Ada Apa dengan Pendidikan Indonesia?

“Merdeka!”

“Sekali merdeka tetap merdeka!”

Ingatkah dengan pekik semangat di atas? Kata merdeka begitu kuat mengalirkan semangat untuk bangkit menjadi lebih bermartabat dan memiliki manfaat sebagai bangsa yang berkemajuan. Sejatinya pendidikan merupakan pilar utama kemajuan suatu bangsa. Tentu saja diperlukan upaya peningkatan kualitas pembelajaran yang dapat beradaptasi dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Belajar di manapun dan kapan pun dapat dilakukan dengan bahagia oleh seorang anak.

Bahagia Sebagai Pembelajar Sejati

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjawab tantangan tersebut dengan meluncurkan Kurikulum Merdeka yang diharapkan dapat menjadi upaya dan tonggak untuk meningkatkan pembelajaran yang berkualitas dan mampu menghasilkan putra-putri bangsa yang berprestasi bukan hanya tingkat nasional, tetapi juga global, dan memiliki karakter yang mulia.

Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik.

Belajar adalah sebuah kebutuhan, bukan lagi menjadi keterpaksaan atau hanya belajar jika disuruh oleh orang tua dan guru. Pembelajar sejati akan menikmati setiap tahapan dan beragam lika-liku bahkan suka-duka dalam proses belajar. Semboyan pantang menyerah sudah tertanam dalam sanubari terdalam, sehingga ketika ada aral melintang pun tetap semangat untuk menaklukkannya.

Bahagia Belajar Lebih Penting Dari Merdeka Belajar

Sejatinya belajar itu semenjak dari buaian hingga ajal menjemput. Kembali belajar bukanlah kata yang tepat bila menerapkan konsep belajar selamanya, belajar di mana saja, belajar kepada siapa saja, belajar dengan cara apa saja.

Sejatinya belajar itu terus … terus … terus dan terus. Bisa jadi yang dimaksud adalah kembali belajar agar belajar menjadi lebih bahagia. Ya benar! Bahagia belajar itu sangat penting.

Lebih utama dari merdeka belajar yang dicanangkan Mas Menteri hehehe …

Mengapa bahagia belajar itu penting? Sungguh patut disadari bahagia itu ada dari dalam diri. Bukan dari luar. Bila para pembelajar sejati sudah merasakan bahagia belajar, tidak akan ada keluhan saat melakukan aktivitas belajar. Semenjak dini, aku mencoba menerapkan bahagia belajar kepada ketiga anakku. Satu bocorannya nih … Seringkali mereka aku ajak tidak masuk sekolah. Tapi tetap belajar. Hahaha … Kok bisa?

Orangtua lain akan bilang itu bolos, gak belajar, atau mungkin dicap anak malas. Tapi … Aku bilang itu belajar di luar sekolah. Belajar di alam atau belajar di lingkungan sosial. Istilah keren yang aku sebut mobile schooling

Bahagia belajar juga harus dicontohkan. Orang tua adalah teladan utamanya. Jangan hanya cakap di mulut saja. Tapi lakukan! Seperti gemar atau cinta membaca.

Cinta membaca sejak dini dapat dilakukan dengan teladan dari orang tua.

Ya … Orang tua harus terlebih dahulu cinta membaca. Berikan anak-anak buku-buku bacaaan yang bagus. Investasikan dana khusus untuk membeli buku. Lalu pajang buku-buku agar mudah dijangkau anak. Nah … Anak-anak akan tertarik untuk belajar mandiri –independent learner. Di negara seperti Singapura juga Finlandia, ada hari-hari di mana anak-anak harus belajar dari rumah. Mereka dipacu dan dipicu untuk menjadi pembelajar sejati. Belajar mandiri dengan bahagia belajar tentunya.

Artikel terkait dapat dibaca di sini: Mendidik Dengan Cinta

Ajarkan Kejujuran Kepada Anak

Akhir-akhir ini kita sebagai orang tua mendapatkan informasi yang membuat prihatin dan miris. Terkait kasus korupsi yang dilakukan dan merugikan negara hingga ratusan triliun. Apakah kita cukup berdiam diri saja sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya?

Keluarga sebagai qurrota ayun atau penyejuk mata hati itu adalah oase sejuk yang berhias akhlak mulia. Jadi aku sebagai ibu berperan menjadi pendidik pertama dan utama di rumah berusaha untuk mendidik anak-anak memiliki akhlak mulia. Suamiku sebagai ayah dan kepala rumah tangga berperan sebagai penjaga keluarga dari siksa api neraka dengan menjaga aqidah kami, agar memiliki tauhid yang benar dan lurus.

Kejujuran harus ditanamkan dan dicontohkan sejak dini kepada anak.

Tentu kita tidak boleh merasa baik-baik saja dan mengabaikan pendidikan tentang kejujuran, integritas, tanggung jawab moral, etika, dan taat kepada ajaran agama.

Sekali lagi orang tua adalah teladan bagi anak-anaknya. Prinsipku dalam mendidik anak adalah bahwa proses jauh lebih penting dijalankan dengan sebaik-baiknya. Potensi bakat dan minat anak haruslah berkembang dengan optimal, Bukankah kecerdasan anak tidak sama rata? Ketahuilah masing-masing anak adalah unik dan memiliki versi terbaiknya yang sangat spesial dan istimewa.

Bukti nyata aku alami bersama Kaka, Mas dan Teteh. Alhamdulillah … Berkat karunia dan kasih sayang Allah Yang Maha Baik lagi Maha Mulia, terbukti bahwa prestasi adalah sebuah akibat dari kerja cerdas dan ikhtiar keras. Belajar penuh semangat. Doa terus dipanjatkan. Bila nilai didapat dengan kejujuran, rasa syukur sungguh akan terpancar indah. Namun, nilai tinggi pun bila diperoleh dengan kecurangan, rasa apakah yang akan muncul dari lubuk hati terdalam? Harusnya malu … Sejatinya dengan mengingat Illahi Rabbi Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar maka tak akan ada ketidakjujuran.

Puisi Kaka saat berusia sepuluh tahun.

Ada pengalaman menarik di sekolah Mas saat menjelang Ujian Nasional (UN). Sekolah tempat Mas belajar tidak melulu berorientasi asal lulus UN. Beberapa pertemuan antara manajemen sekolah yang diwakili kepala sekolah bersama orangtua, sangat ditekankan bahwa pendidikan adalah sebuah proses. Nilai akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Para pelajar dibimbing agar mampu menjadi manusia cerdas yang berakhlak mulia. Berbagai program disusun agar mereka memiliki keimanan, ketaqwaan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkelindan tak terpisahkan.

Senang sekali mendengar dan mendapatkan informasi demikian. Saat di banyak tempat nilai adalah satu-satunya tujuan. Lalu kejujuran diabaikan dan di pojokkan di ruang berdebu. Kecurangan pun diambil sebagai jalan pintas agar tampak keberhasilan semu.  Apakah harus begitu?

Penutup

Kadang sebagai orang tua sering melupakan dan menghilangkan makna penting menjadi seorang anak yang penuh rasa ingin tahu, suka menjelajah, sesekali jatuh, lalu bangun lagi, melompat bahkan terjun di kolam berair jernih untuk kemudian berenang penuh semangat hingga di sisi lain.

Berikan kesempatan mereka  pemahaman hikmah ujian sebagai proses dan langkah baik menuju tahapan kehidupan berikutnya yang lebih baik, bukan sebagai tekanan. Masa kanak-kanak terlalu berharga bila disia-siakan dengan tekanan-tekanan serupa aliran listrik, tombol mekanik, dan gabungan beragam instruksi ‘manual book‘ artifisial berupa persaingan tak terkendali, jam belajar text book yang panjang, rapor atau kertas ijazah yang membungkus seluruh kemanusiaannya dalam angka-angka.

Mungkin pemikiranku ini tak begitu sejalan dengan pandangan umum. Aku membayangkan dan terus ingin mendiskusikannya kemudian berupaya bersama mencapai gagasan besar ini bersama para guru, kepala sekolah, dan penyelenggara pendidikan di tempat anak-anakku belajar. Sekolah yang melihat anak-anak sebagai benih yang perlu di rawat. Guru adalah juru kebun yang membantu mengeluarkan potensi di dalam diri anak. Penyelenggara adalah lahan subur yang memberikan tanah terbaiknya baik keberlangsungan tumbuh kembang benih-benih unggul tersebut menjadi manusia versi terbaiknya masing-masing.

Anak bukanlah lempung yang bisa dibentuk semena-mena oleh guru dan orang tua sebagai pembuat tembikar yang memutuskan bentuk apa yang harus dihasilkan lempung itu.

Dewi Laily Purnamasari
Dewi Laily Purnamasari
Articles: 11

2 Comments

  1. Masya Allah, puisi Kaka.. padahal baru 10 tahun waktu itu ya. Iya betul, belajar ngga terbatas hanya di kelas dan harus dilakukan dengan bahagia. Bukan karena terpaksa

  2. Iya teh Andina … Hal itu yang aku obrolin waktu ketemuan di kedai kopi.
    Anakku sering aku ajak melakukan aktivitas di luar sekolah, bahkan di hari sekolah saat SD.
    Alhamdulillah … Banyak pengalaman yang didapat dan lebih adaptif ketika berada di tempat baru atau ketemu orang baru. Padahal Teteh itu kan punya barrier dan kayak ada defend gitu kalau ketemu suasana baru.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *