Hari – Hari Pantang Menyerah Seorang Ibu

Tentang Never Give Up Day

Pada 17 Agustus 2012 seorang perenang Perancis bernama Philippe Croizon berhasil menyelesaikan tantangan menyeberangi selat dan laut yang menghubungkan berbagai benua. Menyeberangi perbatasan antara Papua Nugini (Oceania) dan Indonesia (Asia) yang ada di laut selatan Pulau New Guinea, Laut Merah yang menghubungkan Asia dan Afrika, Selat Gibraltar yang menghubungkan Afrika dan Eropa, serta Selat Bering yang menghubungkan Asia dan Amerika. Beberapa orang di dunia tentu telah berhasil menyelesaikan tantangan yang sama, akan tetapi pencapaian Croizon menjadi lebih istimewa karena dia tidak memiliki tangan. Kedua tangannya diamputasi hingga lengan karena tersengat listrik saat bekerja.

Phillipe Croizon setelah berhasil menyeberangi selat bering selama 1 Jam 20 menit di air sedingin 4 derajat celcius
(Sumber : www.europe1.fr)

Terinspirasi oleh kisah Phillipe Croizon, pada tahun 2019 kota Knokke – Heist di Belgia menginisiasi Never Give Up Day ‘Hari Pantang Menyerah’ yang dirayakan setiap tanggal 18 Agustus. Tahun setelahnya Never Give Up Day mulai dirayakan secara internasional. Fokus utama dari Never Give Up Day adalah tentang menumbuhkan pola pikir untuk membentuk tekad yang membantu kita melewati tantangan sesulit apapun dalam kehidupan.

It always seems impossible, until it’s done.

Nelson Mandela

Merayakan Hari Pantang Menyerah Tahun 2021

Terus terang saya baru mendengar mengenai Never Give Up Day. Selain karena peringatannya baru diinisiasi, saya juga tidak pernah berpikir bahwa pantang menyerah harus dirayakan dalam satu hari khusus. Bukankah kita memang diperintahkan, diajarkan, dan dianjurkan untuk tidak mudah menyerah setiap hari? Tapi setelah saya pikir ulang, merayakan hari pantang menyerah mungkin ada manfaatnya juga. Pada hari itu kita bisa secara khusus mendengarkan kisah perjuangan mereka – mereka yang diberikan tantangan lebih dalam hidup dan merayakan keberhasilan mereka untuk tidak menyerah melewati tantangan tersebut. Pemilik kisah bisa mendapatkan tambahan semangat karena usaha kerasnya didengar dan diakui, sementara pendengar bisa mendapatkan inspirasi untuk melewati tantangan dalam hidupnya sendiri.

Logo Tidak Resmi dari Never Give Up Day
(Sumber : www.mrnevergiveup.com)

Mengambil bagian untuk merayakan Never Give Up Day di Tahun 2021, saya ingin membagikan kisah perjuangan salah satu teman saya, Sheetavia Ennyra, dan tentunya keluarganya, dalam membesarkan anaknya yang autis. Nyra begitu saya memanggilnya adalah teman saya saat kuliah sarjana. Dalam beberapa kesempatan, saya sudah pernah mendengar sekelumit kisahnya akan tapi belum pernah mendengarkan ceritanya secara lebih lengkap. Yuk disimak kisah Ennyra dalam wawancara saya dengannya berikut ini Mah. Siapa tau bisa memberikan inspirasi bagi Mamah – mamah yang sedang menghadapi masalah yang sama atau memberikan semangat pada Mamah – mamah dengan segala pelik permasalahan hidup ini 🙂

Tentang Kakak dan Autisme

Putra pertama Ennyra, yang biasa dipanggil dengan sebutan Kakak, didiagnosis dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) atau Anak dengan Spektrum Autis pada usia 3 tahun. Berikut adalah hasil wawancara saya dengan Ennyra terkait kondisi Kakak, yang saat ini sudah berusia 9 tahun, serta perjuangan dalam merawat dan membesarkannya.

Autism spectrum disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan yang dapat menyebabkan permasalahan yang signifikan dalam kemampuan untuk bersosialisasi, berkomunikasi, dan berperilaku.

– Centers for Disease Control and Prevention USA –

Apakah Autisme itu suatu penyakit? Apa penyebabnya?

Sampai saat ini penyebab autisme masih belum jelas ya. Autisme itu bukan penyakit, jadi mereka (anak autis) tidak bisa disebut sebagai penderita. Sudah hadiah dari Tuhan mereka memiliki otak yang berbeda dengan anak pada umumnya.

Beberapa Anak dengan Spektrum Autis sangat dominan otak kanannya. Karena otak kiri mengatur perilaku, kesadaran, komunikasi, dan sebagainya, maka anak – anak dengan otak kanan yang dominan ini cenderung memiliki perilaku “tidak normal”. Oleh karena itu sering kita lihat ada anak autis yang sangat jenius tapi perilakunya masih seperti anak TK. 

Banyak anak autis yang memiliki kemampuan berpikir yang outstanding. Jauh di atas kemampuan anak – anak normal yang seimbang otak kanan kirinya. Ada anak autis yang bisa menghitung di luar kepala seperti kalkulator atau punya photographic memory (langsung hapal dengan detail apa yang dia lihat atau baca). Pada umumnya para penemu, ilmuwan, seniman, atau artis brilian dengan karya yang tersohor didiagnosis dengan asperger syndrome (sekarang asperger syndrome dikategorikan dalam autisme). Misalnya saja Leonardo Da Vinci, sang pelukis Monalisa dan The Last Supper, yang membedah 30 mayat untuk dipelajari dan digambar anatominya agar hasil lukisannya terlihat “hidup”. Orang – orang ini, bagi orang-orang normal, perilaku dan pemikirannya aneh dan nyeleneh banget kan ya?   

Lukisan Monalisa hasil karya Leonardo Da Vinci.
Seniman kenamaan jaman Renaissance ini diduga memiliki asperger syndrome.
(Sumber : Free-Photos from Pixabay)

Nah, tapi tidak semua anak autis disebabkan karena otak kanannya yang jauh lebih dominan. Banyak kasus autisme yang sampai saat ini masih menjadi misteri dan terus diteliti. Misalnya anak autis yang mengalami sensory overload di indera pendengaran (telinga). Jaman dulu kita suka nonton serial Heroes atau Superman kan ya? Di serial itu ada tokoh yang bisa mendengar dengan jelas suara yang super halus, misalnya goresan pensil di atas kertas dari kamar sebelah. Masih ingat tidak betapa puyeng-nya si tokoh dengan kemampuannya itu? Karena bisa mendengar semua hal yang tidak ingin dia dengar. Atau anak yang mengalami sensory overload di indera peraba (kulit). Tetesan hujan terasa bagai tusukan jarum, sementara bulu halus dari bahan baju terasa bagai silet yang mengiris. Seperti itulah anak autis dengan sensory overload. Saking sensitifnya mereka dengan semua hal yang terjadi di sekitar mereka, dunia ini jadi terlalu ramai di kepala mereka. Akibatnya, mereka sangat kebingungan memberikan respon kepada lingkungannya.

Masalah perilaku anak autis juga bisa disebabkan oleh alergi makanan. Jenis makanan tertentu, umumnya gluten, soya dan casein, bisa menjadi seperti morfin untuk anak autis. Banyak anak – anak autis yang seperti orang kecanduan, tertawa dan menangis tanpa sebab, tidak merasa sakit sedikit pun walaupun sudah berdarah – darah, hiperaktif, mengalami gangguan tidur, dan gangguan perilaku lainnya sebagai reaksi dari alergi makanan.

Anak autis juga banyak yang bermasalah dengan pencernaan. Ada yang mengalami konstipasi berat, diare berat, dan lain sebagainya.

Masih ada banyak lagi kondisi anak autis dengan segala permasalahannya yang unik dan rumit. Kalau disebutkan mungkin bisa jadi satu buku sendiri ya. Dengan masalah sekompleks dan seunik itu rasanya misteri mengenai penyebab autisme sepertinya tidak akan pernah terpecahkan.

Usia berapa diagnosis Kakak tegak? Hal apa yang Nyra sadari dari Kakak sehingga Nyra membawa dia untuk  screening autisme? Bagaimana Nyra dan keluarga menyikapi diagnosis Autisme Kakak?

Diagnosis Kakak tegak di usia 3 tahun. Sebelum diagnosis itu tegak, aku harus melalui perdebatan panjang dengan suami dan kakak ipar yang seorang dokter anak. Hal paling berat saat itu adalah meyakinkan mereka kalau ada sesuatu yang salah dengan Kakak. Karena aku kan ibunya, yang merawat dia setiap hari. Walau memiliki Kakak adalah pengalaman pertama aku sebagai seorang ibu, tapi naluri ibu itu kuat. Pasti tahu ada yang salah dengan anak – anaknya.

Wajar saja sebenarnya suami dan kakak ipar bersikeras bahwa Kakak baik – baik saja. Kakak bisa bicara. Dalam artian dia bisa bernyanyi, menyebutkan nama benda, serta hapal percakapan yang dia tonton/lihat. Tapi ternyata bisa bicara itu belum tentu pertanda bisa berkomunikasi. Sementara tidak bisa berkomunikasi adalah satu ciri khas dari anak autis.

Kakak juga lebih pintar dari anak seusianya. Misalnya saat usianya 1.5 tahun ia sudah hapal huruf angka. Bahkan jika angkanya dibolak balik pun dia bisa menyebutkan dengan benar. Anaknya juga kreatif dan masih bersikap heboh saat main sama ayah dan sepupunya. Karena itu suami dan kakak ipar berpendapat Kakak tidak memiliki masalah dalam kemampuan sosialnya. Padahal ketidakmampuan untuk bersosialisasi adalah salah satu ciri anak autis.

Aku mulai menyadari ada hal yang salah dengan Kakak saat usianya menginjak 2 tahun. Saat itu perkembangannya mengalami kemunduran. Kontak mata berkurang bahkan sampai tidak ada sama sekali. Kemampuan bicaranya juga mengalami kemunduran signifikan. Anaknya juga jadi hiperaktif sekali, sering baru tidur di jam 3 pagi. Mulai tidak berinteraksi secara sosial, tertawa dan menangis tanpa sebab, dan sering melakukan aktivitas berulang, seperti memutari kolam ikan seharian. Paling sulit adalah Kakak tidak mengenal rasa capek atau sakit. Sungguh sebagai ibu aku capek lahir batin mengurus anakku ini. Dia seperti bukan anakku lagi. Bagaikan alien dari luar angkasa yang aku tidak tahu maunya apa dan bagaimana cara mengasuhnya.  

Di masa awal setelah diagnosis Kakak tegak, yang paling sering nangis – nangis ya mertuaku. Saat itu mereka masih menganggap anakku baik-baik saja dan tidak terima cucunya diterapi bersama dengan anak – anak berkebutuhan khusus lainnya. Memang sungguh menyedihkan sih melihat kondisi anak – anak lain di tempat terapi. Melihat mereka sepertinya tidak ada harapan kalau Kakak bisa membaik. Untungnya orang tuaku sendiri bisa menerima kondisi kakak dengan lebih legowo. Mereka mendukung untuk Kakak lebih cepat mendapat penanganan yang baik agar kondisinya juga bisa semakin baik.

Apa treatment yang disarankan oleh dokter untuk Kakak dan bagaimana Nyra serta keluarga menjalaninya?

Usaha yang kami lakukan untuk treatment Kakak :

  • Terapi. Kami pilih terapi full day karena aku harus kerja. Belum tau rencana selanjutnya saat aku sudah tidak harus kerja lagi. Di tempat terapi Kakak mendapatkan pengajaran lengkap, mulai dari materi akademik, terapi Applied Behaviour Analysis (ABA), materi agama, dan materi perilaku. Akan tetapi, walaupun sudah terbantu dengan terapi full day, tetap saja di rumah kami berusaha keras untuk memberikan terapi tambahan dan mengarahkan kakak untuk kegiatan sehari – hari di rumah.
  • Diet ketat : gluten free, casein free, soy free, sugar free dan phenol free. Phenol free ini yang paling sulit, karena banyak sayur, buah dan bumbu yang membuat Kakak alergi. Bertahun – tahun ini kami memasak makanan Kakak hanya dengan bawang putih, bawang bombay, garam Himalaya, lengkuas, daun bawang, dan seledri. Itupun setiap hari harus dirotasi. Buah dan sayur yang tidak mengandung phenol juga sangat terbatas. Untuk buah Kakak hanya bisa makan jambu biji putih, naga putih, markisa, kedondong, buah tin, cermin, jambu air, bengkuang. Setelah diet ketat pun masih harus diobservasi lagi hal apa dari buah buah tersebut yang membuat Kakak alergi.
  • Rotasi makanan. Makanan yang sama tidak boleh diberikan minimal dalam jangka waktu 4 hari.
  • Menjaga kesegaran bahan makanan. Dulu Kakak sempat punya isu gangguan enzim methylase. Nah, selain pantangan jenis makanan, bahan makanan Kakak juga harus selalu segar. Tidak boleh masuk freezer terlebih dahulu. Gawat banget kan? Dulu aku setiap subuh mesti, kudu, harus belanja ke pasar cari ikan segar untuk Kakak sesuai dengan jadwal rotasi makanan dia hari itu.
  • Memasak dan menggunakan alat makan yang tidak mengandung logam. Kalaupun harus pakai sendok logam, mesti dicari yang kualitas stainless-nya bagus. Karena salah satu isu besar dari anak autis adalah tubuhnya banyak terkontaminasi logam berat.
  • Suplemen tambahan. Suplemen Kakak terdiri atas suplemen pengganti diet, suplemen untuk merangsang perbaikan impuls otak, suplemen untuk meningkatkan metabolisme tubuh, serta suplemen untuk kesehatan pencernaan. Kalsium, magnesium, p5p, vit D, omega 3, L-carnitice, zinc. Semua harus dipastikan gluten free, casein free, soy free, sugar free, dan phenol free. Masing – masing anak autis berbeda treatment suplemennya tergantung kondisi biomedisnya. Dari seluruh suplemen yang direkomendasikan dokter juga belum semuanya kami berikan ke Kakak. Soalnya banyak banget jenisnya. Uang yang diperlukan untuk belinya juga tidak sedikit kan ya 😅
  • Membiasakan Kakak untuk mandiri. Seperti sudah disampaikan sebelumnya, walaupun dia sudah dapat terapi di tempat terapi, tapi di rumah kami juga secara intensif membiasakan Kakak untuk mandiri dan mengajarkan hal-hal baru setiap harinya.

Kalau ada yang bertanya – tanya kenapa urusan diet dan makanan Kakak harus seketat itu, itu karena kalau dia sudah salah makan perilakunya langsung jadi error dan terapinya bisa jadi terganggu. Jadi terpaksa kami harus menuruti diet yang ketat itu huhu!

Bagaimana kondisi anak Nyra saat ini? Perkembangan apa yang paling signifikan?

Satu hal yang aku pegang dari dulu :

Aku akan memperlakukan Kakak seakan – akan dia anak normal. Aku ajari mengaji, salat berjamaah di masjid, membaca, dan sebagainya. Walaupun nampak tidak ada harapan, ya tidak masalah. Tetap harus selalu diajarkan. Meskipun mungkin entah baru sebulan lagi, setahun lagi, atau bertahun-tahun lagi dia baru bisa. Atau malah mungkin tidak akan pernah bisa sekalipun, aku enggak peduli.

– Sheetavia Ennyra –

Perjuangannya memang sangat berat, tapi mulai menampakkan hasil. Kami berhasil mengajari dia memakai sendal dengan tertib baru setelah 7 tahun lamanya mengajari tanpa henti. Sampai umur 9 tahun dia belum juga bisa menggunting pola dengan benar.

Tapi Alhmdulillah, Kakak secara akademik mulai memperlihatkan kemajuan yang baik. Saat ini kemampuannya sudah setara dengan anak SD kelas 1. Sudah mulai banyak hapalan juz amma-nya, sudah tertib solat berjamaah, sudah hapal banyak doa dan hapal semua bacaan solat, sudah bisa main sepeda, main sepatu roda, sudah mulai bisa melempar bola walau masih lemah, sudah ngaji di iqro’ 2 dan sebagainya.

Receh ya?

Buat orang lain mungkin receh, tapi bagi kami itu pencapaian yang luar biasa. Karena effort yang harus dikeluarkan juga luar biasa. Karenanya kami sangat mengapresiasi kemajuan yang diperlihatkan oleh Kakak sebagaimanapun kecilnya.

Slow progress is still progress

– Megan Auman –

Bagaimana autisme mempengaruhi kehidupan Nyra dan keluarga?

Kalau anak kami tidak dianugerahi dengan autisme, mungkin aku tidak akan jadi setangguh ini ya. Mungkin juga kami tidak bisa relate dan berempati pada keluarga yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Setahu aku Nyra juga menderita GERD dan anxiety. Boleh diceritakan perjuangan Nyra merawat anak dengan autisme sekaligus berjuang melawan penyakit kronis?

Berat banget. Aku sendiri tidak bisa handle kondisi aku sendiri sebetulnya. Tapi, Kakak sih yang selalu menjadi penguat aku untuk terus bangkit. Berjuang supaya sembuh.

Sebelum memiliki anak dengan autisme apakah Nyra punya pengalaman dengan autisme sebelumnya?

Kebetulan di kantor aku ditugasi mengurus kesehatan karyawan dan keluarga. Salah satunya mengurus reimburse terapi anak autis. Jadi ya karenanya sedikit banyak sudah punya channel terapi dan mempelajari ciri-ciri anak autis.

Apakah Nyra pernah menyerah? Pernah merasa mencapai titik terendah? Jika pernah kapankah itu?

Ngedumel sih sering, tapi menyerah tidak pernah dan semoga tidak akan pernah masuk dalam kamus kami. Kita kan cuma disuruh untuk berusaha dengan maksimal, hasilnya biar Tuhan yang menentukan.

Aku dulu sempat beberapa kali down saat liat anak-anak lain dengan kondisi yang lebih parah dari Kakak tapi menunjukkan perkembangan dan perbaikan yang sangat signifikan. Bahkan beberapa sudah seperti anak normal. Merasa down karena melihat orang tuanya tidak berupaya sekuat aku untuk anaknya. Misal anaknya tidak diet ketat dan hanya terapi sebentar. Tapi akhirnya aku sadar, hasil itu kan hak prerogatif Tuhan kan ya. Jalannya aku masih disuruh untuk terus belajar sabar dan syukur. 

Merawat anak dengan autisme adalah hal yang berat. Bagaimana Nyra menyemangati diri sendiri dan keluarga untuk terus maju dan tidak menyerah?

Iya betul, sangat berat. Sampai saat ini aku masih kelimpungan mengurus Kakak. Dia tidak punya tujuan hidup setiap harinya, jadi semua harus diarahkan. Sejak dia bangun sampai tidur lagi, aku harus mengarahkan kegiatannya dan mengajarinya dengan telaten. Sedangkan kita sendiri punya banyak hal yang harus dikerjakan kan ya. Misal, dalam hal mandi saja, sampai sekarang usianya menginjak 9 tahun, mandinya masih harus ditunggui dan diberi instruksi step by step-nya. Kalau ditinggal dia cuma ngelamun di kamar mandi. Ya, bayangkan kalau semua hal harus diinstruksikan dan diarahkan, sungguh sangat rempong sekali hidup kami setiap harinya kan ya.

Yang gampang ngeluh itu aku. Orang tua dan suami tidak pernah mengeluh. Mereka penyemangat buat aku. Mungkin karena suamiku dokter yang setiap hari berkutat dengan hidup mati orang dan sering melihat begitu banyak pasien anak-anak dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Jadi dia selalu bersyukur Kakak selalu sehat dan bahagia melihat sekecil apapun perkembangannya. Orang tuaku sendiri juga memberikan support penuh dan tidak pernah malu dengan kondisi cucunya. Mereka paling rajin berusaha mencari pengobatan atau terapi alternatif selain terapi biomedis yang kami lakukan. Support dan doa tanpa henti dari keluarga membuat kami kuat.

Momen apa yang paling berkesan buat Nyra selama menjadi orang tua dari anak dengan autisme?

Saat setiap hari memandang wajah tak berdosanya, seakan aku dan suami punya privilege jalan menuju surga yang tidak dimiliki orang tua lainnya. Anak autis ini sungguh unik. Kami jadi belajar betapa Maha Kuasa Tuhan itu menciptakan manusia dengan kondisi serumit itu. Hal ini tentu tidak akan kami sadari kalau anak kami normal. Kemampuan sehari – hari yang bagi orang normal adalah given ternyata harus diperjuangkan oleh orang yang ditakdirkan berbeda.

Misalnya anak kedua aku. Tahu – tahu umur 2 tahun dia udah mengomel cas cis cus. Kalau aku hanya dikaruniai anak normal seperti Adek, aku mungkin tidak akan pernah sadar betapa rumit, kompleks dan harmonisnya tubuh kita ini bekerja. Aku butuh waktu tahunan untuk mengajarkan Kakak mengungkapkan keinginannya, perasaannya, pikirannya, dan lain – lain dalam bentuk kata – kata dan ekspresi. Sampai sekarang, dari hasil terapi mulai usia 3 tahun sampai 9 tahun, Kakak hanya mampu menyampaikan tiga hal : “Kakak mau pipis”, “Kakak mau hape“, “Kakak mau makan”. Bahkan ketika ditanya yang lain pun dia akan jawab dengan jawaban 3 kalimat itu. Lucu kan? 😂  Kakak membuatku tidak boleh berhenti belajar dan belajar.    

Apa pesan dari Nyra untuk orang tua yang anaknya baru didiagnosa dengan autisme?

Sedih aku tuh, kalau bisa stop di Kakak saja yang jadi anak autis. Tapi tidak bisa dipungkiri ya, semakin ke sini kasus autisme naik signifikan. Banyak orang tua yang tidak terbuka tentang anaknya. Cenderung malu atau menyembunyikan. Padahal pengakuan atas kondisi anak adalah hal pertama yang perlu dilakukan agar selanjutnya orang tua bisa mencari treatment yang tepat untuk anaknya.

Semakin cepat mendapatkan bantuan semakin cepat anaknya bisa membaik. Selain itu pesan aku adalah jangan saling menyalahkan. Autisme bukan salah siapa – siapa. Terakhir, jalan ke depan akan berat dan panjang. Tapi usaha tidak akan mengkhianati hasil. Terus semangat untuk berusaha dan tentu saja jangan lupa terus berdoa. Ke depan pasti ada jalannya.

Penutup

Menurut Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, diperkirakan terdapat 2,4 juta anak didiagnosis dengan autisme di Indonesia dengan laju pertambahan 500 orang/tahun. Jumlah ini mungkin lebih besar lagi karena tidak semua orang memiliki akses ke ahli yang dapat mendiagnosis anak autis.

Ilustrasi Parenthood
(Sumber : Photo by Liane Metzler on Unsplash)

Autisme memang belum diketahui penyebabnya, akan tetapi dari kisah Ennyra diatas, bukan berarti tidak ada jalan untuk membesarkan anak autis. Jalan yang harus dilalui pastinya lebih berat dan berliku daripada yang harus dilalui oleh orang tua anak yang normal, akan tetapi bukan berarti tidak bisa dilalui sama sekali. Bagaimanapun menjadi orang tua adalah sebuah perjuangan dan tekad yang kuat bisa mengalahkan segalanya.

Salam semangat untuk seluruh orang tua dengan perjuangannya masing – masing. Give yourself a pat on your back, lots of praises and rewards. Setelah semua hal yang diusahakan dan dilakukan, mari kita rayakan keberhasilan kita untuk tidak menyerah dengan Never Give Up Day tahun ini.

Default image
Restu Eka Pratiwi
Articles: 4

9 Comments

  1. Baru tau ada Never Give Up Day. Aku terharu membaca kisah mbak Nyra. Makasih udah berbagi cerita dan tentu juga makasih mbak Restu yang sudah menuliskannya. Buat mamah yang lain, yuk kita juga semangat dan never give up, bukan cuma di hari ini saja tapi di hari-hari selanjutnya juga.

  2. Baca kisahnya Nyra aku kayak membaca tentang keponakan aku yang juga ASD (plus beberapa diagnosis lainnya). Umurnya 10 tahun, kurang-lebih sebaya dengan Kakak. Ciri-cirinya juga mirip: suka ketawa tanpa sebab, minimnya kontak mata, kemampuan bicara dan berkomunikasi yang amat rendah, dan tidak mengenal rasa sakit (baru-baru ini aja dia merasa kalau disuntik itu sakit, sebelumnya mah dia gak ngerasa ada jarum menusuk kulit).

    Perkembangannya sekarang masih seperti anak balita: baru bisa bilang “mau”, “gak”, dan “acih” (terima kasih); baru mengerti instruksi sederhana (peluuuk, sayang, makan, dsb.); masih lagi potty training; dan tahapan perkembangan lainnya yang menyerupai anak balita. Anakku yang 7 tahun sampai ngira dia adik (usianya lebih muda dari dia), padahal sebenernya seumuran sama kakaknya (anakku yang pertama).

    Baca tentang ngajarin pakai sendal pun bikin aku inget adikku. Ngajarinnya pun bertahun-tahun, sampai akhirnya alhamdulillah berhasil.

    Nyra tetap semangat yaaa…. Kemajuan Kakak jauh lebih baik dari keponakan aku. Aku ngerti dan bisa relate banget dengan rasa kewalahan yang kadang menerpa. Aku kadang melihatnya di adikku.

    Insyaallah ke depannya akan lebih baik lagi. The best is yet to come 😊

    Btw, sayur apa yang phenol free? Oiya, kenapa makanan harus dirotasi minimum 4 hari? Barangkali aku bisa meneruskan infonya ke adikku. Makasiiiiih… dan peluk hangat untuk Nyra dan Kakak 🤗🤗

  3. Dulu waktu masih mahasiswa aku gampang give up keknya hehehe. 10 tahun menjalani rumah tangga dan punya anak2 memang mengajarkan bahwa emak demi keberlangsungan anaknya itu akan punya kekuatan ekstra untuk menjadi setegar batu karang meskipun dia tadinya bermental selembut tahu sutra 💪

    Semangat buat semua ibu pejuang. Tuhan menguatkan kita semua 🙏

  4. Baru tahu juga ada Never Give Up Day. Ngomong-ngomong ttg autisme, keponakan saya ada yg autistik non verbal dan udah dewasa. Ibunya (adik saya) ya masih berjuang tak kenal lelah smp sekarang untuk mendampingi putranya. Baca kisah teh Nyra salut banget. Bener-bener engga boleh menyerah…Semangat Teh…

  5. Jadi ingat dulu Dian Sastro pernah cerita juga tentang putranya yang diduga punya spektrum autisme, tapi suami dan keluarganya menganggap anaknya normal juga. Sama seperti teh Nyra, insting seorang ibunya lebih kuat, dikuat-kuatin mulai dari ke dokter sampai terapi sendiri dan akhirnya tidak perlu diterapi lagi saat masuk SD.

    Baik teh Nyra maupun mbak DiSas, cocok dijadikan sebagai bagian Never Give Up Day.

  6. Rasanya kmrn dah komen 😅
    Hebat perjuangannya, teh Nyra.

    Salah satu alasan seorang ibu menjadi kuat adalah keinginannya melindungi anaknya 💪

    Semangat berjuang semua ibu. Tuhan mampukan kita semua untuk never give up memperjuangkan yang terbaik bagi anak-anak kita ❤

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: