Mudah Menyusun Menu Bergizi untuk Keluarga

Dalam menyusun menu hidangan untuk keluarga, sudah sewajarnya jika faktor kepraktisan berdampingan dengan faktor kecukupan gizi.

Mamah, bulan Ramadan sudah berjalan selama dua minggu nih, gimana dengan acara menyiapkan hidangan sahur dan berbuka untuk keluarganya, lancar kan? Mamah memilih untuk masak sendiri hidangannya, atau lebih suka membeli yang sudah matang? Apa pun itu, pasti Mamah melakukannya untuk kebaikan bersama seluruh anggota keluarga, bukan?

Menyiapkan hidangan untuk keluarga, baik di hari-hari biasa maupun hari-hari di bulan Ramadan, bisa dipandang dengan berbagai sudut pandang oleh orang-orang berbeda. Bagi Mamah yang memang jiwanya di dapur dan sangat mencintai aktivitas memasak, mungkin saja hal ini bukanlah sebuah masalah; malahan mungkin justru bisa menjadi caranya untuk mengaktualisasi diri. Memasak dan memastikan hidangan penuh gizi selalu tersedia di meja makan adalah cara bagi Mamah tipe ini untuk mendedikasikan dirinya pada keluarga. Sesibuk dan selama apa pun ia di dapur, ia jarang merasa lelah, karena bahagianya berada di sana.

Soto Madura hasil masakan rumahan (dok. Pribadi)

Lain halnya dengan Mamah yang pada dasarnya kurang bisa menikmati jika harus berlama-lama di dapur, aktivitas memasak menu sederhana sekalipun bisa menjadi sangat membebani dirinya. Entah karena dia bingung mau masak apa hari ini, atau entah karena dia tidak kunjung bisa meracik rasa masakan yang pas di lidah, atau mungkin dia memang tidak hobi saja berada di dapur … bagi Mamah tipe ini keberadaan penjual makanan online bisa jadi sangatlah menolong.

Ilustrasi seseorang sedang memasak (sumber: Canva)

Eh, tunggu, tunggu! Memangnya, beneran ada Mamah dengan tipe kedua tadi? Ada, Mamah penulis artikel inilah salah satunya 🙈

Lahir dari Ibu yang pandai memasak, rupanya tidak menjamin saya mewarisi kepandaian tersebut. Walau bukan dalam level parah juga –saya masih bisa memasak enak jika mengikuti resep yang terukur dan sudah teruji–, tetapi memang konsistensi rasa masakan saya tidaklah stabil untuk masakan-masakan yang menuntut kepekaan dalam pembuatannya, alias tanpa resep. Kadang enak, kadang kurang enak 😁

Karena sering merasa kurang puas pada hasil masakan sendiri, saya pun jadi sering membeli masakan matang dari tetangga yang berjualan. Namun, terus-terusan beli matengan juga akhirnya bosan, karena yah, menunya juga itu-itu saja. Sungguh labil memang Mamah yang satu ini ya 😅

Selain itu, sering membeli masakan matang juga cukup menguras dompet, apalagi karena menu favorit keluarga adalah yang mengandung unsur protein hewani, jadi mau tidak mau, suka tidak suka, saya tetap harus mengusahakan masak sendiri meskipun tetap diselingi membeli masakan matang sesekali.

Masalah kembali datang saat saya buntu soal ‘mau masak apa hari ini?’ Melihat isi keranjang penjual sayuran, kok rasanya itu lagi, itu lagi. Mencoba berbelanja mingguan sekaligus, kok ya malas melakukan food preparation-nya. Mencoba menyusun menu bulanan, makin bingung karena sekali lagi yang terbayang menu yang itu-itu saja. “Aaarrghh … kenapa urusan memasak saja bisa begitu membingungkan?” jerit batin saya kala itu.

Memilih sayuran dan bumbu di penjual sayur (dok. Pribadi)

Enggak coba lihat contekan menu di internet, Mah?

Sebetulnya sudah, tapi kebanyakan yang saya temukan adalah ide resep masakan, sedangkan yang saya butuhkan adalah ide menu harian dan cara menyusunnya secara terperinci. Alhasil, saya sering menyambut Ramadan dengan agak galau dan kurang bersemangat. Galau soal menyiapkan menu sahur dan berbuka-nya, hiks.

Alhamdulillah, di awal tahun 2021 ini saya bergabung dengan dua grup literasi yang keduanya merupakan sub-grup dari ITB Motherhood, dan salah satunya adalah Mamah Gajah Ngeblog. Ya Allah, ini kenapa dari pembahasan soal masak-memasak jadi nyenggol grup literasi yak, apa hubungannya coba? –mungkin ada di antara para Mamah pembaca yang berpikiran seperti itu, hihihi….–

Hubungannya adalah, sejak aktif menulis untuk tantangan di dua grup tersebut, saya jadi terbiasa berpikir dengan terencana; merencanakan ide pokok tulisan, kerangka penulisan, dan poin-poin penting yang ingin disampaikan dalam tulisan tersebut. Sebetulnya kebiasaan ini pernah dilakukan sih, saat dulu menyusun laporan tugas-tugas kuliah. Namun, setelah lama meninggalkan bangku kuliah lalu fokus menjadi IRT, kebiasaan ini perlahan memudar.

Kembali ke topik utama, jadi secara tiba-tiba saja saya mendapat ilham untuk menyusun menu hidangan keluarga, berangkat dari kebiasaan menguraikan ide pokok saat menulis tadi, serta pemahaman bahwa nutrisi seimbang bisa didapatkan jika makanan kita memiliki unsur lengkap karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Begitulah, saya tuliskan dulu berbagai macam masakan menu sayuran, dalam kelompok sayur berkuah bening, sayur berkuah santan, tumisan, dan lalapan atau rebusan.

Setelah mendapat beberapa alternatif masakan yang memang cocok dengan selera keluarga, saya lanjut menuliskan alternatif-alternatif lauk yang cocok untuk tiap menu sayur tadi, berupa lauk yang mengandung protein hewani dan protein nabati, dalam wujud digoreng, dikukus, disambal, dan dipanggang.

Dari alternatif sayur dan lauk ini, dengan mudah saya bisa membuat rencana menu untuk dua minggu ke depan, bergantian antara sayur berkuah bening, tumisan, kuah santan, juga rebusan. Meski dalam dua minggu tersebut terjadi pengulangan menu sayur, setidaknya dengan jenis lauk berbeda dari sebelumnya, anggota keluarga bisa terhindar dari rasa bosan akibat menu yang itu-itu saja.

Memindahkan alternatif menu sayur & lauk ke dalam rencana menu harian hingga dua minggu ke depan (dok. Pribadi)

Dengan jadwal menu yang terencana ini, saya rasakan juga lebih mudah untuk melakukan food preparation, karena saya betul-betul sudah terbayang apa yang akan saya masak. Kalau pun bahan masakan yang saya cari tidak tersedia di penjual sayur, toh saya tetap punya alternatif menu pengganti berdasarkan rencana yang sudah saya buat itu.

Pada kenyataannya, memang sih tidak semua menu yang saya rencanakan ini jadi dibuat. Terkadang saya beruntung mendapat kiriman sayur dari bibi, atau lauk dari ibu mertua, sehingga saya tidak perlu memasak lagi. Terkadang juga saya terlalu mager untuk memasak, jadi ya sudah saya beli masakan matang saja. Meskipun begitu, saya tetap merasakan manfaat yang besar dari merencanakan menu masakan ini, dan akan selalu lanjut membuatnya.

Kalau Mamah pembaca, punya pengalaman unik apa dalam menyusun menu hidangan untuk keluarga? Share yuk di kolom komentar 😉

Default image
Meita Hapsari
Articles: 4

3 Comments

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: