Isu Lingkungan Hidup dan Penyangkalan Manusia

Hallo Mamah! Bertemu lagi dengan saya dan tulisan mengenai peringatan hari-hari di dunia. Kali ini saya akan membahas mengenai Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni. Sesuai judul, saya akan mencoba membahas mengapa isu lingkungan hidup, walaupun cukup populer, tetapi tidak mendapatkan tanggapan yang seharusnya, baik di level individu sampai level dunia. Padahal kebanyakan dari kita sadar atau tidak sadar sudah mengetahui perubahan kondisi Bumi. Paling sederhana terkait cuaca.

Ketika saya datang ke kota Bandung 18 tahun yang lalu, Bandung terkenal sebagai kota dengan udara yang sejuk. Setiap kali berpergian saya selalu membawa jaket. Setiap pagi saya memberanikan diri mengguyur diri menggunakan air sedingin es untuk bersiap mengejar kelas jam 7. Air Conditioner adalah kata yang asing di telinga urang Bandung. Hujan hanya turun di musim hujan September sampai Januari. Karenanya, rencana hajatan bisa diprediksi dengan gampang. Tidak perlu sedia pawang hujan dengan sapu pengusir awan.

Sekarang di lokasi yang sama, anak-anak saya kepanasan saat tidur di tengah malam. Padahal mereka sudah pakai baju tipis. AC sudah menjadi salah satu kebutuhan untuk banyak orang Bandung. Saya tidak pernah lagi menggunakan jaket, walaupun pergi di malam hari. Air untuk mandi tak lagi sedingin jaman dahulu dan hujan bisa datang kapanpun. Bahkan badai sering datang di bulan Juni.

Kalau mau memikirkan hal kecil seperti ini saja, sudah jelas terlihat bahwa ada yang berubah dengan alam kita. Perubahan yang mengarah pada hal yang buruk. Di lubuk hati terdalam kebanyakan dari kita mungkin sudah mengetahui bahwa ada suatu hal yang salah. Namun memilih diam tidak melakukan apapun. Malah tak jarang bersikap in denial. Menyangkal bahwa Bumi sekarang tidak baik-baik saja dan kehidupan akan berlangsung dengan normal dalam waktu yang lama.

Alasan Bersikap Tidak Peduli Pada Permasalahan Lingkungan

Dari beberapa artikel yang saya baca, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang tidak tergerak untuk ikut andil dalam usaha ‘penyelamatan lingkungan’ atau ekstrimnya tidak peduli pada masalah lingkungan. Faktor-faktor tersebut antara lain:

Tidak Mengenal Alam

Sebagian besar dari kita menghabiskan waktu di dalam ruangan atau kendaraan. Terutama jika tinggal di perkotaan Indonesia yang kurang nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki serta tidak memiliki pembagian tata ruang kota yang apik. Hal ini membuat kebanyakan masyarakat perkotaan Indonesia kurang bisa menghargai alam. Tak kenal maka tak sayang. Tak kenal alam ya tak merasa perlu menjaganya.

Tidak Merasa Ada Pengaruhnya Pada Kehidupan Sehari-hari

Kecuali kita adalah orang yang bergantung pada alam, maka perubahan lingkungan tidak langsung terasa pada kehidupan sehari-hari. Kebanyakan orang, terutama masyarakat kota, tidak merasa terpengaruh oleh kerusakan alam. Setiap hari kita melihat berita mengenai bencana alam yang secara scientific telah terbukti sebagai akibat dari kerusakan lingkungan. Banjir, angin topan, tanah longsor, heat wave, kekeringan. Tapi selama musibah itu tidak terjadi pada kita, kita tidak akan bisa relate dengan bencana tersebut, apalagi penyebabnya. Sehingga kemungkinan hal yang kita lakukan saat mendengar ada bencana adalah menyampaikan rasa simpati atau pertolongan, tapi kemudian kembali menjalani hidup seperti biasa.

Konon bencana adalah cara alam mencapai keseimbangan. Semakin tidak seimbang kondisi yang terjadi di Bumi semakin sering bencana terjadi, (Sumber : freepik.com)

Tidak Merasa Usaha yang Dilakukan akan Bisa Membantu

Media cenderung menggambarkan kerusakan lingkungan secara bombastis. Melelehnya glacier yang menyebabkan kenaikan air laut, lubang ozon, penggundulan hutan, dan hal-hal besar lainnya. Hal-hal diatas seringkali membuat kita patah arang duluan sebelum mencoba untuk ikut serta dalam usaha pelestarian lingkungan. Tidak yakin usaha kita yang sederhana, seperti mengurangi penggunaan kantong plastik, menghabiskan makanan, dan menghemat air, bisa membantu. Padahal seperti pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Kalau masyarakat bahu membahu melakukan satu usaha untuk kebaikan lingkungan, seharusnya ada hasil yang bisa terlihat. Seperti kisah Romo Mangun wijaya dan masyarakat di bantaran Kali Code Yogyakarta.

Kawasan Bantaran Kali Code. Dahulu Kawasan Kali Code merupakan kawasan ‘hitam’ di pinggir sebuah sungai yang sangat kotor. Pada tahun 1984 Romo Mangun Wijaya melakukan revitalisasi sosial. Memberdayakan masyarakat di sekitar bantaran sungai dan membuat sungai bersih kembali (sumber: freepik.com)

Tidak Bersedia Mendengar Apa Kata Ahli

Secara umum, ketika seseorang berhadapan dengan situasi yang mengkhawatirkan atau membuat merasa bersalah, otak manusia cenderung menarik diri dan menjadi pasif. Itulah mengapa kabar-kabar mengenai kerusakan lingkungan yang disampaikan oleh para ahli tidak banyak dipedulikan. Karena kabar-kabar tersebut terlalu mengerikan.

Berita mengenai kenaikan suhu udara di atmosfer yang sudah mencapai 1 derajat celcius yang disinyalir mampu melelehkan seluruh es di kutub utara juga membuat tingkat keasaman samudera naik 30% jelas bisa mengoyak ketenangan hati. Jadi sebagian besar dari kita memilih untuk tidak mempedulikannya. Masuk telinga kanan keluar dari telinga kiri.

Ada Banyak Hal Lain yang Perlu Kita Khawatirkan

Secara sederhana permasalahan lingkungan tidak menjadi prioritas kita. Ada banyak hal lain yang perlu dikhawatirkan. Belum menyelesaikan tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni, screen time anak, harga cabai dan bawang yang melambung, cicilan KPR, pemilu presiden dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut memenuhi otak kita dan tidak memberikan ruang untuk kita memikirkan mengenai hal yang terasa jauh seperti punahnya beruang kutub atau paus yang sekarat karena menelan berton-ton plastik.

(Sumber: freepik.com)

Berada di Zona Nyaman

Seluruh makhluk hidup, terutama manusia, pada dasarnya tidak suka jika ketenangannya diusik. Itulah sebabnya mengapa kita masih terus naik kendaraan pribadi untuk menempuh jarak yang dekat, menyalakan AC secara terus menerus, tidak mencabut kabel charger, menggunakn styrofoam, dan lain sebagainya. Padahal kita tahu hal-hal tersebut memiliki efek yang cukup signifikan terhadap kelestarian lingkungan. Sama seperti saya yang saat memiliki newborn memilih menggunakan popok sekali pakai daripada popok kain yang lebih ramah lingkungan. Tapi perubahan memang tidak mudah dilakukan.

Contoh kecil yang terjadi adalah pada kampanye penghentian penggunaan sedotan plastik dan kantong plastik untuk wadah belanja. Sedotan mempermudah orang untuk minum, terutama anak-anak dan lansia, sehingga fungsi sedotan tidak bisa dihilangkan begitu saja. Berbagai macam alternatif sedotan yang bisa dicuci kemudian muncul. Terbuat dari silikon atau besi. Tapi sepertinya karena tidak begitu nyaman digunakan dan dianggap merepotkan, gerai-gerai makanan kembali menggunakan sedotan plastik. Begitupun dengan kantong plastik untuk wadah belanjaan.

Sebuah gerai makanan siap saji sempat menghilangkan penggunaan kantong plastik dan membebankan biaya kantong kertas pada pelanggannya. Masalah terjadi ketika yang membeli adalah para driver ojek online. Tidak semua membawa kantong. Tidak semua pelanggan mau menambah biaya untuk beli kantong, karena lumayan tambahannya sampai Rp. 5.000.

Alhasil para tukang gojek tersebut membawa makanan yang dibeli dengan cara memasukkan ke dalam jaket, ditenteng sambil menyetir, atau cara-cara lainnya yang kurang aman dan higienis, yang tentu saja mengundang protes pelanggan. Akhirnya mungkin karena adanya protes, gerai makanan siap saji tersebut menggratiskan penggunaan kantong kertas untuk para pelanggannya.

Kerepotan membawa barang belanjaan saat lupa membawa kantong belanja. Ini hanya masalah gaya hidup sebetulnya ya (Sumber: mirror.co.uk)

Green Lifestyle Masih Mahal

Harus diakui, segala hal yang ramah lingkungan belum tentu ramah di kantong. Contoh sederhananya produk organic biasanya lebih mahal daripada produk reguler. Desain ramah lingkungan juga membutuhkan biaya lebih banyak daripada desain biasa. Selain karena bahan bakunya mungkin masih jarang, teknologi yang tersedia juga terbatas. Karenanya tidak semua orang sanggup membiayai konsumsi produk ramah lingkungan.

Di Indonesia, hal sederhana seperti memilah sampah kemudian mengumpulkan ke bank sampah juga sepertinya baru bisa dilakukan oleh masyarakat dari golongan menengah ke atas. Karena fasilitas yang masih terbatas membuat biaya untuk pengiriman sampah yang sudah dipilah masih mahal.

Green Lifestyle (Sumber: freepik.com

Tidak Ada Insentif Langsung

Mungkin faktor ini khusus terjadi di Indonesia. Masyarakat Indonesia saya rasa kurang peduli pada masalah lingkungan karena tidak merasa mendapatkan keuntungan apa-apa. Di luar negeri jamak terlihat orang mengumpulkan botol plastik kemudian menukarkannya menjadi uang. Begitupun dengan memilah sampah. Sudah menjadi suatu kewajiban. Seperti layaknya membuang sampah sembarangan akan mendapatkan denda yang cukup besar. Apapun motivasinya, yang pasti aturan dan insentif yang diberikan bisa membuat masyarakat mau tidak mau terdorong untuk ikut menjaga lingkungan.

Penutup

Sekian tulisan saya kali ini tentang hari lingkungan hidup Mah. Semoga bisa sedikit memberikan informasi mengapa isu lingkungan hidup tidak disambut oleh sebagian besar orang. Isu mengenai lingkungan hidup bukanlah hoax. Hal yang perlu dilakukan sekarang adalah menarik masyarakat untuk peduli dengan permasalahan lingkungan. Peduli karena relate dengan isu tersebut, bukan karena terpaksa atau sekedar ingin ikut trend semata.

Restu Eka Pratiwi
Restu Eka Pratiwi
Articles: 18

3 Comments

  1. Iya juga ya teh, produk yang green atau dukung save environment suka lebih mahal, sedihnya.

    Aku sudah mulai biasa bawa kantong kain nih utk belanja di supermarket,.awalnya repot memang karena suka lupa. Tapi sekarang fine aja. Betul, masalah gaya hidup aja.

  2. Di sini penggunaan kantong plastik untuk super market, toko buku, dan banyak toko besar sih udah mulai berkurang, tapi kalau belanja ke pasar ya tetap saja ada banyak plastik kecil-kecil. Beli jajan 5 jenis ya dapat 5 kantong plastik, yang mana wadah di dalamnya juga ada plastikannya lagi.

    Yang juga skrg mulai mengkhawatirkan adalah sampah masker, sarung tangan plastik, dan segala atk yang mana di sekolah sini semua anak wajib atk sekeluarga tiap minggu.

    Ga punya solusi juga sih, sekarang sih membiasakan diri bawa kantong plastik sendiri aja ke mana-mana.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.