Rima, Fitrah, dan Kemampuan Literasi Anak Indonesia

Di masa pandemi awal tahun ini saya memiliki kebiasaan baru setiap pagi: membuka fail berisi tugas harian anak saya yang berusia lima tahun. Tugasnya tidak banyak; hasil kerja pun tidak perlu dilaporkan. Seringnya semua tugas harian–yang hanya terdiri dari dua topik: Bahasa dan Matematika–sudah selesai dalam waktu kurang dari satu jam saja. Pertemuan daring yang hanya sepuluh menit digunakan guru untuk menyapa siswa dan memberikan pengantar untuk tugas hari itu. 

Alih-alih mengeluh, saya justru merasa perlu berterima kasih kepada pandemi. Kalau bukan karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), saya tidak akan tahu bahwa rima adalah salah satu materi dalam topik Bahasa untuk anak TK. Kami jadi sering mengulang kata-kata berima, seperti vas-jas-tas, klok-sok-rok, atau peer-beer setiap saat. “Mencari padanan kata berima” berlanjut menjadi permainan yang mengasyikkan. Gara-gara pengalaman PJJ pula saya semakin menyadari bahwa kata-kata berima banyak digunakan di dalam buku cerita anak lokal (Belanda).

Di periode waktu yang sama saya mengikuti sebuah rangkaian kelas Pendidikan Berbasis Fitrah. Di dalam pembahasan mengenai fitrah bahasa dan estetika untuk anak usia 0–6 tahun, pemateri mengutarakan tentang pentingnya memperkenalkan rima kepada anak-anak usia dini. Rima dapat menjadi media yang menyenangkan untuk melekatkan bahasa ibu kepada anak–sesuatu yang tidak saya dapatkan semasa bersekolah dulu. Siapa yang tidak terhibur saat membaca dan mendengar cerita berima (karangan pribadi) seperti berikut:

Sudah waktunya makan siang

Mama memasak tumis udang

Juga sayur bayam

Nyam, nyam …

Sebelum mulai baca Bismillah

Agar makanan menjadi berkah

Kuambil sesendok, kukunyah perlahan

Selamat makan!

(Sidharta, 2021)

Setidaknya hingga empat tahun lalu, saya jarang menemukan buku anak Indonesia yang menggunakan kata-kata berima. Bahkan mungkin kita baru tahu tentang rima saat belajar tentang puisi dan pantun di tingkat SD dan hanya sebatas itu. Rima sepertinya tidak dianggap sebagai unsur penting dalam pembelajaran bahasa untuk anak-anak usia PAUD/TK di Indonesia. 

Keterkaitan rima dengan kemampuan literasi anak

Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan (KBBI Daring, 2021). Jenisnya bermacam-macam. Ada yang menurut bunyi, letak kata dalam baris, rupa, juga letak pasangan dalam bait. 

Mengajarkan rima kepada anak sejak dini dipercaya sebagai bagian penting dalam perkembangan literasi awal. Kepekaan terhadap rima dipercaya akan berpengaruh positif terhadap kemampuan membaca anak kelak. Kepandaian memahami konsep bahwa kata terdiri dari potongan-potongan bunyi akan meningkatkan keterampilan anak dalam mengurai dan memahami teks. 

Mau tidak mau kita menghubungkannya dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018. Nyaris tiga perempat dari seratus siswa Indonesia tidak mampu mencapai level 2, artinya mayoritas siswa Indonesia tidak mampu menentukan ide utama dalam teks, mencari hubungan berbagai informasi dalam teks, dan menentukan kesimpulan sederhana dari teks bacaan. Tidak mengherankan, skor Indonesia berada di bawah rata-rata–hampir sama dengan skor 18 tahun yang lalu.

Sampai di sini kita mulai mendapat gambaran hubungan rima dengan kemampuan literasi anak. Merujuk arti literasi menurut UNESCO (2018), yakni “kemampuan untuk mengenali, memahami, menafsirkan, membuat, mengomunikasikan, dan menghitung menggunakan bahan cetak dan tertulis yang berhubungan dengan beragam konteks”, tingkat literasi seseorang tidak hanya dinilai dari aspek membaca, tetapi juga menulis dan berhitung. Keduanya bisa disemai sejak dini melalui cerita berima!

Membacakan cerita berima dapat mengasah kepekaan berbahasa (ibu) dan keindahan sejak kecil. Telinga anak menjadi sensitif dalam mengidentifikasi bunyi sehingga dapat menunjukkan bagian mana yang berima. Kepekaan berbahasa ini adalah modal penting untuk menumbuhkan nalar berbahasa yang baik. Anak akan jeli memilih kata saat menulis sehingga tulisan memiliki rasa bahasa yang tepat.  

Di samping itu, cerita berima mengajak anak untuk mengulik kekayaan bahasa ibu melalui kosa kata baru. Anak akan mampu menulis menggunakan kata dan kalimat yang variatif berkat tabungan kosa kata yang melimpah. Pasti tulisan dengan kosa kata yang itu-itu saja terasa menjemukan untuk dibaca, bukan? 

Melalui rima, anak juga belajar tentang pola dan pengulangan–sesuatu yang berkaitan erat dengan kemampuan matematika. Oh, jadi ada hubungan antara bahasa dan matematika? Tentu saja ada. Keduanya membutuhkan logika berpikir. Maka dari itu, bukan hal yang aneh jika skor matematika anak Indonesia menurut hasil PISA 2018 juga sangat rendah. 

Upaya meningkatkan kemampuan literasi anak melalui fitrah bahasa dan estetika

Apakah kurangnya perhatian terhadap cerita berima sejak usia dini berhubungan dengan rendahnya kemampuan literasi anak Indonesia? Ini adalah pertanyaan sulit. Saya tidak berani mengambil kesimpulan apapun meski sudah memaparkan panjang lebar tentang manfaat mengenalkan cerita berima kepada anak usia dini. Kita butuh riset yang kredibel untuk menjawabnya. 

Sesungguhnya faktor yang mempengaruhi tingkat literasi itu banyak dan kompleks. Cerita berima hanyalah satu metode. Yang seharusnya menjadi kerangka berpikir adalah bagaimana orang tua, pendidik, masyarakat, dan pemerintah bersinergi dalam menumbuhkan fitrah anak, khususnya aspek bahasa dan estetika. Saya percaya fitrah bahasa dan estetika yang tumbuh dan berkembang dengan baik akan meningkatkan kemampuan literasi anak di kemudian hari. 

Bagaimana cara menyemai fitrah bahasa dan estetika ini? Selain lewat rima, kita bisa memperkaya diri anak dengan cerita-cerita berkualitas. Tidak hanya dengan membacakan buku–sebaiknya rutin setiap hari–kita juga bisa membawakannya secara lisan. Selanjutnya, kita melatih anak untuk bisa menuangkan pikiran dan perasaan lewat gambar, tulisan, nyanyian, cerita, dongeng, dll. Harapannya selepas usia 6 tahun anak sudah sempurna dalam menggunakan bahasa ibu untuk berekspresi. 

Penutup

Tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai memperbaiki kekurangan. Meski begitu, upaya peningkatan kemampuan literasi anak Indonesia seharusnya tidak lagi melulu soal pembuatan pojok baca, pengadaan buku bacaan, ataupun peningkatan kualitas guru. Akan lebih baik jika pihak-pihak terkait berpandangan lebih komprehensif; juga menilik hingga ke hal fundamental, sesederhana pengenalan rima di dalam materi ajar dan buku bacaan anak usia dini. Memang hasilnya tidak akan bisa terlihat dalam waktu setahun atau dua tahun ke depan. Namun, rasanya kita tidak perlu menunggu hingga 18 tahun untuk mendapatkan skor literasi yang lebih baik. 

Selamat Hari Literasi Internasional! Mari mulai mengambil peran di dalam keluarga terdekat demi generasi masa depan Indonesia yang gemilang!

Tulisan ini mendapat juara kedua dalam Lomba Menulis Opini yang diadakan oleh Komunitas Nulis Aja Dulu dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional 2021.

Default image
Mutiara Sidharta
Articles: 3

3 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

  1. Mungkin salah satu cara mudah mengajarkan rima ke anak-anak juga melalui lagu ya. Kalau dinyanyikan biasanya bisa terasa lebih fun mengajarkannya dan lebih mudah ingatnya.

  2. Wow mencerahkan!

    Alhamdulillah sekarang sudah mulai banyak juga loh buku buku anak karya penulis lokal yang ber-rima.. Dan memang lebih enak juga yaa buat di-read aloud-kan

  3. Sepertinya memang belum banyak yang memberi perhatian tentang metode cerita berima ini. Di sekolah anak saya saja sepertinya pengenalan literasinya masih berupa metode standar, pengenalan alfabet biasa. Saya pun baru tahu soal metode berima ini. Sederhana tapi ternyata memberikan efek yang jauh mendasar ya.

%d blogger menyukai ini: