Tak terasa, Ramadan 1447 H sudah hampir berakhir. Bagaimana puasa Mamah dan keluarga semua? Lancar, kan!?
Kami? Alhamdulillah lancar. Apalagi tahun ini Ramadan jatuh di musim dingin. Tak hanya durasi puasa yang mirip dengan puasa di Indonesia, tetapi juga cuaca yang masih adem, nyaman untuk berpuasa.

Ramadan Pertama di Rantau
Saya tiba di Prancis 25 tahun lalu, hanya beberapa hari sebelum Ramadan yang jatuh di akhir bulan November tiba. Gagap, saat melihat matahari baru terbit jam setengah 7 pagi dan sudah terbenam jam 5 sore. Saya sempat tak percaya pada suami yang mencari jadwal imsakiyah: kok Subuhnya siang amat dan Magribnya pagi amat? Apalagi durasi puasa berangsur memendek, sampai tiba Idulfitri.
Baca juga: Mengenal Waktu di Negara 4 Musim
Waktu itu internet masih belum meluas dan sumber informasi masih terbatas. Tak ada masjid, kami mengikuti perhitungan yang ada saja, yang insya Allah memang sudah benar. Alhamdulillah, puasa pertama di rantau terasa ringan.

Namun mau tak mau Ramadan terasa sepi. Jangankan tarawih di masjid, suara azan pun hanya dari software komputer, yang tentunya harus sedang dalam keadaan menyala. Belum ada smartphone dengan aplikasinya. Tak ada acara buka bersama. Tak ada yang berjualan takjil. Tak ada bahannya dan toh saya belum bisa memasaknya juga. Awal-awal jauh dari keluarga besar, pula.
Sahur dan buka berdua, tarawih berdua, … bisa dibayangkan senangnya kami saat bisa merayakan Idulfitri—dan makan menu ketupat komplit—di Konsulat Indonesia di Marseille, kan!?
Puasa di Musim Panas
Perlahan, Ramadan bergeser. Makin maju menurut kalender Masehi. Kebetulan, secara durasi, hitungannya memanjang untuk kami yang berada di belahan bumi utara. Makin panjang, dan suhu udara makin tinggi. Kemeriahan Ramadan sedikit demi sedikit makin terasa, seiring keterbukaan masyarakat Prancis terhadap Islam, meski baru di supermarket dengan promosi Ramadannya. Suatu periode yang istimewa, bisa menemukan lebih banyak produk halal di luar toko halal.

Makin dekat dengan solstis musim panas (21 Juni), malam pun memendek. Di daerah kami, Magrib baru datang menjelang jam 10 malam sedangkan Subuh sudah tiba jam 4 pagi. Praktis waktu tidur terganggu. Dan ini sangat melelahkan kalau tidak diakali dengan lekas makan begitu Magrib tiba, lekas tidur sesudah Isya, dan tidur lagi sesudah Subuh. Tak ada waktu untuk takjil. Tidur siang tak mungkin dilakukan oleh mereka yang bekerja atau sekolah (TK—SD pukul 8.30 hingga 16.30, mulai SMP dari pukul 8 dan selesai bervariasi, maksimal 17.30).
Para periode puasa panjang dan terik itu, anak-anak saya ingatkan untuk boleh membatalkan puasa jika memang merasa tak kuat. Terutama di hari-hari pelajaran olah raga atau saat ada ujian di sekolah. Tak hanya memikirkan soal kesehatan mereka sendiri, tapi juga pandangan tentang Islam yang kadang masih cenderung negatif. Kami tak mau orang menyalahkan Islam saat anak-anak lemas karena memaksa puasa. Apalagi pada dasarnya ada aturan keringanan juga, kan!? Tak lupa mencatat hutang dan meng-qodho-nya di waktu lain, tentunya!

Namun bagi saya, puasa terberat ternyata bukanlah saat durasi terpanjang. Puasa terberat yang saya rasakan adalah saat Ramadan jatuh di puncak musim panas, di bulan Juli dan Agustus. Saat itu suhu udara sedang terik-teriknya (bisa sampai 40°C dengan tingkat kelembaban udara yang minim), padahal siang masih panjang.
Untungnya, Juli-Agustus adalah periode libur sekolah. Bisa mager sesiangan. Termasuk saya yang tak perlu antar-jemput anak. Kami sempat merasakan berpuasa —dan berlebaran!—di Indonesia, pula!
Siklus
Perlahan, durasi puasa kembali memendek. Tahun ini, Ramadan berlangsung sepenuhnya di pewaktuan musim dingin (CET, Central European Time). Tentu saja ini sangat memotivasi. Magrib pukul 18.57 di hari Sabtu 28 Maret terasa lebih menyenangkan ketimbang 19.58 di hari Minggu 29 Maret saat sudah memasuki pewaktuan musim panas (CEST, Central European Summer Time) dengan daylight saving time-nya. Ya nggak? Padahal sebenarnya sama saja karena Subuhnya pun ikut bergeser, kan!?

Saat Ramadan mulai merambat ke musim panas dulu, saya sempat bercanda dengan suami kalau mau pindah negara saja saat Ramadan jatuh di musim panas. Kenapa tidak ke Australia, yang sedang musim dingin? Dan ternyata 25 tahun kemudian, kami masih di sini!
Dari puasa berdua saja, lalu bertiga, dan kemudian berempat. Berlanjut menjadi bertiga saat si Ucok merantau untuk melanjutkan pendidikannya dan tahun ini kembali berdua saja, giliran si Butet meninggalkan sarang untuk belajar di luar kota. Demikian siklus kehidupan kami selama 25 tahun merantau.
Apakah saya akan merasakan perputaran 33 tahun siklus Ramadan di rantau ini?

Di mana pun kami berada di Ramadan berikutnya, semoga dalam keadaan sehat sehingga bisa melaksanakan ibadah dengan lebih baik dari Ramadan-ramadan sebelumnya. Doa yang sama untuk Mamah dan keluarga semua. Aamiin.
Selamat memaksimalkan akhir Ramadan dan menyambut Idulfitri!





