Jatuh Cinta Seperti di Film-Film: Komedi Romantis Dewasa nan Manis

Buat saya, pertanyaan paling menarik yang dilontarkan dalam film berdurasi 1 jam 57 menit ini adalah, apakah kisah cinta yang menarik itu hanya bisa dimiliki kaum usia 20-an? Apakah tidak ada hal-hal romantis yang bisa diceritakan dari kisah orang-orang dewasa? Apakah saking datarnya kebanyakan kisah-kisah tersebut, hanya yang diuji yang patut diceritakan?

Bagaimana jika seorang penulis membuat naskah film dari kisah cintanya sendiri?

Bagus (Ringgo Agus Rahman) nama penulis tersebut. Dia mencintai seorang perempuan bernama Hana (Nirina Dzubir) semenjak SMA. Cintanya bertepuk sebelah tangan karena Hana menikah dengan pria lain. Tetapi Bagus tak pernah sekalipun melupakan Hana. Suatu hari Bagus kembali bertemu dengan Hana, yang baru saja menjanda. Suaminya meninggal mendadak karena sakit.

Pertemuan ini membuahkan ide kepada Bagus untuk membuat film tentang kisah cintanya dengan Hana. Masalahnya Hana masih berduka. Perempuan itu juga skeptis pada urusan cinta di usia yang hampir menginjak 40 tahun. Namun, Bagus yang logis dan terbiasa berpikir dalam sequence naskah, percaya suatu saat Hana akan bisa meninggalkan dukanya dan menerima cintanya.

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, tidak seperti film Indonesia kebanyakan. Sutradara Yandy Laurens (Keluarga Cemara) mengambil risiko untuk tampil beda. Eksperimental dengan mengesampingkan sisi komersial. Ingin melihat sedewasa apakah penonton lokal menghadapi film yang tak biasa. Paling menantang adalah pilihan untuk menyajikan kisah dalam film ini melalui layar monokrom hitam putih. Pemilihan artistik yang tidak biasa, tetapi ternyata dampaknya cukup mengena. Penonton jadi fokus pada dialog yang disampaikan oleh para pemeran tanpa terdistraksi warna.

Buat saya, pertanyaan paling menarik yang dilontarkan dalam film berdurasi 1 jam 57 menit ini adalah, apakah kisah cinta yang menarik itu hanya bisa dimiliki kaum usia 20-an?

Tak bisa dipungkiri, kebanyakan kisah cinta romantis yang digambarkan di buku, serial TV, atau film memang isinya cerita anak remaja sampai usia awal 30-an. Untuk usia di atasnya, biasanya genrenya melodramaer yang berputar di konflik pernikahan dan keluarga. Semakin dramatis semakin baik. Apalagi di Indonesia, kisah perselingkuhan sedang jadi fenomena yang digandrungi sebagai hiburan.

Wajar jika pertanyaan di atas muncul. Apakah tidak ada hal-hal romantis yang bisa diceritakan dari kisah orang-orang dewasa? Apakah saking datarnya kebanyakan kisah-kisah tersebut, hanya yang diuji yang patut diceritakan?

Film yang mempertemukan lagi Ringgo Agus Rahman dengan Nirina Zubir untuk kesekian kalinya ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Tentu dengan kisah cinta yang dewasa; tenang dan realistis. Hampir semua adegan bisa saja terjadi di dunia nyata. Tanpa emosi yang menggebu-gebu, aksi yang heroik, atau romantisme yang berbunga-bunga. Isi filmnya 80% dialog panjang tanpa jeda. Memperlihatkan kemampuan akting para pemerannya yang mumpuni. Jawaban yang saya dapatkan? Kisah cinta orang dewasa juga bisa manis dan romantis. Tanpa perlu vulgar dan dramatis.

Buat yang takut kalau film ini membosankan karena banyak dialog dan hitam putih, tenang saja. Genre film ini adalah komedi romantis. Membuat tertawa meskipun tanpa adegan slapstick yang berlebihan. Hal ini tentu saja tak lepas dari campur tangan produser film ini, Ernest Prakarsa, yang adalah stand up comedian ternama.

Komedi yang ditampilkan berbaur apik dalam dialog, situasi, dan juga pengambilan gambar. Seperti pemilihan nama tokoh Seline dan Dion, pasangan suami isteri yang diperankan oleh Sheila Dara dan Dion Wiyoko. Membuat penonton nyengir-nyengir sendiri ketika mendengarnya.

Bagi yang malas nonton film komedi romantis, dan inginnya nonton yang serius-serius, walaupun kocak, film ini tetap berbobot kok. Ceritanya membuat berpikir dengan mengulik tema mengenai perasaan manusia. Kekuatannya ada pada membuat tema yang berat menjadi mudah dicerna.

Konflik utamanya ada pada Bagus dengan pikirannya sendiri yang terlalu kaku. Maksudnya baik tapi penyampaiannya kurang baik. Terkesan memaksa, sehingga terasa egois dan tanpa empati. Namun apakah benar Hana serapuh seperti yang dibayangkan Bagus? Apakah perasaan Hana sesuai persepsi Bagus mengenai perasaan perempuan yang seharusnya di situasi yang dihadapi Hana? Apakah naskah filmnya bisa sesuai dengan realita?

Jawabannya ada pada perbedaan warna yang menyimpan kejutan di akhir cerita.

Apakah Mamah sudah menonton film ini? Bagaimana menurut Mamah film dengan konsep artistik ini? Kalau belum menonton, apakah tertarik untuk menonton? Share di kolom komentar ya, Mah!

Restu Eka Pratiwi
Restu Eka Pratiwi
Articles: 30

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *