Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia, Mah!

Mamah, sejak tahun 1992, World Federation for Mental Health mendeklarasikan tanggal 10 Oktober sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Wah tidak terasa sudah 29 tahun diperingati ya, Mah. Perasaan gaungnya baru terdengar beberapa tahun terakhir ini saja, seiring dengan makin banyaknya pengguna media sosial.


KESEHATAN MENTAL

Pada awalnya, masyarakat mengasumsikan bahwa seseorang yang SEHAT MENTAL-nya adalah yang TIDAK memiliki kelainan mental dalam dirinya, seperti:

  1. Phobia, ketakutan berlebihan,
  2. Bipolar, emosi ekstrem yang berubah drastis,
  3. Schizophrenia, sulit membedakan realita dengan khayalan dan suka mendengar suara-suara aneh,
  4. Anorexia, rasa takut gemuk yang berlebihan hingga membahayakan tubuhnya,
  5. OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), yang suka banget merapihkan barangnya, ada yang miring dikiiit saja sudah bingung,
  6. PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), trauma berat yang dialami setelah perang,
  7. Psikopat,
  8. dan lain sebagainya yang ‘berat-berat’ lah pokoknya, Mah.

Tapi, ternyata juga mencakup hal-hal ‘kecil’ yang bahkan seringkali dianggap bukan masalah yang serius. Hal yang menurut kita sepele, bisa menjadi berat buat orang lain. Suatu problem yang kita bisa dengan mudah mengatasinya, belum tentu orang lain mampu.

Banyak dari mamah yang mampu menjalani perubahan ritme rutinitas selama pandemi dengan tenang, namun banyak juga yang stres dengan keberadaan si virus dan merasa kewalahan untuk harus selalu mengingatkan diri sendiri, suami, dan anak-anak mengenai kebiasaan baru yang disebut dengan ‘new normal‘ ini.

Bagi orang-orang yang tidak ‘kuat’ ketika dihadapkan dengan suatu masalah, mereka dapat merasa sangat bersalah, menangis terus-terusan, tidak ingin beraktivitas, sangat down, dan kehilangan rasa percaya diri, mudah snap, hingga tidak memiliki gairah untuk hidup.

Waduh serius sekali ya Mah impact-nya.

Tentu saja dengan mengetahui fakta ini, kita para mamah tidak boleh menggampangkan apalagi men-judge orang lain yang merasa sangat menderita sekali ketika sedang dihadapkan suatu masalah yang menurut kita hanya piece of cake. Ya, Mah, mental health bukan main-main.


DEFINISI KESEHATAN MENTAL DAN KARAKTERISTIK MENTAL YANG SEHAT

Menurut Kementerian Kesehatan RI, pengertian dari kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.

Mental Health America merumuskan 10 ciri-ciri seseorang yang memiliki kesehatan mental yang baik sebagai berikut.

  1. Percaya diri, merasa nyaman dengan diri sendiri, dan mampu berdamai dengan keadaan diri.
  2. Mempunyai EQ (kecerdasan emosi) yang optimal. Tidak berlebihan dalam menghadapi masalah yang melibatkan emosi: rasa takut, marah, cinta, cemburu, rasa bersalah, dan kegelisahan.
  3. Hubungan personal dengan pasangan, keluarga, teman; stabil dan memuaskan.
  4. Merasa nyaman sebagai diri sendiri ketika bersosialisasi.
  5. Mampu mentertawakan diri sendiri, tidak malu mengakui kesalahan, atau kegagalan yang dialaminya.
  6. Mampu menghargai diri sendiri dan orang lain. Dengan senang hati ikut merayakan pencapaian orang lain, tidak iri.
  7. Mampu menerima hal yang tidak sesuai harapan dan tidak cepat ngambek menghadapi situasi yang tak terduga.
  8. Mampu membuat keputusan sendiri dan tidak takut mengambil resiko.
  9. Mampu beradaptasi dengan lingkungan.
  10. Independen, tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.

(Dibuat dengan CANVA)

KESEHATAN MENTAL DAN MAMAH

Gangguan mental health bisa terjadi pada siapa saja, di usia berapa pun, di jenis kelamin mana pun, di profesi apa pun. Termasuk juga pada seorang mamah.

Beberapa waktu lalu ramai diberitakan bahwa seorang bintang Instagram Indonesia, yang merupakan Ibu dari 2 anak; rutin menerima kritikan, ejekan, bully-an, dari suatu komunitas yang juga kebanyakan seorang mamah. Tahukah Mah, apa saja yang diperbincangkan mereka atas beliau? Kehidupan rumah tangga, pola pengasuhan anak, sampai kondisi fisik anak beliau. Hampir semua gaya hidup dan metode beliau menjadi ‘santapan’ sehari-hari mereka. Hal yang masuk ranah pribadi yang tidak menimbulkan kerugian nyata bagi orang lain. Semuanya tampak salah di mata mereka. Dan, karena aksi mereka tersebut, beliau depresi hingga pernah terbersit ingin bunuh diri. Duh sangat disayangkan aksi para mamah tersebut. Seharuskan kan women supporting women ya, Mah.

Tidak hanya beliau, Mah. Ada Alicia Sylverstone, celebrity-crush masa kecil saya, yang di-bully habis-habisan karena memberikan makanan pada anaknya yang masih balita, yang sebelumnya beliau kunyah dulu. Juga mamah muda Kylie Jenner yang dihujat gara-gara kukunya panjang-panjang yang oleh para ‘kritikus tak diundang’ dianggap membahayakan Stormi, sang buah hati.

Walaah ya sudah lah ya Mah, kalau kita tidak setuju dengan metode mamah lain, cukup dengan tidak ikut-ikutan, dan bukan melayangkan kata-kata pedas yang tidak pantas. Kritik jarang sekali membangun, tapi malah merusak.


MOM-SHAMING

Tindakan para ‘kritikus tak diundang’ di atas dikenal sebagai aktivitas mom-shaming. Merendahkan, mencela, menghakimi, berkomentar buruk dan negatif, terhadap seorang mamah atas keputusan dan atau cara menjalankan perannya. Kita tentu tidak mau menjadi seorang ‘kritikus tak diundang’, atau yang disebut juga dengan mom-shamer kan, Mah. Pun kita wajib untuk saling menjaga kesehatan mental para mamah yang lain dan against kelakuan mom-shaming.

Kemungkinan besar, para pelaku mom-shaming ini tidak paham bahwa semua mamah pasti ingin yang terbaik buat anaknya, bagaimana pun metodenya. Mereka mungkin juga bisa melakukan astral travel kali ya Mah, hingga merasa sok tahu latar belakang ‘sang target’ dalam mengambil keputusan yang tidak biasa. Selain itu, mereka mungkin juga menganggap bahwa merekalah yang paling benar dan yang menjadi standar/ patokan. Sehingga mereka merasa punya hak untuk menghakimi dan mengejek yang tidak sesuai dengan cara mereka.

Padahal ilmu parenting itu bukan ilmu exact layaknya Matematika. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah dalam proses nurturing anak.


LAKUKAN YANG TERBAIK BUATMU, MAH!

Tidak terhitung betapa banyaknya dan beragamnya metode para mamah di seluruh penjuru dunia dalam menjalankan posisinya sebagai individu, ibu, dan istri.

Mau menyusui, bagus sekali. Sang buah hati menerima sistem imunitas yang optimal. Mau memberi susu formula, tidak ada yang salah. Sekarang kandungan susu formula dibuat mendekati nutrisi ASI. Mencampur ASI dan susu formula untuk buah hati, monggo kenapa tidak.

Mau menjadi full stay-at-home mom; mantabb, anak pasti bahagia melihat mamahnya setiap saat. Mau menjadi working mom; keren bisa multitasking.

Memutuskan untuk menjadi pasangan menikah yang child-free; silakan Mah, pilihanmu tidak membuat orang lain merugi, malah kami yang dikaruniai anak harus berterimakasih padamu karena keputusanmu ikut mengerem overpopulasi dan memberi spare source di bumi untuk anak kami tumbuh.

Masih gemuk setelah punya anak, tidak perlu menghiraukan kicauan ‘sudah tidak menarik lagi’, karena hanya mamah yang tahu betapa sibuknya mamah dan kondisi hormon mamah.

Rajin olahraga setelah melahirkan, cuekin saja yang melemparkan cuitan ‘bayinya dikeloni pembantu ya, mamahnya sibuk fokus ke penampilan’.

Mau mengizinkan anak untuk ikut PTM (Pertemuan Tatap Muka) atau mau melarang anak berangkat ke sekolah dan tetap belajar online saja, bebas Mah!

Intinya, lanjutkan yang menurutmu baik bagimu, Mah! Tidak usah pedulikan opini orang lain. Pun, kita juga tidak perlu membandingkan keputusan kita dengan mamah lain. Dan, ingat ya Mah, mamah tidak punya kewajiban untuk menjelaskan ke orang lain atas keputusan dan jalan hidup yang mamah ambil.


BAGAIMANA MENGHADAPI MOM-SHAMERS?

Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba ada komentar tidak enak atas foto anak tercinta yang baru diunggah di Instagram,

Babynya kurus ya, Mba. Rambutnya juga sangat tipis. Coba gizi MPASInya diperhatikan! Tambahin brokoli dan salmon,… bla bla bla….”.

Seketika hari mamah terlihat gelap, petir datang menyambar, darah mendidih. Niat hati ingin membagikan foto sang buah hati yang terlihat lucu dan menggemaskan, malah dipertemukan oleh seorang mom-shamer yang opininya tidak kita minta.

Apa yang harus dilakukan ya, Mah, ketika kita dihadapkan di situasi yang mengganggu pikiran dan membuat tidak nyaman begini?

  1. Langkah pertama, tarik nafas sejenak ya, Mah. Inhale exhale. Tidak usah dihiraukan ketikan jari mom-shamer tersebut. Selama bayi mamah sehat, mau kurus mau gemuk, tentu bukan masalah.
  2. Kalau mamah bersedia, dijawab saja dengan kata ‘terima kasih atas perhatiannya’.
  3. Kalau merasa mengusik pikiran, blok saja akun tersebut!
  4. Jika hal-hal tersebut masih saja mengganggu pikiran mamah, sebaiknya jangan dipendam sendiri ya, Mah. Speak-up dan sharing ke orang terdekat.
  5. Kalau masih merasa stuck, sangat tidak apa-apa banget untuk datang ke psikiater, Mah! Tidak perlu malu. Psikiater diturunkan oleh-Nya untuk membantu masalah kejiwaan.

Mental health yang optimal adalah kunci kebahagiaan, Mah.


MAMAH SEJATI YANG SEHAT LUAR DALAM

Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi mamah yang sehat luar dalam? Dalam artian memiliki raga yang bugar dan energik untuk menjalani aktivitas sehari-hari, mental health yang optimal di mana kita bisa mengatasi berbagai situasi. Juga tentunya tidak menjadi seorang mom-shamer dan ikut menjaga kesehatan mental para mamah lain.

  1. Olahraga rutin dan tidur secukupnya.
  2. Berpikir positif.
  3. Melakukan aktivitas spiritual, dengan beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, meditasi.
  4. Self-care isn’t selfish. Ya, Mah, jadwalkan momen me-time di mana mamah bebas melakukan aktivitas yang mamah suka. Luluran, pijat, menulis, berkebun, atau apa pun yang membuat mamah berbunga-bunga.
  5. Menghargai tindakan para mamah lain dalam menjalankan perannya.
  6. Mengapresiasi keputusan para mamah lain.
  7. Tidak berkomentar apalagi berkata yang buruk dan menjatuhkan. Terutama saat yang bersangkutan tidak meminta sudut pandang kita. Namun, beda cerita ya Mah saat kita kebagian tugas menjadi JURI di event Tantangan MGN, hukumnya WAJIB untuk men-judge dan berkomentar.
  8. Fokus dengan keadaan diri sendiri. Kita sudah punya banyak aktivitas sendiri, Mah. Masak,nyuci, zoom meeting, menemani si kecil bermain dan belajar, mendampingi suami netflix-an, dan lain-lain. Sayang jika waktunya buat ngepoin mamah lain dan membanding-bandingkannya.
  9. Tak lupa, self-love ya, Mah! Badan tidak seperti Mamah Jennifer Bachdim yang tetap seksi meskipun sudah beranak 3, gapapa tidak perlu insecure, memiliki badan yang sehat dan bugar sudah lebih dari cukup. Peralatan bayi tidak semewah Mamah Sandra Dewi, gapapa, bisa menikmati makanan dan punya shelter, sudah sangat alhamdulillah.
  10. Reach out ke teman atau kerabat yang tampak ‘off‘. Tidak ada salahnya, Mah, untuk kita menanyakan keadaan teman kita yang ‘terlihat berbeda’ dari kesehariannya.

Ya Mah, tugas kita memang komplet. Tidak hanya berperan sebagai mamah, namun kita juga ikut bertanggung jawab untuk saling menjaga kesehatan, keselamatan, dan well-being orang lain. Salam sehat dan semangat untuk kita semua!

Sekali lagi, Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia, Mah!


Referensi:

  1. Situs Mental Health America https://mhanational.org/
  2. Situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia https://www.kemkes.go.id/
  3. Situs World Health Organization https://www.who.int/campaigns/world-mental-health-day
  4. Situs Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Mental_health

Default image
Sri Nurilla
Wanita Indonesia
Articles: 3

9 Comments

  1. Itu bagaimana ya maksudnya mengenai ciri ke-10 sehat mental adalah independen dan tidak bergantung orang lain. Bagaimana dengan istri yang bergantung biaya hidupnya dari suaminya? Apa itu beresiko nggak sehat mental? Atau banyak orang tua yang bergantung pada anak-anaknya? Tapi setuju sih, setiap orang sebaiknya memang bisa memiliki penghasilan sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Walau kadang bergantung pada suami itu emang enak. Ha…ha…

    • Mba Shanty, kalau dari kerabat yang mendalami psikologi, definisi poin ini lebih ke ‘mandiri’, tidak bergantung pada orang lain.

      Istri yang bergantung biaya hidupnya dari suaminya, tidak berarti tidak sehat mental; ‘serem’ jika dipandang begini ya, ehehe.
      Maksud saya, sudah menjadi dasar untuk seorang suami menafkahi istrinya. Namun jika di suatu kondisi tertentu, sang istri harus independen (menjadi breadwinner), atau bahkan seorang single-mom; memang berat tapi eventually, dengan melalui proses (yang kemungkinan besar tidak mudah), pasti bisa (insha Allah). 🙂

  2. Salah satu manfaat minum temulawak adalah sebagai anti depresan jadi mamah bisa tidur puless walaupun banyak pekerjaan rumah dan pikiran he…

    • Wah trimakasih info farmakologinya mamah Genti. Bagian dari penerapan ‘mens sana in corpore sano’ ini ya Mba :). Kalau tidurnya berkualitas, badan otomatis sehat dan bugar, dan jiwa pun juga sehat. 🙂

  3. Seperti biasa, uril mewakili banyak hal yang ingin kusampaikan juga. Setuju banget kalau selfcare isn’t selfish. Paling bahagia tuh kegiatan nemenin suami Netflix-an ya, hehehe.. Btw jadi juri MGN itu berat, karena harus jadi judge, tapi ya udah dapat hadiah, wajib bertugas menjudge deh emang ya, hehehe…

    Semoga makin banyak mamah yang memperhatikan kesehatan mental dirinya, karena mamah bahagia kunci keluarga bahagia.

    ps. akhirnya liat gravatar uril di postingan ini, dari kemarin di blog pribadinya kenapa ga keliatan ya, apa baru diganti ya gravatarnya?

    • Wah makasiiy ya Risna, setuju sekali, mamah bahagia adalah kunci keluarga bahagia. 🙂

      Ehehe, rasanya kurang bisa menikmati kalau Pak Suami minta ditemani yang filmnya tidak kusuka. Wkwkwk.

      Risna perhatian ya, ehehe, makasiiy ya Risna, iya ini baru ganti gravatarnya, yang sebelumnya kartun bikin di Canva, sekarang pake foto asli saja, ehehe. 🙂

  4. Mental health is real, terimakasih sudah menuliskan ini Uril.

    Banyak teman-teman dekat saya mengalami masalah mental yang pemicunya karena pekerjaan. Dan mereka semua awalnya tidak tahu kalau sakit, tiba-tiba jatuh sakit tanpa ketahuan apa penyebabnya. Ada salah seorang sampai ambil medical leave 3 tahun 🙁

    Saya rasa self love memang paling penting, point no 1, ngga ada yang lebih tahu tentang diri kita selain kita sendiri.

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: