Mengenal Waktu di Negara Empat Musim

17 Desember 2017

Pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Schiphol Amsterdam. Saya melihat keluar jendela. Meski masih gelap, petugas bandara sudah sibuk mengatur kedatangan pesawat. Lampu-lampu menyala sangat terang di sana-sini untuk membantu kerja para petugas.

Saya memang sudah tahu bahwa pesawat akan tiba pukul 8 pagi waktu Amsterdam. Namun, saya tidak membayangkan akan disambut oleh kegelapan malam! Pekatnya sama seperti pukul 4 pagi di Bandung, kota tempat tinggal saya sebelumnya. Entah pukul berapa matahari akan muncul dengan secercah cahayanya. Seingat saya dulu semasa tinggal di Sapporo, matahari terbit sebelum pukul 8 pagi, di musim dingin sekali pun. 

Kekagetan saya berujung pada pertanyaan, “It’s still dark! How do people go to work?” yang saya lemparkan pada ibu dari Australia yang duduk di sebelah saya. Kami berbincang selama perjalanan, tentu saat mata tidak lagi terpejam. Dari obrolan kami, saya tahu bahwa dia dan suaminya akan mengunjungi anak mereka yang tinggal di Belanda.

Mungkin ibu itu heran dengan pertanyaan saya. Apa hubungannya gelap dengan bekerja? Untungnya dia masih mau menjawab, “Well, they go to work as usual. It’s not a problem.” Kurang lebih begitu, saya lupa redaksi aslinya. 

Ternyata untuk tahun-tahun berikutnya di Belanda, pergeseran waktu harian yang ekstrem—jika bisa saya sebut demikian—selama setahun adalah satu pergulatan tersendiri bagi kami. Penasaran dengan keekstremannya? Lanjutkan baca hingga akhir, ya, Mah!

Seperti kita tahu, berdasarkan klasifikasi iklim matahari, Belanda yang memiliki letak astronomis 50°—53°Lintang Utara berada di kawasan sedang. Seperti halnya negara di kawasan subtropis, ada empat musim dalam setahun, yakni musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Berkat kemiringan poros Bumi, makin ke Utara, makin besar pula perbedaan jumlah sinar matahari yang diterima oleh permukaan Bumi dari bulan ke bulan, dari musim ke musim.

Belanda berada di zona iklim sedang (sumber: duniapendidikan.co.id).

Sebagai perbandingan, di Helsinki, Finlandia pada awal Januari (musim dingin) matahari terbit hampir pukul 09.30 dan terbenam sekitar pukul 15.30 (siang 6 jam), sedangkan di pertengahan Juni (musim panas) matahari terbit hampir pukul 04.00 dan terbenam hampir pukul 23.00 (siang 19 jam). Di Amsterdam, Belanda yang terletak lebih ke Selatan, pada waktu yang sama matahari terbit hampir pukul 09.00 dan terbenam sekitar pukul 16.30 (siang 7,5 jam), sedangkan di pertengahan tahun matahari terbit sekitar pukul 05.00 dan terbenam pukul 22.00 (siang 17 jam). Maka dari itu, wajar bila dulu di Sapporo, Jepang, saya tidak pernah mengalami matahari terbit lebih dari pukul 08.00 karena letaknya memang lebih Selatan daripada negara Belanda. 

Tentu hal seperti ini sukar dibayangkan oleh kita yang terbiasa hidup di wilayah beriklim tropis, ya. Di Indonesia panjang siang dan malam hampir sebanding. Siklus harian pun relatif stabil sepanjang tahun. Kita dapat dengan mudah mendefinisikan pagi (pukul 05.30—12.00), siang (12.00—15.00), sore (15.00—18.00), malam (18.00—02.00). Ada juga waktu dini hari (02.00—04.00) dan subuh (04.00—05.30). Siang identik dengan terang; malam identik dengan gelap. Mengajarkan konsep waktu kepada anak menjadi lebih mudah.

Ritme harian yang menantang

Di negara empat musim mengatur ritme harian dengan berpatokan pada posisi matahari menjadi sangat sulit, terutama bagi anak-anak. Di musim panas, hari masih terang benderang pada pukul 7 malam, sedangkan mereka sudah harus bersiap untuk tidur. Alhasil seringkali mereka menolak saat diminta melakukannya, terutama waktu libur musim panas. Meski semua gorden kamar tidur sudah ditutup, tetap saja ada berkas sinar matahari yang masuk (gorden kami bukan tipe blackout). Butuh waktu lebih lama hingga mereka akhirnya terlelap.

Sebaliknya, di musim dingin hari masih gelap pada pukul 7 pagi, sedangkan anak-anak sudah harus bersiap untuk berangkat sekolah (sekolah masuk pukul 08.30). Karena merasa masih malam, mereka cenderung malas-malasan sehingga butuh waktu yang lebih lama untuk melakukan semua persiapan sebelum sekolah. Pada puncak musim dingin, anak-anak berangkat sekolah dalam gelap karena matahari baru terbit pukul 08.30-an. Itu pun tidak langsung terang seperti halnya di Indonesia. Hari baru benar-benar terang (dengan catatan, cuaca cerah) sekitar pukul 09.30—10.00. Jika langit mendung seharian (bukan hal aneh di Belanda, terutama di musim dingin), sinar matahari menjadi hal yang amat dirindukan.

Beraktivitas di luar rumah masih bisa dilakukan di malam hari di musim panas (foto: pixabay.com).

Kesulitan pun terjadi saat mengajarkan konsep waktu. Saya tidak lagi bisa memakai patokan yang sama seperti saat di Indonesia. Mengatakan, “Ayo, waktunya tidur! Sudah malam,” di musim panas harus ditambah dengan, “walau masih terang.” Pada akhirnya saya memilih untuk menyebutkan pukul berapa satu kegiatan harus dilakukan daripada mendefinisikan gelap/terang. 

Persoalan gelap/terang ini mau tidak mau menimbulkan kebingungan pada anak-anak saya. Mereka seringkali bertanya, “Ini sudah malam?” waktu saya meminta mereka bersiap tidur di musim panas. Sekarang saat musim gugur tiba dan hari masih gelap, mereka bertanya, “Ini sudah pagi?” saat saya membangunkan mereka di pagi hari. 

Ada kejadian lucu terkait kebingungan soal gelap/terang baru-baru ini. Anak kedua saya (3,5 tahun) tidur sore sebelum matahari terbenam. Saat bangun sekitar pukul 19.00, dia berkata, “Aku mau sekolah,” karena mengira hari sudah pagi. Waktu itu matahari terbit lebih dari pukul 08.00 karena masih summer time—penjelasan tentang summer time ada di bawah. Rupanya dia kecele karena pagi dan malam sama-sama gelap. He-he-he.

Pergeseran waktu ibadah harian

Dalam Islam ada dua ibadah wajib yang ditentukan oleh posisi matahari dalam satu hari, yaitu salat dan puasa. Karena itu, pergeseran waktu matahari terbit dan terbenam yang terjadi di negara empat musim pasti sangat memengaruhi waktu pelaksanaan kedua ibadah tersebut. Kami jadi harus sering mengecek jadwal salat via aplikasi sebab menunggu suara azan lewat pengeras suara masjid adalah hal mustahil, bagai pungguk merindukan bulan. 

Salat

Lantas, apakah semuanya jadi mudah? Oh, tentu tidak, Mah. Dari lima kali waktu salat dalam sehari, hanya waktu zuhur yang relatif stabil waktunya. Pergeserannya tidak terlalu signifikan. Waktu salat lainnya bergeser 1—2 menit setiap harinya hingga berhenti di satu titik, lalu kembali bergerak ke arah sebaliknya. Ini menyebabkan waktu salat di awal dan akhir bulan bisa berbeda jauh. Contohnya, waktu salat Magrib di Schiedam, kota tempat saya tinggal sekarang, pada tanggal 1 November 2021 jatuh pada pukul 17.14, sedangkan pada tanggal 30 November lebih awal 38 menit, yakni menjadi pukul 16.36. 

Jadwal salat di Schiedam pada bulan November 2021 (sumber: islamicfinder.org).

Pergeseran waktu salat ini otomatis mengganggu kestabilan jam biologis. Ada kalanya kami harus bangun dini hari untuk salat Subuh dan tidur larut malam karena waktu Magrib baru tiba pukul 10 malam (dan Isya pukul 12 malam!). Akibatnya, waktu tidur menjadi jauh dari cukup dan kami akan terlalu lelah untuk tidak tidur lagi setelah Subuh. Cobaan di musim panas memang luar biasa. Sisi positifnya, kami jadi bisa menghabiskan waktu di luar (baca: jalan-jalan) dengan lebih leluasa. 

Di musim dingin, waktu salat di siang hari menjadi lebih pendek. Waktu Zuhur ke Asar dan Asar ke Magrib masing-masing hanya berselang kurang lebih 2 jam. Karena itu, kami harus pandai-pandai mengatur aktivitas, terutama yang dikerjakan di luar rumah, agar waktu salat tidak terlewat. Lagipula berada di dalam ruangan yang hangat lebih nyaman daripada harus lama-lama merasakan hawa dingin di luar, kan?

Puasa

Dengan gambaran di atas, kita bisa menebak bahwa berpuasa di musim panas sangat berat karena waktunya panjang, yaitu 18—19 jam. Sebaliknya di musim dingin, lebih ringan karena waktunya 10—11 jam saja. Benarkah?

Berdasarkan pengalaman yang saya rasakan, jawabannya ya dan tidak. Ya, karena walaupun berpuasa di musim panas itu lama, setelah tiga hari pertama tubuh sudah terbiasa dan berpuasa tidak terasa berat lagi. Sebaliknya, meski puasa di musim dingin lebih singkat, tubuh akan lebih cepat merasakan efek dari defisit pemasukan kalori. Oleh sebab itu, saya akan selalu merasa kedinginan dan berselubung selimut sepanjang hari. Tampak seperti memakan buah simalakama, ya. Meski begitu, saya percaya bahwa di setiap kesulitan yang kita rasakan ada pahala yang sebanding. Yang penting, jangan menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk tidak beribadah. Tetap berpuasa saja, nanti Allah Swt. yang akan menilai usaha kita. #selfreminder 

Spring Forward dan Fall Back

Jika ada pertanyaan “Berapa jumlah jam dalam satu hari?”, anak sekolah pun tahu jawabannya: 24 jam. Namun, bagi sebagian negara di dunia, jawaban ini tidak mutlak benar, lo. Kok, bisa? Alasannya adalah karena pemberlakuan summer time (di AS, Kanada, dan Australia disebut juga dengan daylight saving time) selama tujuh bulan. Hal ini membuat ada dua hari dalam setahun yang lamanya bukan 24 jam. Satu hari lebih pendek (23 jam) dan satu hari lebih panjang (25 jam).

Eh, gimana

Sederhananya summer time adalah periode antara musim semi dan musim gugur saat jam dimajukan satu jam dari waktu normal. Di hari Minggu terakhir bulan Maret, jarum jam maju satu jam sehingga waktu tidur di hari itu akan berkurang satu jam (spring forward). Jam akan kembali ke posisi semula di hari Minggu terakhir bulan Oktober yang berarti seseorang akan memiliki waktu tidur ekstra satu jam di hari itu (fall back). Perubahan ini terjadi pada pukul 02.00 dini hari saat semua tertidur pulas. Oleh karena itu, jangan lupa untuk mengubah jarum jam sebelum tidur kalau tidak mau panik di pagi hari, terutama saat berganti dari summer time ke waktu normal. 

Ilustrasi daylight saving time/summer time (foto: freepik.com).

Saya pernah mengalami kepanikan ini justru saat sedang pergi berbelanja di siang hari. Karena mengira sudah terlambat menjemput anak di sekolah, saya tergesa-gesa pulang. Begitu sampai di rumah dan melirik ke arah jam dinding, saya kaget, lo, kok, masih jam sekian? Ternyata saya lupa mengeset mundur waktu di jam tangan! #tepukjidat

Walau terjadi manipulasi jam, kegiatan tetap berjalan di waktu yang sama, kok, Mah. Jam sekolah, jam kerja, jam buka toko, jadwal transportasi umum, jam layanan publik, semuanya tidak ada yang berubah. Yang butuh penyesuaian hanyalah pikiran kita. Kemarin pukul 8 pagi matahari belum terbit, hari ini sudah terang di waktu yang sama, atau sebaliknya. Rasanya seperti mengeset ulang otak (dan tubuh) untuk memahami perubahan yang terjadi.

Saat pertama kali mengetahui konsep summer time, saya bingung. Bagaimana ceritanya waktu bisa dimajumundurkan? Setelah mengalami sendiri, ternyata saya masih bingung. Ha-ha-ha. Kuncinya cuma satu: jalani saja, tidak perlu terlalu dipikirkan. Jangan perumit hal yang sudah rumit. Okesip.

Sekilas sejarah summer time

Mungkin Mamah heran mengapa summer time perlu ada. Konon ini bermula dari ide Benjamin Franklin di Paris pada abad ke-18 yang mengusulkan penghematan lilin dengan bangun lebih pagi. Ide ini diterjemahkan menjadi summer time beratus tahun kemudian oleh George Hudson, seorang ahli serangga di Selandia Baru, yang ingin memanfaatkan waktu terang setelah jam kerja untuk mengumpulkan serangga. Dia menuliskan idenya dalam artikel ilmiah pada akhir tahun 1890-an.

Kemudian, William Willett di London pada awal 1900-an mengadopsi ide Hudson setelah melakukan pengamatan mandiri terhadap warga London yang banyak menghabiskan hari-hari musim panasnya dengan tidur. Sayangnya sampai akhir hayatnya, proposal WIllett untuk memajukan waktu di musim panas tidak disetujui oleh parlemen Inggris. 

Summer time pertama kali mulai diberlakukan di banyak negara saat Perang Dunia 1. Meski sempat dibatalkan setelah perang usai, diberlakukan ulang pada Perang Dunia 2, lalu dibatalkan untuk kedua kalinya, summer time resmi diperkenalkan pada awal tahun 1970-an akibat krisis energi (fosil) di negara-negara Barat. Harapannya, karena waktu siang lebih lama, orang akan menggunakan energi lebih sedikit. 

Pro kontra summer time

Dalam perjalanannya kebijakan summer time mengundang pro kontra. Pihak pro datang dari pengusaha retail, olahraga, dan pariwisata. Orang-orang akan terjaga lebih lama karena hari masih terang dan cenderung memilih untuk menghabiskan waktu mereka di luar rumah setelah waktu kerja usai. Summer time juga berkorelasi positif dengan penurunan angka kejahatan, khususnya perampokan dan pelecehan seksual. 

Di pihak oposisi, kebijakan ini diprotes oleh para petani karena mengacaukan ritme kerja mereka yang bergantung pada sinar matahari. Pengusaha hiburan malam juga termasuk yang tidak setuju. Bagi ibu-ibu seperti saya, summer time tidaklah bersahabat. Alasannya apa lagi kalau bukan karena anak-anak jadi lebih sulit untuk tidur malam. #mamalelah #curcol

Tidak hanya itu, summer time memengaruhi (secara negatif) berbagai aspek lain. Dari segi kesehatan, pergeseran waktu di musim panas mengganggu ritme sirkadian, meningkatkan risiko kesehatan, misalnya serangan jantung sebanyak 10%, dan yang jelas mengurangi waktu dan efisiensi tidur. Yang terakhir, menurut sebuah penelitian tahun 2020, dikaitkan dengan peningkatan angka tabrakan lalu lintas di musim panas.

Suatu kebijakan pasti memiliki efek positif dan negatif (foto: pixabay.com).

Ironi summer time

Sayangnya tidak seperti semangat pemberlakuan summer time di awal, yakni untuk menghemat pemakaian energi, studi oleh Departemen Energi AS pada tahun 2008 menunjukkan bahwa tidak terjadi penurunan signifikan (hanya 0,5%) terhadap penggunaan listrik harian. Fakta ini diperkuat hasil studi oleh National Bureau of Economic Research pada tahun yang sama. Permintaan listrik perumahan meningkat sekitar satu persen, berakibat pada peningkatan tagihan listrik di Indiana, AS sebanyak $9 juta per tahun, juga peningkatan polusi emisi. 

Kenyataan tersebut terkesan ironis, tetapi masuk akal. Coba, deh, kita lihat sekeliling. Tak bisa dipungkiri, sebagai manusia modern hidup kita bergantung pada banyak peralatan elektronik. Dengan siang yang lebih panjang, orang memiliki lebih banyak waktu untuk beraktivitas. Artinya, makin besar kemungkinan peralatan elektronik menyala dan mengonsumsi listrik, kan?

Meski summer time banyak memberikan efek negatif, tampaknya penganuliran kebijakan soal ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Di Eropa sendiri dalam lima tahun terakhir sudah ada usulan untuk menghapus perubahan jam dua kali dalam setahun. Namun, prosesnya berlarut-larut, mengikuti prosedur legislatif Uni Eropa yang mensyaratkan usulan harus disetujui oleh Dewan Uni Eropa dan Komisi Uni Eropa. Sampai sekarang Dewan Uni Eropa belum memberikan lampu hijau, yang artinya warga Eropa akan kembali mengubah jamnya di hari Minggu terakhir bulan Maret tahun depan.

Penutup 

Pergeseran waktu musiman di negara empat musim adalah suatu keniscayaan akibat variasi penerimaan sinar matahari sepanjang tahun. Dengan kemampuan beradaptasi yang tinggi, orang bisa mengubah tantangan ini menjadi kesempatan untuk berkarya dan berdaya. Mereka tidak punya pilihan untuk menjadi lemah di saat kondisi tidak nyaman untuk beraktivitas. 

Melalui perenungan (ehem), saya sampai pada hipotesis yang mengaitkan etos kerja dengan lingkungan fisik (dalam hal ini: waktu) yang keras. Berkaca pada pengalaman pertama saya mendarat di bandara Schiphol, saya melihat orang-orang tetap giat bertugas di kegelapan pagi. Pada keadaan serupa saya mempersiapkan anak-anak untuk berangkat ke sekolah. Matahari yang belum terbit dan udara dingin bukan alasan untuk melambat, bahkan berhenti bergerak. 

Sebaliknya di musim panas, saat matahari masih tinggi di malam hari, orang belajar untuk disiplin waktu. Hari yang terang bukan alasan untuk terjaga hingga larut, membuat tubuh tidak prima untuk bekerja esok harinya. Meski godaan untuk bersenang-senang pasti ada, mereka memilih untuk menahan diri hingga akhir pekan tiba. 

Tantangan terkait perubahan waktu tidak dialami oleh orang-orang yang hidup di negara tropis, termasuk Indonesia. Karenanya, tidak ada tuntutan eksternal yang memaksa untuk menjadi ulet, tangguh, serta cekatan. Sifat-sifat ini harus dimunculkan dan dilatih secara sadar oleh diri sendiri. 

Semoga setelah membaca cerita (panjang) saya di atas, Mamah jadi menyadari bahwa tinggal di Indonesia (untuk urusan waktu) itu lebih enak! PR-nya tinggal meningkatkan etos kerja. Eh, itu, sih, bukan “tinggal”, ya? Hi-hi-hi.

Tetap semangat, Mamah-Mamah kece!

******

Sumber:

Anonim. 2021. Daylight Saving Time. https://en.wikipedia.org/wiki/Daylight_saving_time#cite_ref-119, diakses tanggal 13 November 2021.

Anonim. 2021. Summer Time in Europe. https://en.wikipedia.org/wiki/Summer_time_in_Europe, diakses tanggal 13 November 2021.

Yuhas, A. 2021. Enjoy your Extra Sleep. https://www.nytimes.com/article/daylight-saving-time-questions.html, diakses tanggal 13 November 2021. **

Default image
Mutiara Sidharta
Articles: 2

8 Comments

  1. Kesimpulan yang menarik, etos kerja dihubungkan dengan gelap dan terangnya keadaan di luar. Jangankan di eropa, di asia sini kalau hari hujan dan mendung, rasa malas langsung menyerang, mager alias malas gerak buat segera berkegiatan.

    Tetap semangat buat para mamah yang harus hidup di negeri 4 musim!

    • Di sini adalah pemikiran umum kalau pas winter banyak orang depresi. Gak banyak matahari dan susah keluar rumah karena dingin dan basah bikin tingkat depresi meningkat.

      Pas baru sampe aku dikasih warning soal ini, yang ngasih tahu orang bule. Buat kita yang semua musim sama aja rasanya agak gak percaya. Tapi lama2 ya bener juga sih, pas winter itu gloomy bgt.

      Makanya kalau lagi summer orang berkeliaran semua di luar, dipuas2in hehe

    • Kalo soal mendung dan hujan yang bikin mager sih beda lagi ceritanya, hehe.. Itu pun berlaku di sini. Setuju sama teh Dea. Hari-hari di musim dingin tuh memang gloomy maksimal dan rentan bikin depresi.

  2. Paragraph terakhir menyentil banget ya Teh, setuju bahwa hidup di Indonesia itu enak banget, saking enaknya kita jadi agak malas hehe.

    Jadi ingat lagu Koes Plus yang tanah kita tanah surga, tapi ya ternyata pertanian kita gitu – gitu aja, semoga kita semua bisa meningkatkan etos kerja, biar Indonesia tambah maju

    • Hipotesis sotoy berikutnya adalah negara-negara beriklim tropis rata-rata bukan negara maju karena penduduknya terbuai dengan berbagai kemudahan alam dan lingkungan hehe..

      Aamiin..

  3. Wah Mamah Mutiara, super lengkappp ulasannya. Mantabb. Trimakasih atas artikelnya ya. 🙂

    Setelah membacanya, saya merasa lebih bersyukur tinggal di Indonesia, yang ‘lempeng’ wae ehehe.
    Dan ya betul, harus ada kesadaran diri untuk meningkatkan etos kerja tanpa harus ada ‘paksaan’ seperti warga negara 4 musim. Tidak berhadapan dengan masalah circadian ritme dan kebingungan sebagai ibu ngopeni jadwal anak-anak. Ehehe.

    Tapi, tentunya, meskipun terdengar complicated dan penuh efforts, saya tetap bersemangat untuk mengunjungi negara 4 musim. Dan juga seluruh sudut bumi Allah tentunya. Insha Allah bisa kesampaian. 🙂

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: