Laut, Plastik, dan Kita

Apa yang terpikir oleh Mamah saat mendengar bahwa tanggal 8 Juni kemarin diperingati sebagai Hari Laut Sedunia? Entah mengapa, saya langsung teringat pada Great Pacific Garbage Patch. Di antara beberapa lokasi berkumpulnya sampah samudera yang terbentuk oleh kecenderungan sirkulasi arus laut, area di Samudera Pasifik itulah yang terbesar. Bayangkan, luasnya bahkan hampir sebesar daratan negara kita!

Sebagian besar sampah yang terkumpul dalam patch itu merupakan sampah yang sulit terurai. Panas matahari, angin, dan ombak laut bahu-membahu menghancurkan aneka sampah plastik menjadi butiran-butiran yang sangat kecil. Kita mengenalnya dengan sebutan microplastic.  

Apakah menjelmanya sampah-sampah yang berukuran lebih besar menjadi microplastic dapat kita anggap sebagai kabar baik? Bagaimana menurut Mamah sekalian? Lebih baik yang besar atau yang kecil? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita ikuti kembali kisah tentang si plastik mikro ini.

Perjalanan Microplastic ke Laut

Microplastic dapat memasuki lautan melalui beberapa cara berikut.

Pembuangan sampah di wilayah pesisir maupun laut lepas

Salah satu faktor terbesar penyebab banyaknya timbulan sampah di lautan adalah kegiatan perikanan dan wisata bahari yang tidak bertanggung jawab. Ke mana lagi perginya botol minuman, kemasan makanan, atau kantong keresek yang dibuang sembarangan di pantai? Tentu tidak mungkin lenyap begitu saja, kan? Begitu pula dengan  jaring berbahan dasar plastik yang umum digunakan dalam penangkapan ikan. Kebiasaan nelayan untuk membuang jaring yang rusak ke pantai maupun laut jelas berperan besar dalam menyumbang masalah sampah lautan. Selanjutnya, kelahiran microplastic dalam jumlah besar dari sumber-sumber ini tinggal ditunggu dengan mengandalkan tenaga sinar matahari, angin, dan ombak.

Pengelolaan sampah di daratan yang tidak efektif

Apakah kita yang tinggal cukup jauh dari lautan juga turut bertanggung jawab atas masalah sampah di laut? Sayangnya, begitulah kenyataannya. Selama kita masih menciptakan timbulan sampah di permukaan bumi ini dan tidak mengelolanya dengan baik, kita pun berpotensi menjadi donatur sampah laut. Bukankah kita tidak tahu persis apa yang terjadi pada sampah-sampah kita yang diangkut pergi oleh para petugas dari bak sampah kita? Bagaimana perjalanannya hingga sampai ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir)? Apakah ada yang tercecer di jalan dan masuk ke selokan? Kemudian, apa yang terjadi pada gunung sampah di TPA saat hujan deras? Apakah tidak ada yang tergerus dan terbawa aliran air hingga ke sungai? Tidak ada yang dapat menjamin bahwa microplastic takkan memasuki perairan dengan cara ini.

Sampah dari Daratan (sumber: Stijn Dijskt dari pexels.com)

Aliran pembuangan air

Sumbangsih kita terhadap microplastic di laut juga dapat dilihat dari berbagai produk yang kita gunakan sehari-hari. Ingatlah butiran kecil yang terdapat dalam pasta gigi dan sabun scrub pencuci muka. Butiran-butiran plastik berukuran kurang dari 5 mm yang terkandung di dalamnya akan memasuki saluran pembuangan air ketika kita berkumur atau membilas wajah setelah memakainya. Contoh lainnya adalah penggunaan pakaian berbahan poliester dan nilon (misalnya baju olahraga yang tipis dan nyaman itu, lo). Saat dicuci, kain-kain tersebut akan melepaskan microfiber, serat-serat plastik yang terkandung di dalamnya. Partikel-partikel plastik mikro tersebut akan terbawa aliran air melewati saluran pembuangan dan akhirnya mencapai lautan.

Tingginya pencemaran plastik di laut telah terbukti dari banyak penelitian. Di laut nusantara, ada riset yang dilakukan Noir Primadona Putra dari Departemen Kelautan Universitas Padjadjaran Bandung dan Agung Yunanto dari Balai Riset dan Observasi Laut Denpasar, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Penelitian tentang sampah laut tersebut dilaksanakan di sekitar Pulau Biawak, Indramayu, Jawa Barat. Total sampah yang dikumpulkan dari garis pantai sepanjang 655 meter di pulau itu mencapai 68 kg.

Tingkat cemaran plastik yang tinggi juga ditemukan di 46 lokasi lain di Laut Jawa, Kepulauan Seribu, dan perairan Banten. Sejumlah perairan lain seperti Selat Bali, Selat Makassar, Selat Rupat di Dumai, perairan Taman Nasional Taka Bonerate di Flores, Taman Nasional Bunaken, dan Taman Nasional Bali Barat juga diteliti oleh KKP. Ternyata, semua lokasi tersebut telah tercemar plastik mikro. Jumlahnya bahkan dapat mencapai 50.000-60.000 partikel per kilometer persegi.

Ancaman Melalui Asupan Kita

Bagaimana Mamah menjelaskan jika si kecil bertanya tentang apa yang harus dikhawatirkan dari microplastic? Bagaimana kelanjutan kisah setelah plastik-plastik berukuran mikro tersebut tersebar luas di seluruh lautan dunia? Apa pengaruhnya terhadap kita?

Mari kita belajar dari temuan beberapa penelitian yang telah dilakukan di berbagai penjuru dunia. Dari penelitian di Universitas Hassanudin pada tahun 2015, ditemukan bahwa sebagian ikan yang diteliti telah memakan microplastic berukuran 0.1–1.6 mm. Penelitian serupa di University California at Davis pun membuktikan bahwa 67% ikan dan 25% kerang-kerangan yang diteliti memakan microplastic ukuran 0.3–5.9 mm. Sementara itu, menurut Cordova (dalam Loka Pengelolaan SD Pesisir & Laut Sorong, 2020), sebagian besar plastik di laut ditemukan di kedalaman kurang dari 500 meter. Namun, ternyata sampah plastik juga masih ditemukan di kedalaman 2000 meter.  Dari hasil-hasil penelitian tersebut, dapat kita perkirakan bahwa plastik mikro sangat mungkin termakan oleh biota laut, baik yang hidup di perairan dangkal maupun di perairan dalam.

Sampah di Dalam Tubuh Ikan (sumber: Nataliya Vaitkevich dari pexels.com)

Kita juga dapat belajar dari penelitian yang dilakukan oleh Mark Browne pada tahun 2008. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa akumulasi microplastic yang ada di dalam tubuh suatu makhluk hidup dapat berpindah ke spesies lain yang memakannya. Dengan demikian, tak sulitlah untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada manusia sebagai konsumen di puncak tertinggi rantai makanan. Pada akhirnya, partikel-partikel mikro yang terkandung di dalam ikan atau makanan laut lainnya akan mengendap di dalam tubuh kita.

Telah banyak peneliti yang mencoba mencari tahu apa tepatnya yang dapat diakibatkan oleh polusi microplastic yang telah merajalela ini terhadap makhluk hidup dan ekosistem. Karena penelitian tidak mungkin dilakukan dengan memasukkan partikel plastik ke dalam tubuh manusia secara sengaja, para peneliti beralih ke studi kesehatan. Digunakanlah partikel untuk mengirimkan jumlah yang tepat dari obat-obatan ke area tertentu dari tubuh manusia. Tujuan penelitian tersebut adalah memperkirakan bagaimana mudahnya microplastic bergerak dalam tubuh kita. Ternyata, jika ukurannya cukup kecil, partikel-partikel itu dapat bermigrasi di dalam tubuh dan berpotensi menumpuk di tempat-tempat tertentu seperti dalam aliran darah.

Ancaman bahaya pun menjadi nyata jika microplastic keluar dari usus dan memasuki aliran darah atau organ lainnya. Para peneliti telah menemukan tanda-tanda kerusakan fisik seperti peradangan karena partikel-partikel yang menusuk-nusuk dan bergesekan dengan dinding-dinding organ. Ditemukan pula bahwa plastik mikro yang tercerna dapat melepaskan zat-zat kimia berbahaya, mulai dari BPA sampai pestisida dan menimbulkan bahaya kesehatan seperti kerusakan hati. Zat-zat tersebut juga dapat membahayakan sistem imunitas serta mengganggu pertumbuhan dan reproduksi.

Ancaman Gangguan Kesehatan Manusia (sumber: Anna Shvets dari pexels.com)

Hadiah Kita untuk Laut

Usul penetapan Hari Laut Sedunia pertama kali diajukan oleh delegasi Kanada dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi pada tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Perserikatan Bangsa-Bangsa pun mengesahkannya secara resmi sejak tahun 2008. Nah, bagaimana cara kita memperingati hari besar ini?

Terkait masalah microplastic di laut, ada banyak hal yang dapat kita lakukan sesuai kapasitas masing-masing. Sebagai ibu, sebenarnya pengaruh kita cukup besar dalam meminimalkan pemakaian plastik yang sudah kita ketahui, cepat atau lambat akan berakhir di lautan. Kita dapat mengajak—atau memaksa, tepatnya—seluruh keluarga untuk meninggalkan produk pasta gigi, atau deterjen yang mengandung microbeads dan menghindari pembelian pakaian berbahan dasar serat sintetis seperti poliester, nilon, atau akrilik. Peluang masuknya plastik ke lautan juga dapat kita perkecil secara signifikan dengan mengurangi sumbangan sampah rutin ke TPA. Jangan lupa pula untuk menularkan semangat dan aksi peduli sampah yang telah kita lakukan, setidaknya dimulai dari lingkungan terdekat kita.

Pengganti Kantung Plastik untuk Berbelanja (sumber: dokumen pribadi)

Secuil kisah tentang microplastic di atas mungkin tak terasa manis dan indah layaknya kado yang sering kita dapatkan di hari ulang tahun. Namun, menyadari bahwa ada masalah besar di laut yang tidak dapat kita abaikan mungkin dapat mengawali usaha kita dalam menghargai perairan yang menutupi sekitar 71 persen permukaan planet bumi ini. Sebagai rumah bagi aneka ragam makhluk hidup dan penyedia utama oksigen yang menjadi kebutuhan hidup kita sehari-hari, sudah sepantasnya laut mendapat perhatian yang cukup dan kita pelihara sebaik-baiknya.

Laut di Labuan Bajo, Salah Satu Harta yang Wajib Kita Jaga (sumber: dokumen pribadi)

Referensi:

Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau Kecil. Tanpa Tahun. “Sampah Laut (Marine Debris)” dalam https://kkp.go.id/djprl/p4k/page/1994-sampah-laut-marine-debris

Hartono, Djoko, dkk. 2020. Sampahku, Tanggung Jawabku: Buku Pengayaan Pembelajaran tentang Pengelolaan Sampah untuk Guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan & Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Loka Pengelolaan SD Pesisir & Laut Sorong. 2020. “Ada Apa dengan Sampah Laut” dalam https://kkp.go.id/djprl/lpsplsorong/artikel/22801-ada-apa-dengan-sampah-laut Siedoo. 2021. “Hari Laut Sedunia, Sejarah dan Tujuannya” dalam https://siedoo.com/berita-21927-hari-laut-sedunia-sejarah-dan-tujuannya/

Default image
Heidy Kaeni
Articles: 2

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: