Remaja, Ada apa denganmu?

Memiliki anak yang beranjak remaja bikin emosi naik turun. Meskipun pernah mengalami masa remaja, tapi rasanya sulit memahami emosi si remaja jaman kiwari. Ada saja kejadian di rumah yang bikin kami beradu argumen. Dia bikin saya kesel, dan saya bikin dia jengkel. Hufft. What should we do to end this situation?

Tidak semua orang tua memiliki masalah dengan si remaja. Pun tak semua hubungan orang tua dan anak ini berjalan mulus. Namun hampir semua mengakui bahwa masa remaja ini cukup menguras emosi bagi kedua belah pihak.

So, how to handle the teenager? Aah  mama mesti belajar lagi niy? Berapa SKS, mah? Puluhan, ratusan sampai semua keadaan membaik dan kami saling memahami satu sama lainnya.

Mood Swing

Kerasa ga Mah, kalau si teen ini mood swing-nya bikin menguras emosi? Sesaat yang lalu masih ketawa-ketiwi, eeh beberapa detik kemudian mukanya ditekuk, mulutnya manyun. Lagi asyik bercanda, eeh salah ngomong sedikit langsung mutung dan emosinya meledak. Duuh rasanya capek banget kalau tiap hari begini. Gak cukup sekali sehari, kadang berkali-kali dalam sehari.

Ternyata ketidak-stabilan emosinya ini ada sebabnya lho! Bukan karena keinginan sendiri. Bahkan mungkin si remaja pun tidak memahami kenapa mood-nya berubah secara cepat. Ia pun ingin dimengerti dan ditemani di saat mood-nya tidak stabil.

Jadi kenapa siy, para remaja ini memiliki mood yang tidak stabil? Kenapa sih mood swing ini terjadi? Menurut beberapa ahli, mood swing ini wajar terjadi pada seseorang yang mengalami masa transisi. Remaja bisa dikatakan berada di masa transisi. Masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Tidak bisa dikategorikan anak-anak namun juga tidak cukup matang untuk masuk kategori dewasa.

Daniel Offer, dkk (1988) menyebutkan bahwa anak usia transisi ini mengalami perubahan dari aspek biologis, psikologis dan sosial secara bertahap. Selain itu akal anak seusia ini belum cukup kuat.

Yuk kita bahas apa siy yang dimaksud dengan point-point penyebab mood swing ini.

Perubahan Area Biologis

Di masa remaja, mulai umur belasan biasanya ada perubahan hormon di area reproduksi dalam tubuh. Anak perempuan ditandai dengan datangnya menstruasi. Sementara anak laki-laki ditandai dengan berubahnya suara, mimpi basah dan tumbuhnya kumis.

Perubahan hormonal ini berpengaruh terhadap suasana hati. Perubahan ini juga memberikan efek negatif seperti stress, perasaan insecure, rendah diri, dan lainnya. Biasanya perasaan si anak lebih sensitif. Apalagi kalau ada trauma sebelumnya, misal memiliki luka di masa lalu ataupun BLAST. Apa siy BLAST itu? BLAST singkatan dari boring, lonely, angry, stress, tired.  Lebih jelasnya kita bahas BLAST di artikel tersendiri ya. Next, insya Allah.

Perubahan Area Psikologis.

Mom, terasa gak kalau di masa transisi ini anak kita makin keras kepala? Mmh, apakah itu hanya perasaan kita, ataukah memang mereka semakin sulit diatur?

Menurut penelitian, anak remaja mulai ingin menunjukan jati dirinya, the real me. Keinginannya, perasaannya dan keputusannya dalam menghadapi masalah ingin dihargai. Ia sudah tidak mau diatur maupun diberi saran lagi. Sementara di sisi lain, di dalam hatinya masih ada perasaan ingin membahagiakan orangtua dengan mengikuti apa yang disampaikan keduanya. Perasaan ini wajar adanya, dan termasuk ke dalam sisi social me-nya. Seperti keinginan untuk memenuhi saran orangtuanya, membanggakan ayah ibunya, dan juga kebutuhan untuk didukung pilihan hidupnya. Akibatnya terjadi konflik batin antara real me dan social me. Satu sisi ingin menunjukan jati dirinya, sisi lain ada terbersit keinginan menjadi anak yang dibanggakan orangtuanya.

Konflik ini akan makin parah ketika kita, orangtuanya menilainya sebagai anak yang pembangkang karena si remaja mulai unjuk diri dan berani berkata tidak. Kita merasa bahwa ilmu dan pengalaman kita lebih banyak. Sehingga tidak memberikan ruang kepada si remaja untuk belajar membuat keputusan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap apa yang diinginkannya. Kondisi ini bisa mengakibatkan labilnya emosi si anak. Ia tidak memiliki kepercayaan diri karena tidak diberikan kesempatan untuk menunjukkan jati dirinya.

Namun ketika orangtua memberikan ruang bagi si anak untuk menunjukkan siapa dirinya, mempercayai keputusannya, serta tetap membimbingnya dalam batas yang wajar, maka anak remaja ini akan berhasil melewati konflik batin yang dihadapinya. Pelan-pelan kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Ia akan menjadi pribadi yang lebih stabil, karena dari berbagai peristiwa yang dialaminya ia belajar mana jalan atau keputusan terbaik yang harus diambil. Ia bukan sesosok tubuh berbadan besar berhati kecil. Namun jiwa besar dan akal yang mulai menguat tumbuh seiring dengan pertumbuhan tubuhnya. Insya Allah.

Ketika si remaja berhasil melewati masa konflik ini, maka ia akan lebih matang secara emosional. Menjadi pribadi yang lebih adaptif. Ia tahu kapan harus kokoh dengan pendapatnya, dan kapan harus memberi ruang bagi masuknya saran dari luar. Ia bisa menjembatani antara keinginan pribadi dan harapan orang di sekitarnya. Pribadi yang asertif ini bisa menjadi bekal untuk melewati tahapan selanjutnya di masa transisi ini.

Perubahan Area Sosial

sumber : freepix

Selain konflik psikologis, tantangan selanjutnya ialah konflik sosial dengan lingkungan yang lebih luas lagi. Bukan hanya konflik si anak dengan keluarganya, namun ada faktor lingkungan yang menjadi peer pressure bagi diri anak tersebut. Sehingga ketika konflik internal (psikologis) ini tidak selesai, maka ada kemungkinan menyulut konflik eksternal (sosial).

Pada masa transisi ini, pengaruh teman begitu besar. Ada perasaan ingin diakui lingkungannya, salah satunya teman-temannya. Ketika si anak masih dalam kondisi yang labil, maka mudah baginya terpengaruh oleh lingkungannya. Jika lingkungannya baik, maka pengaruhnya pun akan baik bagi jiwanya. Namun bagaimana jika dia bertemu dengan lingkungan yang tidak baik?

Sementara di dunia yang sudah tidak tersekat ruang dan waktu ini, anak-anak kita bisa berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas lagi tanpa bisa kita cegah. Kita tidak bisa mengurungnya setiap saat. Mencegahnya berselancar di dunia maya merupakan hal yang mustahil pada zaman ini. Internet, serta pengaruh di dalamnya merupakan tantangan yang harus dihadapi orangtua dan anak secara bersama-sama. Oleh karena itu, maka pribadi yang kuat, emosi yang stabil serta keteguhan pendirian dan kedewasaan dalam bersikap bisa menjadi benteng atas datangnya pengaruh buruk bagi si anak baik di kehidupan nyata maupun maya.

Masa transisi ini memang masa chalenging bagi anak dan orantua. Pendampingan orangtua menjadi faktor penting agar anak berhasil melewatinya dengan hasil yang memuaskan. Sehingga kelak ia akan bisa berharmonisasi dengan lingkungannya, tanpa kehilangan jati dirinya.

Pengaruh Kekuatan Akal

Selain faktor hormonal yang mengakibatkan konflik internal dan eksternal dalam diri si anak, faktor yang lainnya yang menyebabkan mood swing adalah kekuatan akal yang belum sepenuhnya matang.

Kapankah akal ini menguat? Akal ini akan menguat ketika bagian otak luhur manusia (PreFrontal Cortex/ PFC) cukup matang. Menurut beberapa penelitian, otak PFC ini matang menginjak usia 20 tahun. Lama ya? Sementara perubahan hormon reproduksi anak terjadi di usia belasan. Mmh, ada gap yang cukup jauh di sini antara kematangan biologis di usia remaja dan kematangan otak.  

Bagaimana caranya agar selisih ini tidak begitu jauh?

Bayangkan, seorang anak yang sudah aktif secara biologis namun akalnya belum cukup dewasa, maka ada peluang timbulnya masalah di kemudian hari. Jadi kita harus bagaimana ya Mah?

Pendampingan orangtua, itu adalah salah satu cara agar selama masa transisi ini anak kita bisa melewatinya dengan baik. Kedekatan kita dengan anak-anak, menjadi orang pertama yang mendengarkan ceritanya, serta menjadikan kita tempat konsultasi bagi permasalahannya. Semoga dengan pendampingan ini, kita bisa membimbing mereka menuju kedewasaannya.

Tapi bagaimana kita bisa dekat dengan si remaja kalau setiap hari kita dibikin emosi? Eiits, apakah mereka yang membuat kita emosi, ataukah karena kita yang belum mengerti bagaimana menjadi sahabat bagi anak di usia transisi?

Ternyata, ada tips dari buku Anger Management for Teen agar kita sang orang tua bisa menjadi SAHABAT anak di usia transisi. Kita kupas satu persatu yuk!

Menjadi Sahabat Remaja

Sumber : Canva

S: Sabar dan Sadar

Tips pertama adalah S, sabar dan sadar. Bagaimana agar sabar dan sadar?

Sebenarnya setiap individu pasti memiliki rahasia sendiri agar bisa sabar lebih lama menghadapi perilaku luar yang menyebabkan emosinya tersulut. Sehingga langkah pertama agar senantiasa bersabar adalah kenali diri kita. Keadaan apa yang menyebabkan emosi kita mudah meledak. Nah usahakan ketika akan berbicara dengan si remaja, keadaan emosi kita baik. Kita penuhi dahulu full tanki cinta kita. Bayangkan hal yang indah yang bisa membuat kita bahagia. Sehingga kita pun bersiap mentransfer kebahagiaan yang kita miliki.

Selanjutnya, kita empati, sadar dan mengetahui kondisi anak. Hal ini bisa memperpanjang urat sabar kita. Insya Allah. Setelah mengetahui konflik batin yang mereka alami di masa transisi ini, mungkin kita bisa lebih memunculkan rasa empati kita. Kita memahami bahwa kerasnya si anak di masa transisi bukan sebuah pembangkangan, namun ia belajar untuk menunjukan dirinya. Ia ingin dihargai, ia ingin dipercaya untuk mengambil keputusan. Pemahaman kita atas kondisi anak akan membuat kita lebih sabar dalam mendampinginya mengambil keputusan.

Tips selanjutnya adalah ketika perdebatan mulai terjadi, tundukkan pandangan. Aha! Tips ini lebih bersifat pribadi, tips yang saya praktikan bersama remaja di rumah. Mungkin mama punya tips lain, dan tips ini tidak pas untuk diterapkan bagi anak mama.

Mmh, bagaimana maksudnya dengan menundukan pandangan? Begini, ketika konfrontasi mulai terjadi dengan si remaja, maka terkadang mata si anak akan menantang kita. Ia bersiap berperang. Untuk sebagian orang, pandangan menantang itu akan menyulut emosi. Sehingga kita sebagai orang tua merasa harga dirinya direndahkan oleh seorang anak yang usianya selalu lebih kecil dari kita. Maka menundukkan pandangan adalah salah satu cara agar emosi tidak tersulut, dan nada bicara tetap dalam frekuensi yang aman, tanpa teriakan dan cacian. Karena, meskipun anak kita adalah jiwa yang kita sangat sayangi, namun emosi bisa membuat rasa sayang itu seperti lenyap ditelan amarah. Jadi penting rasanya untuk mencari cara agar emosi itu tidak meluap.

Bagaimana jika terlanjur emosi? Maka berpindah tempatlah! Menjauh dari area konflik, atau merubah posisi. Bisa juga dengan membasuh muka dan raga di kamar mandi agar kembali dingin. Bagi muslim bisa dengan berwudlu. Cara ini cukup ampuh untuk menurunkan emosi.

Terakhir, ingatlah bahwa ananda yang membuat emosi kita meluap itu adalah jiwa yang dititipkan Tuhan pada kita. Semoga tips-nya berhasil ya mah!

A: Ambil Hatinya.

Bagaimana mengambil hatinya? Masuki dunianya. Meskipun canggung dan gak gue banget, cobalah untuk mengintip dunia yang sedang diminatinya. Kalaupun tidak sanggup mengikuti apa yang disukainya, setidaknya tidak menunjukan kebencian. Biarkan ia merasa nyaman menceritakan dunianya kepada kita.

Kemudian, jika kita pernah bersalah di masa lalunya, maka minta maaflah. Maaf yang kita ucapkan tidak mengubah masa lalu, namun akan menghadirkan masa depan yang lebih baik. Lalu maafkanlah pula kesalahannya, sehingga pemaafan itu bisa mengubah cara pandang kita terhadap ananda. Ia layak mendapatkan pencitraan yang baik di mata kedua orangtuanya. Hilangkan label buruk yang terlanjur tergambar di benak kita. Hadirkan sosoknya sebagai seorang anak yang sangat kita sayangi sepenuh jiwa raga kita.

H: Hadir di setiap keadaan

Kehidupan tidak selalu mudah, ada saat membahagiakan dan ada saat yang sulit. Kehadiran kita orang tuanya di setiap keadaan itu sangat berarti bagi setiap anak. Hadir bukan hanya jasadnya, namun juga jiwanya. Siapkan kedua telinga untuk mendengarkan ceritanya. Ketika ia merasa sedih, tahan mulut kita untuk berkomentar atau memberikan nasihat jika tidak diminta. Biarkan ia meluapkan semua emosinya, lalu peluklah. Ia hanya butuh didengar dan difahami. Ia butuh tempat yang nyaman untuk beristirahat dari riuhnya dunia.

Hadirkan jiwa kita di masa bahagianya. Turut serta merasakan keceriannya, mendukung setiap langkahnya, mengoreksi dengan cara yang bijak jika langkahnya bukan langkah yang baik.

Tak lupa hadirkan diri untuk menanyakan keperluannya, bagaimana perasaannya, dan apa yang diinginkannya. Bukan hanya basa-basi di mulut, namun sediakan ruang di hati dan pikiran kita sehingga kebutuhannya menjadi salah satu prioritas kita.

A: Ayah Bunda Menjadi Role Model

Konon, ucapan yang berbusa tidak ada artinya jika perilaku tidak menunjukan langkah yang seirama. Keteladanan memiliki pengaruh yang lebih banyak dibandingkan nasihat yang indah dan panjang. Anak akan melihat bagaimana kita, orang tuanya memberikan contoh atas apa yang kita sampaikan. Bagaiman kita menjadi orangtua yang otentik, apa yang terucap itulah yang tergambar dalam keseharian. Bukan hanya di mulut saja.

Jika anak melakukan kesalahan, maka kita harus berintrospeksi dulu. Mungkin ia meniru atas apa yang kita lakukan. Mereka layaknya cermin, memantulkan sikap kita setiap harinya.

Maka, menjadi teladan bagi anak adalah sebuah keniscayaan dalam membentuk pribadi anak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

B: Berikan Peluang bukan Hanya Uang

Kebutuhan anak bukan hanya kebutuhan yang bersifat fisik. Mereka juga membutuhkan kesempatan, peluang dan kepercayaan dari orangtuanya. Berikan ruang bagi mereka untuk memilih, dan berjuang dengan mimpinya. Cukupkan diri dengan mendampinginya, bukan menginterupsi setiap langkahnya. Biarkanlah ia belajar atas apa yang dipilihnya, menerima konsekuensi atas keputusan yang diambilnya. Yakinlah, dengan kesempatan yang kita beri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi.

A: Apresiasi sebelum Kritik dan Koreksi

Moms, sering gemas gak dengan perilaku si remaja? Rasanya mulut ini ingin meluncurkan ribuan kata untuk mengoreksi perilakunya yang menurut kita gak sesuai. Betul apa betul?

Belum lagi kalau kita berhadapan dengan remaja yang tidak kooperatif. Dikasih tau A, malah milih Z. kejauhan, dan bikin kita pengen merepet lebih banyak lagi. Sudah terbayang koreksi dan kritikan yang akan kita ucapkan. Tentu saja, menghadapi kritikan pedas, si remaja tidak akan tinggal diam. Ia akan ancang-ancang menyiapkan perlawanan sehingga akhirnya timbulah perdebatan, dan lama-lama menimbulkan jarak dan krisis kepercayaan antara anak dan orangtua.

Lalu bagaimana dong? Kritik dan koreksi kita kan tanda perhatian, kita gak mau si anak terjerumus dalam kesalahan.

Ternyata ya moms, ada lho saran dan kritik yang bermanfaat, asal kita tahu caranya. Bagaimana caranya?

  • Pertama, lakukan koneksi sebelum koreksi. Seperti dibahas di tips sebelumnya, ambil dulu hatinya. Jadilah kita orang kepercayaannnya. Sehingga ia menaruh kepercayaan pada kita. Kalau kita tidak berada di hatinya, sebaik apapun koreksi yang kita berikan akan terasa seperti genderang perang bagi si anak.
  • Kedua, jangan lupa apresiasi di setiap kebaikan yang ia lakukan. Kalimat apresiasi harus lebih banyak dari koreksi ataupun kritikan. Yakinkan hatinya, bahwa ia istimewa dan disayang kedua orangtuanya. Hadirkan kepercayaan dirinya.
  • Ketiga, kritik dan koreksi tidak ditujukan ke pribadinya, tapi ke perilakunya yang salah. Jangan melabelinya dengan sebutan yang buruk. Misalnya, sebutan kakak bandel, anak pembangkang dan sejenisnya. Koreksilah sikapnya yang tidak sesuai, misalnya “Bunda tidak suka ketika kakak berbicara kasar.”
  • Keempat, bersiap menerima ketika anak mengoreksi kesalahan kita. Berat ya? Namun sikap kita yang legowo menerima masukkan mereka membuat mereka pun belajar untuk menerima masukan kita. Ingat! Keteladanan lebih utama dibandingkan ribuan kata yang kita ucapkan.

T: Tuntun dengan ilmu, dan tuntut usaha, bukan hasil

Menjadi orangtua tidak ada sekolahnya, namun wajib bagi setiap orangtua untuk mencari ilmu untuk menjadi orangtua yang baik. Di masa sekarang ini banyak sekali ilmu, seminar maupun komunitas parenting yang bisa kita ikuti. Dengan ilmu yang kita pelajari, akan menjadi panduan garis besar bagaimana mendidik anak. Tentunya dalam praktiknya disesuaikan dengan kondisi dan karakter setiap orangtua dan anak. Karena tidak ada anak yang sama, maka tidak ada formula paten yang berlaku bagi semua anak. Kitalah orangtua yang lebih mengetahui pribadi anak. Ilmu yang kita miliki membantu kita untuk merumuskan formula yang sesuai bagi setiap anak.

Lalu, jangan lupa untuk menghargai proses kebaikan setiap anak, sekecil apapun itu. Nikmati setiap proses perubahannya, niscaya akan terasa nikmat yang Tuhan karuniakan kepada kita. Jangan terlalu terobsesi pada hasil akhir yang ideal, karena hasil mutlak berada dalam kehendak Tuhan. Manusia hanya diminta berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Oleh karenanya, langitkan doa untuk ananda tercinta. Karena semua usaha kita akan sia-sia jika tanpa pertolongan Tuhan Yang Maha Esa.

Maka ketika orangtua bisa menjadi SAHABAT terbaik, maka mudah baginya untuk menanamkan nilai-nilai yang diyakininya. Nilai-nilai ini akan membantunya menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Sumber : Buku Angry Management for Teen

(Disunting oleh : Risna)

Default image
Rela Puteri Pamungkas
Articles: 1

3 Comments

  1. Teh Rela, bagus banget tulisannya. Saya juga mamah satu putri memasuki usia remaja, pusing dan riweuhnya kurang lebih haha.

    Setuju banget dengan masalah role model, kalau di rumah saya bilangnya monkey see monkey. Sebisa mungkin saya juga berubah kalau ingin anak berubah, walau masih susah, pelan-pelan kita belajar sama-sama.

    Haturnuhun ya Teh Rela.

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: