JSR, Pola Hidup Sehat Bermanfaat

Hi mah, kali ini saya mau berbagi tentang pengalaman saya menjalani pola JSR, yang merupakan singkatan dari “Jurus Sehat Rakyat” atau yang dulu lebih dikenal Jurus Sehat Rasulullah (sebelum diprotes netizen di laman Instagram sang penggagas).

JSR adalah sebuah pola holistic living yang menyeimbangkan antara kesehatan jiwa/qolbu, pikiran, dan raga. Pada pola ini kesehatan raga dicapai dengan memberikan asupan makanan yang baik dan sesuai dengan fitrah tubuh. Singkatan ini populer di laman instagram dr. Zaidul Akbar, seorang dokter yang dulunya berpraktek di Rumah Sakit namun kini fokus pada dakwah hidup sehat di laman daring media sosialnya dan kajian luring di masjid-masjid.

Saat ini sudah ada 2 buku yang ditulis mengenai JSR dan berdasarkan testimoni yang telah menjalankan, kesehatan mereka menjadi membaik dan hidup mereka lebih berkualitas. Bahkan banyak yang selama ini kesulitan untuk hamil atau sedang menjalani program hamil berhasil mendapatkan momongan berkat gaya hidup ala JSR ini. 

Perjalanan Mengenal JSR

Kali ini saya akan fokus membahas pola makannya dan bagaimana manfaatnya yang saya rasakan, bahkan membantu saya menurunkan berat badan sekitar 20 kg dalam waktu 2 tahun serta menyembuhkan penyakit lambung saya serta alergi yang suami saya rasakan.

Perjalanan saya mengenal JSR dimulai sejak mengalami sakit lambung parah yang saya pikir adalah maag biasa. Tapi jadi berubah serius, ketika setiap bangun pagi hari saat saya mau ambil wudhu untuk sholat subuh, saya membuang ludah ada darah. Selain itu saya mengalami batuk kering tanpa sebab dan kondisi ini berjalan lama.

Saya kemudian menjadi pasien tetap ke dokter internist setiap minggu dan hasil endoscopy menyatakan saya GERD dan sariawan lambung namun bukan karena bakteri H. Pylori. Dokter saya dulu meresepkan Ranitidine dan Sucralfate yang harus dikonsumsi setiap hari.

Seiring waktu saya tidak merasakan perubahan sehingga dokter meningkatkan resep ke Lansoprazole dan Sucralfate. Setelah 3 bulan menjalani perawatan saya merasa khawatir dengan anak yang baru lahir karena saya memberikan ASI eksklusif. Menurut artikel serta cerita para pasien GERD seperti saya di luar negeri, obat lambung bisa memiliki efek negatif jangka panjang. Khawatir dengan efek jangka panjang obat dan pengaruhnya ke ASI, saat itulah saya diperkenalkan pola JSR ini oleh teman saya.

Sebagai seorang yang bisa dibilang cukup cuek dengan trend diet tertentu, saya tidak begitu menggubrisnya. Tapi kondisi membuat saya merasa mulai putus asa karena sepertinya tidak ada jalan keluar selain saya terus harus mengkonsumsi obat, namun saat itu pola makan tidak saya ubah. Satu – satunya yang saya stop hanyalah makan sambel saja (hiks). Akhirnya sayapun mempelajari pola JSR ini. 

Pola Makan JSR

Pola JSR mengacu pada apa yang dijalani Nabi Muhammad dulu (dari situlah nama Jurus Sehat Rasulullah berasal). Prinsipnya adalah memakan makanan yang bersahabat bagi tubuh dan makan untuk tubuh bisa sehat agar lancar beribadah atau “makan untuk hidup”, bukan hidup untuk makan (yang perbedaannya besar banget). Selain itu menerapkan gaya hidup aktif berolahraga, istirahat yang cukup dengan timing yang tepat, serta perbanyak ibadah.

Saat itu yang menarik untuk saya adalah penggunaan rimpang-rimpangan untuk pengobatan dan madu serta kurma yang menjadi asupan harian. Penggunaan bahan-bahan ini dipercaya ampuh mengaktifasi imunitas tubuh sehingga tubuh bisa memperbaiki kerusakan yang terjadi. Bukan seperti metode medis menggunakan obat kimia yang hanya gejalanya dihentikan namun belum tentu melakukan perbaikan di dalamnya.

 Berikut ini pola yang saya jalani yaitu: 

  1. Pagi hari minum 1 gelas  air hangat, madu asli 2 sdm, dan jeruk nipis 1 buah. 
  2. 30 menit kemudian makan buah/kurma.
  3. Jika masih lapar sepanjang pagi makan buah saja atau sayur atau jus sayur, atau minum air putih. Untuk yang tidak menyusui atau hamil maka tidak makan apapun selain buah atau sayur hingga makan siang tiba. Saya sendiri waktu itu lanjut sarapan kukusan/rebusan ubi, singkong, atau labu kuning. Kadang saya makan telur rebus, atau sarapan oatmeal tanpa susu sapi. 
  4. Makan siang : nasi merah, sayur, serta lauk yang diolah tanpa gorengan. Variasi makanan saya biasanya sop, soto, pesmol tanpa goreng, bakar, kukus, rebus. Lauk saya berkisar antara ikan, ayam herbal/kampung (tidak konsumsi ayam biasa karena menghindari obat-obatan di dagingnya), daging kambing, telur ayam kampung, tempe organik (saya bikin sendiri). 
  5. Sore hari minum infused water yang digilir isiannya setiap hari dengan pola: hari 1 rempah, hari 2 buah, hari 3 sayur. Lalu 30 menit kemudian makan snack sore berupa buah atau rebusan lagi.
  6. Makan malam seperti makan siang.
  7. Berhenti makan maksimal jam 8.
  8. Jika malam masih lapar saya akan makan buah saja.
  9. Malam sebelum tidur minum teh rempah/empon-empon.

Untuk yang bisa, sangat dianjurkan sering puasa karena ini lebih baik untuk membersihkan tubuh dari zat yang tidak dibutuhkan.

Adapun pantangan yang saya lakukan:

  1. Menghindari makanan olahan/pabrikan, berpengawet, bahan sintetis, dan berpenyedap. Termasuk daging olahan, saus dan kecap. Kecap diganti organik, saus bikin sendiri (saat rajin aja hahaha).
  2. Tidak makan gula putih dan turunannya. Saya ganti gula aren atau kelapa.
  3. Mengganti minyak sawit dengan minyak kelapa/VCO. Konsumsi minyak Zaitun Murni /Extra Virgin Olive Oil.
  4. Tidak makan tepung terigu dan turunannya (atau Gluten Free). Ganti dengan tepung mocaf/singkong, tapioka, beras.
  5. Tidak makan cokelat (ini meningkatkan asam lambung)
  6. Tidak minum susu sapi dan olahannya termasuk keju. Ganti dengan susu kambing jika ingin konsumsi susu atau susu plant based.
  7. Tidak makan santan matang dan instan. Jika ingin makan santan saya akan bikin santan sendiri dan memasukkan santan saat masakan sudah matang dan diaduk sebentar (bye bye nasi Padang)
  8. Puasa gorengan. Apapun yang digoreng saya tidak makan.
  9. Tidak makan nasi putih. Hanya nasi merah atau oatmeal.
  10. Tidak makan daging sapi.
  11. Tidak makan tempe dan tahu yang dijual di pasar karena menghindari kedelai GMO.
  12. Beli buah lokal saja.
  13. Tidak makan garam meja. Gantinya yaitu garam laut atau gunung.
  14. Tidak minum soda, kopi, dan teh biasa.
  15. Sebisa mungkin rendam sayur dengan garam, atau beli sayur organik/hidroponik.

Prinsipnya buat saya ini bukanlah diet karena saya tidak mengurangi porsi atau menghitung kalori sama sekali. Saya makan seperti biasa namun isinya diganti. Itu saja.

Manfaat Setelah Menerapkan Pola JSR

Pola ini saya jalani sejak 2019 pertengahan. Sejak itu saya sangat jarang konsumsi obat lambung lagi  Alhamdulillah di 2021 saya endoscopy sudah tidak ada sariawan lambung lagi dan GERD sudah membaik namun masih perlu penyembuhan tambahan yang ternyata harus diobati di psikiater. Sejak menjalani pola itu saya merasakan kualitas hidup yang lebih baik, energi saya membaik dan bonusnya: berat saya dari 72kg turun jadi 48kg. Sungguh bonus yang menyenangkan!

Suami saya ajak menjalani juga dan dia merasakan alergi dinginnya menghilang dan timbangannya pun turun namun tidak sebanyak saya. Alhamdulillah dia cocok dan suka dengan pola ini. Apalagi dia juga dulu sama seperti saya yang prinsipnya makan tanpa pantangan apapun asalkan terjaga keseimbangan gizinya serta olahraga.

Pola makan ini juga bisa kita terapkan ke si kecil lho mah. Saya sendiri menerapkan ke anak dan kesehatannya alhamdulillah terjaga dengan baik. Manfaat yang saya dan keluarga rasakan juga adalah ketika sakit maka kami tidak membutuhkan waktu lama untuk pulih. Cukup istirahat, minum rempah, tubuh membangun kembali sel yang rusak dan imun tubuh bekerja melawan inflamasi. Selama menjalankan pola ini keluarga jarang tersentuh intervensi obat medis kecuali memang sangat darurat dan berat.

Walaupun prinsip JSR ini mengikuti apa yang diajarkan di Al Qur’an tentang makanan, polanya bisa diterapkan oleh siapapun karena ramah untuk tubuh dan back to nature yang sebenarnya. Untuk mamah yang penasaran lebih lengkapnya bisa cek laman IG dr. Zaidul Akbar atau kanal youtube beliau. Di situ ada video-video pendek tentang pola kesehatan dan bahkan terkadang ada resep juga. 

Apakah mamah ingin mencobanya? Atau ada yang sudah merasakan manfaatnya juga? Salam sehat selalu, mah!

Patricia Herdita
Patricia Herdita
Articles: 4

10 Comments

    • Tehh punten baru jawab.
      Dulu mah ga berat teh karena udah desperate banget mau sembuh.. Jadi aku jalanin tanpa tapi.
      Yuk cobain teh. Saran aja, sebelum mulai diniatkan strong why nya yang kuat teh agar nanti bisa konsisten. Soalnya godaannya banyak hahaha

  1. Wah Mamah Patricia, terimakasih sudah sharing pengalamannya dan pola makan JSR-nya. Kalau diamati, menunya enak-enak ya. Madu, lemon, teh rempah, susu kambing atau susu plant-based (hello almond milk dan oat milk), kurma, VCO/EVOO, …
    Meskipun saya tidak ada GERD, sebagian besar alhamdulillah sudah mirip-mirip nih sama menunya, tapi belum bisa bubye ke nasi padang ehehehe.

    Lalu untuk asupan pengganti daging sapi, Teh Patricia pakai apa?
    Dan yang jadi concern adalah tahu dan tempe. Itu sudah jadi staple sehari-hari. Duh sepertinya harus belajar mengurangi ya..

    Semoga sehat walafiat selalu Mamah Patricia. 🙂

    • Halo tehh..

      Alhamdulillah semoga bisa membantu.
      Untuk daging sapi aku sangat jarang makan teh. Kalopun mau aku lebih sering makan daging kambing. Sapi bisa dihitung beberapa kali aja makan dalam setahun.

      Untuk tempe bisa diakali dengan beli tempe organik atau kalo lagi rajin bisa bikin sendiri teh hehe.. Mudah kok cuma perlu waktu aja memang. Kalo tahu ya memang ga ada gantinya. Tapi sesekali aja ga apa sih. Selama ga ada sakit apapun sebetulnya masih bisa dimakan asal ga terlalu sering sih.

  2. Teh Patricia, terimakasih udah nulis ini. Aku penasaran juga dengan JSR ini dari lama (baru tahu juga kalau udah tukar singkatannya hehe). Sebetulnya memang ga bakal lapar ya, pantangan itu ada beberapa yang agak berat kaya nasi padang sama gorengan :).

    InshaAllah mau coba ah Teh

    • Hi Teh May.. maafkan baru dijawab.
      Alhamdulillah bisa bermanfaat infonya. Silakan dicoba teh nanti jika ada yang ingin didiskusikam dengan senang hati aku tanggapi.

  3. menarik sekali nih mengganti menu, sepertinya ini intinya makan makanan yang sehat ya, semua isi menunya dan yang tidak usah dikonsumsinya mirip dengan semua yang sering disebutkan orang-orang yang menganjurkan pola makan sehat. Mudah-mudahan bisa mencoba juga nih, tapi belanjanya jadi repot ga ya kalau sendiri aja makan JSR tapi anggota keluarga lain nggak ngikutin.

    • Hai kak, maaf baru menanggapi.
      Sebetulnya sih makanannya bisa dimasak tetap sama kok, hanya ganti bahan saja. Jadi sepertinya bisa untuk dimakan sama keluarga kak.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *