meet up mgn bandung featured image

Yang Tersisa dari Ngumpul-ngumpul MGN Bandung

Memiliki teman komunitas yang anggotanya tersebar di berbagai kota dan bahkan berbagai negara, kesempatan untuk bisa bertemu secara langsung tentunya sangat dinantikan. Itu sebabnya, ketika ada Mamah Gajah yang jarang-jarang bisa mudik ke Bandung bisa berkunjung, perlu disempat-sempatkan untuk ngumpul. Kalau nggak ada momennya, rasanya susah juga untuk bisa ketemuan.

Kebetulan sekali di akhir Juli ini ada Mamah Alfi IF96 dari Cannes, Mamah Lenny TI99 dari Bonn, dan Mamah Risna IF95 dari Chiang Mai yang berencana mampir ke Bandung.

Ngumpul di Braga

Sebenarnya rencana awal bertemu Mamah Alfi yang mudik dari Prancis adalah jalan-jalan ke cafe-cafe buku cantik yang banyak di Bandung. Tapi setelah dipikir-pikir, kunjungan ke cafe buku sepertinya kurang tepat kalau niatnya mau ngobrol santai dengan teman yang lama tidak ketemu. Apalagi mau rame-rame dengan teman-teman MGN lainnya.

Kebayang dong bakal heboh. Dan kemungkinan besar akan mengganggu pengunjung lain yang mengharapkan suasana tenang untuk membaca. Akhirnya pertemuan pun kami ganti ke cafe di tengah kota yang lebih pas untuk ngobrol sekaligus instagramable untuk foto-foto. Penting!

Pada Rabu, 26 Juli 2023 akhirnya jadilah kami ketemuan di Jurnal Risa Coffee di Jl. Braga 45. Namanya juga ibu-ibu ya, jadi waktu lumayan fleksibel dijadwalkannya. Sekitar pk 1 siang. Intinya, habis zuhur, baru deh ketemuan. Biar bisa bebas buat ngobrol lama.

Ketika saya tiba di Jurnal Risa, di sana sudah ada Alfi dan Restu TI04. Ketemu Alfi sih sudah yang kedua kali, tapi baru pertama kali ketemu Restu si Ibu Admin Tantangan MGN ini. Tidak berapa lama, Lenny juga turut bergabung. Muti dengan 3 krucilnya dan Bu Hani AR77 Alhamdulillah bisa hadir juga. Nggak ketinggalan Satwika, teman KLIP yang merekomendasikan tempat ini juga datang paling akhir.

Setelah sudah pada ngumpul baru terasa tempatnya agak terlalu sempit untuk kami ber-7, ditambah 3 anak gadis, dan 4 bocah. Sekalian ingin menikmati indahnya siang menjelang sore di Braga, kami putuskan untuk jalan-jalan di Braga. Biar terasa turis beneran gitu.

Kami mampir ke Cupola Coffee Shop di Braga 43. Sebuah hidden gem yang cukup unik di Braga. Nggak banyak orang tahu, kalau ada cafe cantik yang hanya terlihat satu pintunya saja dari jalan Braga. Cafenya sendiri harus melalui gang kecil yang didesain cukup artistik untuk berfoto.

Jadi ceritanya, kami numpang foto-foto di sini. Makannya? Nanti mampir lagi bawa teman-teman yang lain ya. Yang penting, mari kita bagikan dulu informasinya kepada dunia.

Perjalanan mencari cafe yang lebih lapang berlanjut menuju Braga Art Cafe di Jl. Braga 68 tepat di depan Braga City Walk. Setelah pesan-pesan cemilan, kami pun melanjutkan ngobrol panjang di sini.

Walau beda jurusan, beda angkatan, ternyata bahan obrolan itu ya nggak habis-habis. Sebenarnya kalau lagi rajin, segala yang diobrolkan bisa jadi stok bahan tulisan sebulanan nih. Cuma ya itu, semangat ngegibah tidak sejalan dengan semangat menulis.

Rasanya kalau nggak ingat harus pulang sebelum kami terjebak jam macet orang pulang kantor, pengen rasanya berlama-lama. Menjelang pk 5 sore, kami pun memutuskan untuk pamit pulang.

Ngumpul di Sangkuriang

Seminggu kemudian, tepatnya hari Selasa 1 Agustus 2023, giliran Risna dari Chiang Mai yang ingin saya temui. Sebenarnya Alfi yang masih ada di Bandung, mau gabung juga. Cuma sayang, Alfinya lagi sakit dan berhalangan ketemu.

Untuk menyambut Risna kali ini, memang ide awalnya pengen jalan. Ngobrol sambil jalan itu kan seru banget. Capeknya bisa nggak terasa. Sepertinya cocok buat Risna yang memang senang jalan.

Kami pun memilih Hutan Babakan Siliwangi untuk tempat jalan-jalan. Sebenarnya maunya keliling kampus ITB sekalian jalan pagi. Tapi paginya ibu-ibu itu kayanya sulit kalau dipaksakan jam 7 pagi saat matahari tidak terlalu terik. Karena saya baru bisa ketemuan menjelang pukul 9 pagi, dipilihlah Hutan Babakan Siliwangi yang lebih adem. Mau tengah siang juga, Hutan Baksil akan selalu adem karena beneran terasa seperti di hutan yang banyak pohon-pohon besarnya. Padahal jelas-jelas di tengah kota Bandung loh.

Jujur, sebelum masuk gerbang Baksil, nggak kebayang ini akan seberapa jauh. Sempat hampir putus asa karena nggak kebayang ini perlu waktu berapa lama lagi sampainya. Ternyata cukup 2 km saja. Sekitar 4000 langkah. Kalau sambil foto-foto, kira-kira 1 jam kurang lah. Lumayan pas untuk trayek olahraga harian.

Untuk rehat, kami memilih ngumpul di Ngopi Doeloe Jl. Sangkuriang 6. Tidak jauh dari gerbang hutan Baksil Jl. Taman Sari. Di sana sudah ada teman-teman dari komunitas Drakor Class. Ada Bunda Intan, Alienda ‘Manda’ Sophia, dan Gita Lestari. Nggak lama, Restu bisa ikut gabung juga dari kampus.

Ngobrol ngalor ngidul, nggak terasa waktu sudah menunjukkan waktu makan siang. Dari yang awalnya berencana pk 12 siang sudah bubar, akhirnya kami baru beres sekitar pk 1 siang. Yang penting, rindu dan semangat ngobrol tersampaikan lah.

Terima kasih ya teman-teman yang sudah menyempatkan waktu untuk bisa ketemuan di sela-sela kesibukan berbagai macam acara. Mudah-mudahan bisa memperkuat hubungan silahturahmi di antara kita.

Shanty Dewi Arifin
Shanty Dewi Arifin
Articles: 7

3 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *