buku-dari-toko-buku-ke-toko-buku.jpg

Mengunyah “Dari Toko Buku ke Toko Buku” Pelan-pelan

Mengunyah buku yang kaya rasa seperti Dari Toko Buku ke Toko Buku ini musti pelan-pelan selayaknya menikmati kudapan favorit.

Pernah punya makanan yang rasanya perlu dikunyah pelan-pelan karena takut keindahannya terlalu cepat berlalu? Saya pernah, eh sering! Kalau Dari Toko Buku ke Toko Buku ini diibaratkan makanan, buku ini ibarat ketan serundeng.

Hidangan ketan, buat kami sekeluarga begitu istimewa—kata lain untuk favorit—hehe. Seperti sebuah kebetulan dari semesta untuk dapat menemukan warung sederhana yang menjual ketan serundeng ini dalam radius jalan kaki. Setiap membeli ketan si Emak, nenek penjual ketan ini, saya selalu menikmati perjalanan dari rumah, saat transaksi, bertukar obrolan, sampai pulang dan bersiap menikmati kudapan yang tak jarang habis dalam hitungan menit begitu sampai di rumah. Ahhh, terlalu cepat! Rasanya ketan serundeng pedas semok yang berdempetan dengan ongol-ongol dan ketan polos bertabur kelapa ini hanya ingin saya nikmati sendiri dengan waktu yang saya harap bisa berjalan lebih lamban.

Begitu juga dengan buku setebal 500 halaman lebih ini, yang saya temukan di Perpustakaan Jakarta di bilangan Cikini setelah mengikuti sebuah acara literasi. Tak ada hal lain yang lebih cocok dibandingkan untuk langsung praktik: pinjam dan baca buku!

Cover Buku (sumber: penulis)

Boleh Punya Jiwa

Satu dari sekian hal yang saya jaga, termasuk saat membaca buku, adalah: ekspektasi. Tapi, tentu saja yang namanya hati lemah, gampang ciut juga gampang kepincut yang membuat semuanya jadi semrawut. Saya tahu benar, sebelum, selagi, dan sesudah membaca buku ini bisa jadi saya akan punya banyak kepenginan. Mulai dari kepengin datang ke berbagai negara dengan toko buku yang terburai-burai hal menariknya dalam buku, sampai judul-judul yang berseliweran dari penulis yang pernah saya dengar sampai yang baruuuu pertama kali dengar.

Ternyata saya bukan hanya pengen! Tapi menyeret-nyeret diri saya untuk terus membaca sambil kabita sangaaaat. Dengan ide-ide yang bermunculan juga pribadi-pribadi yang diceritakan Mbak Muthia Esfand sepanjang buku.

Sudah ambil posisi duduk, atau minimal posisi yang agak agak nyaman? Buku ini membuat posisi buku dan toko buku begitu hidup, sampai-sampai keduanya boleh punya jiwa. Iya, ini adalah narasi-narasi yang dibangun di sepanjang buku. Bahwa buku bukan sekedar tumpukan kertas yang dijilid rapi dan diberi ilustrasi agar cantik dan laku keras di pasaran. Buku adalah media untuk ide-ide liar yang ditangkap sebagai bekal sebuah tatanan sosial. Sudah terasa berat? Hihi, namanya juga hidup. Masih ada lagi, pembaca bukan sekedar objek penderita yang menjadi deretan angka dalam pasar perbukuan, tetapi pembaca adalah pengubah dunia. Iya, termasuk kita, Mahs! Sementara penulis adalah mereka-mereka Sang Pencipta alat perubahan.

Karenanya, buku adalah kertas yang berjiwa. Sebuah keluhuran dalam menerbitkan inspirasi bagi pembacanya. Juga pembawa kenang-kenangan, dalam wujud obat nestapa untuk penulis serta pembacanya.

Sambil meneruskan membaca buku, saya menyeruput kopi, teh dan air jahe panas saya silih berganti pada waktu yang lain. Kadang, saya berhenti untuk mengenang tumpukan buku yang ada di rumah, yang telah membawa saya dan setidaknya 2/3 isi rumah ini untuk bermimpi liar menjauh ke tempat-tempat yang bahkan belum pernah disinggahi dalam kenyataan. Buku telah menjadi pintu ajaib Doraemon juga mesin waktu untuk pembacanya. Mengobati rindu pada banyak hal yang tadinya hanya berupa imaji ke sesuatu yang cukup nyata, setidaknya dalam buku.

Jiwa buku-buku selayaknya dilanggengkan oleh toko buku yang seharusnya juga memandang buku bukan hanya sebagai komoditas.

Hal yang membuat buku ini menarik, saya seperti mendengar isi kepala Mbak Muthia. Termasuk dilema dan konflik batinnya sebagai pembaca, penulis, penyunting, dan pemilik toko buku di kemudian hari setelah buku ini diterbitkan. Yang jelas orang perbukuan yang segitunya sama buku. Ada jokes dan gigs yang hanya bisa dimengerti sama orang yang segitunya juga sama buku. Antara ketawa kecil di belakang, hihihi, atau ketawa miris.

Gini nih misalnya, saat buku dibeli dan dibanggakan karena jadi lambang kemenangan war diskon. Atau buku yang sibuk ditata buat pajangan kelengkapan koleksi baik di halaman feed, di ruang tamu dan tempat-tempat terlihat lainnya. Biar apa? Biar terlihat keren, menaikkan gengsi dan hal-hal serupa. Atau saat buku di toko hanya dilabeli, ditata dan dijual sesuai dengan genre, warna dan list bulanan yang membuat buku menjadi kehilangan jiwanya.

Salah? Umh, yaaa gini perbandingannya.

Buku yang dibeli karena sinopsis dan resensinya sudah dibaca. Wajah cerah saat buku ditamatkan. Cerita yang dibangun di dalam buku kemudian pindah ke dalam kepala, ceritanya dikenang. Dalam waktu yang dekat, juga dalam waktu yang telah jauh dilampaui. Jiwa dalam buku melesap masuk ke dalam jiwa pembacanya, mempengaruhi sedikit-banyak, tindak-tanduk, laku-peranan. Dipanggil dari pusat memori, saat dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Baca ide ini saja membuat saya nyeesss, meleleh-leleh.

Metafora mudahnya, penimbunan makanan. Iya, membeli dan hanya memenuhi lemari suplai makanan tanpa pernah benar-benar merencanakan secara sadar kapan dan bagaimana mengkonsumsinya. Tahu-tahu lemari suplai penuh dan bahan makanan yang ditimbun hanya menunggu saat dibuang karena peringatan kadaluarsa yang baru sempat diperhatikan sudah lewat beberapa tahun.

Buku oh buku!

Toko Buku dan Etalase (sumber: DTBKTB, penulis)

Para Pecinta yang Bertemu

Dalam satu even daring, saya dipertemukan dengan pembaca buku lain yang baru kali itu kami bertemu. Rasanya seperti bertemu teman lama. Bisa puas-puas ngobrol ngalor-ngidul ghibahin buku.

Begitu juga pertemuan Mbak Muthia yang awalnya hendak menghadiri sebuah event buku dengan tambahan beberapa time frame waktu yang lain, malah jadi lawatan ke sana kemari. Tercetuslah kemudian catatan perjalanan itu dan si tambahannya menjadi cikal-bakal buku ini.

Terbiasa menerima tamu dari mancanegara untuk mondok di rumahnya, Mbak Muthia ternyata malah ketemu jalan untuk tahu ada hal-hal lain seperti aplikasi dan website couchsurfing dan volunteering. Yang mempertemukannya dengan John dan Magda pasangan gaek dari Slovenia yang membuka rumahnya untuk para volunteer yang ingin membantu mereka selama satu musim di kebun sekitar rumahnya.

Blurb (sumber: penulis)

John dan Magda sama-sama cuma suka tiga hal. John suka buku, musik dan film, sementara Magda suka radio, tari dan alam. Karena hal yang berlainan inilah relasi mereka terbentuk dari dinamika yang ada. Membacanya saja rasanya saya bisa merasakan jadi anak angkat mereka berdua yang sibuk menengahi John dan Magda yang punya interaksi yang bikin gemas. Satu tahu banget cara menangani ternak, satu lagi mati gaya waktu diminta tolongin bersihin kandang.

Saya geleng-geleng mendengar selama 62 tahun, tidak pernah sehari pun John lewatkan tanpa membaca buku. Terkadang dua buku sekaligus, satu berbahasa Slovenia dan satu lagi dalam bahasa Inggris. Cinta memang tidak pernah bisa dipaksa. Termasuk kecintaan pada literasi. Karena akan ada terang yang terbentang dan terus benderang meskipun terus dibagikan.

Selain tentang buku, toko buku dan orang-orang yang mencintai buku, buku ini juga membawa saya pada kedudukan makian yang menjadi karakter sebuah bangsa atau masyarakat. Iyaaa, makian kan paling gampang jadi perekat orang-orang dengan bahasa yang berbeda. Saya sungguh ngekek waktu dengar di Slovenia makiannnya, kalau di terjemahkan adalah: jalan putih dan tiga ratus bulu iblis. Saya juga pasti bingung waktu mendengar makian atau kutukan kok ya jalan putih, tapi ternyata itu adalah persepsi kengerian musim dingin dengan salju tebal di Slovenia dengan kontur yang bergunung-gunung. Namun akhirnya angguk-angguk setuju kutukan itu setelah dapat cerita di baliknya. Lebih ngekek sesungguhnya saat Mbak Muthia ditanya makian dalam Bahasa Indonesia apa, dijawab, “kampret!” Eleeuuuhhh. Untung gak ada di sana untuk presentasi kenapa kelelawar jadi bentuk makian. Apa karena sering minta mangga matang? Eh itu mah, codot ya. Mereka temenan kan?

Gambaran berdaya setelah menua dibawa oleh pasangan John dan Magda juga Chris dan Una, tetangga jauh mereka. Setelah pensiun, mereka menyiapkan rencana, banyak rencana. Memilih untuk tetap enerjik, sama serunya ketika mereka bermimpi di masa mudanya dahulu. Yang pasti dan terasa dalam catatan perjalanan di buku ini, mereka menikmati semua hal yang mereka lakukan. Bertemu mereka-mereka ini seperti bertemu dengan para pecinta. Pada apa-apa yang mereka percaya, minati: tanpa garis batas usia.

Toko Buku yang Melesap

Salah satu, iya dari banyak toko buku yang ingin saya resapi adalah Shakespeare and Company. Saya jatuh hati sama bagaimana toko buku ini telah menjadi penghidupan bagi para penulis, penyair, seniman juga pengelana selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Membayangkan serunya jadi residen di toko buku ini sambil noyor-noyor penulis yang akan jadi kawakan di era setelahnya, membuat saya berbinar-binar. Mereka bisa tinggal selama yang mereka inginkan secara gratis, bayarannya cuma bantu-bantu mengelola toko buku dan membuat ramai toko. Aduduh! Tidur di antara buku-buku dengan kasur lipat di antara rak, numpang nulis, ngetik, ngobrol sama teman-teman sefrekuensi, ceng-cengan ide-ide gila. Apalah yang kurang?

Sementara toko buku lain, Desperate Literature, menyajikan quote yang membuat berhenti tepat di dekat pintu masuk. Seperti toko buku yang dikelola mandiri lainnya, mereka juga punya penjaga toko yang sangat-sangat take time untuk menyapa dan mengenali para pengunjungnya. Bahkan tak jarang jadi tempat curhat tentang buku yang dibutuhkan oleh pelanggannya. Toko ini secara gamblang telah memberikan apresiasi lebih pada: kesedihan. Bentuk emosi ini dianggap sebagai sebuah perasaan yang secara intens bisa dirasakan dan dinikmati oleh seseorang. Sama seperti menikmati bahagia. Saya lalu mengingat-ingat bagaimana puisi, nyanyian, lirik, cerita seperti lebih mendayu-dayu dan mengiris-iris dinikmati saat perasaan ini datang. Lalu semuanya seperti bersahut-sahutan menepuk-nepuk rasa sedih sehingga benar-benar terbang, terbawa sifat dasar manusia: lupa. Ya, ya, ya benar begitu.

Toko buku dengan tema tertentu adalah jalan ninja untuk menyodorkan keunikan di antara masyarakat yang berkejaran untuk jadi seragam dengan tren yang ditebar-tebar. Di antara ide toko buku yang menjual boardgame, serta merchandise buku-buku terlaris, ada juga toko buku yang tegak berdiri dengan warna ungu mencuat di antara bangunan dengan tone warna pucat. Inilah toko buku khusus perempuan.

Toko Buku Perempuan (sumber: DTBKTB, penulis)

Membayangkan toko yang dipenuhi buku-buku hasil pemikiran perempuan membuat saya bergelimang tanya. Apa saja isu yang diangkat? Termasuk juga kepingin nanya sama si Penjaga, kenapa kepikiran mau buat toko buku khusus perempuan ini? Untung beberapa pertanyaan saya juga ditanyain sama Mbak Muthia pas main ke sini. Yay! Kata si Mbak-mbaknya perempuan perlu dimanjakan dengan buku-buku berkualitas yang membuat mereka berkembang dan maju. Mimpi besarnya, supaya perempuan juga turut terlibat dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. Susahnya, umhhh maksudnya menantangnya, perempuan itu paling males denger kalau dikasih tau pakai mulut. Musti pakai buku-buku berkualitas. Ahahahah! Tul juga!

Berteman paling enak memang dengan owner toko buku yang (hampir) pasti juga suka segitunya sama buku. Pembicaraan yang mengalir bisa mulai dari pertanyaan simpel sekaligus jebakan, “apa buku favoritmu?” Buat pecinta buku iya, ini jebakan, bukan bagian dari basa-basi. Mana mungkin menjawab ini dengan satu buku, hey! Dari genre apa, tahun berapa, dari negara mana, dalam bahasa apa? Karena terkadang pertanyaan yang sangkut pautnya sama cinta-cintaan begini suka tidak beralasan. Kalau ditanya, “Kenapa?” jawabannya bisa seenaknya aja,”Karena suka aja!” Nyebelin memang, tetapi memang begitulah cinta pada buku atau penulis yang susah dijelaskan. Ihiy!

Karena mereka-mereka ini, toko buku telah melesap menjadi sebuah tempat yang hangat meskipun di musim-musim paling dinginnya. Tempat yang dekat, ramai dikunjungi bukan semata untuk pembelian dan omset yang berputar, tetapi untuk ngobrol selayaknya warung kopi. Dengan obrolan yang lebih punya isi dari buku yang bertebaran di sekelilingnya.

Diam-diam

Zaman boleh meninggalkan jejak dalam dinding dan kota yang memang merupakan proyek kelam penguasa yang lampau, seperti di Nowa Huta, Polandia. Namun kota yang kelabu, tidak selamanya punya penduduk yang juga berhati muram. Ada Jacek dan istrinya Aga, juga si kecil Pola dan kucing tanpa bulu mereka, Placek. Keluarga ini punya mimpi yang melampaui kota kelabunya dengan foodtruck, bar dan panggung bongkar-pasang yang mereka bangun selama musim panas untuk para muda-mudi polish berekspresi. Di antara jendela kecil sisa sniper di setiap apartemen kelam, di antara tatapan sinis penduduknya pada para pendatang; masih dan selalu ada harapan untuk bangsa yang sedang belajar dewasa. Untuk menerima perbedaan. Untuk lepas dari ketakutan yang tidak perlu. Untuk meyakini bahwa ada dunia lain yang terus berkembang di luar mereka. Tanpa seringai serigala dalam cerita si Tudung Merah kesukaan Pola. Sebagaimana pintu rumah keluarga ini selalu terbuka untuk mereka yang datang dari negeri di antah berantah.

Pola dan Placek (sumber: DTBKTB, penulis)

Editor adalah seorang penggemar rahasia. Pecinta dalam diam. Hubungan editor dan penulis itu rumit. Karena editor adalah orang pertama yang menaruh kepercayaan pada penulis. Seorang editor butuh kecintaan pada buku, kecintaan pada aktivitas membaca juga kecintaan pada keberagaman bacaan yang akan disajikannya di dunia perbukuan. Ironis saat profesi editor berhenti pada titel pekerjaan yang sama sekali tidak mementingkan kecintaan pada buku namun hanya berbekal kemampuan membuat penjualan yang tinggi di pasaran. Rumit memang. Kerumitan ini juga terbentang dalam perjalanan Mbak Muthia yang singgah di Dresden untuk mondok di rumah Hanif, seorang seniman multitalenta. Dalam studio seninya, Hanif menghidupi jiwanya, merangkai aksara juga ilustrasi serta melakukan proses cetak mandiri dengan plat-plat yang disiapkannya. Ah, ini mah dari hulu sampai hilir dikerjakan sendiri. Produksi bukunya juga paling banyak hanya empat eksemplar. Di jualnya dengan menitip di toko teman-temannya. Satu kota yang isinya seniman ya begitu. Keren.

Di rumah, kami jadi punya pengetahuan baru kapan tepatnya kata coffee muncul sebagai kosa kata dalam Bahasa Inggris. Bukan tahunnya yaa. Tapi, tepat saat tetangganya, Belanda cerita ada biji buah ajaib yang mantap kalau diseduh, koffie. Ehem, tau kan dari mana sumbernya si biji ajaib. Orang Belanda juga ternyata boleh minjem istilah baru ini dari Turki, dari kata kahve. Asal muasalnya kahve ternyata oh ternyata dari Bahasa Arab, qahwah. Maka, mulailah kalau jamnya minum kopi, kami sok-sokan menawarkan, “Ada yang mau qahwah gak ini?” Hehe, gaya euy.

Oplah adalah pertanyaan sengit bin sensitif yang mirip dengan, “Berapa IPKnya?” waktu jaman kuliah dan sesudahnya. Dragos, salah satu pribadi istimewa yang saya kenal dari buku menanyakan perihal ini. “Berapa oplah di Indonesia?” O-oh! Di meja makan di rumahnya malam itu, ia mendengar perbandingan 10 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan di negaranya. Dragos melongo, menanyakan pertanyaan lanjutan perihal laku tidaknya 3000 eksemplar itu. Saya jadi ikut tersipu malu waktu menyadari banyaknya tumpukan buku gak laku yang teronggok di sudut gudang. Di antara acara buka gudang, tak jarang saya ditemukan mengais-ngais buku impian yang baru bisa terbeli setelah sekian buku lewat begitu saja saat uang jajan buku belum cukup. Dragos–penulis amatir yang antusias dan cerdas—yang  kemudian mengajarkan besaran oplah bukan hal penting, tetapi semangat untuk terus berkarya yang harus berkobar. Well noted, Mbak Muthia.

Casturesti Carusel (sumber: DTBKTB, penulis)

Pertemuan adalah pembentuk kesadaran baru setelah ada hal berat sebelumnya, perpisahan. Begitu juga perjumpaan dan perpisahan yang terjadi sepanjang perjalanan Mbak Muthia ini. Ada langkah yang berat saat meninggalkan induk semang, ada juga saat berat ditinggalkan sebagai host. Sepi, kosong setelah sebelumnya ruang kosong yang ada di rumah dan di hati diisi orang asing yang terasa hangat. Semuanya terikat manis yang diam-diam telah dipertemukan oleh buku.

Jika dan Hanya Jika

Akhirnya, menghidupkan (toko buku) bisa dilakukan jika dan hanya jika (toko buku) dikelola secara hidup oleh pengelolanya. Sementara hidup sendiri adalah sekumpulan destinasi dan itenary. Selama otak masih berputar, selama hati masih bisa merasakan hangat, selama masih ada toko buku yang menjaga jiwa buku-bukunya selama itu juga kita akan baik-baik saja.

Lalu, mata saya beralih ke tumpukan buku di rumah, sudahkah saya menangkap dan mendengar jiwa-jiwa mereka? Mamah gimana?

Temu buku Mei 2023 di Buku di Teras, toko buku impian Mbak Muthia yang akhirnya terwujud (Sumber: Buku di Teras)

Kalau Mamah penasaran untuk intip bukunya, cek di sini ya: https://www.goodreads.com/book/show/56861463-dari-toko-buku-ke-toko-buku

Jade Petroceany
Jade Petroceany
Articles: 1

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: