Review Film Yuni: Tamparan Halus Kenyataan Hidup Perempuan

Film coming of age pemenang Platform Prize di Festival Toronto ini bisa menjadi alternatif pilihan untuk ditonton saat me time Mamah. Bisa juga untuk bahan diskusi dengan anak-anak Mamah yang beranjak dewasa. Film berdurasi 122 menit ini bisa ditonton di platform Disney+ Hotstar. Baca yuk kalau mau tahu review lengkapnya

Ketika suami mengajak saya menonton film Yuni di salah satu platform streaming berbayar yang kami langgan, saya tidak punya ekspektasi apa-apa. Saya pikir ini sekedar film tentang perempuan yang berjuang meraih mimpinya. Tipe feels good movie yang bisa ditonton sambil lalu di malam minggu.

poster film Yuni (2021)
Poster Film Yuni (Sumber: imdb.com)

Tapi ternyata perkiraan saya salah. Film garapan sutradara perempuan Indonesia Kamila Andini ini, walaupun tampilannya sederhana, ternyata mengangkat tema yang cukup rumit. Film ini menjadi film dengan nominasi terbanyak kedua dalam Festival Film Indonesia bersaing dengan film Penyalin Cahaya. Akan tetapi, berbeda dengan film Penyalin Cahaya yang memikat dengan alur ceritanya yang mendebarkan, film Yuni menarik karena adegan-adegan yang realistis. Menggambarkan keseharian banyak dari perempuan Indonesia.

Di saat saya hampir percaya bahwa di dunia ini perempuan telah mendapatkan haknya yang setara dengan laki-laki, Yuni menarik saya ke kenyataan, bahwa pikiran tersebut hanya bisa dimiliki oleh orang yang memiliki privilege untuk hidup di lingkungan yang egaliter. Suatu bentuk keistimewaan yang jelas tidak dimiliki oleh semua orang.

Tentang Yuni

Sepertinya umumnya remaja usia 18 tahun, Yuni (Arawinda Kirana) mengalami dilema tentang masa depannya. Dia terlalu cerdas untuk menerima ide bahwa setelah SMA dia hanya punya pilihan untuk menikah dan memiliki anak, tapi juga tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkannya. Hampir semua orang, terutama perempuan, di lingkungannya memiliki jalan hidup yang hampir serupa. Dengan berbagai alasan, dinikahkan di usia sangat muda. Anak perempuan putus sekolah saat ada di bangku SMA atau bahkan SMP adalah suatu hal yang jamak. Karena kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut membuat mereka pantang menolak lamaran yang datang.

Pergolakan batin Yuni dimulai saat dia menolak lamaran pertama yang datang padanya, kemudian berlanjut dengan lamaran kedua. Mitos di daerahnya menyatakan menolak dua kali lamaran akan membuat hidupnya merana. Jauh di dalam hatinya Yuni tahu bahwa mitos tersebut tidak masuk akal, akan tetapi tidak bisa sepenuhnya menepiskan kekhawatirkan kalau-kalau mitos tersebut menjadi kenyataan.

Di saat inilah Yuni mulai merasa gamang. Dia tidak tahu harus bertanya kemana. Orang-orang terdekatnya berbeda pendapat. Salah seorang guru sekolah yang mengetahui potensi Yuni mendorongnya untuk meneruskan pendidikan. Nenek dan orang tuanya menyerahkan semua keputusan kepada Yuni. Sahabat-sahabatnya tidak punya pemikiran lebih selain mengikuti kebiasaan yang ada. Suci Cute, karakter yang Yuni kenal di jalan, menceritakan apa yang terjadi jika mengikuti keinginan orang lain dan gagal. Hidup dalam masyarakat dengan kebiasaan patriaki yang kental, semakin dewasa hidup Yuni malah semakin menyempit terkungkung adat.

review film Yuni (2021)
(Sumber: jawapos.com)

Di tengah kegamangannya, Yuni tetap mencoba untuk menjalani kehidupan remaja biasa. Dia menyatakan diri naksir guru sastra di sekolahnya. Cinta monyet yang sepertinya terinspirasi dari lirik-lirik lagu favoritnya. Juga menjalin hubungan dengan teman masa kecilnya, yang telah lama menyimpan rasa suka padanya. Mengikuti insting remaja yang penasaran dengan dunia. Dalam benaknya ini adalah usaha pembuktian akan eksistensi dirinya yang ingin mencoba keluar dari apa yang didiktekan oleh lingkungannya.

Trailer Film Yuni (Sumber: StarVision Plus)

Tentang Yuni dan Pilihan

Pada bulan Januari 2022 saya sempat mengikuti pelatihan pencegahan dan penanggulangan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Pada sesi pertama pelatihan ini ada pembahasan mengenai kesetaraan gender. Peserta pelatihan diminta untuk menonton sebuah video lalu memberikan pendapatnya mengenai cerita dari video tersebut.

Ketika giliran saya untuk menyatakan pendapat, saya mengatakan bahwa saya sudah tidak merasakan ketidaksetaraan gender. Hal yang saya lihat di video lebih seperti mitos buat saya daripada gambaran kenyataan. Di berbagai lingkungan tempat saya hidup, dari kecil hingga saat ini, laki-laki dan perempuan punya perannya masing-masing. Perempuan bisa berpendapat mengenai apapun dengan bebas juga memperoleh kesempatan yang sama dengan laki-laki. Jika tidak lebih. Terdengar sombong tapi memang itulah yang saya alami.

Turned out I was living in a bubble

Tanggapan salah satu mentor akan pendapat yang saya kemukakan, membuat saya membuka mata bahwa ketidaksetaraan gender masih umum terjadi di Indonesia dan dunia. Dari jaman Kartini dipingit hingga sekarang, masih ada banyak sekali perempuan yang dipaksa untuk menjalankan apa yang sudah dipilihkan untuknya. Menonton film Yuni semakin menyadarkan saya tentang kenyataan tersebut.

Suka atau tidak suka, merasa berlebihan atau tidak, Yuni menggambarkan kehidupan nyata yang terjadi terutama di masyarakat golongan menengah ke bawah yang hidup di kota kecil. Informasi dan pengetahuan yang kurang, kesempatan yang terbatas, dan hambatan ekonomi membuat para perempuan tersebut tidak punya pilihan lebih selain mengikuti yang dianggap sebagai hal yang ‘normal’.

Tokoh Yuni dalam film ini berbeda dengan teman-temannya, menurut saya, karena dia punya pilihan yang lebih banyak. Orang tuanya cukup mampu secara ekonomi dan lebih suportif dengan membiarkan dia memilih jalan hidupnya. Dia juga punya kecerdasan intelektual dan emosional yang lebih sehingga bisa menyadari pilihan lain yang dia punya. Dengan pilihan yang lebih banyak tersebut, Yuni punya kesempatan lebih besar untuk mendobrak kebiasaan dan mengikuti jalan hidup yang berbeda.

Tentang pilihan telah menjadi bahan renungan saya semenjak lama. Punya banyak pilihan adalah salah satu keistimewaan yang tidak dimiliki semua orang. Tapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Pendidikan adalah salah satu cara agar seseorang bisa punya lebih banyak alternatif pilihan. Saya selalu berkata bahwa manfaat pendidikan tinggi buat saya, bukan karena ilmunya, tapi lebih pada wawasan dan pilihan lebih yang terbentang di hadapannya saya karena menempuh pendidikan tersebut. Memilih jalan hidup seperti apa yang ingin saya jalani, tanpa paksaan dari orang lain.

Hal Menarik dari Film Yuni

Hal menarik dari film Yuni adalah karakter-karakter yang ada di dalamnya. Tentu karakter yang sangat hidup dan realistis juga tidak lepas dari usaha para pemain dalam memerankannya. Arawinda Kirana dalam debutnya sebagai pemeran utama dalam sebuah film, memainkan karakter Yuni dengan natural. Terlihat sekali pergolakan batin yang dialami Yuni dari mimik wajah dan gestur yang dilakukan. Pantas saja aktingnya diganjar dengan piala citra pada perhelatan FFI tahun 2021.

Karakter-karakter lainnya juga diperankan dengan apik. Dimas Aditya sebagai Pak Damar mampu membuat saya bertanya-tanya tentang kejutan yang disimpannya. Boah Sartika sebagai Uung mencuri perhatian dengan karakternya yang blak-blakan dan lucu. Memang pas memilih stand up comedian untuk peran tersebut. Bahkan tokoh Bapak yang hanya muncul di akhir juga mampu mencuri simpati dengan nasihatnya kepada Yuni.

Yuni : Kalau misalnya Yuni melakukan suatu hal yang membuat hidup Yuni jadi susah, apa Bapak masih mau mengakui Yuni sebagai anak?

Bapak : Yun, bapak ini diberi kesempatan oleh Allah untuk jadi orang tuamu itu cuma sekali ini saja. Jadi bapak akan selalu berusaha meringankan beban hidupmu. Bukan sebaliknya. Bahkan jika umur bapak pendek, sisa umur bapak, akan bapak gunakan untuk membantu kamu…

Mungkin satu-satunya yang membuat saya mengerutkan kening adalah tokoh Yoga yang diperankan oleh Kevin Ardilova. Bukan karena aktingnya kurang bagus, tapi tampilan Kevin yang berusia 23 terlihat kurang cocok memerankan anak usia kelas 1 SMA. Tapi mungkin pertimbangan pemilihan pemerannya didasarkan karena ada adegan 18++ di film ini yang dilakoni tokoh Yoga. Kurang etis memang kalau anak 15 tahun yang harus memerankannya.

Hal unik lainnya, dialog dalam film ini seluruhnya menggunakan logat Banten. Saya harus menggunakan subtitle untuk menontonnya. Tapi jangan bayangkan pengucapan dialognya dilakukan seperti pemeran FTV yang berlogat dengan stereotip, disini semua pemain terlihat lancar berbahasa Banten. Sehingga pengucapannya, paling tidak di telinga saya, mengalir layaknya native.

Penutup

Sekian sekilas review tentang film Yuni. Film coming of age pemenang Platform Prize di Festival Toronto ini bisa menjadi alternatif pilihan untuk ditonton saat me time Mamah. Bisa juga untuk bahan diskusi dengan anak-anak Mamah yang beranjak dewasa. Film berdurasi 122 menit ini bisa ditonton di platform Disney+ Hotstar. Kalau sudah nonton yuk ceritakan juga pendapat Mamah tentang film ini di kolom komentar.

Restu Eka Pratiwi
Restu Eka Pratiwi
Articles: 18

2 Comments

  1. Yey aku baru punya Disney Hotstar gratisan karena dapat dari provider internet hehe. Makasih sharingnya Restu, aku mau nonton ah. Jarang-jarang ada film Indonesia dengan tema seperti ini, menarik.

    Penasaran Bahasa Banten ini agak beda dengan Bahasa Sunda pada umumnya ya, aku lupa-lupa ingat.

  2. Wow kok bisa ya?? Kok bisa tema feminis-tradisi patriarki-gender equality begini bisa luput dari pengamatan saya??

    Makasiiy banget infonya, Restu, saya jadi tahu ada film ini. Saluut, film Indonesia makin ke sini makin mendalam topik yang diangkat.

    Bisa banget niy menjadi tontonan sekeluarga akhir pekan ini, karena di rumah juga langganan Disney Hotstar. Namun karena selama ini hanya fokus ke Netflix dan Prime, jadi gak tahu kalau ada film Indonesia bagus di Disney.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.