hari bebas kantong plastik.jpg

Mengurangi Penggunaan Kantong Plastik di Bulan Juli

Kantong plastik, oleh-oleh belanja

Tulisan kali ini akan membahas sesuatu yang dekat dengan keseharian dan aktivitas Mamah, yaitu kantong plastik. Biasanya Mamah mendapatkan dan menggunakan kantong plastik ketika berbelanja. Misalnya ketika belanja bahan pangan harian, baik di tukang sayur, pasar, minimarket, ataupun di supermarket. Biasanya tiap-tiap jenis bahan makanan, dikemas dalam kantong plastiknya sendiri.

<a href=”https://www.freepik.com/photos/tree”>Tree photo created by freepik – www.freepik.com</a>

Kalau kita belanja sayur, daging, tahu, tempe, buah, kerupuk, bumbu dapur, bahan kue, dan bahan pokok lainnya untuk keperluan satu keluarga dalam seminggu, kira-kira berapa ya kantong plastik yang kita bawa pulang ke rumah?

Satu kantong plastik untuk seikat sayur bayam; satu kantong plastik untuk sepuluh potong tahu; satu kantong plastik untuk setengah kilo wortel; satu kantong plastik untuk sekilo kentang; satu kantung plastik untuk seperempat kilogram cabe merah; satu kantong plastik untuk bumbu-bumbu seperti bawang putih, bawang merah, kencur, jahe, dan kemiri; satu kantong plastik untuk setengah kilogram gula pasir; satu kantong plastik untuk seperempat kilogram kerupuk; satu kantong plastik untuk satu kilogram mangga; beberapa kantong plastik untuk menyatukan belanjaan kita karena berbelanja di penjual yang berbeda, dan satu kantong plastik lagi untuk seporsi seblak sebagai cemilan yang akan kita nikmati sepulang dari pasar.

Oh ya, sebelum sampai rumah, kita ternyata mampir ke minimarket, untuk membeli sabun cuci piring yang sudah habis di rumah, juga beberapa cemilan makanan ringan untuk anak-anak, dan titipan semir sepatu untuk suami. Tambah lagi deh satu kantong plastik dari minimarket kita bawa pulang.

Dampak kantong plastik terhadap lingkungan

Ternyata Mah, dalam kantong plastik yang sering kita anggap sepele, dampaknya luar biasa besar terhadap keberlangsungan bumi tempat kita tinggal. Yuk mari kita simak beberapa fakta terkait kantong plastik yang dilansir dari theworldcounts.com berikut ini:

Dunia menggunakan 5 triliun kantong plastik per tahun

Saat Mamah membaca kalimat ini, minimal satu menit setelah membaca dari artikel ini dari awal, sudah ada 9,600,000 kantong plastik digunakan orang sedunia, alias 160,000 kantong plastik digunakan per detik!

Nah, setelah sampai rumah, apa yang kita perbuat terhadap kantong plastik itu ya Mah?

Beberapa di antaranya, biasanya yang ukurannya paling besar, bisa dipakai sebagai alas tempat sampah, atau untuk membungkus popok sekali pakai yang akan dibuang. Yang lainnya disimpan untuk keperluan harian, misalnya ketika kita perlu membawa suatu barang atau makanan ke tempat lain. Ada juga yang punya kebiasaan membawa kantong plastik kecil ketika bepergian dengan kendaraan, untuk berjaga-jaga kalau ada anak-anak atau anggota keluarga lain yang mabuk kendaraan dan lupa tidak minum obat tertentu. Dari sekian banyak kantong plastik yang kita simpan dan kita gunakan ulang, sebagian besar biasanya dengan mudah kita buang ke tempat sampah. Terutama kantong plastik yang dipakai untuk membungkus makanan jadi, buah-buahan, sayur, daging, atau barang lain yang lengket atau basah. Hanya sekali penggunaan, lalu kita buang karena basah atau kotor.

Rata-rata satu kantong plastik digunakan hanya 12 menit namun mengotori bumi sampai 1000 tahun lamanya

Sayang sekali ya, karena sesuai dengan pernyataan di atas, kantong plastik membutuhkan waktu seribu tahun untuk terurai! Bayangkan, seribu tahun! Itu artinya, kantong plastik yang dipakai Nenek dan orangtua kita, berpuluh tahun lalu, baru akan terurai pada generasi cucunya cucu-cucu kita!

Kantong plastik ini, pada umumnya berakhir di lautan, dalam bentuk besar maupun koyakan-koyakan kecil. Kita telah banyak membaca berita menyedihkan tentang hewan laut yang menjadi korban dari kantong plastik ini. Bahkan saking banyaknya kantong plastik yang diproduksi dan digunakan oleh manusia hingga saat ini, diperkirakan bahwa pada tahun 2050, dunia akan menemukan lebih banyak plastik di lautan daripada ikan!

Dari situs oceancrusaders.org dilansir bahwa Indonesia menjadi penyumbang terbesar kedua dari polusi plastik di lautan karena menghasilkan lebih dari tiga metrik ton sampah plastik setiap tahunnya.

Duh, jangan sampai ya kita para Mamah Gajah menambah jumlah sampah kantong plastik menjadi semakin  banyak lagi. Sebaliknya, mari kita bersama-sama berusaha mengurangi penggunaan kantong plastik dalam keseharian, dan sebisa mungkin menyebarkan kebiasaan baik ini ke sekeliling.

Hari Tanpa Kantong Plastik

Nah, tanggal 3 Juli lalu diperingati sebagai Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia, atau International Plastic Bag Free Day. Sebuah organisasi internasional, Plastic Free Foundation, memulai inisiatif satu bulan tanpa plastik di bulan July tahun 2011. Jutaan orang di seluruh dunia turut berpartisipasi mengurangi penggunaan plastik dan tentunya bermanfaat mengurangi jumlah sampah plastik, melalui berbagai cara.

Mari kita simak dan coba praktekkan beberapa di antaranya:

Membawa tas belanja dan wadah sendiri kala berbelanja

Sebagaimana tadi dijelaskan, bahwa biasanya kita mendapat banyak kantong plastik sebagai oleh-oleh dari hasil belanja, dengan membawa tas dan wadah sendiri, kita bisa mengurangi jumlah kantong plastik yang dibawa pulang secara signifikan.

Rencanakan jenis belanjaan dan lokasi belanja, sehingga kita bisa memperkirakan jumlah dan jenis wadah dan tas belanja yang dibutuhkan. Sebisa mungkin, selalu sedia tas belanja yang bisa dilipat di dalam tas tangan dan atau kendaraan yang sering kita pakai sehari-hari. Supaya kita selalu siap dengan tas belanja sendiri dan tidak membawa pulang kantong plastik tambahan.

Tas belanja koleksi penulis
Menggunakan keranjang belanja
Ember sebagai pengganti kantong plastik
Kantung kain sebagai pengganti kantong plastik

Jika kita sering titip belanjaan pada suami, kakak, adik, atau anak sekalipun, sesuaikan tas belanja dengan keinginan mereka agar mudah untuk digunakan. Misalnya, siapkan tas belanja dengan warna netral dan tanpa motif supaya para suami tidak malu menggunakannya di supermarket. Usahakan cari tas belanja yang bisa dilipat kecil dan bisa muat di saku jaket suami, supaya tidak ada alasan untuk tidak menggunakan tas belanja kita.

Tas belanja favorit suami. Kuat, muat banyak, tapi bisa dilipat dengan ringkas menjadi kecil

Siapkan wadah makanan sederhana di kendaraan atau dalam tas ketika kita pergi berjalan-jalan, untuk berjaga-jaga jika kita ingin membeli jajanan, supaya tidak usah menggunakan kantong plastik dan atau wadah plastik lainnya.

Peralatan yang dibawa saat jalan-jalan, yaitu kotak makan yang bisa dilipat, cepuk isi sendok garpu, sumpit dan sedotan, serta botol minum

Mencari alternatif wadah pembungkus barang

Salah satu aktivitas penghasil kantong plastik adalah makanan dan barang siap antar, baik yang akan kita berikan kepada orang lain maupun yang kita bawa pulang ke rumah.

Untuk mengurangi penggunaan kantong plastik ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain, kita bisa menggunakan wadah yang bisa dipakai ulang, yang nanti bisa dikembalikan setelah selesai digunakan. Wadah sederhana seperti rantang susun, piring yang dibungkus lap, atau nampan bisa digunakan dengan mudah sehingga kita bisa terhindar dari penggunaan kantong plastik.

Contoh menggunakan rantang dan wadah makanan yang bisa dipakai ulang untuk membawa makanan

Kita juga bisa mencari alternatif bahan lain yang lebih ramah lingkungan sebagai pengganti kantong plastik untuk membungkus barang yang akan kita berikan kepada orang lain.

Menggunakan kotak bekas kemasan teh untuk membungkus kue lebaran yg akan dibagikan
Donasi buah dan sayur dibungkus dengan daun pisang

Mencari alternatif untuk alas tempat sampah

Kalau alasan kita tetap mempertahankan pasokan plastik masuk ke rumah adalah untuk dijadikan alas tempat sampah, sebenarnya ada banyak cara kreatif yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut.

Diantaranya adalah dengan menggunakan plastik kemasan besar untuk mewadahi sampah-sampah lain yang lebih kecil dan basah. Misalnya, plastik kemasan beras yang tebal dan besar seperti gambar di bawah ini.

Plastik beras sebagai alas tempat sampah

Untuk sampah kering seperti kertas, karton atau kemasan plastik, kita bisa menggunakan kardus, atau kantong kain untuk mengalasi tempat sampah.

Tempat sampah kering yang dialasi kantong kain

Di tempat kami tinggal saat ini, kita bahkan bisa dengan mudah menggunakan kardus-kardus bekas dari supermarket sebagai tempat sampah di rumah, seperti gambar di bawah ini.

Kardus bekas dari supermarket untuk tempat sampah

Sebetulnya, masih banyak lagi cara untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, dan mengurangi penggunaan plastik pada umumnya.

Yuk tinggalkan gagasan Mamah di kolom komentar bagaimana kita bisa ikut berpartisipasi dalam bulan bebas plastik ini, atau lebih baik lagi jika bisa meniadakan penggunaan kantong plastik secara konsisten dalam keseharian kita!

Default image
Lenny Martini
Articles: 3

3 Comments

  1. Trimakasih atas artikel ini Mba Lenny, sangat bermanfaat. 🙂

    Alhamdulillah saya sudah memilah sampah sejak lama.

    Sampah non organik. seperti: plastik, kertas; styrofoam; dan semacamnya, saya kumpulkan ke Bank Sampah yang datang di kompleks rumah setiap 2 minggu.

    Sedangkan sampah organik, seperti: sisa makanan (non-meat); kulit buah; dan sisa sayuran, saya buang di tempat sampah khusus dan saya biarkan terdegradasi alami, untuk nanti menjadi pupuk cair.

    Sedangkan sisa makanan yang daging, saya kasikan kucing.

    Nah yang penggunaan kantong plastik, jika saya sendiri yang pergi ke pasar; supermarket; atau minimarket, saya selalu membawa kantong belanja dari rumah.

    Namun sayangnya, sejak beberapa bulan lalu, dikarenakan saya sudah sangat membatasi ke luar rumah, saya selalu menggunakan jasa kurir untuk belanja kebutuhan sehari-hari, dan YA, penggunaan tas kresek plastik-nya tidak bisa saya elakkan. 🙁

    • Alhamdulillah Mba Sri Nurilla, senang sekali membaca usaha Mba untuk lebih minim sampah. Dalam masa pandemi ini bagaimanapun kita semua perlu menyesuaikan gaya hidup ya, termasuk dalam pengelolaan sampah, jadi tidak apa karena prioritas kita saat ini menjaga kesehatan dan bertahan sampai pandem berakhir. Saran saya barangkali, kreseknya bisa dicuci (jika kotor) dan bisa digunakan kembali untuk keperluan lain. Kalau tidak bisa dikurangi ya minimal diperpanjang masa pakainya.
      Tetap semangat, Mba!

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: