workshop menulis ITBMh Balik Kandang (1)

Dari Workshop Menulis Jurnal Magata dan MGN

Isi pikiran yang hiruk pikuk rasanya sangat akrab bagi para mamah ya. Dari urusan keluarga dan tetek bengek rumah tangga, sampai urusan pekerjaan profesional demi segenggam berlian dan kegiatan komunitas. Ditambah lagi sekarang ini dengan paparan sosial media yang begitu masif, memaksa para mamah untuk selalu tidak mau ketinggalan dari yang lain.
Adalah sangat wajar, kalau kita merasa tidak baik-baik saja secara mental dan butuh solusinya.

Sebagai bagian dari acara Mamah Gajah Balik Kandang, ITB Motherhood Homecoming 2025, sub unit Magata (Mamah Gajah Bercerita) dan MGN (Mamah Gajah Ngeblog) menawarkan sebuah workshop menarik untuk membantu para Mamah bisa lebih mengenali diri sendiri.

Bersama nara sumber Aisya Yuhanida Noor, seorang psikolog, trainer, dan coach di Kubik dan Corporate Innovation Asia (CIAS), selama 2 jam, kami mendapatkan pemaparan mengenai cara menulis jurnal yang lebih terstruktur untuk bisa mengenali emosi yang biasa hadir. Jadi harapannya walau kita sering bete, marah, atau pundungan, janganlah kondisi itu berulang begitu saja tanpa kita jadikan pelajaran agar tidak selalu mengalami kondisi yang sama.

Emang caranya bagaimana?

Teh Aisya yang juga penulis buku Happy Book for Happy Parent (Elex Media Komputindo, 2016), membuka penjelasannya dengan mengajak peserta mengenali kondisi keraguan yang sering menjadi sumber kegalauan banyak orang.

Belajar Berkompromi dengan Diri Sendiri

Sebenarnya rasa ragu atas kemampuan atau potensi diri ini bukan hal yang buruk kok. Rasa ragu yang muncul itu bahkan sebenarnya punya banyak manfaat loh. Bahwa keraguan itu, bisa membantu kita untuk bisa lebih realistis terhadap kenyataan, membantu untuk memutuskan hal-hal yang lebih prioritas, memberikan makna dalam hidup, hingga ke membantu memilih tindakan yang tepat sebagai solusi.

Tinggal keraguan ini yang perlu diregulasi agar tidak menjadi emosi liar yang tidak terkendali dan malah merugikan diri sendiri. Ada penjelasan yang menurut saya cukup menarik. Yaitu tentang perbedaan antara mencintai diri sendiri tanpa syarat dengan menerima diri apa adanya. Sekilas mungkin terasa sama ya. Padahal ini yang membedakan antara orang yang memiliki mental yang sehat dan tidak.

Kita itu perlu menerima diri sendiri tanpa syarat, tapi bukan berarti menerima diri apa adanya dengan pasrah dan pasif. Tidak boleh seperti itu. Kita perlu untuk terus tumbuh dan belajar dari tantangan dan masalah.

Penting sekali untuk para mamah untuk bisa membedakan pikiran yang benar dan perlu diterima dengan pikiran yang menipu dan perlu ditentang, memberi ruang untuk bisa menerima ketidaksempurnaan dan menerima kegagalan sebagai bagian dari proses.
Semua proses ini bisa dibantu dengan metoda jurnaling. Nah, inilah yang menjadi inti dari workshop kali ini.

Apa yang Perlu Ditulis Dalam Jurnal?

Dalam kesempatan ini, para peserta diberikan lembar jurnal yang bisa diisi. Selama ini kita mungkin bingung ya mengenai apa yang perlu ditulis dalam jurnal.

Ada beberapa lembar jurnal yang perlu diisi. Dimulai dengan menentukan prioritas mingguan. Isi kepala yang terasa penuh itu, bisa mulai diringankan dengan memindahkan kegiatan yang perlu dilakukan dari kepala ke atas kertas. Tulis deh, target apa perlu dicapai dalam minggu tersebut.

Selanjutnya pilah secara lebih detail target mingguan ini menjadi kegiatan yang memang wajib dilakukan, boleh dilakukan saat ada sisa waktu dan tenaga, dan kegiatan yang sebaiknya tidak perlu dilakukan.

Ini saya akui praktiknya memang tidak mudah ya. Bagaimana pada akhirnya kita akan tanpa sadar malah menghabiskan waktu melakukan kegiatan yang tidak perlu dan melupakan hal-hal yang wajib untuk dilakukan. Ada yang seperti begini juga? Tetapi setidaknya, kita sudah menuliskannya ya. Itu sudah lebih baik daripada tidak dituliskan.

Selain kegiatan, kita juga perlu mencatat emosi harian. Dalam penjelasannya, Teh Aisya menyebutnya sebagai melenturkan pikiran. Tujuannya untuk membantu kita menelaah emosi dan tidak terjebak dalam pikiran otomatis yang produktif.

Poin-poin penting yang perlu untuk dicatat adalah:

  • Kejadian spesifik hari ini
  • Apa yang saya pikirkan saat kejadian?
  • Bagaimana perasaan saya saat kejadian?
  • Bagaimana respons saya terhadap kejadian tersebut?
  • Apakah saya punya alternatif pikiran berbeda untuk kondisi tersebut?

Kita juga bisa mencoba menulis pengalaman kita dari sudut pandang orang lain. Ini bisa membantu kita melihat alternatif dari sebuah kondisi. Menarik sekali kan? Ada yang sudah pernah mencoba hal ini?

Sebagai pelengkap, Teh Aisya juga menyarankan untuk menulis dengan menggunakan buku tulis dan pena dibandingkan dengan menulis digital di laptop atau hp. Seperti banyak hasil penelitian, memang menulis dengan di atas kertas lebih baik untuk otak manusia.

Perlunya Jurnaling untuk Kesehatan Mental

Catatan jurnaling ini pada akhirnya akan membantu kita untuk bisa lebih baik dalam mengenali emosi dan menata hati dalam berbagai macam kondisi. Jadi tidak lagi terlalu mudah marah, sedih, atau bete sama kejadian yang sebenarnya biasa-biasa saja kok.
Sebenarnya tidak ada yang salah dalam menulis jurnal pribadi. Yang penting kita merasa nyaman dan bisa membantu membuat hidup kita menjadi lebih baik.

Jadi bagaimana pengalaman jurnalingmu selama ini? Apakah tipe terstruktur seperti di atas, atau tipe yang menulis curahan hati bebas?

Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin
Articles: 11

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *