Top 3 Kuliner Semarang dari Beragam Sudut Pandang

Libur sekolah tengah tahun baru saja berakhir, tapi saya yakin mamah gajah yang terlatih untuk ambisius sudah mulai sibuk memikirkan mau pergi kemana saat libur tahun baru nanti. Pesona alam atau tempat wisata dengan atraksi buatan manusia menjadi alasan sebagian besar keluarga untuk menentukan tujuan wisata. Namun ternyata tidak sedikit juga yang memilih pergi ke suatu kota karena tertarik dengan sajian kulinernya.

Indonesia memiliki banyak sekali daerah yang terkenal dengan ragam kuliner. Semarang adalah salah satunya. Tidak hanya satu dua kali saya mendengar kolega yang semangat sekali begitu tau akan dinas ke Semarang. Saat musim libur lebaran, singgah dan memperpanjang masa liburan di Semarang adalah hal yang lumrah bagi pemudik rute Jabodetabek-Jawa Timur. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan Semarang sebagai tujuan utama liburan keluarga. Selain kota ini semakin mempercantik diri dengan sejumlah tempat wisata, kebanyakan tamu-tamu ini mengincar berbagai makanan khas Kota Semarang. 

Saking banyaknya, daftar panjang kuliner khas Semarang sangat mudah untuk dicari. Dalam artikel kali ini, saya akan berbagi rekomendasi memilih Tiga perangkat teratas (Top 3) Kuliner Semarang dari sudut pandang orang asli Semarang.

Top 3 yang Ditanyakan Turis Klasik

Jika berkunjung ke Semarang, cobalah mengarah ke pusat kota dan mencari letak Simpang Lima. Dari lapangan bulat ini, ada lima jalan menuju ke arah yang berbeda. Mamah tidak perlu khawatir salah jalan. Saking banyakanya kuliner khas semarang, kelima arah mata angin ini semuanya membawa kita ke tempat makan Khas Semarang. Untuk turis kekinian, deretan kuliner di Gajah Mada atau daerah Candi menjadi daya tarik tersendiri. Namun, bagi turis-turis dengan cita rasa klasik yang asik, berikut adalah top 3 yang paling banyak dicari:

1. Kepala Manyung Bu Fat

Meskipun ada di tepi laut, Semarang tidak terkenal dengan sajian seafood segarnya. Warung-warung pecel di pinggir jalan lebih banyak menjual lele atau ikan darat lainnya. Ada satu dua restoran seafood di Semarang, tetapi menurut saya bukan yang membekas di hati seperti kalau kita makan seafood di Maluku atau Halmahera. 

Sajian ikan yang cukup banyak dicari wisatawan dan otentik cita rasa Semarang bisa ditemukan di Restoran Kepala Manyung Bu Fat. Tempat makan ini menyajikan masakan mangut, ikan dengan kuah santan agak encer yang berbumbu pekat. Pedas, gurih, agak asam, dan manis khas masakan Jawa. 

Ada dua jenis ikan yang biasa dipakai dalam masakan mangut, yaitu Iwak Manyung dan Iwak Pe. Keduanya enak. Saya lebih suka Iwak Pe karena tekstur daging yang lebih tebal dan lembut, tetapi orang-orang kebanyakan mencari ikan Manyung, spesifik bagian kepalanya. Mungkin seperti gule kepala kakap, kepala ikan manyung lebih gurih. Harga kepala lebih mahal dibanding bagian badan atau ekornya. Ada bagian sirip dan duri dari ikan ini yang rasanya seperti tulang muda ayam. Renyah dan menambah sensasi unik.

(Sumber Gambar https://travel.kompas.com/read/2018/07/21/170000127/suka-pedas-wajib-icip-mangut-manyung-bu-fat-di-semarang?page=all)

2. Soto Bangkong

Semarang terkenal dengan soto ayamnya. Makanan ini bisa ditemukan di pinggir-pinggir jalan dengan rasa yang mayoritas enak. Namun, ada satu restoran penjual soto ayam Semarang yang sudah ada sejak dulu kala. Soto Bangkong namanya. Seingat saya, dulu restoran ini bergengsi sekali. Bila ingin jajan dengan anak-anaknya, bapak akan membawa kami ke tenda soto ayam di pinggir banjir kanal. Kami hanya akan makan Soto Bangkong bila ada tamu istimewa. 

Khas makanan Jawa yang manis, sajian Soto Ayam Bangkong dilengkapi dengan kecap manis kental diatasnya. Dulu, di bagian dasar mangkok soto ada ulegan cabe rawit yang lumayan memberi kejutan. Meskipun jadi kurang otentik, kecap dan cabe rawit boleh disingkirkan. Masih ada bawang goreng renyah dan daun bawang segar melimpah yang membuat kangen penggemarnya.

(Sumber Gambar Dokumentasi Pribadi)

3. Tahu Pong Gajah Mada

Tahu Pong cukup terkenal di kalangan pecinta kuliner kota Semarang. Mayoritas rekan saya yang menanyakan tahu ini penasaran dengan tekstur dan rasanya. Sesuai dengan namanya, makanan ini berbentuk Tahu yang ko-“Pong” alias kosong. Bapak saya dulu selalu bilang, boleh makan tahu ini banyak-banyak karena kopong, jadi tidak bikin gendut. Padahal yang bikin gendut kulit di minyaknya ya. Hahaha.

Tahu Pong disajikan hangat, biasanya bersama dengan gimbal dan tahu biasa yang tidak kopong. Disiram dengan kuah gula jawa yang rasanya gurih, manis, dengan rasa asam yang ringan. Bisa dibayangkan seperti makan pempek, tetapi yang ini tanpa aroma ikan.

(Sumber Gambar https://telusuri.id/tahu-pong-signature-dish-kota-semarang/)

Top 3 untuk Dibawa Pulang

Sudah puas mengisi perut di Semarang tentu tidak lupa dengan orang-orang tersayang ketika akan pulang. Buah tangan dari Semarang cukup menarik untuk dibawakan. Pergilah ke Jalan Pandanaran. Semua oleh-oleh khas Semarang bisa ditemukan di tempat ini. Berikut adalah Top 3 jinjingan buah tangan khas Semarang.

1. Bandeng Presto

Garis laut di sepanjang tepi utara Kota Semarang membuat kota ini lekat dengan air payau. Bandeng tentunya menjadi komoditas yang cocok untuk dibudidayakan di Kota Ini. Dulu, memasuki Kota Semarang dengan kereta api yang menyusuri jalur pantura, kita dapat melihat tambak ikan bandeng terhampar di tepi rel. Pergilah ke toilet kereta dimana ada jendela terbuka, aroma asin tambak akan tercium. 

Tidak banyak orang yang bisa makan ikan bandeng segar karena banyak durinya. Setelah dipresto, ikan bandeng menjadi lunak sekali, bukan hanya daging tetapi juga durinya. Tidak perlu lagi khawatir ada duri yang menyangkut di tenggorokan. Rasa gurihnya mantab dengan aroma kunyit yang segar. Saya punya merk bandeng favorit, yaitu Presto. Selain itu tentunya ada beberapa merk yang meyakinkan juga seperti Juwana atau Elryna. Bandeng Presto dengan kemasan biasa bisa bertahan semalaman di luar kulkas. Bila Mamah akan membawa bandeng ini untuk durasi perjalanan yang lebih jauh, bisa pilih kemasan vakum, atau vakum kering ya!

(Sumber Gambar https://bandengpresto-semarang.com/index.php/component/content/category/2-uncategorised?Itemid=101)

2. Loenpia

Isi loenpia khas Semarang terbuat dari rebung. Pada umumnya dicampur dengan telur, cincangan ayam, atau kepiting, sesuai selera. Digoreng dalam rendaman minyak panas, menjadikan kulit lunpia renyah. Berbeda dengan gorengan biasanya, makan lunpia tidak hanya ditemani cabe rawit. Siapkan juga kucai dengan bawang merah muda di ujungnya, dan saus menyerupai lem kental  yang khas.

Mayoritas wisatawan mencari Loenpia Gang Lombok atau Loenpia Mbak Liem, keduanya boleh dicoba. Saya pribadi jatuh cinta pada Loenpia Djoe. Bisa dibeli di Toko Djoe, ada di deretan toko oleh-oleh Jalan Pandanaran. Untuk dibawa ke luar kota, jangan lupa minta loenpia untuk digoreng setengah matang saja. Sesampainya di tujuan, bisa masuk kulkas dan digoreng hingga matang untuk disajikan selagi hangat.

(Sumber Gambar https://setapaklangkah.com/lumpia-semarang/)

3. Moachi Gemini

Siapa bilang moachi hanya khas Sukabumi? Di Semarang ternyata ada juga kue Moachi. Yang paling terkenal merk Gemini. Dibuat dengan ukuran bulatan 4 kali lipat moachi Sukabumi. Isian kacangnya penuh dan legit. Manis tapi membuat ketagihan. Ada dua varian Moachi Gemini, dengan bedak dan dengan wijen. Moachi dengan taburan bedak alias tepung mirip seperti moachi sukabumi yang banyak dijual mamang moachi di tangkuban perahu atau lembang. Saya akan merekomendasikan untuk membeli versi dengan wijen setiap ada yang menanyakan oleh-oleh. Bulir wijen yang harum dan sedikit gurih menyeimbangkan rasa manis legit kacangnya, mantab jadinya.

Moachi Gemini bisa dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh Semarang. Kemasannya merah, dengan tulisan emas khas dekorasi imlek. Tapi harap teliti sebelum membeli. Beberapa kali saya jumpai ada moachi dengan kemasan serupa tetapi bukan merk Gemini.

(Sumber Gambar https://www.len-diary.com/oleh-oleh-khas-semarang-moaci-gemini/)

Top 3 Rahasia Keluarga

Pulang ke Semarang dan makan bersama keluarga di tempat makanan khas selalu membuat kangen. Sebagai orang asli Semarang yang tumbuh di keluarga suka makan, boleh dong berbagi daftar kuliner kesukaan keluarga saya. Boleh dicoba atau dipertanyakan, karena mayoritas makanan ini tidak pernah muncul di artikel rekomendasi kuliner Semarang.

1. Tahu Gimbal Segitiga Emas

Tahu gimbal adalah makanan khas Semarang. Sangat mudah dipesan via gofood atau didatangi langsung. Kebanyakan situs merekomendasikan tahu Gimbal yang ada di sekitar SMA Negeri 1 Semarang atau di daerah peterongan. Namun, untuk saya, tahu Gimbal yang rasanya menggoyang lidah adalah yang dijual di kawasan pujasera Segitiga Emas Jalan Erlangga, di belakang Toko kue Brilliant. 

(Sumber Gambar Dokumentasi Pribadi)

Telur ceplok yang teraduk mirip telur dadar dan disajikan hangat, gimbal yang tebal tapi tetap terasa udangnya, serta bumbu kacang yang legit gurih manis mantab membuat saya sulit beralih ke tahu gimbal lainnya. Bisa request tingkat pedas tapi kalau benar-benar tidak mau pedas, pastikan pesan ke yang jual: tidak pakai cabe. Karena definisi tidak pedas di Semarang adalah hanya pakai 1 cabe rawit oranye.

(Sumber Gambar Dokumentasi Pribadi)

Makan tahu gimbal disini paling khas bila ditemani dengan es campur durian. Berisi cincau, alpukat, dawet, kelapa, dan tentunya 3-4 butir durian lengkap dengan bijinya. Disiram dengan sirup merah dan susu kental manis coklat, khas jajanan anak SD jaman dulu. Jangan khawatir kalau tidak suka es campur. Ada es dawet atau teh botol sosro dalam botol kaca yang tak kalah khas sebagai alternatif lainnya.

2. Bubur Ayam Restu

Tidak banyak orang yang tahu, di Semarang, bisa juga makan bubur ayam. Kuliner langganan keluarga saya yang satu ini ada di Jalan Erlangga, salah satu anak percabangan simpang lima. Dijual di tenda yang ukurannya segitu-segitu saja dari dulu sampai sekarang. Terakhir saya ke sana bulan Juni lalu, rasanya masih sama. Yang jual pun masih ada, sedikit menua meskipun masih kencang suaranya. 

Berbeda dengan bubur ayam di bandung yang terkenal kental dan tidak jatuh ketika mangkoknya dibalik, bubur Ayam Restu disajikan dengan kuah becek. Bukan kuah kuning, tetapi kuah manis hampir mirip kuah masakan semur. Ada beberapa isian yang bisa dipilih: telur, ati ampela, atau komplit. Sebagai lauk tambahan, ada sate ayam, telur puyuh, atau sate uritan. Semua topping dan lauk ini dimasak ala bacem, mirip seperti masakan gudeg, tetapi dengan rasa manis yang lebih ringan. Bubur ayam dengan topping gudeg? Tidak, tidak seaneh itu. Yang ini enak kok.

(Sumber Gambar Dokumentasi Pribadi)

3. Jagung Bakar Sido Mampir Pak Man

Ternyata, jagung bakar bukanlah makanan yang hanya cocok dinikmati sambil bergelung di dalam jaket tebal karena kedinginan. Di tengah cuaca panas Semarang, jagung bakar cukup cocok untuk dinikmati. Datanglah ke jalan meteri Supeno di daerah Mugas, ke deretan tenda kaki lima yang terpisah taman dengan SMA Negeri 1 Semarang. Disitu ada banyak sekali penjual jagung bakar. Satu yang legendaris, paling tidak menurut keluarga saya, adalah Jagung Bakar Sido Mampir Pak Man.

(Sumber Gambar Dokumentasi Pribadi)

Dulu, setiap datang kesini, kita bisa bertemu dengan Pak Man dan istrinya. Sepanjang saya mengingat, sejak dulu Pak Man dan bu Man sudah lanjut usia. Mengupas kulit jagung dan mengayunkan kipas untuk menjaga bara tetap menyala bukanlah pekerjaan yang ringan, betapa kuatnya mereka. Bulan Juli lalu, saya punya kesempatan mampir lagi kesini. Hanya ada Bu Man yang melayani. Kebaya dan kain jarit yang dipakai masih sama seperti dulu. Suaranya yang ramah, sibuk memastikan semua yang duduk di lesehan tikar lusuhnya tidak kebingungan, dan sudah memesan.

(Sumber Gambar Dokumentasi Pribadi)

Ada beberapa menu yang disajikan di warung tenda ini. Jagung, roti, atau pisang, semuanya dibakar. Untuk jagung, ada pilihan pedas dan tidak pedas. Saya memesan jagung pedas. Tidak menunggu lama, hanya 10 menit saja, jagung bakar terhidang di hadapan saya, lengkap dengan kuas besar berisi colekan tebal bumbu tambahan. Panas, dengan bau sangit biji jagung yang gosong kehitaman. Jagung bakar Pak Man diolesi dengan bumbu yang entah bagaimana caranya meresap sekali, bukan hanya di bulir biji tetapi juga sampai ke pangkal jagungnya.  Rasanya bukan hanya ingin makan bulir jagungnya tetapi juga sampai ke pangkalnya. Hahaha. Kuas besar dengan onggokan bumbu diberikan untuk mengantasipasi pengunjung yang merasa jagung bakarnya kurang terasa enaknya. Bisa dioles tambahan bumbu sesuka hati, bahkan masih boleh minta tambahan lagi bila yang ada di kuas sudah habis. Sungguh pola bisnis yang generous, baik hati.

Penutup

Banyak sekali restoran makanan khas Semarang membuka cabang di kota-kota lain. Manyung Bu Fat dan Soto Bangkong adalah dua contohnya. Tetapi, meskipun mudah sekali ditemui di area Jabodetabek, orang-orang yang datang ke Semarang tetap saja mencari kedua makanan ini. Beda rasanya, kata mereka tetap yang paling otentik kalau makan langsung di Semarang. Apalagi sangat terasa di perbedaan harganya.hahaha.

Selain itu, saat ini ada Restoran Baru milik Anne Aventie, yaitu D’Kambodja. Hanya dengan mengunjungi satu tempat, kita bisa menikmati beragam kuliner khas Semarang dengan rasa yang cukup asli. Masakan mangut, oseng belut pedas, es gempol adalah contoh makanan khas Semarang bisa dibeli disini. Boleh lah untuk mengobati rindu kangen masakan masa kecil atau untuk membawa tamu yang tidak bisa diajak makan sembarangan di pinggir jalan. Makanan tradisional yang upgrade dengan kemasan restoran modern, tentu saja harganya juga ikut modern ya.

(Sumber Gambar : https://sikidang.com/dkambodja-heritage/)

Sekian cerita tentang Top 3 Kuliner di Semarang. Di daerah asal Mamah ada makanan apa saja Mah?

Ririn Restu Adiati
Ririn Restu Adiati
Articles: 1

3 Comments

  1. Aaaaa ini mah enak-enakkk semua, Ririn. Favorit saya adalah lunpia dan tahu gimbal. Nyammmm ehehe. Ku baru paham bahwa tulisannya dan mbacanya adalah LoeNpia pake “N”, bukan yang luMpia. I see. I see. Nuhun ya Ririn infonya. 🤗

    Nah yang paling bikin penasaran adalah Bubur Ayam RESTU 😁

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *