gratis itu bisa gulung tikar, maka begitu pula dengan blog kita, mengikuti source pemiliknya.

Pun di beberapa provider, di dalam halaman artikel kita bisa ‘disisipkan’ iklan sesuka hati. Tidak bisa dihilangkan atau dipindahkan. Tak cuma iklan, kita tidak bisa menambahkan plug-in (untuk pemakai WordPress misalnya) untuk memakai fitur-fitur yang kita mau. Jadi terbatas memakai fitur yang telah disediakan provider-nya.

Bagi blogger yang ngeblog dengan blogspot memiliki keleluasaan untuk mengubah alamat domain menjadi domain sendiri, namun hosting tetap dipegang blogspot. Namun tidak dengan provider lain seperti WordPress, jika ingin memiliki domain sendiri harus membeli hosting sendiri pula.

tantangan bulanan MGN

Ingin dianggap lebih serius sebagai blogger

Semua orang dapat menulis dengan niat dan hati, juga keseriusan. Hingga kini ada anggapan bahwa ketika telah memakai domain TLD sendiri, maka otomatis orang lain berpikir kita lebih serius mengurus konten blog kita dan tidak ‘dinaungi’ provider blog gratis. Untuk itu ada image yang lebih serius didapatkan bagi pemilik blog TLD.

Jalan monetisasi blog

Suka menulis blog dan ingin mendapatkan peluang dibayar dengan menulis blog? Salah satu jalan utamanya adalah memiliki blog dengan Top Level Domain. Banyak brand memilih blogger dengan domain sendiri dibandingkan yang tidak. Alasannya sama karena unsur keseriusan blogger dan menghindari jika konten untuk mereka ‘dimiliki’ pihak lain.

Faktor ini adalah faktor yang banyak membuat blogger ‘berani’ mengambil top level domain, dengan perhitungan membayar domain akan tertutup dengan penghasilan blogging. Namun jangan lupa merawat blog dan di-update secara berkala.

Ingin lebih banyak mengkustomisasi blog

Karena keterbatasan fitur yang didapat dari provider blog gratis, maka banyak blogger yang ingin blognya lebih advanced secara isian dan tampilan memilih memakai TLD. Contohnya dalam memilih themes.

Fitur yang mungkin tidak didapat dari provider blog gratis adalah tampilan yang terbatas (walau semua tergantung themes yang dipakai juga), tampungan disk/storage media dan website, menambah proteksi, bisa memasang iklan semacam AdSense sesuka hati dan masih banyak lagi.

Persiapan Menuju Blog Top Level Domain

Untuk membuat blog jadi top level domain, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Karena ada beberapa hal yang tidak bisa di-undo. Bisapun, prosesnya bisa panjang. Nah, ini dia beberapa persiapan yang harus diperhatikan:

Memikirkan budget pembelian domain dan hosting

Bagi beberapa orang, budget atau biaya tidak masalah. Namun beberapa yang lain bisa jadi faktor penting. Pertimbangkan harga ekstensi domain yang diinginkan dan biaya hosting jika juga memerlukannya.

Bayangkan biaya ini akan ditagih per tahun, atau per periode yang kita mau (misalnya per 2 tahun, 3 tahun dan seterusnya). Dari situ, ada bayangan berapa biaya yang kita dapat keluarkan.

Menentukan nama domain dan jenis TLD-nya

Menentukan nama domain sebelum membelinya cukup penting. Selalu pastikan nama domain tersedia, setelah disandingkan pula dengan ekstensi TLD-nya. Selalu sediakan nama cadangan just in case nama domain tidak tersedia.

Walaupun tersedia, pastikan nama tersebut tidak diasosiasikan dengan nama merk atau hal lainnya. Setelah memastikan nama itu tersedia, saya sarankan untuk coba meng-google nama itu sendiri dan lihat apa yang muncul. Kalau tidak ada merk tertentu atau tidak diasosiasikan akan sesuatu, maka itu berarti lampu hijau.

Survei Penyedia Domain dan Hosting

Jalan-jalanlah ke penyedia domain dan hosting terpercaya. Lihat harga dan paket yang disediakan. Juga pastikan customer service-nya tanggap dengan pelanggan (ini faktor penting buat yang tidak begitu memahami teknis website). Carilah ulasan ke teman-teman atau di internet tentang penyedia hosting yang kita incar.

Kita bisa manfaatkan promo domain dan hosting yang biasanya tersedia di dekat hari-hari besar. Tapi juga lihat harga normalnya dan pastikan apa kita bisa melanjutkan dengan harga normal.

Hal-Hal Yang Sering Jadi Pertanyaan:

  • Memindahkan artikel-artikel lama, perlukah? Jika telah ngeblog di provider blog gratis, mungkin ada keinginan untuk memindahkan tulisan-tulisan lama. Ini sah-sah saja, tapi pastikan di blog lama tulisan itu sudah di-hidden karena akan membuat bingung Google. Butuh waktu juga untuk memindahkan tulisan dan merapikannya di blog baru
  • Kalau tidak pede karena tidak paham dunia hosting dan website. Alhamdulillah kita hidup di dunia yang menyediakan beragam informasi. Sehingga kita dapat mencari tahu permasalahan dan kemungkinan bisa memecahkannya. Tidakpun, kita dapat meminta bantuan customer service jika memakai penyedia domain/hosting. Sebanyak 90% masalah teknis yang saya hadapi dalam mengurus blog, dipecahkan oleh customer service. Memang tidak semua kasus sama persis, tapi tiap kasus tidak mungkin tidak ada solusinya. Yang paling berpengaruh adalah niat untuk menjalankannya saja.

Penutup

Mengurus blog menjadi top level domain bisa terlihat rumit. Tapi ketika sudah menjalankannya, belum tentu serumit yang dibayangkan. Kalaupun rumit, harusnya worth it.

Perjalanan menyiapkan rumah sendiri untuk blog akan terasa bagai dream come true untuk blogger yang passion-nya memang menulis. So, dicoba langsung saja dan semoga perjalanan Mamah menyiapkan rumah blog sendiri lancar ya!

Referensi :

Mengenal Perbedaan Top, Second & Third Level Domain – Qwords

Andina Rezki
Andina Rezki
Articles: 13

11 Comments

  1. Aku baru saja migrasi hosting dan domain karena wordpress.com makin mahal biaya per tahunnya. Cukup pusing, tapi benar kata Teh Andin, worth it. Hehe. Biarpun pusing tapi ternyata seru juga nguliknya. Harus sabar nyicil-nyicil merapikan tulisan lama yang diboyong ke rumah baru.

  2. Wuihhh, makasiiy banget atas artikel ini ya Andina. Bermanfaat sekali untuk saya yang masih maju mundur untuk punya TLD. Pingiiin tetapi sayang mau ninggalin ‘rumah lama’ ehehe. Lengkap informasinya, Andina. 🙂

  3. Aku jadi tahu lho Andina, sebelum ini ga pernah mikir soal TLD hehe. Masih ada PR juga mindahin blog lama dan rapihin yang baru, ga selesai-selesai 🙂

    • Memang teh May, pindahan blog ini harus dedicated waktu 🙂 ada juga plugin/tools untuk pindahkan tulisan, tapi tetap harus cek satu2 untuk lihat sudah rapih atau belum.

Tinggalkan Balasan ke Andina RezkiCancel Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: