Arti Cantik Bagi Remaja Perempuan

Apakah Mamah memiliki anak gadis?

Ada sebuah tugas besar yang saya dan suami saya sadari begitu anak kami menjadi remaja, yaitu mendefinisikan “cantik”. Sebagai perempuan, tentu wajar jika putri kami ingin disandingkan dengan predikat tersebut. Menurut kami, tidak ada yang salah dengan ini. Namun, kami merasa perlu mencermati kembali kriteria yang diyakini. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan cantik? Yang disebut cantik itu yang seperti apa?

Pengalaman Pribadi Sebagai Remaja

Cantik itu berambut lurus dan berkulit putih. Saya pernah meyakini pemahaman ini selama bertahun-tahun semasa remaja dahulu. Mungkinkah ini pengaruh teman, seperti gerombolan anak lelaki sekelas di bangku SMP yang gemar melempari rambut keriting saya dengan bola-bola kertas? Atau adakah pengaruh yang lebih besar lagi seperti dari iklan-iklan komersial yang berseliweran di majalah dan televisi?

Saat mulai memakai seragam putih-biru di usia belasan tahun, sepertinya saya mulai mengusahakan agar segala perilaku dan kepercayaan diri selaras dengan orang lain. Menurut teori psikologi, hal ini dikenal sebagai fenomena konformitas. Dalam teori ini, disebutkan bahwa seorang anak remaja akan menyesuaikan perilaku dengan menganut norma kelompok acuan, menerima ide-ide atau aturan yang menunjukkan bagaimana ia harus berperilaku (Baron & Byrne, 2005).

Kecenderungan Alami Anak Remaja: Berusaha Diterima dalam Kelompok

Dalam situasi sebagai remaja dahulu, saya merasa wajib menyesuaikan diri dengan opini umum yang berkembang di lingkungan sekitar. Alih-alih menegaskan kesalahan anak lain yang memainkan rambut saya sebagai keranjang untuk permainan bola basket kertas, saya malah menyalahkan diri karena memiliki rambut keriting. Pokoknya, waktu itu saya yakin bahwa saya merupakan “produk gagal” karena tidak berambut lurus panjang selicin model-model sampo di teve. Saya memprotes kebijakan orang tua yang melarang saya meluruskan rambut, menganggap mereka kejam karena tidak mendukung “perbaikan diri” yang ingin saya lakukan.

Peran Positif Lingkungan Sekitar

Kalau dipikir-pikir sekarang, saya merasa sungguh beruntung karena dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang mementingkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan universal. Pendidikan dan kebijaksanaan selalu diprioritaskan sehingga cita-cita seputar perubahan penampilan fisik terdengar amat konyol. Mungkin karena itulah, pergulatan saya menghadapi konformitas di lingkungan sekolah pun tak berlarut-larut terlalu lama. Seiring dengan pertambahan usia, saya makin percaya diri dengan penampilan fisik saya sendiri.

Kenaikan jenjang pendidikan juga berpengaruh besar, apalagi setelah berkuliah di kampus kebanggaan kita semua yang–setidaknya yang saya yakin betul, sampai tahun 2000–didominasi oleh mahasiswa dari kaum adam. Kebetulan, di lingkungan sekitar saya, bentuk rambut dan warna kulit bukan topik yang menarik dan populer. Dalam forum-forum curhat antarjenis yang sempat saya perhatikan, terutama yang terkait dengan hubungan asmara, masalah yang lebih banyak diperhatikan adalah bagaimana menemukan lawan jenis yang “nyambung”.

Kampus Kebanggan yang Mengajarkan Keberagaman dan Kepercayaan Diri

Tidak terlalu sulit untuk menduga bahwa kata nyambung yang dimaksud di sana berhubungan dengan kesetaraan atau kecocokan wawasan, kecerdasan, dan kepribadian. Hingga lulus sarjana, saya belum menemukan lelaki yang mendefinisikannya sebagai kesesuaian jenis rambut dan warna kulit. Kelihatannya kebanyakan teman saya cukup sadar bahwa mencari jodoh itu tidak dapat disamakan dengan memilih model potongan pakaian atau warna cat rumah.

Tugas Orang Tua Remaja Putri

Karena itulah, ketika putri kami membeli sabun dengan label whitening setelah sibuk membahas misi berkulit putih dengan teman-temannya, saya menandainya sebagai alarm pengingat bahwa kami harus menunaikan tugas sebagai orang tua dari anak remaja. Segera saya mengajaknya berdiskusi kembali. Tidak sedikit pesan sponsor yang ingin saya sampaikan padanya.

Sebagai remaja perempuan, anak kami perlu tahu bahwa ibunya memahami apa yang dirasakannya ketika ingin memakai produk pemutih kulit. Sebagai remaja perempuan, ia perlu tahu bahwa ia tidak sendirian dalam mencicipi dunia remaja yang tak selalu manis. Sebagai remaja perempuan, ia perlu tahu bahwa jalannya mungkin masih sangat panjang. Sebagai remaja perempuan, ia perlu tahu bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada iklan produk kosmetik. Hingga akhirnya, kami berharap bahwa sebagai remaja perempuan, ia akan mampu menemukan arti kecantikan yang hakiki dan bangga dengan keunikan yang dianugerahkan Sang Maha Pencipta kepadanya.

Kami membahas berbagai hal, mulai dari keberagaman ras sampai hakikat penciptaan manusia. Di usianya yang baru menginjak tiga belas tahun, memahami hal-hal ini mungkin tidak sulit. Akan tetapi, sepakat untuk benar-benar meyakini dan menghayatinya belum tentu semudah itu. Saya merasa ini bukan masalah. Setelah bertukar pikiran, saatnya anak kami meneruskan perjalanannya sendiri. Bukankah tugas orang tua hanya sampai pada membekali dan mendoakan anak-anak kita?

Peran Orang Dewasa Bagi Para Remaja: Teman Diskusi

Oh, ya. Tahukah Mamah bahwa tanggal 12 Agustus ditetapkan sebagai Hari Remaja Internasional oleh PBB? Selamat hari remaja bagi putra-putri Mamah yang telah meninggalkan masa kanak-kanak dan memulai perjalanannya untuk menjadi dewasa, ya! Sebagai orang tua, mari kita maksimalkan upaya dan doa agar mereka menuntaskan masa perkembangan masing-masing dengan bahagia hingga tumbuh menjadi manusia-manusia dewasa yang bijaksana.

Catatan:

Tulisan ini disadur dari tulisan-tulisan saya sendiri yang berjudul “Anak Perempuan dan Persoalannya” dan “Perempuan Cantik“.

Daftar Pustaka:

Baron, R. A. dan Byrne, D. (2005). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Default image
Heidy Kaeni
Articles: 5

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: