beberes rumah

Beberes Rumah Beberes Diri di Bulan Suci Ramadhan

Dalam post kali ini, saya ingin mengajak para Mamah untuk 'ibadah, dalam bentuk beberes rumah extra untuk bisa mendukung perubahan diri menjadi lebih baik. Apa hubungannya beberes rumah dengan menjadi pribadi yang lebih baik? Yuk dibaca sampai habis, Mah!

Marhaban ya Ramadhan.

Alhamdulillah ya Mah, kita masih diberi umur untuk kembali merasakan nikmatnya ibadah di bulan suci Ramadhan. Semangat untuk bisa beribadah dengan lebih baik dan berharap bisa bersih dan fitri di hari kemenangan.

Biasanya saat Ramadhan, umat muslim memiliki target-target ibadah yang extra dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kalau biasanya mengaji cukup sehari sehalaman, di bulan suci targetnya meningkat menjadi 1/2 juz atau 1 juz. Yang biasanya cukup pengajian sebulan sekali, sekarang punya target ingin ikut kajian seminggu sekali. Semuanya demi mengharapkan bisa memaksimalkan ibadah di bulan suci ini.

Dalam post kali ini, saya ingin mengajak para Mamah untuk ‘ibadah, dalam bentuk beberes rumah extra untuk bisa mendukung perubahan diri menjadi lebih baik.

Apa hubungannya beberes rumah dengan menjadi pribadi yang lebih baik?

Terus terang awalnya, saya juga nggak menyangka urusan beberes rumah itu bisa sememuaskan itu. Semua bermula dari saya mengenal konsep Konmari. Prinsip beberes rumah ala Konmari yang dipopulerkan oleh Marie Kondo di tahun 2011. Kini, banyak bermunculan buku maupun acara televisi yang berhubungan dengan masalah beberes rumah ini.

Baca juga: Bagaimana Menentukan Kebiasaan Penting yang Perlu Dilatih?

Para Pakar Mengenai Beberes Rumah

Kalau Mamah mau tahu lebih dalam mengenai ilmu beberes rumah, saya sarankan untuk menengok buku-buku yang ditulis oleh beberapa nama dibawah ini.

Walau pada prinsipnya urusan beberes itu ada benang merahnya, tapi membaca berbagai pandangan orang-orang ini, membantu kita untuk bisa menemukan gaya beberes kita sendiri.

Berbagai buku tentang seni merapihkan rumah

1 Nagisa Tatsumi

Dikenal sebagai penulis buku Suteru Gijutsu (Seni Membuang Barang) yang menginspirasi Marie Kondo menemukan metode Konmari. Buku ini aslinya terbit tahun 2005. Tahun 2020 Penerbit Bentang Pustaka telah menerjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Fokus utama dari bukunya memang sebatas menyisihkan barang yang tidak diperlukan.

2 Francine Jay

Di tahun 2010, Francine Jay – seorang pakar gaya hidup minimalis menulis buku Seni Hidup Minimalis, petunjuk Minimalis menuju hidup yang apik, tertata, dan sederhana (judul aslinya The Joy of less, A Minimalist Guide to Declutter, Organize, and Simplify).

Buku yang terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan oleh GPU pada 2018 ini berisi dasar pemikiran perlunya hidup dengan sedikit barang. Dilanjutkan dengan bagaimana praktiknya untuk merapikan setiap ruangan di rumah kita.

Buku lain dari Francine Jay yang tidak kalah menariknya adalah Seni Membuat Hidup Lebih Ringan (judul asli Lightly: How to Live a Simple, Serene & Stress-free Life, 2010).

Saya merasa lebih cocok dengan konsep berbenah dari Francine Jay ini karena terasa lebih membumi dan realistis. Mungkin karena Francine Jay adalah seorang ibu yang juga punya anak kecil dan punya banyak barang. Fokusnya bukan sekedar buang-buang barang, tapi memilih barang yang benar-benar bermakna tanpa merasa terbebani.

3 Marie Kondo

Marie Kondo

Walau banyak buku soal berbenah sebelumnya, buku Marie Kondo tahun 2011 The Life-Changing Magic of Tidying Up lah yang membuka mata banyak orang mengenai serunya gaya hidup bersih-bersih rumah.

Ketika belum lama ini banyak orang yang menertawakan Marie Kondo yang katanya menyerah urusan beres-beres setelah punya 3 anak, ternyata hal itu dalam rangka ia meluncurkan buku baru Marie Kondo’s Kurashi at Home (2022).

Setelah punya 3 anak, bukan berarti rumah jadi berantakan ya. Tapi lebih menggeser fokus ke memaknai setiap perjalanan hidup dengan barang-barang yang ada di rumah. Berbeda dengan buku pertama, buku kedua ini banyak dipenuhi foto rumah Marie Kondo yang instagramable. Siapa sih yang nggak mau rumahnya instagramable sekaligus minimalis sesuai kebutuhan.

4 Fumio Sasaki

Sebagai seorang pria lajang, gaya hidup minimalis Fumio Sasaki memang terasa terlalu ekstrim kalau buat para mamah di Indonesia yang suka numpuk barang. Tapi gayanya menulis yang pendek-pendek sangat menarik dan mudah dipraktekkan dalam keseharian.

Kalau Marie Kondo merasa perlu berbenah itu sekalian heboh, Fumio Sasaki mempraktekkan berbenah sebagai sebuah proses perubahan gaya hidup yang perlahan-lahan. Perlu waktu bertahun-tahun buatnya bisa berubah dari gaya hidup maksimalis yang punya barang seabrek-abrek, jadi bisa hidup hanya dengan barang seadanya saja.

Bukunya Goodbye, Things – Hidup Minimalis ala Orang Jepang (GPU, 2018) aslinya terbit tahun 2015. Saya sih percayanya, dari gaya hidup minimalisnya ini, ia jadi lebih mudah untuk mengubah kebiasaan hidupnya menjadi lebih baik. Yang kemudian membuatnya menerbitkan buku selanjutnya tahun 2018 berjudul Hello Habits: Panduan Sosok Minimalis untuk Kehidupan yang Lebih Baik

5 Hideko Yamashita

Saya pertama kali tahu mengenai konsep DanShaRi yang diperkenalkan oleh Hideko Yamashita ini dari acara televisi di Waku-waku TV. Bagaimana Bu Hideko membantu orang-orang untuk memilah-milih barang sehingga rumahnya bisa tertata dengan lebih efisien.

Buku Danshari : Memilah dan Menata Barang (serta hal-hal) Penting dalam Hidup, diterbitkan oleh Naura 2022 (terbit pertama kali tahun 2018).

Banyak juga ya buku-buku yang bisa membuka wawasan kita mengenai ilmu beberes rumah ini. Tidak perlu bingung dalam memilihnya karena setiap buku merupakan pengalaman pribadi setiap orang. Mamah bisa coba mengintip daftar isi dan bab-bab awal dari buku-buku ini di Google Books atau Gramedia Digital.

Nggak perlu baca dulu semua buku ya, nanti nggak jadi-jadi beberesnya. Cukup skimming tipis-tipis saja, dan mulailah berbenah.

Mengapa perlu beberes?

Tapi kenapa sih kita perlu beberes rumah? Ini kita bicara beberes besar-besaran ya. Bukan yang sekedar sapu-sapu dan ngepel-ngepel rutin itu. Melainkan benar-benar menginventaris kembali semua harta benda kita di rumah.

Berikut beberapa alasan yang membuat mengapa kegiatan beberes rumah itu perlu dilakukan. Setidaknya setahun sekali.

1 Kita punya terlalu banyak barang

Kita itu sering kali tidak sadar kalau punya barang banyak sekali. Rasanya daftar kebutuhan selalu panjang dan selalu merasa kurang. Saat saya benar-benar melakukan beberes besar-besaran tahunan, saya baru bisa melihat betapa banyaknya barang yang saya miliki. Selama ini bisa tidak kelihatan karena seringkali saya menyimpannya di berbagai tempat.

Jilbab untuk pergi diletakkan di lemari A. Jilbab yang agak jarang dipakai di lemari B. Atau ada yang tercecer di pojok bagian dalam lemari. Begitu dikumpulkan, kaget juga ternyata jumlahnya bisa 3 lusin. Saya bahkan lupa pernah punya jilbab dengan corak tersebut. Yang pasti saya jelas tidak membutuhkan 3 lusin jilbab!

Dengan mengumpulkan barang-barang sejenis di satu tempat saja, kita akan bisa dengan mudah melihat betapa banyaknya barang yang kita miliki.

2 Melatih diri untuk tidak serakah dalam menyimpan barang

Buat apa sih perlu punya 3 lusin jilbab? 1 lusin handuk dengan corak yang sudah lusuh? 2 lusin pulpen yang banyak tintanya sudah habis? Setengah lusin tutup wadah plastik yang sudah bocel-bocel?

Kita akan lihat, bahwa banyak barang-barang di rumah yang sebenarnya tidak pernah kita sentuh dalam 2 hingga 3 tahun terakhir. Hanya menuh-menuhin tempat dan menjadi sarang debu saja.

Sudah saatnya kita belajar untuk bisa mengikhlaskan barang-barang tersebut dibuang atau jika mungkin bisa dimanfaatkan oleh orang lain yang lebih membutuhkan. Kita cukuplah punya barang seperlunya saja.

3 Memberi tempat pada setiap barang

Rumah yang sumpek dengan banyak barang itu sedikit banyak mempengaruhi cara kita berpikir dan mengambil keputusan. Kalau jumlah barang kita optimal, akan lebih mudah untuk kita mengaturnya.

Idealnya setiap barang ada tempatnya. Tempat alat memasak, tempat alat makan, tempat alat buat kue, semua berada di tempatnya masing-masing dan mudah dicari.
Usahakan untuk tidak berlebihan menyimpan barang sehingga kita perlu menyimpan satu jenis barang di berbagai tempat. Selain sulit untuk dicari, jadinya juga tidak rapi.

4 Waktu beberes jadi lebih pendek

Punya sedikit barang itu ringkes. Waktu untuk beberes juga menjadi lebih cepat. Kebayang nggak sih membersihkan lemari penyimpanan hiasan yang banyak perintilannya, tentunya lebih repot dibandingkan dengan membersihkan permukaan meja yang hanya ada 1 pot bunga segar saja. Dilihatnya pun jadi terasa lebih enak dan nyaman. Dan tentu saja lebih sehat karena lebih sering dan mudah proses pembersihannya.

Apa yang perlu dibereskan?

Setelah tahu manfaatnya beres-beres yang menyeluruh, sekarang mari kita mulai kegiatan beres-beresnya.

Memang sih idealnya kita punya satu waktu panjang seperti 1 mingguan kalau mau beberes seluruh rumah tipe 30-90 m2. Bergantung juga banyak barang yang Mamah punya.

Hanya saja sekarang kan kita lagi puasa dan tentunya tenaga terbatas. Jadi kita bisa coba merencanakan program beberes besar-besaran yang dicicil. Sehari 1-2 jam per item saja sambil ngabuburit.

1 Pakaian

Biasanya, pakaian dan perkainan itu menyita cukup banyak tempat di rumah mungil kita. Saat saya beberes besar-besaran tahunan, saya mengumpulkan seluruh pakaian 4 orang di atas tempat tidur besar. Jumlahnya benar-benar segunung tinggi! Dari situ mulai disortir, mana yang benar-benar masih dipakai dan disesuaikan dengan ukuran tempat penyimpanannya juga.

Kalau tempatnya sudah penuh, jangan dipaksakan dengan dijejelin ke sela-sela tempat yang kosong. Tapi dipilih lagi mana yang benar-benar ingin dipertahankan.

Baca juga: Mengenal dan Membumikan Sandang Berkelanjutan (Sustainable Fashion)

Coba diinventaris lagi ada berapa lusin kemeja yang kita punya, kaus kaki yang masih utuh dengan pasangannya, sarung tangan, atau pakaian dalam yang tidak bolong-bolong. Buang yang sudah tidak terpakai, dan belajar mengikhlaskan yang masih bisa dipakai orang lain. Doakan saja, semoga kita punya rezeki untuk membeli yang lebih baik saat memang benar-benar butuh.

2 Dapur

Setelah urusan pakaian beres, kita bisa lanjutkan ke bagian dapur. Di sana ada banyak sekali pernak-pernik yang mungkin tersembunyi di banyak tempat.

Apakah kita benar-benar perlu 10 tumbler air hangat yang sering jadi souvenir itu? Apakah perlu setumpuk piring dan mangkuk untuk anggota keluarga yang hanya 4 orang saja? Apakah stok bahan makanan kita tidak ada yang sudah kadaluarsa?

Dengan menyimpan semuanya dengan rapi di satu satu tempat yang mudah dicari, akan sangat memudahkan keseharian kita.

3 Buku dan Alat Kerja

Buat mereka yang suka membaca dan beli buku, urusan penyimpanan buku ini memang cukup PR ya. Buku yang bertumpuk itu sangat tidak menarik. Kita beruntung sekarang mulai banyak buku digital. Jadi kita bisa lebih selektif untuk memilih buku yang benar-benar perlu kita pertahankan fisiknya dan buku yang perlu diikhlaskan untuk disumbangkan.

Beberapa buku yang terasa sudah tidak relevan atau cukup miliki pdf-nya, bisa disumbangkan saja. Ini akan membantu mengurangi kepadatan rak buku. Kita perlu bijak dalam memilih buku yang akan disimpan atau diberikan kepada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan.

Selain buku, kita juga perlu mengorganisir tempat penyimpanan dokumen, alat tulis, permainan anak-anak sampai ke barang-barang elektronik. Coba dilihat lagi, berapa banyak hp rusak atau laptop yang sudah tidak terpakai lagi di rumah? Atau mungkin gulungan kabel-kabel yang luar biasa banyaknya.

4 Barang-barang Kenangan

Nah urusan barang-barang kenangan ini yang memang agak tricky. Karena sifatnya sangat personal. Setiap anggota keluarga mungkin bisa diberi tempat khusus untuk menyimpan barang personal mereka masing-masing. Barang-barang seperti album foto atau figura yang memakan tempat, bisa dipikirkan untuk menyimpannya secara digital saja.

5 Gudang

Gudang ini memang jalan ninja. Tempat menyimpan barang-barang yang masih statusnya abu-abu. Antara mau dipertahankan atau mau didonasikan. Amannya simpan dulu di gudang. Tapi perlu dikasih jangka waktu. Jika lebih dari 1-2 tahun tidak dipakai, sepertinya perlu diikhlaskan untuk dikeluarkan saja. Gudang itu bisa jadi sarang debu yang paling parah.

Baca juga: Isu Lingkungan Hidup dan Penyangkalan Manusia

Penutup

Urusan beberes ini sejatinya dekat dengan kegiatan spiritual. Membantu kita untuk bisa belajar ikhlas melepaskan barang-barang yang berlebihan sekaligus melatih kita untuk bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki.

Bagaimana Mah? Sudah siap beberes rumah sambil ngabuburit?

Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin
Articles: 5

3 Comments

  1. aduh jadi tersentil ini teh Shanty: kudu beberes segera setelah lebih dari sebulan rumah tak tersentuh.
    semoga bisa dapat banyak pakaian untuk donasi, mumpung ramadhan,

    salam semangat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *