Peranan Keluarga dalam Membentuk Generasi Masa Depan

Memaknai Pendidikan: Peranan Keluarga dalam Membentuk Generasi Masa Depan

Berbicara mengenai pendidikan, yang utama bukanlah dari sekolah, melainkan dari lingkup terkecil kehidupan manusia bernama keluarga.

Kalau kita berbicara mengenai istilah pendidikan, tentu tak bisa lepas dari kata mendidik, karena kedua hal tersebut berkaitan satu dengan lainnya.

Dalam aplikasi KBBI V, dijelaskan bahwa pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia dalam upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Pada definisi tersebut dapat kita lihat bahwa pengertian singkat dari pendidikan ialah proses, cara, perbuatan mendidik, sehingga perlu juga kita pahami makna dari mendidik, yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Ada empat poin penting yang dapat kita garis bawahi dari definisi kedua istilah di atas, yaitu sikap, tata laku, akhlak, dan kecerdasan pikiran; plus satu poin utama yaitu mendewasakan manusia. Apa artinya? Artinya untuk bisa menjadi dewasa, maka seorang manusia harus memiliki sikap, tata laku, akhlak, dan kecerdasan pikiran yang matang selaras dengan pertambahan usianya.

Di masa sekarang –terutama karena pesatnya perkembangan teknologi informasi–, dapat kita saksikan adanya orang-orang yang dewasa secara usia, tetapi kurang matang dalam pemikiran; menyebabkan buruknya tata laku dan budi pekerti mereka. Bisa dikatakan, ada yang kurang dari pendidikan mereka — kalau tidak bisa dibilang salah. Lantas, di mana letak kesalahannya?

Kita betul-betul perlu memahami bahwa pendidikan tidak sama dengan sekolah. Sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu, walaupun dalam pelaksanaannya terselip juga unsur pendidikan. Namun, pendidikan yang utama bukanlah dari sekolah, melainkan dari lingkup terkecil lingkungan manusia bernama keluarga.

Sejak anak masih dalam kandungan, sadar atau pun tidak, orang tua telah melakukan proses pendidikan. Bagaimana Ibu mengelola emosi, berbicara, bertindak, dan beraktivitas, direkam oleh janin dalam kandungan.

Setelah lahir, anak akan lebih banyak menyimpan memori dalam otaknya: bagaimana orang tuanya mengajak berbicara; bagaimana tanggapan orang tua atas pencapaian atau kesalahan anak; bagaimana orang tua berinteraksi dengan orang lain; bagaimana orang tua taat beribadah; bagaimana orang tua menjaga kebersihan lingkungan dan tempat tinggal; serta banyak lagi hal lainnya.

Ketika anak mulai bersekolah, bukan berarti orang tua menyerahkan tanggung jawab mendidik anak kepada guru. Justru sebaliknya, orang tua semestinya makin berhati-hati dan fokus dalam mendidik anak, mengingat di sekolah anak bertemu teman-teman dari lingkungan yang berbeda dengan yang dia hadapi selama ini. Pengaruh buruk lingkungan bisa saja diperoleh jika orang tua lengah.

Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, terkenal dengan semboyan pendidikan yang pernah beliau lontarkan hampir seabad silam, yaitu ‘ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani‘. Arti dari semboyan ini adalah di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan. Menilik arti tersebut, siapa lagi yang paling mungkin untuk menjalankan peranan ini, kalau bukan orang tua?

Pendidikan Karakter di Lingkup Keluarga

Keluarga berperan sebagai lembaga yang pertama kali menanamkan pendidikan karakter untuk para generasi muda. Dalam keluarga, anak sudah banyak belajar tentang tata laku dan akhlak dari orang tuanya bahkan sebelum orang tua mengajarkan tentang ilmu pengetahuan. Proses belajar yang terus menerus ini akhirnya menjadi sebuah proses pendidikan bagi anak untuk membentuk karakter mereka.

Ada empat karakter yang harus diasah dalam diri manusia menurut Ki Hajar Dewantara, yakni olah hati (etika), olah pikir (literasi), olah karsa (estetika), dan olah raga (kinestetika).

Ilustrasi keluarga sebagai komunitas terkecil pendidikan olah raga. Foto oleh Mark Stosberg, Unsplash

Lebih lanjut, perlu adanya pengembangan dari nilai-nilai karakter di atas meliputi: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan lain-lain (Nunung Rustini, 2020).

Baca juga: Tips Menguatkan Keluarga Menghadapi Pandemi Covid-19

Jadi, memperingati Hari Pendidikan Nasional kali ini, ada baiknya kita merenung; sudahkah kita mengemban peranan sebagai pendidik utama bagi anak-anak kita dengan maksimal? Sudahkah kita mendewasakan diri sebelum kita mendewasakan anak-anak kita?

Saya sendiri masih jauh dari kualitas baik sebagai orang tua. Meskipun begitu, dengan menulis ini saya ingin menampar diri saya sendiri untuk bangun dari mimpi memiliki generasi penerus yang madani, sementara apa yang saya contohkan sehari-hari mungkin belum mendukung untuk terwujudnya mimpi ini.

Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita semua sebagai Ibu, yang adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Meita Hapsari
Meita Hapsari
Articles: 4

9 Comments

  1. […] santun pada orang lain jelas tidak dapat diserahkan pada pemerintah, guru, atau sekolah mana pun. Tidak akan ada lembaga yang perannya mampu mengalahkan orang tua dalam mendidik seorang anak. Sejatinya, pendidikan yang diterima seorang anak tentang nilai-nilai terpenting dalam hidup ini […]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *