Mindset untuk mengatasi kecanduan

Tips Mengatasi Kecanduan

Triririt … 

Mata Mamah mendadak terbuka. Tangan Mamah langsung menggerayangi kasur maupun meja samping untuk mematikan sumber suara.

Mulanya Mamah merasa kantuk masih menggelayuti mata. Namun, setelah mengintip layar smartphone, Mamah mendadak lupa. Mulai dari buka aplikasi Instagram, emailYouTube hingga akhirnya berlalu sudah satu jam sejak Mamah baru terbangun.

Arrgh …

Sekarang Mamah jadi mengutuk benda berukuran 6 inchi itu. Dasar bikin kecanduan! Batin Mamah menjerit.

——

Apakah Mamah pernah atau sering mengalami hal di atas? Kalau ada Mamah yang mengaku tidak pernah mengalaminya, yaitu lupa waktu saat menggunakan smartphone, yuk, sini kita bertukar pikiran tentang cara mencegah kecanduan smartphone 😀

Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang mengatasi kecanduan, dalam berbagai bentuk. Waktu masih sekolah, saya pernah mengalami kecanduan membaca komik dewasa (komik yang mengandung visual dan adegan dewasa). Setelah menikah dan punya anak, saya mulai bisa terbebas dari kecanduan ini.

Saya ingin mencoba menganalisa apa hal yang menyebabkan saya bisa terlepas dari kecanduan ini. Karena tulisan ini bukan ditulis oleh seorang psikolog atau pakar otak, tinjauan yang saya lakukan lebih bersifat praktis, bukan dari dasar ilmu yang mendalam.

Fyi, ini pertama kalinya saya membahas soal hal ini secara terbuka karena saya pikir pengalaman saya mungkin bisa membantu orang lain yang sedang struggling untuk terbebas dari kecanduan.

Seperti Apa Kecanduan Itu?

Orang yang memiliki kecanduan terhadap suatu zat atau perilaku tertentu cenderung bersifat kompulsif dan terus memenuhi kecanduannya meskipun sudah mengetahui dampak buruknya. Hal ini juga diamini oleh Dr. Ashley Gearhardt, seorang associate professor of psychology di the University of Michigan dalam salah satu podcast di situs American Psychological Association. Dalam podcast berjudul “Can you be addicted to food?”, Gearhardt menjelaskan bahwa perbedaan orang yang suka dengan sesuatu dalam batas wajar dan kecanduan terletak pada tidak adanya kendali dalam mengonsumsinya. 

Orang yang kecanduan akan terus memenuhi kecanduannya dengan cara yang sama meskipun hal itu menyebabkan masalah emosional maupun fisik. Pokoknya, ada keinginan yang begitu kuat supaya kecanduan itu terpenuhi hingga pikirannya menjadi penuh karenanya. Akibatnya, hal-hal penting dalam kehidupan seseorang dengan kecanduan itu mulai bermasalah, seperti rusaknya hubungan sosial, kesehatan, bahkan menurunnya kemampuan otak untuk fokus dalam mengerjakan suatu hal.

Cara mengurangi kecanduan makanan berkalori tinggi
Kecanduan makanan junk food. Sumber: canva.com

Contoh dari pengalaman pribadi, ketika sedang gabut atau tertekan, yang saya cari adalah kepuasan dari membaca komik dewasa. Saya sengaja menyendiri di kamar atau suatu tempat sepi, lalu membuka browser dalam mode incognito. Ketika ada seseorang yang tiba-tiba menghampiri, saya buru-buru menutup halaman itu. Ada rasa bersalah, takut ketahuan, tapi ingin terus melakukannya. Itulah bagaimana saya mengidentifikasinya sebagai kecanduan.

Efeknya, saya menjadi orang yang penyendiri dan lebih suka menghindari interaksi sosial dengan orang lain. Di satu sisi, saya juga merasa bersalah dan berdosa. Saya tahu hal itu salah, tapi saya tidak bisa menghentikannya. Sebetulnya, dalam situasi seperti itu, seharusnya saya mendapat pertolongan dari ahlinya. Sayangnya, saya tidak berani membicarakan soal kecanduan ini kepada keluarga atau orang terdekat.

Bagaimana saya mengatasi kecanduan ini?

Pada akhirnya, saya berani terbuka kepada suami. Saya merasa, setelah menikah, saya perlu terbuka dengan segala situasi yang saya alami sehingga sebisa mungkin tidak ada rahasia di antara kami. Saya bersyukur, suami adalah orang yang terbuka dan solutif. Ia memberi saya banyak saran hingga didikan yang kadang dirasa strict. Namun, semua itu demi kebaikan saya.

Beberapa tahun menikah, kecanduan ini hilang secara bertahap hingga tuntas. Saya mencoba merangkum, hal apa yang benar-benar berdampak pada hilangnya kecanduan ini. Akhirnya, saya berhasil menemukan tiga rumus atau tips menghilangkan kecanduan, yaitu:

1. Memiliki kegiatan yang menguras otak, tenaga, dan membuat hati puas

Ketiga syarat itu harus kudu wajib terpenuhi. Pasalnya, kalau hanya salah satu atau salah dua yang terpenuhi, justru kecanduan itu menjadi pelampiasan karena tidak tercapainya kondisi jiwa dan raga yang benar-benar lelah dan puas.

Misalnya, ketika dulu saya kuliah, saya memang merasa lelah secara otak dan tenaga, tetapi hati saya tidak senang. Pasalnya, saat itu saya merasa setengah hati menjalani perkuliahan di jurusan yang tidak benar-benar saya senangi. Alhasil, meskipun lelah setelah kuliah, kembali lagi saya memuaskan diri dengan kecanduan itu.

Apalagi kalau hanya disibukkan oleh kegiatan yang hanya menguras otak dan hati, misalnya mengurus pasangan yang bikin capek hati. Wah, sudah dapat dipastikan ia akan cari pelampiasan yang lebih besar.

Kegiatan yang menguras otak, tenaga, dan membuat hati puas mungkin bisa dibilang passion, walaupun saya tidak sepenuhnya setuju. Pasalnya, kegiatan itu bisa saja kegiatan sehari-hari yang wajar dialami siapa saja. Bagi saya, kegiatan yang memenuhi tiga kriteria itu adalah mengurus dua anak dan ngeblog. 

Mamah tentu setuju kan kalau mengurus anak itu menguras otak, tenaga, dan membuat hati puas? Gimana tidak, seharian memasak untuk mereka, menemani main dan belajar, hingga mengejar anak balita yang aktif. Rasanya, ketika malam tiba, Mamah pasti ingin segera mengistirahatkan badan. Anehnya, ada rasa puas di hati Mamah. Our heart is full.

Kalaupun masih ada sisa tenaga, otak, atau hati yang ingin dipuaskan, Mamah dan saya mungkin cenderung memilih beres-beres rumah yang belum sempat dibersihkan selama anak masih melek atau melakukan kegiatan bermanfaat lainnya. Pokoknya, tidak ada waktu untuk kegiatan sia-sia apalagi yang mengundang rasa bersalah. Semua harus efektif dan efisien.

Jadi, inilah saran pertama saya untuk siapapun yang masih struggling dengan kecanduan: temukan kegiatan yang menguras otak, tenaga, dan membuat hati puas.

2. Jangan memulai kalau tidak ingin terjebak

Orang yang kecanduan dan memiliki kesadaran pribadi ingin melepaskan diri darinya sebetulnya sudah mencoba berbagai hal untuk mengalihkan pikiran dari keinginan untuk memenuhi kecanduannya. Namun, kadang keinginan itu terlalu besar sehingga akhirnya tetap melakukannya. Akhirnya, ia kembali terjebak dalam kecanduannya.

Saya belajar bahwa segala sesuatu yang buruk memang harus dicegah dan diatasi sedari dini juga secepat mungkin. Apabila diri ini mulai menyadari bahwa ada keinginan untuk memenuhi kecanduan, segera mengalihkan pikiran dengan banyak hal. Memang berat, tapi lebih berat untuk keluar dari kecanduan ketika sudah telanjur terjebak.

Namun, mengalihkan pikiran saja tidak cukup. Kita perlu bergerak, berpindah, atau melakukan aktivitas fisik lainnya supaya otak betul-betul lupa dengan kecanduan yang ingin dipuaskan.

3. Jangan pernah merasa aman

Ah, cuma sebentar aja kok scrolling-nya, anak-anak juga lagi anteng. Tau-tau satu jam lewat sudah dan anak-anak kedapatan lagi membongkar seluruh isi lemari hingga berantakan.

Ah, mumpung sendirian, gak ada yang bakalan nge-gap. Tau-tau ada orang masuk ke ruangan, lupa menutup laptop, atau ada yang buka histori browser.

Ah, cuma sesekali makan dessert mumpung diajak temen (padahal lagi menjalani diet rendah gula). Tau-tau habis lima potong cake.

Pemikiran rasa “aman” bisa melampiaskan kecanduan ini adalah hal yang berbahaya. Seseorang cenderung lengah dan menganggap bisa mengendalikan aktivitas kecanduannya. Kenyataannya, tidak seperti itu karena kalau sudah kecanduan, otak cenderung menjadi tidak peka dengan keadaan sekitar.

Penutup

Tiga hal di atas adalah kunci utama dari dalam diri untuk melepaskan kecanduan, meskipun masih banyak hal lainnya yang harus dilakukan, seperti membangun kedekatan dengan Tuhan YME, membuka diri dengan lingkungan sekitar, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang-orang tersayang. Namun, apabila kecanduan ini sudah mengganggu kehidupan Mamah secara umum, segera berkonsultasi dengan ahlinya, ya.

Yuk, Mah, lindungi diri kita dan keluarga dari kecanduan. Apabila sudah telanjur, silakan coba praktikkan tips-tips di atas untuk mengatasinya. Apakah Mamah punya tips lainnya seputar mengatasi kecanduan? Mari berbagi di kolom komentar 🙂

Ilma Purnomo
Ilma Purnomo
Articles: 1

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: