Dhitta Puti Sarasvati

Berantas Buta Matematika dan Membaca bersama Dhitta Puti Sarasvati

Dhitta Puti Sarasvati, melatih para guru untuk bisa mengajar matematika dan membaca dengan lebih baik.

Memiliki anak yang suka membaca dan mahir matematika tentunya impian para mamah ya. Terus terang sedih nggak sih ketika melihat fakta rendahnya skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia untuk kemampuan matematika, sains, dan membaca pada anak usia 15 tahun.

Ini kira-kira yang salah dimananya? Anak-anak kita kurang cerdas? Mamahnya kurang ngajarin di rumah? Gizi anak-anak kurang bagus? Kebanyakan main gawai? Gurunya nggak bisa mengajar? Kurikulumnya ngaco? Presidennya salah? Eh… kok malah jadi kemana-mana ya.

Daripada menghabiskan waktu mencari siapa yang salah, sengaja pada Mei ini rubrik persona kami isi dengan memperkenalkan salah seorang Mamah yang semangat untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar anak-anak Indonesia. Namanya Dhitta Puti Sarasvati atau biasa disapa Puti. 

Mengenal Dhitta Puti Sarasvati

Sebagai salah satu dari 5 perempuan di antara 120 mahasiswa Teknik Mesin ITB angkatan 2001, Puti memang sudah menunjukkan minatnya pada bidang pendidikan sejak kuliah. 

Tahun 2002, salah seorang senior di Unit Kegiatan Mahasiswa PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan) mengajaknya mengajar di sebuah Madrasah Tsanawiyah/MTs (setingkat SMP) di Bandung. Kepala sekolahnya menawarkan posisi guru fisika dengan honor Rp25.000 per bulan.

“Sekolah tersebut hanya terdiri dari tiga kelas dan satu ruang guru, kamar mandi pun tak ada. Jadi kalau mau ke toilet, siswa menumpang di rumah sekitar.”

Tak lama kemudian sang kepala sekolah meninggal dan kepemimpinan sekolah berganti. Jumlah siswa pun berkurang. Di tahun 2007 ada 10 siswa kelas IX dan 1 siswa kelas VIII. Dari 10 orang siswa kelas IX, 8 orang siswa tidak lulus ujian nasional. Selama 1 tahun Puti mendampingi siswanya untuk mengikuti kejar Paket B sampai 3 kali agar siswa-siswanya bisa lulus dan melanjutkan ke sekolah. Dua orang memilih menyerah, satu menjadi tukang bangunan, dan satu menikah.

Itu salah satu pengalaman paling berpengaruh dalam hidup Puti terkait pendidikan. Sejak itu, ia tahu bahwa hidupnya akan diabdikan di pendidikan. “Itu point of no return,” katanya.

Selama mahasiswa, selain menjadi guru honorer, Puti juga aktif menjadi tutor Matematika di Komunitas Taboo yang didirikan seorang seniman, Rahmat Jabaril. Tugasnya mengorganisir kegiatan Bandung bercerita dan mengajak teman-teman sesama mahasiswa untuk datang ke Madrasah Ibtidayah/MI (setingkat SD) untuk membacakan cerita kepada anak-anak kelas 1 dan 2. Setelahnya, anak-anak diajak membuat karya berupa kerajinan tangan yang terkait cerita. Misalnya, setelah dibacakan buku tentang serangga, siswa diajak membuat model serangga menggunakan barang bekas.

Setahun setelah lulus, putri dari Rizal Ramli (Teknik Fisika 73) & Herawati Mulyono (Teknik Arsitektur 76) ini memutuskan untuk mengambil S2 ilmu pendidikan matematika di Bristol University, UK pada 2008. Ia sempat juga bekerja selama 1 tahun dalam bidang pendidikan di Bristol sebelum mendapatkan email ajakan mengembangkan organisasi Ikatan Guru Indonesia yang saat itu baru dirintis. 

Di samping kegiatannya sebagai dosen pendidikan matematika, bergaul dengan banyak guru dan diskusi panjang dengan sesama pemerhati pendidikan, bermuara kepada lahirnya sebuah gerakan nyata dalam bidang pendidikan.

Mengenal Gernas Tastaka dan Gernas Tastaba

Puti turut dalam Gernas Tastaka atau Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika yang diinisiasi oleh Ahmad Rizali pada November 2018. Ia adalah salah seorang master trainer untuk menyusun konsep pelatihan 36 jam bagi para guru. Pelatihannya meliputi: prinsip-prinsip belajar mengajar matematika, bilangan, geometri, pengukuran, statistika dan probabilitas, dan asesmen di kelas matematika. 

“Ini adalah pelatihan dasar yang dipadatkan,” kata Puti. Bisa dibilang ini setara 12-15 SKS dalam kuliah pendidikan guru. 

Target dari pelatihan ini adalah para guru SD dan Madrasah Ibtidayah yang jarang mendapatkan akses pelatihan. Ternyata banyak guru yang masih kesulitan untuk bisa mengajarkan konsep dasar matematika atau membaca kepada murid-muridnya.

Padahal semestinya semua guru pendidikan dasar, menguasai ilmu ini terlepas dari jurusan apapun yang mereka tempuh saat pendidikan guru di perguruan tinggi. Karena para guru SD umumnya adalah guru kelas yang akan mengajarkan matematika maupun membaca.

Bisakah pelatihan ini bentuknya online saja atau cukup dengan membaca modul atau buku saja?

Menurut pengalaman Puti, lebih efektif jika pelatihan dilakukan secara langsung. Guru menjadi lebih mudah untuk membagikan pengalaman dan masalahnya dalam mengajar saat pelatihan-pelatihan offline dibandingkan dengan pelatihan online

Durasi 36 jam untuk sebuah pelatihan, juga dirasa cukup untuk bisa membangun kedekatan dengan peserta. Umumnya pelatihan berlangsung selama 6 hari berturut-turut. Namun jika lokasinya jauh seperti di luar pulau Jawa, bisa disesuaikan waktunya.

“Saking seringnya pelatihan, rasanya di tiap kota saya punya teman guru,” kata Puti. 

Hingga saat ini sudah hampir 4000 guru yang mendapat pelatihan modul 36 jam. Para guru umumnya sangat antusias karena mendapatkan materi yang sudah lama mereka cari. Hasilnya cepat terasa. Dengan cara mengajar yang baru, nilai anak-anak di sekolah naik. Ada sekolah biasa-biasa saja, jadi sekolah terbaik di wilayah tersebut setelah gurunya mendapat pelatihan. 

Gernas Tastaba atau Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Membaca menyusul hadir pada Juni 2021. Saat ini ada 3 materi yang diajarkan. 

Pertama adalah menjadi pembaca aktif. Di mana apa yang dibaca bisa dipikirkan, dipertanyakan, dirasakan, dibicarakan dengan orang lain, hingga menghasilkan karya.

Kedua adalah membaca dasar untuk mengajari anak yang belum bisa membaca menjadi bisa membaca..

Terakhir adalah materi membaca bermakna untuk membantu siswa memahami bacaan. 

Di lapangan, Puti masih menemukan guru-guru SD yang punya trauma terhadap pelajaran matematika, masih bingung pecahan, belum terbiasa membuat pertanyaan terkait bacaan. Bukan karena gurunya tidak bisa, tetapi memang belum mendapatkan pendidikan guru yang baik. 

Bagi para guru dan masyarakat yang tertarik untuk mendapatkan pelatihan, bisa mengikuti instagram @gernastastaka dan @gernastataba.

Mengenai Barisan Pengkaji Pendidikan (Bajik)

Memiliki banyak pengalaman dan data dari kegiatan Gernas Tastaka dan Gernas Tastaba, membuat sebuah pusat studi (research center) untuk pendidikan menjadi langkah berikutnya. Jadi didirikanlah Penggerak Indonesia Cerdas Research Center.

Sementara Barisan Pengkaji Pendidikan (Bajik) yang fokusnya lebih pada kajian akademik dan edukasi publik, resmi dibentuk pada 12 Januari 2024. Kegiatan Bajik meliputi mengkaji kebijakan pendidikan dasar dan mengedukasi publik terkait kebijakan pendidikan dasar.  Harapannya laporan kajian ini bisa dititipkan ke Bappenas, Komisi X, Kementrian Pendidikan, atau juga ke media.

Pada mulanya, research center dan Bajik baru akan dilaksanakan 5 tahun lagi. Namun, dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, keduanya bisa terlaksana tahun 2024 ini. Selaku direktur eksekutif Bajik, Puti berharap cita-cita bersama untuk bisa meningkatkan mutu pendidikan dasar bisa lebih cepat terwujud. 

Salah satu kegiatan yang mereka adakan belum lama ini adalah Bincang Bajik #1 di Jakarta dengan membahas Kontroversi Pendidikan yang terjadi pada 2019-2024. Buat yang penasaran bisa langsung tonton rekaman Youtube acara edukasi publik di Youtube Gernas Tastaka

Tidak Perlu jadi Menteri untuk Membuat Perubahan

Kalau kita ngobrolin isu-isu pendidikan, rasanya banyak sekali yang bisa dibahas ya. Dari yang sedang hangat saat ini seperti tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di PTN, Kurikulum Merdeka, masalah PPDB, bullying di sekolah, sampai segala urusan darmawisata yang dituntut untuk dihilangkan. Ada-ada saja rasanya yang bikin naik darah kalau bicara soal pendidikan di Indonesia ini.

Gemas rasanya pengen menjadi Menteri Pendidikan yang bisa mengambil keputusan-keputusan terkait pendidikan anak-anak. Masa depan Indonesia Emas dipertaruhkan di sini.

Sebagai orang yang berkecimpung aktif di dunia pendidikan selama belasan tahun, rasanya perlu juga kita tanyakan ke Puti kira-kira apa yang paling perlu dibenahi dalam bidang pendidikan di Indonesia andai ia menjadi Menteri Pendidikan.

“Yang pertama adalah masalah memberantas korupsi di segala level baik lokal maupun nasional,” tegas putri sulung dari 3 bersaudara ini. Ini bukan hanya sekedar urusan sogok menyogok di level sekolah yang terasa dengan kita saja ya Mah, melainkan memberantas korupsi mulai di tingkatan sekolah maupun di tingkatan yang lebih tinggi, di kabupaten, provinsi, maupun tingkat nasional, jika ada.

Hal kedua yang menurut Puti penting adalah kepemimpinan dalam bidang pendidikan.

 “Kebayang kalau level kepala dinas di tiap kabupaten/kota adalah orang-orang yang punya visi pendidikan, kepemimpinan yang bagus, berani melakukan reformasi birokrasi untuk daerahnya, tentu hasilnya akan sangat terlihat perbedaannya. 50% saja yang seperti itu, sudah bagus.”

Tidak perlu jauh-jauh di level kepala dinas, kepala sekolah yang punya visi pendidikan saja bisa dilihat perbedaannya dalam mengambil keputusan terbaik untuk sekolahnya.

Ketiga yang juga perlu diperbaiki adalah transformasi pendidikan guru. Memastikan semua lembaga tenaga kependidikan punya kualitas yang baik. 

Ini yang tengah Puti dan teman-temannya lakukan. Mendidik calon guru dan guru memang tidaklah mudah, tapi mereka berkomitmen untuk mengabdikan hidupnya memperbaiki pendidikan guru di Indonesia. Kita turut mengaminkan ya Mah. Ternyata tidak selalu perlu jadi Menteri Pendidikan untuk bisa melakukan perubahan di negeri ini. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. 

Pesan Untuk Para Orangtua

Tidak terasa 2 jam lebih kami ngobrol mengenai pendidikan di sebuah cafe cantik di daerah Cikutra Bandung. Senang dan optimis rasanya kalau mendengar Puti bicara mengenai kegiatannya. 

Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua untuk mendukung pemahaman matematika dan membaca anak-anak kita tercinta?

“Berempati dengan proses anak belajar matematika. Untuk orang tua, apalagi yang orang tuanya lulusan ITB untuk bisa sampai di level abstraksi itu ada prosesnya. Anak belajar dari bentuk konkrit, dijembatani dengan gambar, baru masuk ke abstraksi. Anak berpikir matematis itu ada prosesnya. Jadi bersabarlah melalui prosesnya,” pesannya.

Jadi kalau anak-anak tidak mudah dalam mengerjakan soal-soal matematika walau sudah diajarkan berulang kali, jangan langsung naik darah ya Mah…

Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin
Articles: 7

One comment

  1. […] Memutuskan pendidikan untuk anak, bukanlah perkara yang mudah. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan seperti kesediaan sumberdaya dana, waktu, dan tenaga, juga kesesuaian institusi pendidikan yang dipilih dengan visi, misi, dan nilai keluarga. Karena sejatinya pendidikan anak di institusi pendidikan harus selaras dengan pendidikan anak di rumah. Agar saling mendukung membentuk anak menjadi insan yang utuh sesuai dengan arti pendidikan di keluarganya. […]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *