Mengupas Rahasia Produktif Ala Teh Patra Ketua ITBMotherhood

Penasaran nggak sih bagaimana cara Teh Patra bisa mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan yang produktif? Yuk kepoin liputan khusus kami kali ini.

Jadi ceritanya dalam rangka International Women’s Day yang jatuh pada 8 Maret 2024 lalu, Mamah Gajah Ngeblog berniat membuat liputan khusus tentang Teh Patra selaku ketua ITB Motherhood (selanjutnya disingkat ITBMh). 

Siapa sih yang tidak kenal pemilik nama lengkap Yuria Pratiwhi Cleopatra, alumni Teknik Sipil 1996 ini? Ibu 5 anak dan seorang cucu, yang tinggal di Antapani Bandung ini memang sepak terjangnya bikin kepo banyak mamah. 

Itu sebabnya, saya begitu semangat ketika Mamah Gajah Ngeblog ingin membuat liputan tentang beliau. Kebetulan rumah kami tidak terlalu jauh, jadi saya pikir ada baiknya kalau kami mengobrol langsung saja. Beda kan rasanya wawancara via WA dengan bertemu langsung, sambil bisa ngobrol ngalor ngidul khas ibu-ibu. 

Setelah sebelumnya tertunda, akhirnya kami bisa bertemu pada Sabtu, 16 Maret 2024 lalu. Lumayan lah sekitar 2 jam ngabuburit buat mengupas rahasia produktif ala Teh Patra. Ditemani juga dengan anak-anak Teh Patra: Bibing, De Ihsan, dan Afra. Beneran jadi bisa kenal lebih dekat nih ceritanya.

Teh Patra sebagai Sosok Inspiratif 

Mengapa kami memilih beliau sebagai sosok inspiratif?

Sebenarnya alasannya lumayan panjang sih. Salah satunya tentu karena beliau adalah Ketua ITBMh lebih dari 10 tahun. Pastinya tidak mudah menjadi ketua sebuah komunitas yang isinya terdiri dari orang-orang yang sangat beragam, banyak maunya, banyak kepintarannya, dan banyak kepentingannya.

Lah presiden saja 2 periode sudah ribut harus diganti, ini kok kepengurusan yang masa kerja resminya hanya 1 tahun masih nggak ada yang rela menggantikan posisinya. 

Kepo dong ya bagaimana cara memimpin sebuah komunitas agar tetap berjalan selama bertahun-tahun.

Bukan hanya aktif di ITBMh, Teh Patra juga dikenal sebagai pembicara di banyak acara. Dari masalah parenting sampai finansial, Teh Patra laris jadi tempat bertanya banyak orang. 

Dari sisi bisnis, Teh Patra dikenal sebagai pendiri Ibu Jari Club yang menjual beberapa produk seperti buku, alat edukasi, coklat, hingga logam mulia. 

Harapannya, pengalaman Teh Patra bisa menjadi inspirasi buat para mamah agar bisa lebih produktif dan bermanfaat bagi banyak orang juga. 

Mengenal Teh Patra lebih dekat

Biar nggak kenal Teh Patra dari katanya… katanya…, sekarang kita bahas dulu mengenai sejumlah fakta tentang perempuan kelahiran 20 Februari 1979 ini ya.

Karir pendidikan Teh Patra

Saking awet mudanya, banyak yang mengira teh Patra itu angkatan 2000-an seperti mayoritas anggota ITBMh. Sulit buat percaya kalau ia adalah nenek seorang cucu dan 2 anaknya sudah berumah-tangga. 

Teh Patra adalah lulusan Teknik Sipil ITB angkatan 1996. Ia adalah salah satu anak Bandung yang beruntung pendidikannya masuk jalur sutra; SMPN 5 Bandung – SMAN 3 Bandung – ITB. 

Teh Patra juga sudah menyandang gelar S2 Ekonomi Syariah dari Universitas Indonesia. Awalnya sekolah diniatkan untuk membantu suami yang saat itu banyak mendapatkan proyek yang berhubungan dengan ekonomi syariah. 

Jadi bisa gitu ya, suami yang butuh ilmunya, istrinya yang disuruh sekolah. Untung saja Teh Patra sangat menyukai ilmu itu dan bisa lulus dengan baik dalam waktu 1,5 tahun. Saat itu ia mengikuti kelas eksekutif Jumat-Sabtu. 

Sudah cukup Teh sekolahnya? 

Belum ternyata. Ia masih menyimpan impian untuk bisa mengikuti pendidikan Doktoral di bidang ekonomi syariah atau pendidikan. Kita doakan bersama ya. 

Keluarga Teh Patra

Kenapa Teh Patra itu terasa banyak sekali ‘isi’-nya? Kayanya kalau ngomong soal pendidikan anak, pengalamannya banyak sekali.

Semua itu bisa jadi karena ia memulainya jauh lebih awal dibanding kebanyakan orang-orang seusianya. Teh Patra ditemukan jodohnya – Ismir Kamili (TI 93) – saat pendaftaran mahasiswa baru ITB Agustus 1996. Di bulan September, ia ditanya kesediaan untuk menikah dan mereka pun menikah di bulan Desember 1996. 

Padahal saat di kelas 3 SMA ia masih berpikir untuk menikah setelah selesai S3 di usia 28 tahun. Rencana Allah ternyata berkata lain. 

Sepuluh bulan kemudian lahir putra pertamanya Akhyar Kamili. Yang tak lama disusul kelahiran anak kedua Afra Izzati Kamili dan anak ketiga Arsyad Kamili. 

Sepuluh tahun berlalu sejak Arsyad lahir dan sempat kehilangan seorang putra setelah 1 bulan lahir, Teh Patra kembali dipercaya mengasuh bayi lagi. Lahirlah Bibing yang jago masak dan kini berusia 12 tahun. Si bungsu De Ihsan lahir 7 tahun lalu saat Teh Patra berusia 38 tahun.

Punya anak dengan rentang usia yang jauh ini adalah rahasia banyaknya ‘isi’ Teh Patra. Ngomong masalah anak kecil sampai masalah anak kuliahan bahkan menikah, semua bisa dilayani.

Homeschooling The Kamilis

Salah satu yang menarik dari Teh Patra dan jadi panutan banyak orang adalah kegiatan homeschooling anak-anak keluarga Kamili ini.

Pada tahun 2010, saat itu Akhyar duduk di kelas 2 SMP, Afra kelas 5 SD, dan Arsyad kelas 3 SD, memutuskan untuk keluar dari sekolah formal dan menjalani homeschooling mandiri di rumah. 

Di masa itu belum ada contoh keberhasilan yang bisa dijadikan panduan. Tetapi keluarga ini mencoba membuktikan bahwa sekolah dasar dan menengah tidak harus mahal dan tetap bisa mengecap ilmu di perguruan tinggi idaman. 

Akhyar membuktikan bahwa ia berhasil diterima di program studi Computer Science Carnegie Mellon University of Qatar di Doha tahun 2016, dibiayai oleh Qatar Foundation dan lulus tahun 2022. 

Afra lulus SBMPTN program studi Perencanaan Wilayah Kota ITB dan lulus dengan Indeks Prestasi tertinggi di kelasnya.

Arsyad memilih melanjutkan ke SMAN 5 Bandung tahun 2017 dan berhasil kuliah di NUS Singapura. 

Kini kedua adik kecil mereka, Bibing dan De Ihsan mengikuti pola homeschooling kakak-kakaknya dengan bergabung dengan sebuah sekolah payung yang memungkinkan mereka belajar secara fleksibel. 

Salut sama keluarga Kamili yang berhasil membuktikan bahwa sekolah dan menempuh pendidikan memang tidak harus berbiaya semahal itu untuk mendapatkan hasil yang sama. Itu bukan sebuah utopia. 

Teh Patra dan Olahraga

Coba siapa di sini yang mager banget buat olahraga? Kalau melihat kegiatan Teh Patra yang cukup banyak, ternyata ia masih sempat menjaga kebugaran dengan lari. Walau mengaku pace-nya receh yang penting keceh, rutinitas larinya ini cukup mengagumkan loh.

Kebiasaan lari memang sudah biasa dilakukan Teh Patra sejak dini. Terutama ketika mau S2. Karena suaminya mensyaratkan badan harus bugar kalau mau sekolah lagi.

Jadi lari rutin keliling kompleks perumahan setiap pagi adalah hal biasa buatnya. Termasuk juga di masa Ramadhan seperti sekarang ini. Untuk bulan Ramadhan lari bisa diganti dengan jalan biar tidak terlalu bikin haus dan dilakukan di pagi hari.

“Soal takut haus itu masalah mindset saja. Kalau sudah biasa, ya nggak haus. Biasa saja,” kata perempuan 45 tahun ini.

Selain sempat mengikut ITB Ultra Marathon 2022 sebagai tim dari ITB Motherhood yang bergabung dalam Mamah Gajah Berlari, Teh Patra dan suami juga punya ritual lari untuk merayakan anniversary

Nggak nyangka, sambil lari bisa sambil merenungi perjalanan pernikahan yang bisa jadi berat-beratnya sama kaya perjuangan lari juga. 

Teh Patra dan ITBMotherhood

Teh Patra resmi menjadi Ketua ITBMh itu sejak 2 Mei 2013 berdasarkan hasil poling usulan ketua ITBMh yang diinisiasi oleh ketua periode 2011-2013 Istiana Ilma Sakina. 

Jangan dibayangkan poling pemungutan suara serius seperti pemilihan presiden dimana kandidatnya perlu kampanye agar dirinya dipilih ya. Poling ketua ITBMh dibuat dalam bentuk siapapun boleh mengusulkan nama kandidat, dan yang lain boleh memilih. Terlepas dari yang dipilih mau atau tidak mau. 

Bisa jadi sebagai angkatan 96, Teh Patra dianggap dituakan oleh mayoritas anggota yang angkatan 2000-an. Nama Teh Patra menjadi yang terbanyak dipilih. 

Seperti salah satu komen anggota, “Musuh jangan dicari, amanah pantang dihindari,” jadilah Teh Patra resmi menyandang status Ketua ITBMh sejak saat itu.

Sebenarnya sudah berulang kali, dicoba mengusulkan adanya ketua baru. Tapi yang lain masih nyaman dan suka dengan pola yang selama ini berjalan. Komunitas yang mengalir begitu saja dengan seorang ketua yang jangan terlalu banyak mengatur tapi cukup menjaga dalam batas-batas yang aman. 

Harus diakui, ITBMh yang kegiatan utamanya bergerak di Facebook grup, hingga saat ini telah mewadahi sekitar 4600 anggota saat tulisan ini dibuat. Kegiatannya tidak hanya sebatas daring saja, tetapi juga luring. 

Dari sekedar tempat curhat dan gelar dagangan setiap “market day“, para mamah alumni ITB dari berbagai jurusan dan angkatan, lahirlah kegiatan-kegiatan nyata untuk menampung minat para mamah.

Di acara ITB Pulang Kampus 10 Juni 2023 lalu, terdata ada 10 sub unit kegiatan ITBMh yang aktif saat ini. Belum ditambah lagi grup-grup regional. Rame lah pokoknya. 

Di Facebook ITBMh sendiri Teh Patra dibantu oleh Hana Takarai, Annisa Ramdhaningtias, Dini Yudison, dan inisiator ITBMh Dilla Satya – TI 04 (Bu Dil).

Jadi memang menjadi pemimpin komunitas itu perlu fleksibel dan peka dengan kebutuhan dan karakter anggotanya. Ada banyak ide, banyak gagasan, banyak koneksi di ITBMh. 

Menurut Teh Patra, karakter para Mamah di ITBMh ini ‘ngulik.’ Kalau sudah suka dengan sesuatu, maka akan dipelajari dengan mendetail. Jadi umumnya apa-apa yang dikerjakan bisa berhasil dengan baik. Selama itu sesuai dengan minatnya. 

Sepertinya itu yang dimiliki oleh Teh Patra, sehingga ia masih diamanahi memimpin komunitas kita tercinta ini. 

Gimana Mah, ada yang tertarik melanjutkan estafet kepemimpinan ITBMh dari Teh Patra? Beliau sudah lama menantikannya.

Konsep Produktif ala Teh Patra

Heran nggak sih lihat Teh Patra itu kok ya kayanya banyak sekali kegiatannya. Flyer acara berbaginya selalu ada saja setiap bulan. Belum lagi jualannya. Dari buku, alat edukasi, coklat, sampai emas ia tawarkan ke mereka yang membutuhkan. 

Ditambah lagi statusnya sebagai konselor di Puspaga Kota Bandung, Ketua ITB Motherhood, dan komunitas-komunitas lain.  Saya lupa nanya, apakah Teh Patra aktif ikut arisan kompleks apa nggak ya?

Sementara di rumah ada suami dan anak-anak yang perlu diurus juga. 

Teh Patra ini memang sejak belum menikah sudah suka memiliki banyak aktivitas. Saat masih SMA saja, ia sudah keluar rumah pukul 6 pagi, pulang pukul 5 sore, dan lanjut kegiatan hingga pukul 8 malam. Aktif di ekskul PMR, DKM, dan lingkungan rumahnya. Bahkan untuk menambah uang saku yang pas-pasan ia menyempatkan diri membuat aneka makanan untuk dijual. 

Bimbel nggak? 

“Untung nggak punya uang untuk bimbel,” tulisnya di blog yuriapratiwhi.blogspot.com. Jadi untuk bisa tembus PTN, ia mengandalkan belajar sendiri hingga tengah malam bermodal disket soal-soal di komputer. 

Kok dia bisa, kok saya hanya urusan ngurus rumah doang udah kepayahan? Salahnya dimana ini?

Jadi menurut Teh Patra, produktivitas itu lebih ke masalah mindset. Cara berpikirnya yang harus diubah dengan berpikir melakukan sesuatu untuk kemaslahatan yang lebih besar.

Menurut saya, produktif itu artinya semakin besar manfaatnya, semakin banyak orang yang bisa merasakannya, semakin lama kemanfaatan itu bisa diakses sama semua orang.

– Yuria Cleopatra

Ia sendiri mengaku tidak merasa produktif-produktif amat karena masih ada saja waktu luang yang belum dimanfaatkan.

Menurut Teh Patra, kita mungkin sering berpikir mengenai kendala-kendala untuk bisa produktif. Ada anak lah, nggak cukup waktu lah, kurang duit lah, badan capek lah, kurang berilmu lah. Akhirnya nggak jadi apa-apa.

Kita mungkin menilai kegiatan rumah tangga seperti menyapu, ngepel itu tidak produktif. Padahal kalau kita mengubah mindset dan menjadikan kegiatan tersebut sekalian untuk membakar kalori, nilai produktivitasnya bisa bertambah. Bukan hanya rumah beres, tapi juga badan bugar dan keluarga bisa lebih merasakan manfaatnya. Apalagi kalau kita jadi bisa dapat ilmu cara ngurus rumah yang ringkes dan mudah untuk dibagikan kepada orang lain. 

“Seperti Marie Kondo yang bisa membangun bisnis jutaan dolar hanya dari hobinya beberes,” kata Teh Patra mencontohkan.

Begitu juga dengan mengurus anak. Bisa jadi ini dilihat sebagai kegiatan yang tidak produktif. Tetapi kalau mindset-nya berubah dan melihat ini sebagai investasi jangka panjang perkembangan anak-anak, Insya Allah hasilnya tidak kalah produktif dengan yang sekedar mengumpulkan uang saja. 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia”

Hadis yang diriwatkan HR. Ahmad

Konsep mendelegasikan tugas kepada orang lain juga menjadi salah satu bentuk berbagi manfaat dengan orang lain. 

Untuk urusan rumah tangga, Teh Patra mendelegasikannya kepada Asisten Rumah Tangga (ART) yang sudah bekerja selama 7 tahun terakhir. ART ini jam kerjanya dari pukul 7 pagi hingga 3 sore saja. “Saya tidak terlalu nyaman ada orang lain di rumah,” akunya. 

Sementara untuk jualan, ia punya 3 asisten yang akan mengerjakan masalah teknis. Jualan ini sudah dilakukannya sejak lebih dari 5 tahun lalu. Juga dengan pegawai yang orang-orang lama.

Kok bisa sih ART dan pekerja betah? Apakah mereka kerjanya memuaskan?

“Ya tidak juga. Tetap harus diajarin. Tetapi, saya mencoba untuk tidak terlalu cerewet,” jelas Teh Patra.

Keberadaan orang-orang di sekitarnya ini selain sangat membantu Teh Patra untuk bisa lebih produktif, sekaligus menjadi dorongan untuk selalu bisa menghasilkan lebih banyak dan membantu lebih banyak orang lain lagi.

Hal menarik lain yang kini coba ia terapkan untuk membuatnya lebih produktif adalah dengan meminta antar jemput dari mereka yang mengundangnya sebagai pembicara. Kalau sebelumnya, ia biasa nyetir sendiri ke tempat acara, sekarang ia memberikan syarat untuk minta di antar jemput. Jadi selama perjalanan ia bisa sambil jualan atau menulis dengan ponselnya.

Jadi jangan serakah segala mau dikerjakan sendiri karena sulit percaya sama orang lain ya, Mah! Ngarawu ku siku kalau kata orang Sunda.

Delegasikan pekerjaan agar kita bisa melakukan kebermanfaatan yang lebih besar sesuai kemampuan dan minat kita. 

Teh Patra di mata anak-anak

Punya Mamah yang produktif kaya gini gimana sih rasanya? Apakah tipe ibu yang rese suka marah-marah dan memaksa anaknya seproduktif dirinya juga?

Alhamdulillah, Afra anak kedua Teh Patra yang baru saja menikah pada 23 Juli 2023 bersedia ikut ngobrol bareng.

“Umi itu tipe impulsif dan tidak terjadwal. Semua dikerjain aja dan berjalan dengan baik. Berbeda dengan saya yang punya target-target,” kata Afra. Hal ini juga sekaligus yang dikagumi Afra dari Uminya.

“Gimana mau menuntut anak lebih rajin, dia lebih rajin dari saya. Dia punya jadwal sendiri, dia punya target sendiri. Apa yang harus saya tuntut,” sambung Uminya. Setiap anak memang punya gaya khasnya masing-masing. Nggak perlu disuruh-suruh apalagi dituntut ini itu. 

Jujur saya pun baru tahu ternyata produktif itu tidak harus jadi orang yang punya daftar to do list yang panjang. Lalu setiap malam dia menceklis daftarnya dan tidur dengan tenang setelah semua dikerjakan. Ternyata, Teh Patra nggak pakai to do list. Cukup dikerjakan dengan mindset bisa bermanfaat sebaik-baiknya. Udah gitu aja! Nggak pakai banyak mikir.

Walau begitu, Afra mengaku sempat punya pengalaman unik dalam berteman. Ia sempat memiliki teman yang sudah cukup akrab selama 2 tahun. Tetapi ketika si teman tahu kalau ia anak Teh Patra, si teman ini sempat menjaga jarak karena merasa segan. 

Penutup

Jadi konsep produktif itu memang bisa berbeda-beda ya tiap orang. Teh Patra memahami produktif sebagai menebarkan manfaat sebanyak mungkin, maka itu yang ia coba lakukan dalam hidupnya. 

Gimana Mah liputan kami kali ini? Sudah cukup mengenal Teh Patra dengan lebih baik? Mudah-mudahan hasil ngobrol-ngobrol singkat 2000 kata ini bisa menginspirasi para Mamah agar bisa lebih produktif, bermanfaat bagi sesama, dan tentu saja menikmati hidup dengan lebih baik.

Kalau ada usulan mamah gajah inspiratif lain yang ingin kamu kepoin? Boleh loh diusulkan di kolom komentar.

Sumber foto:

FB yuria cleopatra & dokumentasi pribadi

Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin
Articles: 6

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *