Ada Apa Dengan Fiksi ?

Selama 6 tahun saya berjualan buku anak – anak, saya menyadari satu hal. Buku cerita fiksi tidak selaku buku lain yang isinya “pelajaran” atau “pengetahuan”. Istilah ibu – ibu sekarang buku bergizi. Saya perhatikan pola yang sama terjadi juga di tempat jual beli lain. Buku yang bermuatan pengetahuan atau cerita berdasarkan sejarah biasanya laris manis. Apalagi kalau harganya terjangkau. Tapi tidak dengan buku cerita fiksi untuk anak – anak. Mau murah juga jarang yang beli. Saya curiga karena orang merasa rugi. Beli buku mahal tapi tidak bergizi.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan membeli buku pengetahuan. Saya cuma heran saja kenapa animo untuk membeli buku cerita fiksi untuk anak – anak tidak sebesar animo untuk membeli buku bergenre lain. Padahal sepertinya kesadaran literasi semakin meningkat, terutama di kalangan ibu – ibu muda. Atau jangan – jangan sebetulnya bukan hanya masalah selera, tapi juga karena buku fiksi anak – anak memang jarang tersedia. Jadi mau baca juga susah.

Masih jarang menemukan buku cerita fiksi Indonesia untuk anak – anak yang menarik. Tapi mungkin saya saja yang ketinggalan zaman ya? (Sumber : unsplash.com)

Saya adalah mantan anak yang menghabiskan waktu melahap buku – buku cerita fiksi. Setelah bisa membaca pada usia 5 tahun, kelas 2 SD saya sudah membaca seri Trio Detektif Alfred Hitchcock. Bacanya sambil setengah merem, karena seram.

Setelahnya saya menghabiskan waktu membaca The Baby Sitter Club Ann M. Martin, Goosebump R.L.Stine, buku buku karangan Enid Blyton (tentu saja), Astrid Lindgren, Edith Unnerstad, Erich Kästner, Serial Jennings oleh Anthony Buckeridge, dan lain sebagainya. Saya bukan kutu buku. Bukan penggiat literasi juga. Saya cuma hobi baca cerita fiksi. Termasuk komik Jepang yang sering saya baca saat SMP. Buku – buku yang saya koleksi dulu saya baca berulang – ulang sampai hapal.

SMP dan SMA ketika sudah bisa pergi sendiri, hobi saya mendatangi persewaan buku yang ada di pintu masuk kompleks perumahan yang saya tinggali waktu kecil. Tentu saja untuk menyewa buku. Masa untuk merongrong si empunya. Saya kan bukan debt collector. Pemilik persewaan tersebut , Bu San namanya. Rambutnya sudah memutih semua. Galak dan tegas orangnya. Dari persewaannya saya baca segala macam buku, dari Fear Street sampai novel dewasa macam Danielle Steel dan Marry Higgins Clark.

Jaman dulu memang tidak ada yang melarang saya buku orang besar. Saya baca Ronggeng Dukuh Paruk saat kelas 3 SMP. Walaupun dulu tentu saya tak selalu paham adegan – adegan di dalamnya. Lalu salah satu seri favorit saya saat SD – SMA adalah kumpulan tulisan harian Umar Kayam yang dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat di akhir tahun 80an. Bapak saya yang membelikan di Toga Mas Jogja.

Kumpulan tulisan tersebut penuh dengan kritik sosial dan bahasan politik, tapi dibalut dalam cerita sehari – hari yang ringan. Sampai detik ini salah satu impian saya adalah bisa membuat kumpulan kisah sehari – hari yang lucu tapi tetap cerdas dan sarat arti seperti tulisan Umar Kayam tersebut.

Tentu saja saya juga baca buku – buku fiksi mainstream seperti Harry Potter. Buku – buku awal sudah saya baca duluan sebelum jadi booming (kok sombong?). Saya juga baca Trilogi Lord Of The Rings sampai tamat. Bacanya ditengah – tengah pelajaran kimia SMA yang tidak saya suka. Setelahnya saya berkenalan dengan Dan Brown (Da Vinci Code), Rick Riordan, Suzanne Collins (Hunger Games), bahkan saya juga baca The Twilight Saga sampai tamat . Terakhir, fiksi yang saya baca Crazy Rich Asian.

Walaupun sekarang saya sudah tidak begitu aktif baca buku fiksi, bahkan saya sudah lama tidak baca buku (elap Kindle berdebu), tapi saya masih selalu merasa hobi saya dulu cukup berfaedah.

Ini Mah, saya ceritakan beberapa manfaat yang saya rasakan dari membaca buku fiksi :

1 – Mengenal Dunia Tanpa Perlu Pergi Kemana mana

Sebelum saya mendapat kesempatan untuk berkelana, mendatangi berbagai tempat di Indonesia dan dunia, pikiran saya sudah lebih dulu menjelajah melalui buku, terutama buku fiksi. Belum begitu banyak tempat yang pernah saya datangi, tapi dari semua tempat tersebut ada beberapa yang membuat saya merasa seperti mengalami De Javu. Hanya karena sudah pernah membaca tentangnya di suatu buku.

Seperti saat saya mengunjungi Belitung (Trilogi Laskar Pelangi – Andrea Hirata), Museum Louvre (Da Vinci Code – Dan Brown), reruntuhan kota Pompeii dan gunung Vesuvius (Pompeii – Robert Harris), Parthenon (Percy Jackson – Rick Riordan), atau Weidendammer Bridge di Berlin (Pünktchen und Anton – Erich Kastner).

Reruntuhan kota Pompeii di Naples Italia. Saya membaca buku tentang meletusnya gunung Vesuvisus di sekitar tahun 2008 lalu berkesempatan mengunjungi kota tersebut di tahun 2016 (sumber : alongdustyroads.com)

Saat menggunakan latar belakang tempat yang nyata, selain menyebutkan fakta, penulis buku fiksi biasanya juga menceritakan kondisi, suasana, cuaca, aroma, atau apapun yang bisa membuat pikiran pembaca terbawa ke sana. Jadi walaupun kita belum pernah pergi ke tempat tersebut, pikiran kita sudah lebih dulu terbang mengunjunginya. Mencicipi kuliner lokal, merasakan iklimnya, mengenal penduduknya, menikmati suasananya. Tak masalah berapa ribu kilometerpun jaraknya.

Orang tua saya dulu mungkin tidak bisa mengajak saya untuk berpergian keliling dunia, tapi dengan memberikan saya kesempatan untuk membaca banyak buku cerita, orang tua saya juga secara tidak langsung telah memperkenalkan dunia. Dengan membaca buku, pengetahuan yang saya dapatkan tentang dunia ternyata tidak begitu jauh berbeda dengan orang yang mungkin semenjak kecil sudah pernah pergi kemana – mana. Buktinya ketika saya mendapatkan kesempatan untuk tinggal di negeri orang, saya tidak merasa ndeso – ndeso amat. Karena banyak hal yang sudah saya tahu dari membaca buku.

“That’s the thing about books. They let you travel without moving your feet.”

– Jhumpa Lahiri –

2 – Hiburan Murah, Aman, dan yang Menyenangkan

Dulu saya bisa menghabiskan waktu berjam – jam membaca buku cerita. Kedua orang tua saya bekerja penuh waktu dan saya tidak punya teman. Saya juga tidak begitu hobi main keluar rumah. Semarang panas, Mah! Jadi buku adalah cara saya menghabiskan waktu. Orang tua saya memang tidak pernah menyuruh – nyuruh saya membaca.

Seringkali mereka malah memarahi saya karena tidak tanggap pada sekitar karena terlalu asyik membaca. Tapi mereka jarang menolak ketika saya minta dibelikan buku cerita. Juga tidak pernah melarang saya pergi ke persewaan buku dan meminjam buku apapun yang saya mau. Soalnya kalau baca buku cerita saya anteng. Sementara kalau tidak ada bacaan saya suka ribut. Haha.

Dulu saya menghabiskan waktu persis seperti anak diatas. Berjam jam bergelung di sofa, tenggelam dalam cerita. Ilustrasi anak membaca buku (Sumber : unsplashed.com)

Setelah menjadi orang tua saya jadi mengerti mengapa orang tua saya memilih untuk membiarkan saya membaca buku sebagai hiburan. Karena buku memang relatif lebih murah daripada harga hiburan lain, kontennya relatif lebih aman, dan bisa buat anaknya tenang berjam – jam.

Menghabiskan waktu tenggelam dalam cerita fiksi juga mungkin menghindarkan saya dari melakukan perbuatan neko – neko. Karena pikiran saya sudah penuh dengan berbagai cerita, saya sudah tidak sempat mencari – cari sumber hiburan lain yang mungkin nirfaedah atau berisiko.

“Books are the perfect entertainment: no commercials, no batteries, hours of enjoyment for each dollar spent.

– Stephen King –

3 – Memperkaya Kosa Kata dan Pemahaman Konteks

Salah satu sumber kepercayaan diri saya, adalah bisa menyampaikan maksud saya dengan baik melalui kata – kata. Bukan masalah tata bahasa ya, tapi lebih kepada kemampuan untuk membuat orang lain memahami pendapat, keinginan, pikiran, dan perasaan saya baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan ini ternyata tidak dimiliki semua orang lho, Mah. Seseorang memerlukan pengetahuan akan kosakata juga pemahaman terhadap konteks untuk bisa mengungkapkan maksudnya dengan baik. Dalam hal ini saya rasa hobi saya membaca buku fiksi dulu cukup membantu.

Saya merasa, saat saya banyak membaca buku fiksi, saya ingat lebih banyak kosakata. Mungkin karena dalam buku cerita fiksi, penulis berusaha bercerita sehingga menggunakan kata – kata dan ungkapan yang lebih beragam. Selain itu, dari buku cerita fiksi saya sadar atau tidak sadar memperhatikan cara penulis mendeskripsikan konteks cerita. Menginspirasi saya untuk menggunakan cara pengungkapan yang sama di konteks yang mirip di kehidupan nyata.

Emosi. Lebih sulit dikendalikan dari apapun. Ilustrasi emosi (Sumber : unsplash.com)

Kemampuan seseorang untuk dapat mengendalikan emosi sangat dipengaruhi oleh kemampuannya untuk mengungkapkan maksud dan tujuannya. Orang yang bisa mengungkapkan keinginannya dengan baik, cenderung lebih tenang. Sementara orang yang tidak punya cukup kosakata untuk mengungkapkan pikirannya seringkali menjadi sangat emosional. Maka dari itu di Indonesia, dengan salah satu tingkat literasi terendah di dunia, banyak kejadian yang berakhir dengan kekerasan dan kerusuhan. Karena banyak orang tidak bisa mengendalikan emosinya akibat tidak punya kemampuan untuk mengungkapkan pikirannya.

Oleh karena itu jika ingin orang Indonesia tidak lagi gampang emosi, kasih semua orang buku cerita fiksi untuk dibaca semenjak dini. Aman deh Indonesia. Haha.

4 – Membantu Memahami Orang

Salah satu hobi saya adalah mengamati orang. Bukan untuk bergosip, walaupun kadang – kadang tidak bisa dihindari sih, tapi lebih untuk mencoba memahami karakter dan cara berpikirnya. Mungkin sebetulnya saya lebih cocok kuliah psikologi daripada jadi insinyur. Pantas saja suami saya bilang saya engineer palsu.

Dalam buku cerita fiksi selalu ada berbagai macam karakter dengan berbagai kriteria yang melekat padanya. Profesi, asal usul, umur, latar belakang, etnis, sifat, hobi, dan lain sebagainya. Penggambarannya tidak selalu akurat, tapi paling tidak saya jadi tahu berbagai macam karakter dan sifat orang yang mungkin ada di dunia nyata. Buku juga dapat menghubungkan kita dengan orang yang hidup di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Dengan kata lain buku fiksi adalah kesempatan untuk mengintip hidup orang lain, yang mungkin tidak akan pernah kita temui di kehidupan nyata. Mengetahui hal yang dipercayainya, tingkah laku, interpretasinya akan suatu hal, dan pengalamannya. Jika bukan dari buku fiksi saya mungkin tidak akan pernah tahu tentang suster yang bertugas saat perang dunia pertama, anak yang tinggal di pedalaman Afrika, murid yang tinggal di sekolah berasrama di Inggris, keluarga yang bermigrasi ke negara lain, remaja Amerika yang punya mimpi menyelamatkan dunia, dan lain – lain.

:Manusia dengan berbagai macam rupanya. Ilutrasi manusia (sumber : unsplash.com)

Melalui cerita fiksi kita bisa masuk ke pikiran seseorang yang sangat berbeda dengan kita. Memahami cara berpikirnya, perasaannya, dan perilakunya. Pemahaman tentang orang lain ini dipercaya membuat seseorang menjadi lebih peka terhadap perasaan orang lain atau dengan kata lain lebih bisa berempati.

Reading is an exercise in empathy; an exercise in walking in someone else’s shoes for a while.”

– Malorie Blackman –

Penutup

Demikian Mah, empat manfaat yang saya dapatkan dari membaca buku cerita fiksi. Tidak kalah menarik dengan manfaat dari membaca buku sarat pengetahuan kan mah ? Membaca buku fiksi juga bisa memberikan pengetahuan di bidang sejarah, geografi, sosiologi, ekonomi, mungkin bahkan matematika, dan ilmu eksakta lainnya. Dengan kata lain belajar bagaimana cara dunia bekerja dengan cara yang menyenangkan.

Duh Mah, sungguh saya kangen sekali dengan saat – saat bisa kembali tenggelam ke dalam buku fiksi. Tapi dengan dalih tak ada waktu, sekarang saya malah sudah jarang sekali membaca buku. Pantas akhir – akhir ini saya jadi lebih emosional, mungkin saya sudah kehilangan banyak kosakata untuk mengungkapan pikiran saya. Haha. Semoga tahun ini bisa mendorong diri untuk kembali memilih buku daripada menonton drama.

Eh ngomong – ngomong soal drama, masih ada tujuh hari untuk menyelesaikan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Januari dengan tema Tentang Dirimu, Mamah Gajah. Yuk ikutan Mah! Siapa tau bisa membuat kita lebih paham diri sendiri. Karena wanita ingin dipahami.

Restu Eka Pratiwi
Restu Eka Pratiwi
Articles: 19

12 Comments

  1. Aku sekarang mengakali membaca fiksi dengan membaca versi audiobook nya, lumayan loh berasa dengerin sandiwara radio atau podcast. Dan bener banget, dari fiksi apalagi cerita anak ada banyak hal pengetahuan baru dan pendidikan karakter di dalamnya.

    Jadi ingat buku Matilda-nya roald dahl, dia suka baca dan list bacaanya banyak yg belum aku baca sampai skrg, hehehe…

  2. Aku baca fiksi sejak TK juga dan ngga pernah berhenti sampai sekarang. Lintas genre, lintas usia. Masih banyak orang yang menghakimi bilang baca buku fiksi itu buang² waktu, ga berguna, dst…padahal aku belajar banyak hal dari buku fiksi. Belajar dengan cara yang menyenangkan. Ketika menulis fiksi pun aku selalu punya hal yg ingin disampaikan pd pembaca, dan aku yakin semua penulis jg begitu.
    IMO, anak² sekarang punya terlalu banyak pilihan hiburan sehingga akhirnya keputusan membeli buku kebanyakan ada di tangan ortu. Dan ortu tentunya dengan semangat ingin anaknya lebih pintar lebih memilih ensiklopedi dan semacamnya.
    Anakku sbenarnya tdk perlu sering beli buku baru. Koleksiku saja menumpuk belum dia baca. Sudah berkali² aku menawarkan buku² Enid Blyton, Astrid Lindgern, dst…tp selalu kalah dari youtube 😪

  3. Membaca buku, aman? Ya, relatif. Sekarang banyak sekali buku-buku yang tidak aman. Bukan hanya karena temanya yang mungkin kurang sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut, namun juga secara jalan cerita, yang jika diakumulasi menimbulkan pemikiran neko-neko juga 😓 Di sini imho pentingnya tetap adanya kontrol bacaan dan komunikasi ortu-anak…

  4. Keren banget, Restu! Ya ampun, gara-gara tulisan ini, saya jadi pingin berburu novel fiksi (crime thriller) lagi. Beberapa tahun terakhir, koleksi saya hanya non-fiksi, perlu refreshing dengan yang fiksi niy.

    Setuju sekali dengan manfaat yang Restu tulis. Sukanya membaca buku (baik fiksi maupun nonfiksi) bisa seolah kita dibawa ke tempat tersebut meskipun belum pernah menginjakkan kaki di sana.

    “Oleh karena itu jika ingin orang Indonesia tidak lagi gampang emosi, kasih semua orang buku cerita fiksi untuk dibaca semenjak dini. Aman deh Indonesia. Haha.” setujuuu, bisaan wae niy Mamah Restu. *jempol

  5. Ini artikel yang keren banget, Teh Restu 😍. Sebagai penikmat buku fiksi semasa kecil, I can relate to all points. Pasti karena baca buku fiksi juga, Teh Restu bisa menulis dengan sangat baik. #ehem

    Sama, nih, jadi kangen baca buku tanpa gangguan. Makanya, aku salut banget deh sama ibu2 yang tetep produktif baca buku. Kenapa diriku sulit sekali~.

    Btw, hubungan antara tingkat emosi dan kemampuan literasi orang Indonesia itu menarik banget sebagai ide penelitian.

  6. Sebagai pecinta fiksi dari kecil, saya baca buku-buku fiksi karena sangat menikmatinya saja. Nggak kepikiran sama sekali tentang memperkaya kosa kata dan pemahaman konteks.

    Tulisannya keren, Teh! Terima kasih sudah memberi sudut pandang lain mengenai membaca buku fiksi 🙂

  7. ahh kesukaanku dari kecil kynya baca buku. mulai dari versi cerpen di majalah bobo, trus masuk ke buku2 lima sekawan dan sherlock holmes, plus teenlit hehehe. makanya sekarang pengen bikin anak2ku doyan baca buku juga. seneng akhirnya menemukan buku cerita my little pony.

Tinggalkan Balasan ke 38 (+4) Things About Bu Sri, yang juga Seorang Mamah Gajah – Achieving Dreams Thru' WritingCancel Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: