Hikmah Ibadah Haji

Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia telah memutuskan untuk membatalkan pemberangkatan jemaah haji tahun 1442 hijriah atau tahun 2021. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, pada hari Kamis (3/6/2021).

Menurut Menag, di tengah wabah pandemi Corona Virus Disease-19 (Covid-19) yang melanda dunia, maka kesehatan, dan keselamatan jiwa lebih utama dan harus dikedepankan. Tentu calon jamaah haji berharap pandemi segera berakhir dan pelaksanaan ibadah haji dapat berlangsung sebagaimana mestinya pada tahun-tahun yang akan datang. Apalagi begitu panjang antrian dengan tahun antri yang juga tidak sebentar.

Sedangkan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga telah mengumumkan bahwa pendaftaran ibadah haji 2021 hanya dilakukan bagi penduduk Arab Saudi dan ekspatriat yang bermukim di Arab Saudi dengan kuota sebanyak 60.000 jemaah. Melihat data pada tahun 2020 yang dapat mengikuti ibadah haji sangat terbatas, yaitu 1.000 jamaah saja, memang tahun ini terdapat peningkatan. Namun, tetap saja sangat sedikit dibanding pada keadaan normal yaitu sebanyak 2,5 juta jamaah. Indonesia adalah negara terbanyak yang seharusnya memberangkatkan jamaah haji pada tahun 2020 yaitu 221.000 jamaah.

Sebagai pelipur rindu terhadap tanah suci dan keinginan yang membuncah untuk melaksanakan rukun Islam kelima, ijinkan penulis berbagi pengalaman saat menunaikan ibadah haji yang tergabung di kloter 77 pada tahun 2006/2007. Perjalanan ibadah haji adalah perjalanan spriritual. Bukan karena kaya raya dan sehat walafiat saja, seseorang dapat menjalankan ibadah haji. Sungguh hanya karena panggilan Allah Yang Mahalembut lagi Maha Pemberi Karunia, hamba-Nya dapat menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Mengenal Kekuasaan Allah Dengan Berjalan Kaki Menuju Arafah

Pengalaman tak terlupakan dan penuh hikmah, saat melaksanakan puncak ibadah haji yaitu wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah 1427 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 30 Desember 2006. Hingga selesai tawaf ifadhah pada tanggal 3 Januari 2007 atau tanggal 13 Dzulhijah 1427 Hijriyah karena menjalani nafar tsani.

Rangkaian Ibadah Haji terdiri dari :

  • Ihram atau Niat. Ihram adalah rangkaian pertama dalam ibadah haji, ibadah haji sendiri dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah setiap tahunnya.
  • Wukuf di Padang Arafah.
  • Mabit di Muzdalifah.
  • Jumrah aqabah.
  • Mabit di Mina melempar jumrah sughra (kecil/ula), wustha (tengah), dan diakhiri kubra (besar/aqabah) minimal 2 hari yang disebut nafar awwal atau 3 hari nafar tsani.
  • Tawaf ifadhah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran.
  • Sa’i berjalan atau berlari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwa sebanyak 7 kali.
  • Tahallul atau menggunting atau mencukur rambut.
  • Tawaf wa’da saat meninggalkan kota Makkah.

Arafah … tempat pilihan Allah Subhanahu wata’ala. Kesanalah aku berjalan kaki dari Makkah. Betapa Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Perkasa telah memilih jam super canggih ‘matahari’ sebagai acuan tak tergoyahkan dalam menentukan waktu ibadah haji. Siapa yang mampu menerbitkan dan menenggelamkan matahari? Tak ada, kecuali Dia, Allah Yang Mahatinggi lagi Mahateliti .

Sepanjang perjalanan, aku berkali-kali menahan haru atas perjuangan seorang nenek pengguna kursi roda, keluarga dengan beberapa balita, seorang ibu menggendong bayinya, juga kakek bertongkat yang berjalan perlahan. Semalam aku mabit di Mina dan keesokan hari selepas shalat subuh menuju Arafah.

Berjalan kaki menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf sebagai puncak ibadah haji.

Semburat warna jingga mentari pagi di ufuk Timur bagai jarum jam besar raksasa mengiringi langkah kakiku. Aku bergegas menuju rengkuhan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Perjalanan pagi ini menuju ke arah Timur, arah terbitnya matahari. Langit berhias paduan warna merah, jingga, dan biru menjadi latar menakjubkan bagi jutaan manusia berbalut pakaian ihram.

Kloter 77 dipimpin Kyai Haji Abdullah Gymnastiar, biasa disapa Aa Gym, berjalan dengan kepatuhan dan ketundukan kepada Allah Yang Maha Pelindung lagi Maha Pemilik Kebesaran. Sebagai tanda kloter, aku memakai ikat leher berwarna merah putih kotak-kotak kecil. Tak lupa bendera merah putih dibawa oleh para ketua kelompok. Pemandangan ini menggetarkan hatiku. Bendera merah putih berkibar di Arafah mempersatukan jamaah haji yang berasal dari Indonesia.

Bendera merah putih berkibar di Arafah.

Aku bertalbiyah, “Labbaik Allahuma labbaik, Labbaik laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni’mata laka wal mulk, Laa syariika laka.” Sesekali airmata menetes membasahi pipi. Jamaah haji terus bergerak khusyuk memenuhi panggilan-Nya. Disinilah guratan asa tertanam, betapa Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Pemelihara telah menggenggam seluruh jiwa dan raga.

Saat berjalan mengejar matahari terbit, udara sejuk, suasana cerah ceria. Senyum terkembang. Hati berbunga-bunga. Karena di Arafah telah menanti limpahan rahmat, karunia, dan ampunan Allah Yang Mahamulia lagi Mahabijaksana. Para malaikat menyambut dan mengagungkan jamaah haji ketika wukuf. Tetapi sadarilah bahwa secara sunnatullah, ketika matahari semakin tinggi. Terik dan menyilaukan. Tak terasa wajah semakin menunduk. Inilah desain luar biasa hebat dari Allah Yang Mahateliti lagi Maha Terpuji. Ketika hendak bertemu dengan-Nya, tundukkanlah wajahmu! 

Jarak yang aku tempuh saat berjalan kaki dari Makkah – Mina – Arafah – Muzdalifah – Mina – Makkah sejauh 42 kilometer.

Aku datang ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Kusambut panggilan-Mu, dan tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.” Kalimat indah ini terus terpatri di dalam relung hati.

Mengapa memilih berjalan kaki? Semenjak manasik haji di tanah air yang diselenggarakan oleh KBIH Daarut Tauhid, aku sudah tertarik dengan opsi berjalan kaki saat pelaksanaan wukuf di Arafah. Aku ingin mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang saat menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. Ternyata jutaan jamaah haji dari berbagai negara pun melakukan hal yang sama, yaitu berjalan kaki menuju Arafah. Masyaallah …

Selepas wukuf di Arafah. Saatnya berjalan kaki bergerak menuju ke arah Barat. Matahari tenggelam di ufuk Barat bukan? Kejarlah sinarnya. Semakin dikejar semakin surut tertutup bukit-bukit padang pasir. Gelap menyelimuti diri yang berburu tempat di Muzdalifah.

Inilah hotel bintang seribu. Mabit semalam di Muzdalifah duduk beralas pasir, berdinding gunung dan bukit batu, berselimut udara 5 derajat celsius, serta dibelai angin gurun. Hati dan raga mana yang tak tersungkur, bersujud, memohon ampunan kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahasuci, Pemilik alam semesta juga Pemilik diri ini. Apalah arti diri ini? Kecil bak sebutir pasir di tengah lautan pasir. Astaghfirullah al’adzim …

Setelah menuaikan shalat subuh, aku kembali ke Mina. Hangatnya matahari pagi terasa di punggung. Ringan kaki melangkah. Beban berat telah diangkat. Kini perjuangan membuang seluruh sifat buruk seumpama sifat setan dari dalam diri. Bukanlah setan yang dilempari batu saat jumrah. Namun sejatinya dengan kesadaran penuh buanglah sifat sombong, takabur, riya, malas, boros, iri, dengki, durhaka, dan sebagainya. Singkirkanlah!

Gantilah dengan tekad membangun kebaikan berupa akhlak mulia mendekati Asmaul Husna. Jadilah diri yang pengasih, penyayang, rendah hati, sabar, syukur, rajin, ikhlas, jujur, amanah, ramah, istiqamah, perhatian, teliti, hemat, lembut, pemaaf. Berusaha menjadi diri yang semangat, adil, tekun, pantang menyerah, rapi, bersih, bijaksana, hormat, penolong. Juga lengkapi diri dengan sifat cepat tanggap, cekatan, bersahaja, sederhana, tegar, cerdas, ridho, berani, dan tabah.

Selesai jumrah aqabah di hari pertama, aku melaksanakan tahalul dan lepaskan pakaian ihram. Hikmahnya adalah perintah menjadi manusia yang membumi. Bertawaf dalam keadaan tak berihram tentu butuh ketegaran lebih. Saat aku tak berihram, maka larangan saat ihram tak ada lagi. Namun … Bagaimana manusia baru ini mampu bersikap sebagai haji mabrur? Justru saat kebebasan telah Allah Subhanahu wata’ala anugerahkan. Manusia adalah khalifah di muka bumi.

Tetaplah bertawaf bagai Nabi Ibrahim. Lanjutkan bersa’i bagai Hajar ibunda Nabi Ismail. Cinta seorang ibu untuk anaknya adalah teladan bagi perjuangan tanpa pamrih. Kepatuhan hamba kepada Rabbnya itulah yang diajarkan keluarga Ulul Azmi. Aku berrharap menjadi manusia baru yang mampu melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di bumi. 

Jarak yang aku tempuh dari Makkah ke Arafah adalah 21 kilometer, dari Arafah ke Muzdalifah adalah 11 kilometer, dari Muzdalifah ke Mina adalah3,5 kilometer dan Mina menuju Makkah adalah 6,5 kilometer. Total seluruh perjalanan adalah 42 kilometer.

Mengenal Ka’bah dan Masjidilharam

Masih ada waktu sebelum menuju ke Madinah yang dapat diisi kegiatan untuk mengenal Sirah Nabawiyah di sekitar kota Makkah. Tempat yang penuh sejarah di masa perkembangan Islam pertama oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta para sahabat yang mulia.

Jarak hampir dua kilometer tidak menghalangi hati dan kaki untuk selalu bergegas menuju masjid yang dihormati dan dimuliakan. Bukan ganjaran pahala saja yang menjadi magnet, melainkan aura, suasana, dan rasa sangat dekat kepada-Nya yang terus menerus ingin aku dapatkan.

Masjidilharam tahun 2018 saat aku menunaikan ibadah umroh. Sudah banyak perubahan di sekelilingnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan : “Janganlah memberatkan untuk mengadakan perjalanan kecuali ketiga masjid; (1) Masjidilharam; (2) Masjid-ku (Masjid Nabawi); (3) Masjidilaqsha.” (HR. ad-Damiri, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Pelataran Masjidilharam persis di depan pintu King Abdul Aziz menjadi tempat favorit untuk beristirahat setelah melakukan shalat berjamaah dan bertawaf. Berada di dalam Masjidilharam selain menunaikan shalat wajib dan sunnah, maka ibadah utama lainnya yaitu melaksanakan tawaf. Mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Dilanjutkan shalat di belakang Maqam Ibrahim. Lalu minum air zam-zam, berdoa di Multazam. Jika sempat bisa melakukan shalat di Hijir Ismail atau mencium Hajar Aswad.

Ka’bah adalah kiblat seluruh umat Islam di dunia. Bertawaf sebanyak tujuh putaran bersama para malaikat. Kondisi Masjidlharam pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidaklah seluas sekarang. Masjid ini terus diperluas pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab, Usman bin Affan. Kemudian diperindah lagi pada masa pemerintahan Bani Umayyah yang dilanjutkan oleh Bani Abbasiyah.

Tak ketinggalan dinasti Otoman melakukan beberapa kali perbaikan. Bangunan Masjidlharam terdiri dari dinding dan deretan tiang-tiang dengan lengkungan-lengkungan artistik mengelilingi Ka’bah. Kubah-kubah kecil berjumlah 152 buah. Masing-masing tiangnya berjumlah 589 buah mempunyai tinggi 20 kaki dan berdiameter 1,5 kaki. Tiang-tiang itu ada yang terbuat dari marmer putih, batu granit biasa, batu granit berwarna. Batu-batu tersebut sebagian besar diambil dari pegunungan di sekitar Makkah.

Di sekeliling masjid ada tujuh menara yang menjulang tinggi. Masing-masing menara mempunyai nama : bab al-Umrah; bab al-Huzurah; bab as-Salam; bab al-Ali; Sulaimanah, dan Kait Bai. Masjidilharam memiliki 19 pintu gerbang yang selalu terbuka. Beberapa nama pintu antara lain : bab as-Salam; bab as-Shafa; bab as-Su’ud; bab al-Umrah; bab Ibrahim; dan bab Jumah.

Setiap pintu memiliki kesan yang berbeda, misalnya pintu Umrah terasa ramah dan feminin, pintu King Abdul Aziz terlihat elegan, sedangkan pintu King Fadh tampak gagah dan mewah. Pintu favoritku adalah Babussalam. Jika melewatinya aku bisa langsung melihat Ka’bah. Prosesi visual ini sangat unik, menakjubkan, dan membahagiakan. Pengorbanannya adalah aku harus sabar menjalani pemeriksaan askar perempuan: tas ransel, kantong sepatu, bahkan jaket diperiksa dengan teliti. Aku tak bisa memandang wajah cantiknya sebab tertutup cadar hitam. Namun, aku merasa askar membalas senyumku dan pasti ucapan salamku, walau dengan lirih.

Menikmati Kota Makkah Selama 30 Hari

Selama tinggal di Makkah, aku berada di maktab 12 nomor pondokan 135. Posisi pondokan berada di sebelah Timur Masjidilharam. Lokasi ini biasa disebut perkampungan Ma’la. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamadalah bersama istri dan anak-anaknya adalah warga Ma’la. Beliau menetap di sana sampai tibanya waktu hijrah ke Madinah. Ketika Fath Makkah atau pembebasan Makkah, Beliau dan para pengikutnya masuk Makkah dari arah Ma’la / Hujun.

Khadijah binti Khuwailid dimakamkan di pemakaman Ma’la. Dia sangat suka dengan burung merpati. Nah … Uniknya di sekitar pemakaman Ma’la banyak burung merpati abu-abu. Bukankah dalam kisah hijrah, merpati dipilih Allah Subhanahu wata’ala sebagai perantara menyelamatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Ketika merpati membuat sarang dan bertelur di depan gua Jabal Tsur.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah hajimerpati-1024x714.jpg
Merpati di dekat pemakaman Ma’la.

Setelah pemakaman Ma’la. ada sebuah masjid yang menjadi saksi dibaiatnya sekumpulan jin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Masjid Jin begitu namanya. Di kiri kanan masjid berderet pertokoan dan hotel atau pondokan untuk jamaah haji. Setelah melewati masjid Jin, aku akan menyebrang jalan lagi dan melintas di depan Saudi Post. Beberapa kartu pos aku kirimkan untuk anak-anakku, Kaka dan Mas. Aku memang lebih suka menulis surat daripada sms atau telepon. Pada kartu pos aku tuliskan cerita singkat kegiatan ibadah haji.

Aku juga berkesempatan mengunjungi Jabal Tsur dan Jabal Nur. Sejarah mencatat Jabal Nur adalah tempat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan wahyu pertama melalui malaikat Jibril. Sedangkan Jabat Tsur adalah tempat bersembunyi Beliau saat peristiwa hijrah.

Satu lagi kenikmatan saat tinggal di Makkah adalah aku bisa minum air Zamzam setiap hari. Saat berada di Masjidilharam bisa mengambil air Zamzam dan membawanya ke pondokan. Selain itu, aku juga jadi senang makan kurma, minum madu dan susu setiap hari. Kalau makanan sih aku tak masalah, kadang membeli makanan ala Indonesia, sering juga membeli makanan khas berbagai negara. Aku mencicipi makanan dari restoran Turki, Mesir, Lebanon, Palestina, dan Afganistan. Berkali-kali membeli ayam goreng dengan kentang yang porsinya besar sekali. Oya … Aku juga selalu menyediakan buah seperti pisang, apel, dan jeruk.

Mengenal Unta Hewan Unik Khas Padang Pasir

Aku berkesempatan mengunjungi Jabal Rahmah di dekat Arafah dan mengelus kepala unta. Hewan khas padang pasir ini sangat menarik hatiku. Bentuknya yang unik dan wajahnya yang imut He3 … Sepertinya wajah unta itu selalu tersenyum. Oya … Saat di Mina, di sekitar tenda sering lewat unta yang dihias cantik sekali.

Kisah unta hewan unik khas padang pasir.

Apa hikmah yang aku dapat dari unta? Suatu kali Imam Masjidil haram diam sejenak, mendehem, lalu batuk beberapa saat. Lantunan suara merdu beliaupun sedikit terganggu. Begitupun Imam masjid di dekat penginapanku di daerah Ma’la, dia beberapa kali menghentikan bacaan surat Al Fatihah dan surat lainnya dari Al Quran karena batuk. Akupun mengalami hal yang sama. Batuk tiada henti. Sempat juga dada ini terasa hingga sesak karena ingin menahan agar batuk tak berbunyi saat shalat berjamaah.

Dokter kloter yang baik hati memberi aku obat batuk, namun efeknya tak seberapa. He3 … Aku tetap batuk-batuk dengan merdunya. Kali lain ketika ada ceramah dari Aa Gym sebagai pembimbing ibadah haji, dia menyampaikan keajaiban unta. Loh! Apa hubungannya unta dengan batuk para jamaah?

Allah Yang Mahaadil lagi Maha Pemberi Petunjuk telah menciptakan unta dengan bentuk hidung yang sedemikian sempurna untuk menahan debu pasir yang lembut sekalipun. Hidungnya ditumbuhi bulu-bulu halus dan dilindungi cairan yang kental agar debu dapat disaring dengan baik. Untuk itu dianjurkan agar jamaah haji rajin memakai masker selama di tanah suci. Wooowww … Jadi hanya unta yang gak batuk ya? He3 … Begitu canda salah satu jamaah yang setelah berkomentar langsung terbatuk-batuk lama sekali .

Satu lagi hikmah batuk yang aku alami di tanah suci ini memberikan peringatan agar aku senantiasa menjaga lisan dan perkataan. Ternyata … Baru sedikit saja terganggu batuk, bicara rasanya sangat tidak nyaman. Harus banyak memohon ampun kepada Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar agar segala salah dan dosa mulut ini. Ya Allah … Ampuni bila hamba tak bisa menjaga lisan, bila perkataan menyakitkan sesama, bahkan lisan yang lupa menyebut nama-Mu.

Merasakan Kesedihan Ketika Meninggalkan Kota Makkah

Suasana kota Makkah dapat aku saksikan dari lantai atas penginapanku. Kota yang tak pernah sepi dari kunjungan para jamaah ibadah haji dan umroh. Banyak kenangan indah tak terlupakan. Tak mungkin ku ucapkan kata selamat tinggal, karena sungguh aku sangat ingin kembali pada suatu saat nanti. Waktu jualah yang mengharuskanku meninggalkan kota Makkah juga Baitullah dan Masjidilharam. Airmataku menetes sepanjang Tawaf Wada atau tawaf perpisahan. Undang kembali aku sebagai tamu-Mu dilain waktu Ya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Melimpahkan Kebaikan.

Bis meluncur di jalan bebas hambatan dari kota Makkah menuju kota Madinah. Jarak sejauh 450 kilometer cukup ditempuh selama 7 jam saja perjalanan dengan kendaraan yang nyaman. Aku melihat keluar jendela, padang pasir dan bukit bebatuan coklat kehitaman. Tanpa pepohonan yang rindang. Bagaimana dahulu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berhijrah? Berjalan kaki bersama sahabat setia Abu Bakar Ash-Shiddiq di tengah terik matahari dalam kurun waktu 20 hari.

Mendalami Dakwah Islam di Kota Madinah

Hal menarik ketika berada di kota Madinah adalah menyelami kehidupan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersama keluarganya. Ternyata rumah Beliau sangatlah sederhana dan kehidupan sehari-harinya sangat bersahaja. Ukuran rumah beliau tak lebih dari 5 x 4 meter persegi dan halaman belakang 5 x 3,5 meter persegi. Atapnya dari pelepah kurma, dindingnya dari batu bata tahan api, lantainya tanah. Subhanallah … Luar biasa. Bukan istana pualam atau hiasan emas dan perak yang dinikmati Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersama keluarganya.

Suasana senja hari di pelataran Masjid Nabawi.

Sanggupkan kita meneladani kehidupannya yang demikian? Sanggupkan kita tidak mengeluh dan berputus asa ketika menemui kesulitan hidup? Ketika shalat di Masjid Nabawi, terbayang bagaimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menjadi imam, ruku dan sujud bersama para sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Hamzah sayyid al syuhada, Salman al Farizi, Abbas ibn Abdul Muthalib, Al Hakam ibn Sa’id, Ubay ibn Ka’ab, Zaid ibn Haritsah, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Zaid ibn Tsabit, dan Abu Lubabah.

Begitu juga serasa ada para ummul mu’minin, Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Zainab binti Huzaimah, Juwairiyah binti Haris, Sofiyah binti Hay bin Akhtab, Hindun binti Abi Umaiyah, Ramlah binti Abu Sufyan, Hafsah binti Umar bin Khatab, Zainab binti Jahsy, dan Maimunah binti Haris. Sungguh terasa di hati ini suasana syahdu saat putri-putri beliau hadir di sini mereka adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.

Mereka adalah pejuang sejati, penegak kalimat tauhid, rela berkorban harta, raga, bahkan jiwa.

Bersyukur aku bisa mengunjungi Raudah ‘taman surga’ sebanyak 2 kali untuk menunaikan shalat dengan tenang dan nyaman, Seperti ucap Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam : “Antara kamarku dan mimbarku adalah taman (raudah) dari taman-taman surga. Dan mimbarku di atas kolam.” (Shahih Bukhari no. 1888).

Kubah hijau di Masjid Nabawi, dibawahnya adalah makam Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.

Pada kesempatan lain aku berkeliling masjid sampai makam Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Kubah hijau menandai rumah Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq yang kini menjadi makam Beliau.. Betapa sederhana dan bersahaja kehidupannya, namun betapa tinggi kecintaan Beliau kepada umatnya. “Umati … umati … umati …” Begitulah pesan terakhir menjelang wafatnya. Airmata ini tak terasa deras mengalir membasahi pipi.

Teladan Beliau tercermin dalam kebaikan rohani, kemuliaan jiwa, kesucian hati, kesederhanaan tingkah laku, kebersihan, dan kehalusan rasa. Sifatnya lemah lembut tapi kesatria, ramah tetapi serius, dan otaknya cerdas. Alam pikirannya luas sehingga mampu mempengaruhi baik kepada orang pandai maupun orang yang tidak berpengetahuan. Senyumnya memikat, sabar terhadap bawahan, rela menjenguk orang sakit sekalipun memusuhinya, memenuhi undangan orang miskin sekalipun. Tak segan menjahit sendiri pakaiannya, memerah susu kambing, dan menolong pekerjaan rumah.

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam menyayangi orang miskin, mencintai anak-anak, dan menghormati perempuan. “Ya Nabi salam ‘alaika, ya Rasul salam … salam ‘alaika, ya Habib salam ‘alaika, shalawattullah ‘alaika.” Shalawat dan salam kepada kekasih Allah subhanahu wa ta’alla menjadi tali penghubung antara umatnya dengan Nabi yang mulia. Masjid Nabawi, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud adalah sebagian saksi sejarah perjuangan Beliau dalam menyebarkan agama Islam sampai ke seluruh penjuru dunia.

Menelusuri jejak sejarah kota Madinah.

Perjuangan dakwah Islamiyah, ketegaran hati, kepemimpinan, akhlak mulia, persahabatan dalam iman dan islam, bahkan kecintaan Beliau kepada umatnya terpancar dari kota Madinah. Hikmah yang aku dapat dari perjalanan ziarah ini tak lepas dari kekuasaan  Allah Yang Mahabenar lagi Maha Pemberi Cahaya. Perintah-Nya kepada manusia agar mengadakan perlawatan di muka bumi untuk membuktikan kekuasaan-Nya, “Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang orang-orang yang sebelum mereka,  sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa,” (QS. Faathir 35 : 44).

Default image
Dewi Laily Purnamasari
Articles: 3

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: