Menyongsong Rembang Senja

Susan, Susan, kalau gede mau jadi apa?

Aku mau jujur, biar jadi insinyur.

Kalau, kalau benar jadi insinyur, mau apa?

Mau bangun gedung bertingkat, jadi kon melorot… oh, kon, konglomerat!

You sing, you lose! 😀 

Sejak kecil kita menghadapi pertanyaan: apa cita-citamu? Mau jadi apa kamu kelak? Dan cita-cita inilah yang menjadi drive kita selama dua puluh tahun kemudian. Setiap hari berusaha menggapai impian: masuk ke Institut Teknik terbaik di Indonesia, lalu lulus menjadi insinyur seperti Susan, dan (kalau bisa) menjadi konglomerat. Atau paling tidak, hidup tidak melarat.

Di usia produktif ini, bisa dibilang bahwa sebagian dari Mamah Gajah sudah berhasil menggapai cita-cita yang diangankan dari kecil. Sebagai Mamah, kita tidak lagi terlalu berpikir apa cita-cita dan harapanku untuk masa depan. Sekarang kita lebih terfokus dengan masa depan anak-anak, dan bagaimana kita menyokong mereka menggapai cita-citanya.

Tetapi, apakah benar kalau kita tidak perlu lagi punya cita-cita untuk masa tua? Memperingati Hari Lanjut Usia Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Oktober ini, yuk kita sama-sama merenungkan hal-hal apa yang perlu kita persiapkan untuk hari tua.

Tua atau Muda, Di Manakah Batasannya?

Sewaktu saya menikah dan menjadi seorang ibu, tiba-tiba saja status ibu dan ibu mertua saya berubah di mata saya. Mereka bukan lagi Ibu yang sedang menjalani masa produktif dan sibuk mengurusi anak-anaknya, tetapi seketika mereka berubah menjadi nenek atau calon nenek. Mereka resmi memasuki masa lansia. Tiba-tiba saya mendengarkan keluhan, kalau mereka sudah tua.

Batasan tua dan muda sangatlah bervariasi. Ada survei yang mengungkapkan bahwa usia muda itu hanya sampai umur 32 tahun saja, dan setelahnya sudah disebut sebagai usia tua. Tetapi ada juga survei yang mengatakan kalau batasan muda itu bisa sampai di usia 50, baru setelahnya seseorang disebut tua.

Saya sendiri sering terkekeh-kekeh kalau membaca berita. “Seorang nenek tua jatuh didorong seorang wanita muda di pertokoan. Perempuan berumur 52 tahun sempat dibawa ke rumah sakit untuk menerima pertolongan pertama.” – Nah lo, 52 tahun itu tua atau muda sih? Pantas tidak disebut sebagai “nenek tua”?

Muda menjadi tua – di mana batasannya? (Image courtesy: istockphoto)

Ketika banyak ibu merasa sudah tua ketika mereka mencapai usia 50 tahun, di belahan dunia yang lain ada banyak perempuan yang baru memulai karir barunya saat mereka mencapai usia yang sama.

Pentingnya Mempersiapkan Hari Tua

Berapapun batas muda – tua menurut para Mamah, tetapi kita sama-sama tahu bahwa menjadi tua adalah sebuah proses yang akan terjadi, pasti terjadi, dan tidak dapat dihindari.

Sama seperti setiap masa peralihan memiliki kesulitannya tersendiri, perubahan status dari seorang ibu yang aktif mengurus anggota keluarga ataupun juga aktif bekerja untuk kemudian pensiun membutuhkan banyak adaptasi.

Sebagai ilustrasi, adalah seorang ibu rumah tangga yang berusia 50 tahun-an. Ibu ini baru selesai menikahkan semua anaknya. Karena semua anak sudah pergi meninggalkan rumah, ibu ini beranggapan bahwa tugasnya sebagai ibu dan ibu rumah tangga sudah selesai. Si ibu memutuskan untuk “pensiun” dan tidak mau lagi mengurus rumah, keluarga dan semacamnya. Sekarang, adalah giliran anak-anaknya untuk mengurusi dia.

Di saat semua anak sibuk mengurusi hidup dan anak-anak mereka masing-masing, si Ibu mulai merasa gelisah. Dia merasa tidak dibutuhkan karena tidak ada lagi anak yang tinggal di rumah. Tidak tahu mau mengerjakan apa, Ibu ini menyimpulkan bahwa bahwa hidupnya sudah usai dan sekarang “tinggal menunggu waktu” saja.

Sebuah peralihan yang begitu besar bisa menimbulkan depresi. Sama seperti para bapak yang perlu mempersiapkan masa pensiun supaya tidak sempat mengalami post power syndrome setelah tidak ngantor lagi, para Ibu pun perlu bersiap menghadapi empty nest syndrome. Ketika kita kembali berdua lagi dengan para suami setelah dua puluh tahun lebih selalu bersama anak-anak, apakah kita siap?

Perempuan Lebih Panjang Umur, Tapi Lebih Rentan Terhadap Penyakit

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki harapan hidup lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Namun, perempuan lanjut usia juga memiliki kerentanan terhadap penurunan daya fisik. 

Beratnya masa hamil dan melahirkan, menopause dan perubahan hormon secara drastis, dan intensnya aktivitas fisik di dalam peranan sebagai ibu membuat perempuan menghadapi banyak masalah kesehatan setelah mereka memasuki usia lansia. Radang sendi, pengeroposan tulang, hipertensi dan diabetes adalah beberapa masalah kesehatan yang banyak dialami oleh perempuan lansia.

Perubahan fisik dan juga hormon yang sangat besar ini sangat mempengaruhi mutu kehidupan kita. Berkurangnya kemampuan untuk melakukan kegiatan fisik, mood swings, dan rasa tidak enak badan yang sering muncul sering begitu mengganggu, sampai bisa mempengaruhi relasi di antara suami istri, ataupun relasi dengan anak serta menantu.

Langkah-langkah Mempersiapkan Masa Senja

Ketika saya meng-google “persiapan hari tua”, hampir semua artikel yang muncul merujuk kepada persiapan secara finansial. Dana dan investasi untuk masa pensiun yang cukup tampak menjadi fokus utama pada persiapan menuju hari tua. 

Masalah finansial adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk dipersiapkan, tetapi kecukupan secara ekonomi bukanlah segalanya. Sebagai perempuan, kita perlu memikirkan persiapan hari tua secara menyeluruh, baik dari segi finansial, kesehatan, emosional, dan lain sebagainya.

Kalau bisa, terus sehat dan aktif bersama suami sampai tua ya! (image courtesy: istockphoto)

Berikut di bawah ini beberapa macam ‘investasi’ (persiapan) yang dapat dilakukan supaya kelak kita bisa siap merangkul usia senja:

Investasi Finansial

Menjadi tua bukan berarti menjadi tidak produktif lalu tergantung 100 persen kepada anak-anak. Tentu saja akan ada saatnya kesehatan kita semakin menurun dan kita tidak bisa lagi mengurus diri sendiri – tetapi alangkah baiknya bila sebagai lansia, kita masih punya kemandirian dan kebebasan finansial.

Orang tua yang setelah masa pensiun langsung sepenuhnya bergantung kepada anak-anak untuk urusan finansial akan merasa sangat terbatas. Plus, kita juga bisa terlalu cepat membuat keadaan di mana anak-anak kita terjepit di antara kewajiban harus mengurus orangtua mereka, dan juga mengurus anak mereka yang masih kecil. Istilah bule-nya: sandwich generation.

Kemandirian dalam aspek finansial adalah hal yang perlu dipersiapkan sejak sekarang. Tujuan akhir bukanlah supaya kita tua kaya raya, atau banyak harta untuk dapat diwariskan. Tetapi sampai pada posisi kita masih punya “pegangan” di hari tua sehingga tidak sepenuhnya merepotkan anak.

Ada banyak penawaran dan cara untuk mempersiapkan investasi atau tabungan untuk hari tua. Tetapi para Mamah jangan lupa berhati-hati, supaya tidak terjebak dalam tipu daya!

Investasi Kesehatan

Menjadi tua berarti berkurangnya kemampuan dan ketahanan fisik. Sebenarnya tidak perlu menunggu tua-tua banget untuk merasakan adanya penurunan ini. Coba saja ingat di masa kita berusia 20 tahun dengan 30 tahun, atau waktu kita memasuki umur 40 tahun. Pasti para Mamah sudah sedikit banyak merasakan perbedaan.

Masalah sendi dan osteoporosis di masa lansia bisa kita hindari dengan cara sering berolahraga sedari kita muda. Buat Mamah yang tidak suka minum susu seperti saya, suplemen kalsium, vitamin D dan zat besi bisa menjadi jawabannya.

Tetapi ada yang lebih penting daripada mengkonsumsi suplemen, yaitu pola hidup sehat, makan makanan yang bergizi dan juga olahraga. Jangan lupa konsultasikan ke dokter sebelum para Mamah memilih vitamin dan suplemen yang hendak dikonsumsi.

Satu hal yang perlu diperhatikan juga adalah pentingnya konsultasi kesehatan dan check-up. Untuk kita para Mamah, setelah usia 40 tahun kita perlu melakukan pemeriksaan rahim dan payudara secara berkala.

Pemerintah sudah mendukung perempuan untuk memeriksa kesehatan. (Image courtesy: kemkes RI)

Pola hidup sehat sejak sekarang adalah sebuah investasi bagi kesehatan dan ketahanan fisik kita di masa depan. Jangan malas untuk bergerak ya! Ingat, Mamah Gajah mau tetap sehat dan energik sampai sudah nini-nini!

Investasi Emosional

Bisa bahagia di hari tua diawali dengan kesiapan untuk menerima kenyataan menjadi bahwa usia kita bertambah, kita menjadi kurang produktif dan juga mengalami penurunan kualitas kesehatan dan ketahanan fisik.

Kalau kita sudah menerima fakta ini, kita akan merasa lebih mudah untuk menghadapi perubahan. Perubahan di dalam status pekerjaan, anak-anak yang sekarang memprioritaskan keluarga mereka sendiri, kesepian yang mungkin tiba-tiba datang, dan lain sebagainya.

Persiapan emosional bisa dimulai sejak awal, dengan membaca buku ataupun mendengarkan pengalaman orang lain. Bersiap melepaskan anak-anak di saat mereka dewasa bisa dimulai dari sekarang! Dengan memiliki hubungan dan kebersamaan yang berkualitas dengan anak-anak semasa mereka masih ada di rumah, sambil mengingat kalau masa kecil mereka ini bukan untuk selamanya – kita bisa mempersiapkan masa tua tanpa penyesalan bahwa dulu kita kurang waktu bersama mereka.

Investasi Relasi dan Komunitas

Salah satu hal yang perlu dipersiapkan sebelum kita menjadi lansia adalah relasi dengan orang lain. Relasi paling penting adalah relasi kita dengan suami. Sekarang ini kita para Mamah sering terfokus pada anak-anak karena mereka masih kecil dan masih butuh banyak bantuan. Tapi jangan lupa Mah, nanti waktu mereka besar, kita akan berdua lagi dengan Pak Suami. Hubungan kita dengan suami harus tetap dijaga biar tetap hangat dan manis supaya di hari tua kita enggak merasa asing satu sama lain ketika harus berdua saja.

Relasi dengan anak juga adalah relasi yang perlu dipersiapkan. Ingatkan anak-anak untuk tidak lupa pada orangtua bila mereka sudah menikah kelak, tetapi juga persiapkan mereka dan hati kita bahwa mereka akan perlu berfokus pada keluarganya sendiri nanti. Bila relasi kita dengan anak-anak yang masih kecil atau masih remaja ini sehat dan hangat, semoga nanti bila sudah besar mereka pun selalu ingat dan perhatian kepada kita. Sama seperti Mamah satu ini, yang anaknya sudah berjanji untuk selalu menelepon setiap hari.

Masalah klasik lainnya di dalam menjadi tua: kita berubah menjadi seorang mertua! Wah, kalau mertua laki-laki sih enggak banyak ceritanya ya, Mah. Tapi mertua perempuan itu selalu gampang-gampang susah ditaklukkan. Gimana nih, para Mamah sudah berpikir belum akan menjadi mertua seperti apa?

Persiapkan hati untuk menerima menantu sebagai anak sendiri. Ingat porsi kita setelah menjadi orangtua dari anak-anak yang sudah menikah itu nanti akan menjadi penonton dan suporter saja – memberi bantuan berupa tindakan, doa, dan nasihat bila mereka minta. 

Relasi lain yang perlu dibina sejak muda adalah relasi dengan komunitas. Kesepian setelah anak-anak pergi bisa dikurangi dengan bergabung di dalam komunitas yang membangun. Salah satu keuntungan berkomunitas dengan sesama manula adalah kita jadi sadar bahwa masalah-masalah yang kita hadapi sebagai lansia bukanlah masalah kita sendiri. Sebenarnya banyak lansia lain mengalami masalah yang sama.

Berkumpul bersama lansia lain tidak bisa menggantikan posisi anak yang meninggalkan rumah, tapi bisa meringankan kerinduan kepada mereka. (Image courtesy: istockphoto)

Biasa berkomunitas adalah sebuah hal yang perlu dipupuk sejak muda. Banyak ibu, terutama para ibu rumah tangga yang larut dalam kesibukan mengurus keluarga dan anak-anak lupa untuk bergaul ke luar rumah. Untung ya kita tergabung dalam MGN yang keren ini. Semoga kita masih terus berteman ya Mah sampai kita tua!

Investasi Pengetahuan dan Hobi

Belasan tahun lalu saya suka sekali merajut. Untuk melewati jam-jam yang membosankan dalam perjalanan ke kantor, saya suka merajut di bus atau di kereta. Atau sambil makan siang sambil mendengarkan teman-teman bercerita.

Biasanya sih tidak ada yang mempermasalahkan hal ini, tetapi ada juga satu dan dua yang mengejek bahwa saya masih muda kok sudah seperti nenek-nenek, merajut di stasiun kereta. Saya jawab, “Lho, kata siapa merajut itu untuk orang tua saja? Itu nenek-nenek yang merajut di usia tuanya, sudah belajar dari muda lho. Tidak mudah untuk belajar merajut atau menjahit ketika kita sudah tua dan mata kita sudah melemah!”

Cerita ini intermezzo belaka ya. Tapi punya skill dan hobi itu sangat penting lho sebagai bekal di masa tua. Ketika tuntutan aktivitas sudah menurun, banyak para ibu menjadi linglung harus mengerjakan apa. Kita perlu menabung pengetahuan, keterampilan dan juga memelihara sebuah minat yang bisa kita nikmati sampai pada hari tua.

Menjahit satu baju setiap hari: usia 100 tahun dan terus memberi. Image courtesy: dailymail

Selain untuk mengisi waktu, kemampuan kita ini bisa juga kita sumbangkan untuk manfaat bagi orang di sekitar kita. Ada sebuah cerita tentang seorang nenek, Lillian Weber, yang mencapai usia 100 tahun dan terus aktif menjahit untuk anak-anak di Afrika. Atau cerita seorang Papah Gajah (atau Kakek Gajah?) yang sedari muda suka menulis dan setelah pensiun belajar nge-blog karena mau melestarikan budaya daerahnya.

Investasi Iman

Nah, yang ini adalah bagian paling penting. Tapi ditaruh paling akhir justru biar terus diingat dan tidak dilupakan. Di atas segala persiapan dan investasi yang bisa kita lakukan, yang paling kita butuhkan adalah keyakinan kita akan penyertaan Tuhan.

Ketika hari makin senja dan banyak hal terasa tidak pasti, pasangan kita mungkin sudah pergi atau anak-anak terasa tidak setia menemani – kita membutuhkan Tuhan untuk memegang tangan kita dan menguatkan kita untuk terus berjalan.

Sampai di rembang senja, Tuhan yang pegang tangan kita. (Image courtesy: istockphoto)

Iman dan hubungan dengan Tuhan adalah hal yang dari sekarang harus kita bangun dan pelihara. Apapun yang terjadi di hari depan, bila Tuhan beserta, kita akan selalu aman. Amin.

Penutup

Nah, gimana para Mamah, apakah mulai terbayang kira-kira kalau tua mau menjadi Mamah Lansia model apa? Apa cita-citamu untuk masa tua? Bukan untuk anak-anak, tapi untuk dirimu sendiri. Apa jawabannya?

Menjadi tua, sekali lagi, adalah proses alami. Menjadi tua bukanlah sesuatu yang menakutkan, tetapi sebaliknya bukti bahwa kita semakin matang. Embrace your age with grace – itu prinsip saya. Tidak perlu stress kalau sudah berkepala 4, 5 atau bahkan 6. Tidak perlu takut di waktu rambut mulai memutih dan keriput datang.

Bisa tua, bisa terus hidup sampai tua adalah sebuah anugerah yang besar dari Tuhan. Itu artinya kita masih diberi kesehatan dan umur yang panjang, untuk terus berkarya dan menemani anak-anak serta cucu-cucu kita.

Semoga kita semua diberikan Tuhan kesehatan ya, para Mamah Gajah di manapun kita berada – sampai kita semua menjadi nini-nini yang bahagia!

Default image
Irene Cynthia
Seorang mamah gajah, ibu rumah tangga biasa, suka menulis dan sedang belajar untuk kembali rajin membaca. Sekarang ini sedang merantau di negeri Belanda.
Articles: 4

23 Comments

  1. nyari jarum rajut dan benang lagi ah, eh tapi skrg lebih seneng nulis daripada merajut, hehehe… yang penting walau tambah usia tetapi tetap berkarya ya…

  2. Dear God, Dea, such an excellent writing. Waktu itu saya sudah baca once this was published. Dan ku paling suka dengan closure yang Dea tulis.

    “Embrace your age with grace”….

    Yang kepikiran saat ini, nanti pinginnya pas sudah berusia senja (tentunya jika Sang Kuasa memberikan ini pada saya) tetap sehat walafiat dan tidak mau merepotkan suami, anak, dan atau orang lain. Dan tentunya, ingin terus berkarya dan berkiprah agar tetap bisa memberi value dan membuat otak tetap sharp.

    Namun di sisi lain, ada rasa takut juga, beberapa tahun lagi (insha Allah) saya akan memasuki big 4. Aaaaaaaaa. Sekarang saya sudah riweh mencari banyak pengetahuan tentang ‘awet muda’. Wkwkwk. Tapi, normal kan ya seperti ini? Wkwkwk.

    • Thank you for your sweet comment, Uril 🙂
      Ehehe.. gak papa umur kepala 4 ternyata gak kerasa beda kok sama kepala 3. Aku udah kepala 4 dan suka gak sadar kalau ternyata udah tante-tante hihihi..

      Kita boleh dong pingin ‘awet muda’, dalam arti ya memperpanjang selama mungkin masa kita fit secara fisik 🙂 Yang penting bersyukur ajalah, untuk setiap tahap yang boleh kita jalani di dunia itu semua anugerah semata 🙂

    • Dear Uril, thank you for your sweet comment, Uril 🙂
      Ehehe.. gak papa umur kepala 4 ternyata gak kerasa beda kok sama kepala 3. Aku udah kepala 4 dan suka gak sadar kalau ternyata udah tante-tante hihihi..

      Kita boleh dong pingin ‘awet muda’, dalam arti ya memperpanjang selama mungkin masa kita fit secara fisik 🙂 Yang penting bersyukur ajalah, untuk setiap tahap yang boleh kita jalani di dunia itu semua anugerah semata 🙂

  3. Nanti kalau NGN kita manggilnya Nini dong haha.

    Tulisan yang bagus, mengingatkan masih banyak PR harus dilakukan. Cita-cita ku juga bisa sehat sampai tua, ga usah bergantung sama anak, dan pastinya bisa tetap berkarya, semoga kita semua bisa ya..amin.

  4. Wah jadi ingat orang tua, dan semua yang ditulis disini terbukti benar.hahaha

    Saya jadi ingat bagaimana orang tua saya gelisah ketika saya, anak terakhirnya menikah dan harus keluar dari KK. Bagaimana mereka setiap hari berusaha berbuat sesuatu agar tetap dibutuhkan oleh anak-anaknya.

    Ternyata menuju senja perlu banyak persiapan ya!

    • Hehe.. ini juga nulisnya karena banyak mengamati orang tua sendiri teh… ayolah kita sama-sama mulai aware, semoga diberi Tuhan umur panjang dan kita tetap bisa positif menghadapi masa lansia.

  5. Pernah kepikiran nanti pas tua pas suami udah pensiun, mau keliling Indonesia naik kapal pesiar sama suami. 😄. Tapi, ya itu, untuk bisa sampai kesitu, memang banyak yang harus dipersiapkan. Dan, semua yang disebut di atas itu krusial semua yah. Semoga bisa mempersiapkannya dengan baik.

    • Nah bagus tuh teh punya cita-cita kayak gitu. Impian kan bikin kita jadi terus semangat untuk berusaha mencapainya. Semoga terus semangat ya teh, biar pas tua beneran bisa menikmati hari tua travelling keliling Nusantara.

    • Oh.. ada tuh baru kmrn rame, juara Olimpiade dari Amerika yang suka merajut sambil ngisi waktu luang. Pas liat dia, teman2 aku yang juga suka diketawain kalau merajut sambil nunggu2 bus atau kereta langsung kegirangan hehehe.. tuh kan bukan kami doang yang “aneh” 😀

      Yuk belajar teh, skrg banyak juga lho komunitas yang suka crafting di Indonesia

  6. Investasi finansial dan investasi kesehatan itu udah biasa. Investasi emosional, pengetahuan dan hobi itu pengingat yang bagus.

    Aku punya “cita-cita”, jadi nenek yang jalan-jalan dan hepi-hepi di masa tua. Menikmati main-main ke rumah anak, main sama cucu, dll. Semoga lah ya.

  7. aku suka artikel ini …
    thanks ya teh irene sudah menuliskannya

    umurku 50 tahun, kebetulan kalau dosen masa pensiunnya 65 tahun. jadi rasanya masih ada kesempatan untuk berkarya, berbagi dan terus update pengetahuan.
    sedang suami di bumn kan umur 55 pensiun, aku udah bilang sih prepare ya after pensiun di bumn tetap harus berkarya agar tak power sindrome, mungkin bidang sosial akan dipilihnya

    salam semangat dan semoga selalu sehat aamiin

    • Teteh… baru liat komentarnya. Semangat teh, untuk suami juga. Memang masa pensiun di Indonesia itu cukup awal ya, 55 tahun kan masih muda sekali. Di sini resminya umur pensiun itu 67, warga seperti dipaksa kerja sampai tua memang, tapi juga jadinya tetap ada aktivitas.

      Semangat teh, sehat-sehat ya kita semua, bisa panjang umur sampai nini bahagia, Amin

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: