sumber heritage kereta api indonesia

Pengalaman Mengikuti Railway Heritage Tour

Naik kereta api, tut…tut…tut…
Siapa hendak turut
Ke Bandung…Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama

Mamah pasti pernah dengar dan menyanyikan lagu di atas ya…
Lagu berjudul “Naik Kereta Api” ini merupakan ciptaan Saridjah Niung Bintang Soedibio, atau lebih dikenal sebagai Ibu Soed yang memberikan pengetahuan tentang naik kereta api.
Tentu saja, naik kereta api yang benar adalah membayar karcis kereta api, dong.

Naik kereta api mengingatkan saya ketika kuliah di Bandung. Setiap beberapa minggu atau bulan, saya pulang ke Jakarta, naik kereta apa Argo Parahyangan, turun di Jatinegara. Begitu berulang, Jakarta-Bandung, sampai saya lulus.

Selama menetap di Bandung, saya sudah pernah naik kereta api dari Bandung ke Jakarta, Bandung – Cirebon, Bandung – Semarang, Bandung – Solo, Bandung – Malang atau Bandung – Surabaya, dan Bandung – Yogyakarta.

Bersama teman-teman kuliah pernah naik kereta api berbahan bakar batu bara, dari Banjar – Cijulang, untuk berwisata ke Pangandaran. Pemandangannya keren, menyusuri tebing, dan di bawahnya deburan ombak memecah karang.
Tapi, itu dulu (pakai banget). Jalur Banjar – Cijulang kemudian ditutup karena dianggap tidak ekonomis. Ada wacana dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membuka kembali jalur ini untuk mengangkat pariwisata dan perekonomian Jawa Barat Selatan.

jalur kereta api kuno banjar-parigi
Viaduk antara Banjar-Parigi tahun 1930an. (Sumber: media.kitlv.nl)

Sejarah Perkeretaapian di Indonesia

Menilik sejarah kereta api di Indonesia tak lepas dari peran pemerintah Hindia Belanda membangun jalur rel kereta api di seluruh pulau Jawa, sebagian Sumatera dan Sulawesi. Tujuan utama membangun rel kereta api adalah mengangkut hasil perkebunan, misalnya teh, kopi, karet, rempah-rempah, kayu, atau tebu untuk pabrik gula.

Sistem perkereta-apian di Indonesia mulai dicanangkan pembangunannya oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. LAJ Baron Sloet van den Beele pada hari Jumat, 17 Juni 1864. Pembangunan jalur kereta api pertama dilakukan oleh perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nedelandsch Indische Spooerweg Maatshcappij (NV NISM), di bawah pimpinan Ir. JP de Borders.
Rel kereta api pertama dibangun di kota Semarang, Jawa Tengah, menghubungkan stasiun Samarang NIS sampai dengan desa Tanggung, sepanjang 26 km.

jalur kereta api semarang-tanggung
Suasana kesibukan pembangunan jaur kereta api Semarang-Tanggung. (Sumber: Koleksi Album NISM)
pembangunan jalur jembatan
Pekerjaan konstruksi jembatan Tahun 1919. Susunan besi dan baja diangkut menggunakan trem. (Sumber: Tropenmuseum.nl)

Sedangkan pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api negara melalui Staatssporwegen (SS) pada tanggal 8 April 1875.

Selanjutnya berkembang perusahaan-perusahaan swasta perkeretaapian lain yang membangun jalur kereta api berikut stasiun dan perkantoran di pulau Jawa, Sumatra dan Sulawesi.

Dirilis dari website https://heritage.kai.id/ banyak investor swasta yang turut membangun jalur kereta api, yaitu: Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).

Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 17 Agustus 1945, beberapa hari kemudian dilakukan pengambilalihan stasiun dan kantor pusat kereta api yang dikuasai Jepang. Puncaknya adalah pengambilalihan Kantor Pusat Kereta Api Bandung tanggal 28 September 1945 yang diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia.
Sampai sekarang penyelenggara perkeretaapian Indonesia hanya dilakukan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

kantor pusat pt kereta api (persero)
kantor pusat PT Kereta Api Indonesia (persero), sumber: twitter PT KAI

Railway Heritage Tour Buitenzorg – Soekaboemi – Tjiandjoer

Waktu itu beberapa tahun yang lalu, saya menyempatkan ikut wisata sejarah kereta api. Informasi tentang wisata ini di-share melalui poster unik bergaya tempo dulu, lengkap dengan ejaan lama, bunyinya: Railway Heritage Tour. An Exclusive Trail Buitenzorg – Soekaboemi – Tjiandjoer.

peta jalur railway heritage tour
wisata sejarah kereta api

Acara wisata sejarah ini terselenggara berkat kerjasama antara ICOMOS (International Council on Monuments & Sites) dan Unit Preservation & Architecture PT. Kereta Api Indonesia (Persero).
Kelompok peserta tour ini dibagi menjadi dua kelompok, peserta dari Bandung dan peserta dari Jakarta. Rencananya kedua kelompok tersebut akan berkumpul di Stasiun Bogor.

Saya termasuk peserta rombongan yang berangkat dari Bandung menggunakan bis wisata dan berangkat dini hari menuju Bogor.

Zaman Hindia Belanda dulu, nama lain dari kota Bogor adalah Buitenzorg. Konon arti buitenzorg adalah wilayah yang damai.
Menurut jadwal kami akan naik kereta api dari kota Bogor ke Sukabumi. Jadwal keberangkatan pukul 08.00 dari Stasiun Paledang, stasiun yang beroperasi di kota Bogor, sekira 500 m jaraknya dari Stasiun Bogor.

Stasiun Bogor

Stasiun Bogor berada +246 m dpl, yang merupakan bangunan cagar budaya perkeretaapian Indonesia serta tempat pemberhentian terakhir.
Bangunan ini didirikan Pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) dan mulai beroperasi tahun 1872. Pada tahun 1881, stasiun Bogor mengalami perluasan karena jumlah penumpang yang meningkat.

Kami semua berkumpul di ruang VIP Stasiun Bogor dan di sana sudah berkumpul peserta tur dari Jakarta. Kedatangan peserta disambut oleh Kepala Stasiun Bogor Sugi Hartanto dan perwakilan dari Unit Preservation & Architecture PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Supriyono. Kemudian kami dipandu keliling stasiun Bogor oleh Dicky AS Soeria Atmadja (Vice President ICOMOS Indonesia).

stasiun bogor
Stasiun Bogor, sumber: pribadi

Desain bangunan stasiun Bogor dibangun dengan jarak langit-langit yang cukup tinggi, sehingga ruangan cukup nyaman dan tidak panas.
Bangunan ini berlantai dua, lantainya terbuat dari loteng, yang konstruksinya seluruhnya dari kayu.
Saya suka sekali dengan desain tangga putar yang terbuat dari kayu jati tebal. Rasanya sekarang ini tidak ada lagi kayu jati dengan kualitas tebal dan gelap seperti ini. Papan-papan injakan anak tangganya pun panjang dan tebal.

tangga stasiun bogor
tangga stasiun Bogor

Kembali ke bawah, kami melalui pintu yang lebar dan tinggi, juga terbuat dari kayu jati.
Uniknya, bagian bawah pintu dilapis dengan kuningan agak ada tonjolannya seperti duri (?).
Sepertinya melindungi bagian bawah pintu supaya aman kena tendangan (mungkin lho).
Dari depan, deretan jendela berjalusi, tampak indah dan memudahkan aliran angin.

jendela stasiun bogor
deretan jendela stasiun Baogor, sumber: pribadi

Setelah cukup berkeliling, maka kami jalan kaki ke stasiun Paledang, bersiap naik kereta api Pangrango, guna melakukan perjalanan ke Sukabumi.

Perjalanan Bogor – Sukabumi

Kereta api yang menuju stasiun Sukabumi namanya KA Pangrango dan berangkat tepat pukul 08.05 dari stasiun Paledang.
Bila melihat peta perjalanan ke Sukabumi, maka perjalanan menuju Selatan, membelah pegunungan disertai langit pagi hari nan cerah. Di sebelah kanan adalah gunung Salak (+2211 m) sedangkan di sebelah kiri tampak gunung Pangrango (+3019 m).

Stasiun pertama kami tiba di stasiun Batutulis, lanjut stasiun Ciomas, stasiun Maseng, dan tiba di stasiun Cigombong. Kami sempat berhenti lima menit, dan peserta wisata diberi kesempatan untuk turun dan mengambil foto panorama pemandangan sawah membentang dan gunung di kejauhan.

pemandangan gunung Salak di stasiun Cigombong
pemandangan asri di stasiun Cigombong, sumber: pribadi

Wilayah Priangan di era Hindia Belanda merupakan wilayah perkebunan teh, karet, dan kina. Hasil perkebunan kemudian diangkut menuju stasiun terdekat, diangkut ke Batavia, selanjutnya dibawa dengan kapal laut ke Eropa.
Di tahun 1930-an, perkebunan kina milik pemerintah kolonial Belanda di Jawa merupakan pemasok utama hingga 97% produksi kina dunia. Seperti diketahui, di kota Bandung, di jalan Pajajaran ada pabrik kina yang sempat mengharumkan nama kota Bandung.

Di lereng gunung Pangrango ada kawasan wisata Danau Lido, yang dapat dicapai dari jalan raya Bogor – Sukabumi. Danau ini merupakan danau buatan yang memanfaatkan air dari anak sungai Cisadane. Kawasan wisata Danau Lido dibuat pada tahun 1898 dan merupakan tempat peristirahatan bagi para petinggi pengawas pembangunan jalan dan pemilik perkebunan. Konon Ratu Wilhelmina pun dikisahkan pernah menginap disini.

Dari stasiun Cigombong, perjalan dilanjutkan melalui stasiun Cicurug, Parung Kuda, Cibadak, Karangtengah, Cisaat dan berakhir di stasiun Sukabumi.
Di daerah sekitar stasiun Cibadak ada daerah perkebunan bernama Cipetir, yang merupakan perkebunan karet.

getah karet tjipetir
lempeng getah perca, sumber: Heritage Trail


Bedanya dengan karet lain yang disadap dari getah kulit pohon, maka getah dari perkebunan Cipetir merupakan hasil pengolahan dari daun pohon karet.
Getahnya diproses dengan memeras daun Gutta Percha dengan batu granit, sehingga getahnya dinamkan getah perca.
Produk getah perca dari perkebunan karet di Cipetir ini digunakan sebagai bahan insulator kabel telegraf bawah laut Transatlantik pada abad ke 19.

Cipetir menjadi terkenal kembali setelah ada seorang warga negara Inggris, bernama Tracey Williams yang menemukan lempengan sebesar tablet seperti karet bertuliskan ‘Tjipetir’ yang ditemukan di pantai Cornwall, Inggris, tahun 2012.
Ternyata penemuan sejenis juga terdapat di pantai Spanyol, Perancis, Belanda, Jerman, Norwegia, Swedia, dan Denmark.
Beberapa penelitian mengasumsikan bahwa benda tersebut adalah getah perca produksi pabrik karet Cipetir, Sukabumi, yang dibawa dengan kapal laut ke daratan Eropa.
Kemungkinan kapal tersebut karam sehingga isinya berceceran ratusan tahun kemudian.

Pukul 10:09 kami tiba di stasiun Sukabumi.
Sebetulnya stasiun Sukabumi juga menarik untuk diamati, sayangnya kami harus segera pindah ke kereta lain untuk meneruskan perjalanan ke Cianjur.

Perjalanan Sukabumi – Cianjur

Perjalanan dari Sukabumi ke Cianjur dilanjutkan dengan KA Perintis Siliwangi yang telah tersedia di jalur 2. Berbeda dengan kereta dari Bogor ke Sukabumi yang merupakan rangkaian kereta eksekutif dan ekonomi, maka kereta Perintis Siliwangi ini lebih sederhana.
Bangkunya ditata empat orang berhadapan.
Oh ya, bagi perkeretaapian Indonesia, istilah kereta adalah alat angkut untuk manusia. Sedangkan gerbong diperuntukkan untuk hewan.

Perjalanan dari Sukabumi ke Cianjur kami melalui beberapa stasiun kecil, antara lain Gandasoli, Cireungas, dan stasiun Lampegan.
Sebelum mencapai stasiun Lampegan, kereta api akan melalui terowongan jalur kereta api tertua memiliki panjang 683,76 m yang dibangun oleh Staatspoorwegen (SS) tahun 1879-1882.
Begitu keluar dari terowongan, kereta sempat berhenti sebentar untuk memberi kesempatan kepada peserta wisata untuk memotret terowongan dan ber-wefie ria secara kilat.

terowongan lampegan
terowongan Lampegan, sumber: pribadi

Setelah melalui stasiun Lampegan, perjalanan dilanjutkan melalui stasiun Cibeber, Cilaku, dan akhirnya tiba di stasiun Cianjur pukul 11:45.

Stasiun Cianjur

Sama halnya dengan stasiun Bogor, stasiun Cianjur yang terletak pada ketinggian +439 m dpl, juga ditetapkan menjadi cagar budaya perkeretaapian oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI.

Peserta Railway Heritage Tour ini disambut oleh kepala stasiun Cianjur, dilanjutkan dengan istirahat, sholat, dan makan siang.
Setelah mendapat paparan tentang penyelenggara perjalanan wisata ini yaitu ICOMOS dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), kami pun foto bersama, dan mendapatkan kenang-kenangan.
Perjalanan kereta api Cianjur – Bandung karena tidak ada lintas keretanya, sehingga kami melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung dengan bus yang tadi pagi membawa kami ke Bogor. Sedangkan peserta dari Jakarta, naik KA kembali ke Sukabumi dan dilanjutkan ke Bogor, seperti pagi hari tadi.

foto bersama peserta railway heritage tour di stasiun cianjur
foto bersama peserta Railway Heritage Tour, sumber: pribadi

Penutup

Selesailah perjalanan wisata sejarah kereta api dari Bogor – Sukabumi – Cianjur ini yang merupakan jalur kereta api pertama yang ada di Priangan.
Jalur yang awalnya dibangun untuk mengangkut hasil bumi dari pedalaman pegunungan Priangan menuju pelabuhan di Batavia (Jakarta).

Pasang-surut perkeretaapian di Indonesia mewarnai trend moda transportasi kita. Sistem manajerial yang telah diperbaiki terlihat langsung, mulai dari sterilisasi stasiun, penerapan pembelian tiket online, sistem boarding pass, tidak ada lagi tiket peron dan karcis berdiri. Kemudian juga meningkatkan kebersihan dan penyediaan AC gerbong kereta di semua kelas penumpang.

Untuk masa yang akan datang, semoga jalur kereta api beserta bangunan stasiunnya tidak lagi menjadi saksi bisu peristiwa sejarah yang terjadi. Harapannya dapat dikembangkan lagi menjadi moda transportasi andalan, nyaman, bersih, dan tepat waktu. Semoga semakin banyak jalur-jalur baru perkeretaapian bisa dibuka sehingga dapat meningkatkan potensi daerah yang dilalui jalur tersebut.

Dirgahayu Kereta Api Indonesia

Default image
Tri Wahyu Handayani
Articles: 5

4 Comments

  1. ya aammmpuunnn … teh hani keren banget artikelnya. infonya lengkap. aku kepingin mencoba jalur bogor – sukabumi belum kesampean. selalu naik mobil kalau ke sukabumi – pelabuhan ratu.

    semoga pandemi lekas berlalu …
    salam jalan-jalan

  2. Teteh, saya penggemar kereta juga. Kalau jalan-jalan pasti ngecek dulu ada jalur kereta yang bisa dicoba ngga.

    Bagus ya jalur Bogor-Sukabumi, nanti kapan-kapan pengen nyoba.

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: