Menstrual Cup: Kontribusi Perempuan Untuk Bumi

Masih hangat peringatan Hari Bumi Tanggal 22 April 2022 ya, sudah ngapain aja Mah, untuk bumi? Penggunaan menstrual cup bisa jadi salah satu kontribusi perempuan untuk bumi loh, Mah! Mamah sudah memakai atau tertarik untuk mencobanya?

Masih hangat peringatan Hari Bumi Tanggal 22 April 2022 ya, sudah ngapain aja Mah, untuk bumi? Saya sendiri masih slebor sekali untuk urusan mencintai bumi ini, mohon jangan ditiru. Namun pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang sesuatu yang telah saya coba sejak 5 tahun yang lalu. Saya rasa apa yang akan saya bagikan ini cukup relevan apabila dijadikan usaha untuk berbuat baik kepada bumi. Ya! Penggunaan menstrual cup!

Apa itu menstrual cup?

Menstrual Cup

Menstrual Cup adalah salah satu alat yang digunakan untuk menampung darah menstruasi biasanya terbuat dari medical-grade silicone, rubber, latex, atau elastomer yang bisa digunakan sampai 10 tahun [1]. Sekarang sudah banyak merk menstrual cup yang beredar di pasaran Indonesia, tidak seperti 5 tahun yang lalu ketika saya mulai mencobanya, saya mendapatkan menstrual cup dengan titip beli dari luar negri. Kebetulan yang milik saya terbuat dari medical-grade silicone yang masih saya gunakan sampai sekarang. Untuk harga sangat beragam, mungkin bisa dicoba merk-merk yang cukup ternama karena mereka punya klaim FDA approved, rata-rata merek-merek tersebut memiliki range harga sekitar 300 – 600ribu rupiah.

Fleksibilitas menstrual cup ini berbeda-beda, ada yang kaku ada juga yang lebih fleksibel. Biasanya untuk pemula disarankan untuk menggunakan yang lebih fleksibel, karena akan lebih mudah diaplikasikan. Resiko memilih yang fleksibel adalah kebocoran. Namun dari pengalaman saya dan teman terdekat ternyata kebocoran tidak sering terjadi.

Biasanya berbagai merk menstrual cup menyediakan minimal 2 ukuran yang berbeda, yang lebih kecil biasanya untuk wanita yang belum pernah melahirkan, sedangkan yang lebih besar untuk wanita yang sudah pernah melahirkan, karena biasanya volume darah menstruasi pada wanita yang sudah melahirkan lebih banyak daripada yang belum pernah melahirkan.

Cara penggunaannya mirip dengan tampon yang harus dimasukan ke dalam miss V. Oleh karena itu, sesuai budaya di Indonesia terkait hymen, sebaiknya digunakan oleh wanita yang telah menikah. Mungkin kalau melihat bentuknya, banyak yang mundur teratur untuk menggunakan menstrual cup ya? Tapi percayalah, tidak sehoror itu menggunakannya. Malah cenderung lebih nyaman.

Nyaman

Memang pembiasaan penggunaan menstrual cup ini diperlukan, mulai dari beberapa kali lepas pasang, sampai dengan beberapa cycle menstruasi [1]. Tapi setelah itu, rata-rata wanita yang menjadi responden merasakan kenyamanan dan ingin meneruskan untuk melanjutkan penggunaan menstrual cup [2,3]. Ya memang senyaman itu, bebas bergerak, tidak takut tembus, dan mudah membersihkannya. 

Saya dan banyak teman sekitar saya yang sudah mencoba mengatakan hal yang sama bahwa penggunaan menstrual cup pada saat menstruasi sangat nyaman, bahkan terkadang lupa kalau sedang menstruasi. Biasa pula digunakan oleh wanita yang aktif bergerak, misalnya saja atlet, bahkan menstrual cup ini bisa digunakan untuk olahraga di air seperti berenang. 

Menstrual cup ini juga dapat menjadi pilihan bagi yang memiliki kulit sensitif, beberapa orang memberanikan diri untuk mencoba menstrual cup, karena sudah tidak tahan dengan iritasi akibat pembalut sekali pakai ataupun pembalut kain. Dan ternyata memang jadi bebas iritasi.

Kontribusi Perempuan Untuk Bumi

Saya bisa mengatakan bahwa penggunaan menstrual cup adalah salah satu yang bisa kita kontribusikan dalam usaha konservasi bumi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa menstrual cup dapat digunakan sampai 10 tahun dan satu orang hanya butuh 1 buah menstrual cup. Kalau dihitung-hitung, dengan rata rata pemakaian pembalut sekali pakai 5 buah/ hari, jumlah hari menstruasi 7 hari, maka dalam 10 tahun dibutuhkan sekitar 3360 buah pembalut sekali pakai, sedangkan apabila menggunakan menstrual cup, kita hanya butuh 1 buah menstrual cup. Dari perbandingan ini saja sudah kelihatan kan bedanya?

Makanya saya senang sekali ketika ternyata cocok dalam menggunakan menstrual cup ini. Sebelumnya saya hanya berharap semoga keberadaan instalasi pengolahan pembalut bekas cepat terwujud, jadi tidak terlalu merasa bersalah atas takdir karena mengalami kejadian natural pada wanita, yaitu menstruasi. 

Pencucian menstrual cup pun sangat mudah, biasanya dilakukan sterilisasi (paling umum dengan direbus pada air mendidih) sebelum digunakan pada awal periode menstruasi, dan setelah menstruasi selesai. Untuk penggunaan hariannya biasanya dikosongkan setiap 3-4 jam sekal. Kemudian menstrual cup dibilas dengan air mengalir dan biasanya dicuci menggunakan sabun yang mild sekali sehari. Tidak perlu direndam, tidak perlu dikucek, tidak perlu banyak detergent. Toh, walaupun pakai yang sekali pakai, kita tetap harus membilasnya bukan? Dan sepertinya butuh cukup banyak air sampai cukup bersih. Disini juga dapat dikatakan bahwa menggunakan menstrual cup dapat lebih hemat air dan mengurangi pencemaran detergent ke badan air.  

Pro Cons

Banyak studi yang telah dilakukan terkait menstrual cup ini, karena ternyata penggunaannya mulai dikenal secara global, baik di negara maju maupun negara berkembang. Hasil studi meta analisis (yaitu studi yang merangkum studi-studi lain yang telah dilakukan) menyatakan bahwa menstrual cup adalah salah satu pilihan metoda manajemen menstruasi yang sangat baik, nyaman dan aman [1,3]. Begitu pula pernyataan dari teman-teman saya yang telah menggunakannya, bahkan mereka merasa aman walaupun mereka adalah pengguna alat kontrasepsi intrauterin (IUD).

Tapi tetap saja, tidak semua orang cocok menggunakan menstrual cup, sama seperti tidak semua orang cocok pakai pembalut atau menstrual pad. Dari hasil studi yang dilakukan [1] sekitar 5 % perempuan tidak cocok menggunakan menstrual cup, dengan keluhan seperti alergi, infeksi saluran kencing, masalah terkait IUD, ketidakseimbangan flora miss V, sampai toxic shock syndrome (sangat jarang, dari 500-an responden, ada 2 yang melaporkan hal tersebut). 

Jadi sepertinya, kalau mau mencoba, beli lah merk dengan review yang baik sehingga materialnya sudah terjamin aman. Kemudian apabila telah mencoba dan merasa tidak cocok, mungkin bisa dikonsultasikan dulu pada dokter kandungan masing-masing atau ya sudah langsung cari alternatif lain, hehe. 

Penutup

Menstruasi adalah suatu kejadian alamiah yang dialami oleh perempuan. Mungkin agak merepotkan, belum lagi jadi merasa bersalah karena ‘nyampah’ lebih banyak dibanding laki-laki. Menggunakan menstrual cup dapat menjadi alternatif yang cukup baik dan ramah bumi dalam manajemen menstruasi.

Apakah Mamah tertarik untuk mencobanya?

Referensi

[1] Anna Maria van Eijk, Garazi Zulaika, Madeline Lenchner, Linda Mason, Muthusamy Sivakami, Elizabeth Nyothach, Holger Unger, Kayla Laserson, Penelope A Phillips-Howard, Menstrual cup use, leakage, acceptability, safety, and availability: a systematic review and meta-analysis, The Lancet Public Health, Volume 4, Issue 8, 2019, Pages e376-e393,ISSN 2468-2667, https://doi.org/10.1016/S2468-2667(19)30111-2.

[2] Mags E. Beksinska, Jenni Smit, Ross Greener, Catherine S. Todd, Mei-ling Ting Lee, Virginia Maphumulo, and Vivian Hoffmann, Acceptability and Performance of the Menstrual Cup in South Africa: A Randomized Crossover Trial Comparing the Menstrual Cup to Tampons or Sanitary Pads, Journal Of Women’s Health.Volume 24, Number 2, 2015, DOI: 10.1089/jwh.2014.5021.

[3] ARENAS-GALLO, Camilo et al. Acceptability and safety of the menstrual cup: A systematic review of the literature. Rev Colomb Obstet Ginecol [online]. 2020, vol.71, n.2, pp.163-177. ISSN 0034-7434.  https://doi.org/10.18597/rcog.3425.

Dini Yudison
Dini Yudison
Articles: 4

4 Comments

  1. Setuju banget sama Teh Dini, nyaman dan bebas iritasi, bisa buat berenang juga. Sudah 2 tahun pakai dan masih betah. Bulan kemarin sempat pakai pembalut lagi sehari karena belum steril menscup, langsung kerasa bedanya, engga betah.

  2. Ahh jadi malu, saya sudah ikut ‘menyumbang’ 3000an sampah pembalut bekas setiap tahunnya. Maluuu sekali. 🙁

    Saya sudah lama tahu keberadaan menstrual-cup, tetapi belum pernah mau mencoba. Membayangkannya kayak nyocok-nyocok begitu, jadi ketidaknyamanan sudah terpikirkan. Jadinya gak beli beli… 🙁

    Salut, sepertinya banyak Mamah Gajah yang sudah beralih ke mens-cup ya, termasuk Mamah Laksita di atas. ehehe. Keren, Mah!

    Membaca artikel ini menjadi suatu reminder, terutama karena memakai pembalut sekali pakai menimbulkan kerugian bagi bumi. Nuhuuun artikelnya, Teh Dini. 🙂

  3. Aku dah make kira-kira setahun lebih, eh sempat ‘hilang’! Beneran aku nggak tahu taruh di mana hahaha.. perasaan mah setelah selesai masa menstruasi langsung dibersihkan dan disimpan. Tapi kok nggak ada.
    Untungnya beberapa minggu kemudian aku emang ada jadual periksa ke obgyn, jadi aku sekalian memastikan bahwa gak ada yang ketinggalan di dalam haha.

    Meskipun harganya lumayan, tapi aku beli lagi (kayaknya yang hilang itu nggak sengaja kebuang), karena emang lebih enak pakai cup dibanding pakai pembalut.

  4. Waduhhh
    Hahaha, jangan sampe ketinggalan di dalem teh 😅, tapi kadang sangking ga kerasanya, suka berasa lg ga mens😅

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *